Hari ini adalah hari ketiga aku berada di Korea bersama beberapa orang dari beberapa negara pula. Seperti biasa hari ini diisi dengan agenda presentasi dan acara diskusi tentang merger mobile phone. Yang menarik adalah, pada kesempatan ini penyelenggaran workshop memberikan agenda untuk melakukan culutral tour. Mungkin selain untuk memberikan penyegaran kepada para peserta workshop, penyelenggara hendak ingin memperkenalkan keindahan pulau Jeju ini kepada para peserta mengingat pulau ini pernah bersaing untuk memperoleh kategori 7 wonder (kalau tidak salah bersaing dengan naga di Indonesia yang tidak lain adalah Komodo).Sepintas kemudian iseng aku mencari latar belakang keberadaan pulau Jeju ini, ternyata dulu di pulau terdapat penduduk wanita yang terkenal dengan penyelam wanita yang ikut melakukan perjuangan takala terjadi penjajahan di negara Korea ini. Katanya sih dulu negara ini pernah mengalami pembantaian rakyat yang bersejarah. Bahkan sampai sampai rakyat Pulau Jeju memiliki pepatah bahwa kebahagiaan itu seperti butir pasir sedangkan kesedihan itu sebesar batu karang.Hmmm.. tapi itu dulu, saat ini rakyat Jeju memang benar benar bangkit. Seiring dengan perkembanagn dari negara Korea sendiri yang agak pesat.
Nah kemudian kali ini kami berangkat dari hotel (setelah agenda formal selesai) pada pukul 13.20 waktu setempat menggunakan bus yang sudah disiapkan sebelumnya. Dari Bus tersebut rencananya kami akan menuju beberapa lokasi yang relatif mudah dijangkau dari hotel dan mungkin saja memiliki nilai keindahan tersendiri. Bus ini seolah olah sama dengan bus bus yang ada di Indonesia. Namun sungguh bus ini benar benar nyaman. Hampir sama dengan limousine bus yang aku naiki dari bandara Incheon kemarin.
Kemudian tujuan pertama kami adalah Cheonjeyeon Falls. Tempat tersebut merupakan sebuah tempat wisata yag terdiri dari sebuah anak tangga yang menyusui meiringnya kontur tanah kemudian mengantarkan kami kepada sebuah air terjun yang mungkin sedikit lebar kurang lebih ada kali ya sekitar 20 meter.
Sebenarnya aku memiliki banyak foto di objek air terjun tersebut, namun karena ku pikir tidak semua foto harus aku tampilkan jadi aku rasa tiga foto di atas sudah cukup mewakili gambaran dari air terjun tersebut.
Kemudian tujuan kami berikutnya adalah Botanica Garden. Sebuah kebun buatan yang berada di dalam sebuah bangunan mirip kubah (kalau sekilas melihat mirip dengan taman menteng yang ada di Jakarta). Setelah kemudian melihat sepintas dari luar, dan terasa udara sejuk (sesejuk bandung mungkin) lalu kami beranjak untuk masuk ke dalam kubah tersebut. Berbagai tanaman terbentang di dalamnya, dan pada saat aku mengambil gambar dari salah satu tanaman yang dijuluki tanaman Kantong Semar (kalau di Indonesia) salah seorang peserta yang berasal dari Korea mengatakan, "mengapa anda mengambil foto untuk tanaman ini, bukankah tanaman ini berasal dari Indonesia?". Oh iya bisikku dalam hati benar juga ya tanaman seperti ini amat banyak ada di Indonesia. Bahkan tiada perlu ke taman atau cagar alam mungkin ada rumahan yang menanam jenis tamanan ini. Setelah itu kemudian kami mengeksplorasi dalemannya kebun tersebut. Persis, semua tanaman tropis yang terdapat atau ada di negara ku negara Indonesia, hanya saja mungkin beberapa tanaman kaktus yang bukan merupakan jenis tanaman yang ada di negaraku.
Kemudian selanjutnya, hal yang tiada pernah ku bayangkan sebelumnya..aku atau kami tepatnya diberikan kesempatan untuk menaiki yatch. Bagi yang belum mengerti apa itu yatch, Yatch adalah sebuah kapal yang pada umumnya digunakan oleh orang kaya untuk menghabiskan waktunya. Sebuah kapal yang memiliki desain unik dan memiliki bentangan layar di atasnya. Tentu saja bukan layar yang sederhana, melainkan layar yang digunakan apabila sang empunya kapal ingin menikmati sepoinya angin laut, terobang-ambing dalam angin dan ombak. Tiada pernah ku sangka aku bakal bisa menaiki kendaraan laut jenis ini. Bahkan ketika yatch ini beranjak perlahan aku teringat akan kedua orang tua ku yang entah bagaiana mereka senantiasa mendoakanku sehingga aku dapat merasakan hal hal seperti ini. Perlahan yatch berjalan dan mematikan mesinnya. Berganti dengan layar yang berkembang di atasnya. Terombang-ambing, yah terombang ambing. Oh iya yatch ini juga mengantarkan kami pada pemandangan indah batuan karang yang terbentuk dari erupsi yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Entah jutaan, ratusan, atau puluhan tahun yang lalu. Namun hasilnya memang begitu indah, seperti balok balok batu yang sengaja dibentuk, namun anehnya mereka asli buaan alam (tentu saja atas kehendak Tuhan)Pada saat terombang ambing itu aku juga berkesampatan untuk melakukan kegiatan memancing ikan. Jujur memang beberapa tahun yang lalu memancing adalah aktifitas rutinku setiap akhir pekan. Namun aku belum pernah merasakan sensasi memancing di laut apalagi di atas yacth seperti ini. Ternyata tidak mudah memancing di atas yatch yang terombang ambing angin dan ombak. Hal itu dibuktikan dengan tiada nya ikan yang berhasil tertambat di kait pancingku. Akhirnya dengan bantuan dari kru yatch tersebut aku mendapatkan satu ika, entah ikan apa tapi kalau melihat dari bentuknya dan aku bandingkan dengan ikan yang pernah aku lihat di televisi sepertinya itu adalah kakap merah. Beberapa waktu kemudian kami dipersilahkan untuk menikmati hidangan khas Jeju di dalam yatch tersebut. Wow...kami makan beberapa sushi di atas yatch.
Setelah akhirnya angin menerpa layar dan mengantarkan kami mendekati dermaga, akhirnya layar mulai diturunkan dan digantikan dengan deru mesin diesel yang memutar kincir untuk mengantarkan kami kembali ke dermaga alias daratan. Tak lama berselang akhirnya kami sampai dan merapat di dermaga. Setelah kami melepaskan jaket pengaman yang memiliki fungsi untuk mengapungkan diri apabila kami tercebur ke dalam laut, kami dipersilahkan untuk makan malam. Meskipun langit cerah dan matahari bersinar mereka menyebutnya sebagai makan malam.
Di sinilah kami melakukan makan malam. Seperti biasa menu menu di sini tentu saja menu khas korea, seafood, dan kimci tentu saja.
Hoaahhmmm... ngantuk..tulisan ini aku buat pada pukul 24.00 waktu setempat. Lumayan agak capai karena hampir seharian kami melakukan perjalanan. Oh iya lupa, setelah dari tempat makan tadi kami dihantarkan ke tempat belanja. Girang dalam hati ini, terbesit dalam pikiran kami akan berbelanja pernak pernik atau cinderamata khas Jeju atau paling tidak khas Korea. Namun ternyata tebakan kami salah, kami dihantarkan pada sebuah modern supermarket. Yah..kalau di Indonesia seperti Carrefour atau Hypermart, sejenis itulah pokoknya. Wal hasil tentu saja dapat ditebak, barang barang yang dijual adalah barang barang kebutuhan sehari hari. Keuciiiiwaaa,.... tentu saja karena sebenarnya banyak pernak pernik yang harus kami beli sebagai tanda mata atau oleh oleh untuk masing masing kolega kami di negara masing-masing. Tapi karena kondisinya seperti itu, yah mau bagaimana lagi akhirnya kami berbelanja ala kadarnya. Dan setelah satu jam berselang akhirnya kami kembali ke Hotel.
Wednesday, 9 May 2012
Tuesday, 8 May 2012
Korea Hari Kedua (Edisi Kedua)
Setelah kemarin aku menceritakan tentang perjalanan menuju Korea hingga akhirnya sampai di hotel akhirnya kali ini aku akan bercerita lagi tentang hari kedua di Korea. Oh iya sebelumnya aku belum bercerita ya kalau pada kesempatan kali ini aku menginap di Haevichi Hotel & Resort Jeju, Korea. Jadi nih hotel terletak di sebuah pulau kecil itu yang namanya Jeju Island (pulau yang sekaligus enjadi tempat pertemuan kami dengan beberapa negara anggota OECD). Jadi hotel ini berada beberapa ratus meter dari bir pantai, entahlah aku lupa belum bertanya apa nama pantainya. Tapi pantainya konturnya bukanlah pasir melainkan bebatuan karang gitu.
Sepintas terlihat sih nih hotel wah banget,,ya iya lah secara acara international gini gak mungkin pake hotel ecek-ecek yang notabene mencari margin dari selisih harga hotel (ups...mengutip istilah dari beberapa berita di negeriku yang sedang banyak membahas tentang perjalanan dinas pegawai negara).
Dan kebetulan pula aku mendapat kamar di lantai 7 yang secara langsung menghadap langsung ke pantai. Angin sepoi sepoi yang memilikii suhu lebih dingin daripada suhu di dalam kamar yang sejak awalnya bersuhu 23 derajat membuatku kemudian memilih untuk menutup jendela saja dan menaikkan suhu ruangan kamar menjadi sekitar 28 derajat. Kebetulan waktu ugah agak sore sekitar jam 15.00 waktu setempat, tapi saat itu alangkah bahagianya mendapati kasur empuk nan menggirukan untuk dipeluk dan dibawa ke alam mimpi. Lalu terbaringlah aku kemudian diatasnya hingga sekitar pukul 17.30 waktu setempat. Nyamaaaann banget seteah sekian jam tidak bertemu dengan yang namanya kasur. Setelah terjaga kemudian aku membasuh badan ini dengan air Korea...hihihi iya air Korea...setelah menjalankan ibadah sholat (setelah mendapatkan petunjuk arah kiblat dari kompas Mas Mul) akhirnya kami berempat (rombongan dari Indonesia) jalan-jalan menyusuri sekeliling pantai.
Hingga akhirnya kemudian waktu menunjukkan sudah malam dan matahari telah beranjak dari keheningan siang bersembunyi di belahan dunia yang lain, selain itu suhu udara semakin tidak bersahabat maka kami memutuskan kemudian untuk beranjak kembali ke kamar masing-masing karena besok acara workshop akan dimulai pada pagi harinya. Oh iya tai tentu belum lengkap kalau tak aku tunjukkan makanan di Korea bukan. Makanan khas Korea sih gak jauh jauh dari yang namanya Kimci, seafood dan babi. Kimci itu sejenis sayur sayuran yang difermentasi dan kemudian diberikan bumbu sehingga rasanya agak asam dan pedas, untuk seafood tentu saja sudah diketahui hanya saja tidak seperti di Indonesia, seafood di sini di makan tidak matang alias mendekati tidak diolah, yah sama dengan makanan jepang gitu deh yang sering kita sebut sushi sushi gitu.. untuk tampilannya liat ndiri aja deh. Eh tapi untuk babi aku tidak ada fotonya soalnya jujur aku bukan pemakan babi ya.. hehehehe...Ini adalah Kimci dan teman-temannya (ada jamur, teri, sayuran, nori basah)
Dan ini adalah sea foodnya... sudah direbus kalau yang ini karena aku juga tidak bisa makan sea food yang masih mentah. Isinya antara lain udang, kerang dan cumi cumi..tapi karena kemudian diberi bumbu seperti kangkung balacan jadi lidah ini sangat bisa menerima rasanya...
hehehe ditunggu episode episode hari hari di Korea selanjutnya yaaahhh....
Sepintas terlihat sih nih hotel wah banget,,ya iya lah secara acara international gini gak mungkin pake hotel ecek-ecek yang notabene mencari margin dari selisih harga hotel (ups...mengutip istilah dari beberapa berita di negeriku yang sedang banyak membahas tentang perjalanan dinas pegawai negara).
Dan kebetulan pula aku mendapat kamar di lantai 7 yang secara langsung menghadap langsung ke pantai. Angin sepoi sepoi yang memilikii suhu lebih dingin daripada suhu di dalam kamar yang sejak awalnya bersuhu 23 derajat membuatku kemudian memilih untuk menutup jendela saja dan menaikkan suhu ruangan kamar menjadi sekitar 28 derajat. Kebetulan waktu ugah agak sore sekitar jam 15.00 waktu setempat, tapi saat itu alangkah bahagianya mendapati kasur empuk nan menggirukan untuk dipeluk dan dibawa ke alam mimpi. Lalu terbaringlah aku kemudian diatasnya hingga sekitar pukul 17.30 waktu setempat. Nyamaaaann banget seteah sekian jam tidak bertemu dengan yang namanya kasur. Setelah terjaga kemudian aku membasuh badan ini dengan air Korea...hihihi iya air Korea...setelah menjalankan ibadah sholat (setelah mendapatkan petunjuk arah kiblat dari kompas Mas Mul) akhirnya kami berempat (rombongan dari Indonesia) jalan-jalan menyusuri sekeliling pantai.
Hingga akhirnya kemudian waktu menunjukkan sudah malam dan matahari telah beranjak dari keheningan siang bersembunyi di belahan dunia yang lain, selain itu suhu udara semakin tidak bersahabat maka kami memutuskan kemudian untuk beranjak kembali ke kamar masing-masing karena besok acara workshop akan dimulai pada pagi harinya. Oh iya tai tentu belum lengkap kalau tak aku tunjukkan makanan di Korea bukan. Makanan khas Korea sih gak jauh jauh dari yang namanya Kimci, seafood dan babi. Kimci itu sejenis sayur sayuran yang difermentasi dan kemudian diberikan bumbu sehingga rasanya agak asam dan pedas, untuk seafood tentu saja sudah diketahui hanya saja tidak seperti di Indonesia, seafood di sini di makan tidak matang alias mendekati tidak diolah, yah sama dengan makanan jepang gitu deh yang sering kita sebut sushi sushi gitu.. untuk tampilannya liat ndiri aja deh. Eh tapi untuk babi aku tidak ada fotonya soalnya jujur aku bukan pemakan babi ya.. hehehehe...Ini adalah Kimci dan teman-temannya (ada jamur, teri, sayuran, nori basah)
Dan ini adalah sea foodnya... sudah direbus kalau yang ini karena aku juga tidak bisa makan sea food yang masih mentah. Isinya antara lain udang, kerang dan cumi cumi..tapi karena kemudian diberi bumbu seperti kangkung balacan jadi lidah ini sangat bisa menerima rasanya...
hehehe ditunggu episode episode hari hari di Korea selanjutnya yaaahhh....
Posted by
Andhika Willy Wardana
Jam
18:41
Monday, 7 May 2012
Perjalanan ke Korea (Edisi 1)
Perjalanan dinas kali ini aku mendapat undangan dari OECD (Organisation for Co-Operation and Development) untuk menghadiri competition workshop yang diadakan di Jeju Island, Korea. Tentu saja hal ini merupakan pengalaman yang lumayan menggiurkan bagiku, bagaimana tidak sebelumnya aku belum pernah membayangkan bakalan pergi ke luar negeri. Meskipun sebelumnya aku pernah pergi ke Singapura, namun karena jarak yang terlampau dekat dengan Indonesia, berasa tidak berada di luar negeri. Yah..meskipun kondisi kehidupannya berbeda tapi masih terasa Indonesianya.
Perjalanan dinas kali ini sebenarnya memang rutin agenda di kantor ku, dan kebetulan karena ada prinsip untuk pemerataan pengalaman, tibalah untuk giliranku diberangkatkan. Tentu saja aku tidak sendiri ada rekan rekan yang menyertaiku kali ini. Bapak Mulyawan, Mbak Lili dan Mbak Wulan.
Oke, tak banyak mengoceh lagi. Berita dipilihnya aku untuk menjadi salah satu peserta untuk mengikuti workshop tersebut adalah setelah beberapa waktu yang lalu aku dipanggil oleh atasanku langsung (Ibu Dewi Sita Yuliani, yang biasa dipanggil Mbak Dewi). Dalam ruangan beliau dijelaskan pula bahwa kondisinya bla...bla...bla.. dan akhirnya masuklah namaku dalam daftar peserta yang aan mengikuti workshop tersebut.
Bahagia dan bangga? tentu saja...namun aku tiada terlalu berlebihan dalam menanggapinya (biasa aja yaahhh)
Persiapan demi persiapan untuk mengikuti acara tersebut sudah dimulai sejak hampir dua bulan sebelum hari H. Mengabarkan kepada orang tua (dan alhamdulillah mereka senang dan bangga anaknya yang dulu punya kerjaan menggembala kambing bisa terbang ke negeri antah berantah nun jauh.
Hari demi hari dilalui hingga akhirnya tiba juga saat persiapan. Alhamdulillah saat siang menjelang keberangkatan calon istriku membantu aku dalam mempacking barang-barang. Mulai dari baju sehari-hari, baju kerja (yang sebelumnya aku membelinya bersama calon istriku saat aku mudik ke kampung halaman beberapa waktu yang lalu, dan beberapa snack serta perlengkapan perlengkapan yang lain. Terima kasih ya De'....
Kemudian menyiapkan uang dengan mata uang Won Korea yang sebelumnya aku titip kepada Mbak Wulan untuk menukarkankan Rupiah dengan Won. Kalau tidak salah pada saat itu aku menukarkan Rp 510.000 dan hasilnya mendapatkan 50.000 Won Korea.
Perjalanan demi perjalanan pun dimulai kemudian. Dari berangkat menggunakan Taxi Bluebird dari kost an ku sesaat setelah menunaikan ibadah sholat maghrib, kemudian menghampiri Mbak Lili dan Mbak Wulan di kost an mereka, kemudian langsung meluncur ke terminal 2D Bandara International Soekarno Hatta. Karena harus berurusan dengan Imigrasi maka kami meluangkan waktu untuk datang 2 jam lebih awal dari jadwal keberangkatan. Dan hasilnya kami tiba di bandara pada pukul 20.00 sementara pesawat kami (Korean Air) akan berangkat pada pukul 20.10. Lalu kami pun menunggu hingga akhirnya pesawat kami pun diberangkatkan. Berdasarkan informasi dari Mbak Lili dan Mas Mul yang sebelumnya memang pernah dinas ke Korea, penerbangan ini membutuhkan waktu kurang lebih 6 jam. Dalam hati ini berbisik, yah biasanya aku naek kereta api untuk mudik itu lebih dari 6 jam, yah aku pikir akan biasa saja. Tapi ternyata tidak juga, beda rasanya karena aku tidak bisa tidur. Turbulance yang kadang kadang membuatku pusing dan jarak antar kursi yang relatif sempit membuatku tidak nyaman untuk bergerak (maklum kelas ekonomi, hehehe. Lalu aku pun tertidur.
Kemudian pada akhirnya kami sampai di Bandara Incheon di Seoul, Korea. Seperti biasa untuk keperluan administratif kami harus melalui imigrasi. Bla...bla...bla..selesai, dan kami harus melanjutkan perjalanan ke Bandara Gimpo untuk melanjutkan penerbangan ke Jeju Island. Pada saat itu dikabarkan bahwa suhu di darat Seoul adalah 10 derajat celcius. Wow..kayak apa ya dinginnya, secara saat di Jakarta merasakan AC yang 16 derajat saja sudah membuat aku merapatkan selimut untuk tidur. Ah, tapi ternyata tidak sedingin yang aku kira, karena sebelumnya aku juga sudah mencari informasi bahwa di Korea sedang mengalami musim Semi sehingga suhu udara tidak terlalu dingin. Tapi tetap saja, sejukkk...segaarrr.... Perjalanan ke Bandar Gimpo kemudian kami lanjutkan dengan mengendarai Limousin Bus. Dengan merogoh kocek sebesar 7000 Won Korea akhirnya kami dapat menaiki Bus tersebut. Dan sungguh bus ini sangatlah nyaman. Persis dengan yang pernah aku lihat di film film luar negeri.
Setelah kemudian kami sampai ke Bandara Gimpo, penerbangan kemudian dilanjutkan dengan memakan waktu sekitar 1 jam. Dengan tiket pesawat yang sebelumnya telah diatur oleh penyelanggara akhirnya kami berhasil juga sampai ke Bandara International Jeju. Dari sini kami harus melanjutkan lagi perjalanan menuju hotel Haevichi dimana merupakan lokasi dimana workshop akan diadakan (akan aku ceritakan di episode berikutnya. Paling tidak inilah bagian pertama dari perjalanku menuju Jeju Island.
Perjalanan dinas kali ini sebenarnya memang rutin agenda di kantor ku, dan kebetulan karena ada prinsip untuk pemerataan pengalaman, tibalah untuk giliranku diberangkatkan. Tentu saja aku tidak sendiri ada rekan rekan yang menyertaiku kali ini. Bapak Mulyawan, Mbak Lili dan Mbak Wulan.
Oke, tak banyak mengoceh lagi. Berita dipilihnya aku untuk menjadi salah satu peserta untuk mengikuti workshop tersebut adalah setelah beberapa waktu yang lalu aku dipanggil oleh atasanku langsung (Ibu Dewi Sita Yuliani, yang biasa dipanggil Mbak Dewi). Dalam ruangan beliau dijelaskan pula bahwa kondisinya bla...bla...bla.. dan akhirnya masuklah namaku dalam daftar peserta yang aan mengikuti workshop tersebut.
Bahagia dan bangga? tentu saja...namun aku tiada terlalu berlebihan dalam menanggapinya (biasa aja yaahhh)
Persiapan demi persiapan untuk mengikuti acara tersebut sudah dimulai sejak hampir dua bulan sebelum hari H. Mengabarkan kepada orang tua (dan alhamdulillah mereka senang dan bangga anaknya yang dulu punya kerjaan menggembala kambing bisa terbang ke negeri antah berantah nun jauh.
Hari demi hari dilalui hingga akhirnya tiba juga saat persiapan. Alhamdulillah saat siang menjelang keberangkatan calon istriku membantu aku dalam mempacking barang-barang. Mulai dari baju sehari-hari, baju kerja (yang sebelumnya aku membelinya bersama calon istriku saat aku mudik ke kampung halaman beberapa waktu yang lalu, dan beberapa snack serta perlengkapan perlengkapan yang lain. Terima kasih ya De'....
Kemudian menyiapkan uang dengan mata uang Won Korea yang sebelumnya aku titip kepada Mbak Wulan untuk menukarkankan Rupiah dengan Won. Kalau tidak salah pada saat itu aku menukarkan Rp 510.000 dan hasilnya mendapatkan 50.000 Won Korea.
Perjalanan demi perjalanan pun dimulai kemudian. Dari berangkat menggunakan Taxi Bluebird dari kost an ku sesaat setelah menunaikan ibadah sholat maghrib, kemudian menghampiri Mbak Lili dan Mbak Wulan di kost an mereka, kemudian langsung meluncur ke terminal 2D Bandara International Soekarno Hatta. Karena harus berurusan dengan Imigrasi maka kami meluangkan waktu untuk datang 2 jam lebih awal dari jadwal keberangkatan. Dan hasilnya kami tiba di bandara pada pukul 20.00 sementara pesawat kami (Korean Air) akan berangkat pada pukul 20.10. Lalu kami pun menunggu hingga akhirnya pesawat kami pun diberangkatkan. Berdasarkan informasi dari Mbak Lili dan Mas Mul yang sebelumnya memang pernah dinas ke Korea, penerbangan ini membutuhkan waktu kurang lebih 6 jam. Dalam hati ini berbisik, yah biasanya aku naek kereta api untuk mudik itu lebih dari 6 jam, yah aku pikir akan biasa saja. Tapi ternyata tidak juga, beda rasanya karena aku tidak bisa tidur. Turbulance yang kadang kadang membuatku pusing dan jarak antar kursi yang relatif sempit membuatku tidak nyaman untuk bergerak (maklum kelas ekonomi, hehehe. Lalu aku pun tertidur.
Kemudian pada akhirnya kami sampai di Bandara Incheon di Seoul, Korea. Seperti biasa untuk keperluan administratif kami harus melalui imigrasi. Bla...bla...bla..selesai, dan kami harus melanjutkan perjalanan ke Bandara Gimpo untuk melanjutkan penerbangan ke Jeju Island. Pada saat itu dikabarkan bahwa suhu di darat Seoul adalah 10 derajat celcius. Wow..kayak apa ya dinginnya, secara saat di Jakarta merasakan AC yang 16 derajat saja sudah membuat aku merapatkan selimut untuk tidur. Ah, tapi ternyata tidak sedingin yang aku kira, karena sebelumnya aku juga sudah mencari informasi bahwa di Korea sedang mengalami musim Semi sehingga suhu udara tidak terlalu dingin. Tapi tetap saja, sejukkk...segaarrr.... Perjalanan ke Bandar Gimpo kemudian kami lanjutkan dengan mengendarai Limousin Bus. Dengan merogoh kocek sebesar 7000 Won Korea akhirnya kami dapat menaiki Bus tersebut. Dan sungguh bus ini sangatlah nyaman. Persis dengan yang pernah aku lihat di film film luar negeri.
Setelah kemudian kami sampai ke Bandara Gimpo, penerbangan kemudian dilanjutkan dengan memakan waktu sekitar 1 jam. Dengan tiket pesawat yang sebelumnya telah diatur oleh penyelanggara akhirnya kami berhasil juga sampai ke Bandara International Jeju. Dari sini kami harus melanjutkan lagi perjalanan menuju hotel Haevichi dimana merupakan lokasi dimana workshop akan diadakan (akan aku ceritakan di episode berikutnya. Paling tidak inilah bagian pertama dari perjalanku menuju Jeju Island.
Posted by
Andhika Willy Wardana
Jam
19:23
Subscribe to:
Comments (Atom)



















