Tuesday, 22 November 2016

Kemana Kami Harus Mencarimu


Temaram langit masih membisu
Tiada gentar diterobos sinar matahari
Dingin juga masih memeluk ragu semangatnya pagi
Kami di sini, tepat di sampingmu

Perlahan bongkahan awan tertiup melodi angin
Meliuk melambai menepuk kisah
Pepohonan serasa berbaris melepas pergi
Kami di sini, tepat di sampingmu

Tiba saat kami berpisah sementara denganmu
Seiring gulir bola matahari
Dari sepucuk tangkai bunga di pagi hari
Hingga menyentuh senja bunga nan layu
Kami di sini, tiada di sampingmu

Langit beralih menjadi gelap tak nampak
Disoroti lampu dunia pun dia tak bergeming
Menyimpan misteri kegelapan yang dalam
Kami di sini, tepat di sampingmu

Malam memeluk raga
Capai memikul asa
Kami di sini berharap engkau ada

Entah di mana engkau
Serasa jauh tiada berjarak
Serasa tiada ruang yang memisah
Tapi kami di sini, tepat di sampingmu

Rindu akan segudang ceritamu
Kangen yang begitu amat akan pedulimu
Sekedar senyuman cerita harimu
Kami tunggu, meski hanya untaian waktu yang berlalu

Engkau capai dengan duniamu
Telah kau kuras habis semua energimu
Untukmu dan duniamu
Kami di sini, tersisa riak riak kelelahannya
Tiada rasa lagi yang bisa kau gelorakan
Selain rasa letih yang berlebihan
Kami di sini, hanya ingin benar benar bersamamu

Kami tak peduli, ada atau tiada duniamu
Kami tak peduli....
Kami hanya ingin engkau bersama kami...



Monday, 11 April 2016

Berebut Hati Aidan

Momen pulang kampung merupakan momen yang memiliki beberapa arti. Nostalgia masa masa muda, silaturahmi dengan orang tua, relaksasi dari hiruk pikuknya bekerja dan salah satunya mengenalkan kepada anak bagaimana kehidupan di desa serta sejarah awal mula orang tuanya berasal.

Yes....Aidan yang menjadi objek di sini. Sifat dan watak Aidan yang tidak mudah dekat dengan orang baru menjadi satu hal yang menarik di sini. Kebetulan orang tua dan mertua memang berdekatan rumahnya. Maklum aku dan istriku termasuk dalam golongan "peknggo" alias dapat tetangga. So momen mudik kami bisa saling mengunjungi orang tua dan mertua sekaligus.

Nah lalu bagaimana dengan Aidan?. Tentu tidak dapat dipungkiri lagi bahwa sosok kakek dan nenek selalu ingin berbahagia dan bersenang-senang dengan cucunya. Mereka akan berupaya sedemikian rupa untuk dapat meraih perhatian dari sang cucu. Membelikan jajanan, membelikan mainan, dan berbagai aktifitas bermain lainnya di tengah nafas mereka yang tak lagi muda. 

Aidan yang memang memiliki karakter tidak mudah dekat dengan orang baru mengakibatkan upaya upaya itu menjadi mudah. Bahkan tak jarang Aidan justru tidak suka dengan upaya yang dilakukan oleh sang kakek dan nenekny. Beringsut menjauh atau secara terang-terangan bilang tidak mau.

Lalu bagaimana respon kakek dan nenek? Beringsut menjauh atau terus berupaya???
Awalnya mereka pasti beringsut menjauh, karena kalau terus dilanjutkan upaya pendekatan Aidan justru akan menangis atau marah. Namun tentu saja upaya itu tetap dilanjutkan di lain waktu. Entah bagaimana caranya mereka akan selalu berusaha untuk mendapatkan hati Aidan....

Hehehehe....selamat berebut ya..

Thursday, 31 March 2016

Jakarta itu Kejam (kah?)

Kukuruyuuuuukkkkkk....ayam jantan berkokok, sayup sayup terdengar suara mengaji dari masjid di berbagai penjuru. Perlahan dengan perasaan letih badan ini bergerak meraih handuk yang ada di jemuran. Mengguyur badan dengan air dingin beraroma besi. Berpakaian rapi kemudian berangkat untuk sholat subuh di masjid.

Selepas itu kemudian bergegas untuk menyiapkan segala perlengkapan untuk bekerja. Pakaian dan beberapa berkas yang harus dibawa. Setelah semua siap kemudian tiba waktu untuk membangunkan si kecil yang musti di titipkan di daycare selagi ayah dan ibunya bekerja. Daycare dekat kantor yang menjadi pilihan kami, pernah sih mau daycare yang dekat rumah, tapi belum nemu yang sebagus daycare di daerah gatot subroto.

Kemudian si kecil perlahan membuka matanya, kadang menangis kadang tidak. Merasa terusik dari kelelapan tidurnya. Ada beberapa pilihan transportasi yang dapat kami gunakan. KRL (dengan kombinasi naik taksi dari palmerah-gatot subroto pp) atau naik mobil dari rumah ke gatsu pp (estimasi waktu 2 jam berangkat, 3 jam pulang). Ya, kami memang terkadang ganti ganti moda transpsortasinya, tapi tetep aja ujung ujungnya kami harus berangkat pagi maksimal jam 06.24 (untuk krl) 06.00 (untuk mobil).

Lalu bagaimana dengan jam pulangnya?nah disini nih gilanya jakarta selanjutnya....meski kami udah berangkat pagi pagi tapi tetep aja, pulangnya juga malam. Yah paling cepet sampai rumah itu jam 17.45 lah...paling malam ya pernah sampai rumah jam 21.15. Coba aja capek gak kalau gitu.
Selain itu pula, harga harga (baik barang atau jasa) punya gap yang signifikan dengan gaji yang diterima. Bisa cukupin kebutuhan itu biasa (tidak mengesampingkan fakta bahwa urusan mencukupkan rizki ada di kuasa Alloh), nabung?di jakarta? Luar biasa....

Uang seratus ribu itu di Jakarta nilainya seuprit....makan aja sekarang di pinggir Jalan standarnya 15rb an....transport? Yah bakalan g kerasa deh, loh kok tiba tiba uang baru ambil dari atm udah habis.
Dan memang diputuskan dan Sudah diketahui benernya. Gilanya Jakarta menggilas waktu dan biaya. Waktu menjadi sangat cepat, dan biaya hidup yang relatif tinggi. Mungkin benar Jakarta itu kotanya orang yang gila kerja. Menggilas waktu dengan bekerja, bekerja, dan bekerja. Masih ingat kan pepatah "kejarlah duniamu seakan engkau akan hidup selamanya dan kejarlah akhiratmu seolah esok engkau akan mati". Yah...Jakarta...kota kerja dengan segala tipu daya. Dengan tawaran sejumlah uang manusia berlomba lomba untuk mengejar dunia. Dan semoga saja mereka tidak lalai untuk mengejar akhiratnya