"Ini Bahaya Den...", ucap paman Tikno kepada Den Wahyu.
Perlahan Den Wahyu duduk sambil perlahan menghembuskan asap rokok yang dari tadi sudah dihisapnya. Buss..busss...bussss... asap rokok itu kemudian membumbung tinggi ke angkasa. Tangan nan putih berbulu kemudian meraih secangkir kopi yang dibuatkan oleh paman Tikno. Sedikit diteguk kemudian diletakkan kembali ke meja.
"hmmhhh... tapi Paman, aku sudah tidak kuasa lagi...mungkin selama ini aku menjadi orang yang sabar, penurut dan mau mengalah..tapi pada saat yang sama juga sebenarnya emosiku meletup-letup di ubun-ubun..lalu sampai kapan Paman...iya sih sesungguhnya aku juga menyadari bahwa aku tidak boleh berputus asa..apalagi ini juga pilihan hidupku..." Den Wahyu menatap pohon yang tertiup angin di depan rumah.
"emmm, gimana ya Den..sebenarnya saya juga terkadang merasa...mohon maaf lho sebelumnya...saya merasa kasihan sama Den Wahyu..melihat Den Wahyu seolah-olah tertindas..tapi sebenarnya pada saat yang sama saya juga merasa kagum sama Den wahyu yang bisa bersabar...nrimo..dan mengesampingkan ego Den wahyu..., jadi menurut saya Den Wahyu jangan menyerah sampai disini Den...tetaplah bersabar hingga memang nanti Den Wahyu sudah tidak mampu bersabar (meninggal dunia)..." ucap Paman Tikno.
Hembusan angin yang sepoi-sepoi menerpa pelipis Den Wahyu. Sambil terus seolah berpikir sangat keras karena terlihat dari garis-garis di wajah Den Wahyu yang menegang. Sudah banyak pula puntung rokok yang berserakan rapi di asbak yang terletak di sebelah cangkir kopi yang dihidangkan oleh Paman Tikno. Entah sudah berapa bungkus rokok yang dihisap Den Wahyu sore itu. Sambil menatap langit dengan gamang Den Wahyu seolah sedang mencari serpihan kunci atau bohlam yang menyala di antara hamparan awan yang ada di biru langit sore itu.
"...mhhhh, Paman..tolong saya Paman...ini terlalu berat Paman...bahkan aku sendiri tidak tega melihat diriku sendiri....tegarkan saya Paman...sebenarnya aku sendiri tiada masalah kehilangan semua ini paman..dunia ini tiada akan membawakan aku sesuatu yang bersifat materi ketika aku menghadap Illahi...", parau sangat suara Den Wahyu saat itu.
"Den...Paman hanya bisa mengatakan satu hal Den...kuatkan hati Den Wahyu menghadapi semua ini...ingat awal Den Wahyu mengambil keputusan ini dan pastinya Den Wahyu sudah mempertimbangkan segala konskuensinya kan?", tanya Paman Tikno.
"Iya Paman, sebenarnya aku dulu juga tahu bahwa ini semua akan menjadi susah dan berat, entah dulu apa aku terlalu optimis untuk dapat mengubah segala bayanganku..sebenarnya aku terus berusaha Paman...atau aku sendiri yang terlalu tenggelam dalam bayangan yang aku ciptakan sendiri?", tanya Den Wahyu kepada Paman Tikno.
"Sebenarnya kalau Ibuku menyuruh atau merestui rencanaku ini, aku pasti akan langsung lakukan Paman, aku sudah tidak peduli lagi sama semuanya selain Ibuku" tegas Den Wahyu kepada Paman Tikno.
"Tapi ini bahaya Den, Den Wahyu pasti sudah tahu juga kan konskuensi dari nanti tindakan Den Wahyu", tanya Paman Tikno khawatir.
"Iya Paman, aku tahu akan terjadi perperangan yang tiada tahu kapan akan berhenti...kebencian yang membara akan tercipta di dua kerajaan...dan bisa terjadi penghasutan dimana mana untuk saling menggulingkan istana", jelas Den Wahyu kepada Paman Tikno.
"Nah iya Den Wahyu, benar sekali..apakah Den Wahyu tiada khawatir dengan segala itu?meskpiun Den Wahyu yakin bahwa laskar akan berpihak ke kerajaan Den Wahyu tapi apakah Den Wahyu akan egois mengorbankan mereka untuk konskuensi atas keputusan yang Den Wahyu ambil?", tanya Paman Tikno.
Den Wahyu kembali merebahkan punggungnya di kursi. Kemudian tangannya meraih sebatang rokok lagi. Menyulutnya lalu menghisapnya dalam-dalam.
"Paman, aku tahu satu cara lagi sebenarnya, meskipun dalam hati ini tahu juga bahwa cara itu sangat dibenci oleh kepercayaanku sendiri", perlahan Den wahyu mengucapkan kepada Paman Tikno.
"Apa itu Den Wahyu?", tanya Paman Tikno penasaran.
"Aku meninggalkan dunia ini, selamanya dan tiada pernah kembali", tegas Den Wahyu kepada Paman Tikno.
"Jangan Den...itu juga berbahaya Den, apakah Den Wahyu akan membiarkan keluarga Den Wahyu tenggelam dalam rasa kesedihan dan penyesalan seumur hidup?", tanya Paman Tikno kepada Den Wahyu.
"Arghhhhh...lalu sampai kapan aku musti begini Paman!!!", bentak Den Wahyu gusar.
Paman Tikno tiada bergeming. Tiada sepatah kata yang keluar dari mulut Paman Tikno. Pertanda Paman Tikno juga mencoba berpikir untuk mencarikan solusi kepada Den Wahyu.
Namun lama berdiam ternyata tiada membuat Paman Tikno mengucapkan apa-apa. Ide atau buah pemikiran akan solusi permasalahan dari Den Tikno tiada juga hadir dalam pembicaraan.
"..hmmhhh....ya sudahlah Paman...biarlah aku lalui saja semua ini, tapi nanti Paman kalau Ibuku bertitah kepadaku, aku akan melaksanakannya..jadi sebelum ada titah itu aku akan senantiasa menahan diri...", ucap Den Wahyu sambil beranjak dari kursinya.
"Oh iya, terima kasih ya Paman, sudah berkenan mendengarkan dan mengobrol bersama aku..terima kasih juga kopi hangatnya..mohon maaf ya meja yang sudah Paman bersihkan tadi jadi kotor lagi kena abu rokokku..minta tolong dibersihkan ya Paman," ucap Den Wahyu sambil menyunggingkan senyum kepada Paman Tikno.
"Baik Den..yang kuat ya Den", pesan Paman Tikno kepada Den Wahyu.
Seminggu setelah percakapan itu benar adanya Den Wahyu meninggalkan singgasana untuk selama-lamanya. Bukan bunuh dari tapi jalannya. Den Wahyu mengalami kecelakaan pesawat sepulang dinas dari salah satu negara di Afrika. Pesawat yang ditumpangi Den Wahyu kekilangan kendali ketika melintas benua Asia. Ketika kabar kecelakaan pesawat itu terdengar di telinga keluarga Den Wahyu, pesawat Den Wahyu belum ditemukan.
Meski tangisan keluarga pecah tapi paling tidak tiada yang tahu tentang apa yang sebenarnya Den Wahyu alami. Kecuali Paman Tikno tentu saja.
Mungkin Tuhan memberikan jalan ini untuk memberikan ketenangan kepada Den Wahyu. Atau memang ini permohonan Den Wahyu kepada Tuhan untuk membebaskan dirinya dari semua tekanan yang ada tanpa meninggalkan kesedihan dan penyesalan di kalangan keluarganya.
"Selamat jalan Den Wahyu, semoga Den Wahyu tenang di alam sana..", ucap Paman Tikno sambil membersihkan kursi yang biasa didudukin Den Wahyu.
Sore itu juga sore terakhir untuk Paman Tikno di kediaman Den Wahyu. Karena sore itu juga Paman Tikno berpamitan kepada keluarga almarhum Den Wahyu untuk kembali ke kampung halaman.
Thursday, 31 January 2013
Friday, 11 January 2013
Surat itu?
"Dimaassssssssss!!!!!!!, mau jadi apa kamu kalau seperti ini terus". Bentak ayah sembari menatap Mas Dimas yang duduk termangu di ruang keluarga. Mas Dimas sosok yang kukenal sebagai kakak yang agak pendiam kalau di rumah, meski sering baik banget sama aku. Tapi sering pula membuat ulah di luar rumah. Entah sebenarnya apa yang ada di benak atau hati kak Dimas. Untuk prestasi di sekolah sebenarnya Kakak Dimas tergolong siswa yang memiliki prestasi yang cukup bagus. Sejak SD hingga sekarang (SMA kelas 2) kak Dimas tidak pernah lepas dari peringkat lima besar. Aku sendiri sebenarnya juga heran, kalau aku lihat kak Dimas tak pernah belajar, catatan pun kulihat sangat berantakan. Gift mungkin ya...
Nah, siang itu ayah menerima surat beramplop coklat berkepala surat sekolah kak Dimas. Entahlah aku sendiri tidak tahu apa isi surat itu. Tapi sepulang kerja, muka ayah langsung merah padam membaca surat itu. Dengan nada tinggi ayah memanggil ibu dan kak Dimas (aku hanya mendengra dari balik dinding kamarku saja).
"Ibu, lihat ini... bagaimana si Dimas ini, mau jadi apa dia kalau begini terus..", ucap ayah sambil memperlihatkan isi surat itu kepada ibuku. Aku dengar samar-samar ibu tiada berkata-kata. Hanya kemudian ku dengar suara motor menderu memasuki garasi rumah kami. Suara mesin Vespa P50TS yang disayangi kak Dimas. Motor yang dibeli dengan uang hasil cerdas cermat kak Dimas waktu SMA kelas satu kemarin.
treng theng theng theng.....suara itu pun lalu pada dengan sendirinya. Dilanjutkan dengan suara klak..dari suara standar dari motor vespa kak Dimas. Tak tahu rupanya kak Dimas bahwa di dalam rumah sudah ada ayah yang sepertinya siap menjadikan kak Dimas sebagai pendengar setia dari amarah dan celotehan ayah.
Ngiiiieeekkkk....suara pintu depan terbuka. Suasana hening, aku sendiri tidak tahu kemana ayah dan ibu yang suaranya tadi menggelegar memenuhi ruang keluarga. Suara langkah kaki kak Dimas juga kudengar berjalan biasa menuju kamarnya. Kebetulan kamar kak Dimas berada di lantai dua, jadi aku dengar setiap detak sepatunya menapaki lantai kayu rumah kami.
Klik...brukkk...suara pintu kamar kak Dimas tertutup. Dan suasana menjadi hening hingga tiba waktu makan malam keluarga. Memang sudah menjadi kebiasaan keluarga kami untuk makan bersama. Setelah sebelumnya kami menunaikan sholat maghrib dan sholat isya' berjamaah. Hingga selesai doa selepas sholat isya tiada peristiwa apa-apa. Surat yang ayah baca tadi siang pun belum dibahas sama sekali. Ah..mungkin ayah sudah diredakan oleh ibu tadi. Acara salam-salaman rutin setelah sholat isya' sudah dilaksanakan dan seolah tidak terjadi apa-apa.
Hingga akhirnya kami berkumpul di meja makan. Ibu sudah menyiapkan masakan-masakan khas Jawa yang menjadi favorit keluarga kami. Kebetulan jgua aku sedikit membantu pekerjaan ibu tadi, yah paling tidak untuk bantu siapin bumbu dan memotong sayur serta mencuci perkakas.
Setelah semua tersaji di meja makan, akhirnya kami makan malam bersama dalam suasana yang hikmat. Doa sebelum makan sudah terlantun pula sebelum kami mulai menyantap hidangan malam itu. Makanan khas Jawa memang sudah menjadi kepiawaian ibuku, yah maklumlah Ibu ku memang berasal dari Yogyakarta, jadi faseh benar dia akan masakan-masakan khas Jawa. Dan rasanya, ya sama dengan warung-warung terkenal yang menyajikan makanan khas Jawa. Mulai dari gorengan hingga sop-sop an ibu bisa memasaknya.
Doa sesudah makan akhirnya selesai kami panjatkan. Ketika aku dan ibuku hendak bergegas untuk merapikan meja makan dan membawa perkakas meja makan untuk dibersihkan tiba-tiba ayah mengucapkan sesuatu (pada saat makan malam itu ayah terdiam membisu, tidak seperti biasanya).
"Ibu, Adik, Dimas, tolong tunggu sebentar, jangan bergegas dari meja ini sebelum nanti ayah selesai bicara"
Kami semua tertegun dan terdiam diri. Wah, apakah ayah akan mengutarakan tentang isi surat tadi siang?, batinku bertanya demikian. Lalu kami yang semula sudah mengangkat bahu kami untuk bergegas akhirnya kembali pada posisi duduk semula.
"Dimas, tadi siang ayah menerima surat dari sekolah kamu", ayah berkata sambil menyerahkan surat tersebut kepada kak Dimas. Kak Dimas terlihat terkejut, namun bukan terkejut takut atau apa, melainkan terkejut bahagia dan kemudian berkaca-kaca.
"Bisa jelaskan kepada ayah, Dimas, tentang surat itu?", ayah bertanya kepada kak Dimas.
"ehm,,,ehm...jadi gini yah". belum selesai kak Dimas mengatakan kepada ayah, ayah sudah mengcaungkan jari telunjuk di mulut ayah.
"sssstttt....., ayah ingin tahu, sebenarnya keinginan Dimas bagaimana?"
"baiklah ayah, begini...sudah sejak dulu dimas mengikuti apa yang ayah inginkan. Dimas sudah menjadi seperti yang ayah inginkan. Berprestasi di sekolah, pendiam di rumah, dan tiada ulah Dimas yang menyusahkan ayah bukan?" tanya kak Dimas sambil mengernyitkan dahi.
"tapi yah, Dimas mohon kali ini ayah mau mengerti kemauan Dimas, Dimas berjanji pada ayah untuk menunjukkan bahwa Dimas ini anak ayah yang dapat membanggakan keluarga.Meski Dimas tahu bahwa keinginan ayah sebenarnya tidak sesuai dengan isi surat yang ayah terima itu, tapi Dimas berjanji bahwa kelak ayah akan bangga melihat Dimas menjadi Dimas yang Dimas inginkan, Dimas yang dulu ayah gendong di pangkuan ayah dengan penuh harapan. Jadi Dimas mohon yah, biarkan Dimas menjadi sosok Dimas yang sesuai dengan Dimas dan juga dapat membanngakan ayah"
Ayah hanya terdiam mendengar apa yang dikatakan kak Dimas. Perlahan tapi pasti aku lihat ayah mengatur irama nafasnya hingga terlihat betapa tenang ayah kemudian menanggapinya. Tidak seperti tadi siang ayah terdengar sangat emosional.
"baik, ayah akan dengarkan Dimas, ayah akan ikuti apa yang Dimas ingin tunjukkan pada ayah, tapi ayah gak mau sekalipun Dimas melenceng dari jalan Alloh. Hanya itu saja keinginan ayah saat ini. Terbanglah Dimas, setinggi Dimas bisa mengepakkan sayap, sejauh penglihatan dimas menatap, se dalam hati dimas merasakan", jawab ayah dengan banyak sekali kata-kata yang aku sendiri tak tahu apa artinya.
Perlahan kemudian kak Dimas bangkit dari kursinya dan segera merengkuh bahu ayah, dipeluk erat dengan tangis kecil dilengkapi sedikit tetesan air mata. Tepukan tangan ayah menepuk pundak kak Dimas. Ibu hanya bisa berkaca-kaca tetap di kursinya melihat ayah dan kak dimas saling sesenggukan berpelukan.
Kemudian pelukan erat mereka lepas dan diikuti dengan tatapan ayah kepada kak Dimas lalu usapan tangan ayah di rambut kak Dimas.
"anak ayah sudah besar ya rupanya bu?" ayah berkata lepas sambil menatap ibu. Ibu hanya mengangguk tanda mengiyakan atas perkataan ayah.
Surat itu... tiada pernah aku tahu...tiada pernah aku bertanya kepada ayah dan ibu ku bahkan kepada kak Dimas sekalipun. Hingga kini ayah dan ibu sudah memutih rambutnya. Kak Dimas sudah menjadi sosok kak Dimas yang benar-benar membanggakan keluarga. Kak Dimas yang benar-benar menjadi kak Dimas yang diinginkan kak Dimas. Kak Dimas yang sesuai dengan janji kak Dimas pada ayah saat itu.
Nah, siang itu ayah menerima surat beramplop coklat berkepala surat sekolah kak Dimas. Entahlah aku sendiri tidak tahu apa isi surat itu. Tapi sepulang kerja, muka ayah langsung merah padam membaca surat itu. Dengan nada tinggi ayah memanggil ibu dan kak Dimas (aku hanya mendengra dari balik dinding kamarku saja).
"Ibu, lihat ini... bagaimana si Dimas ini, mau jadi apa dia kalau begini terus..", ucap ayah sambil memperlihatkan isi surat itu kepada ibuku. Aku dengar samar-samar ibu tiada berkata-kata. Hanya kemudian ku dengar suara motor menderu memasuki garasi rumah kami. Suara mesin Vespa P50TS yang disayangi kak Dimas. Motor yang dibeli dengan uang hasil cerdas cermat kak Dimas waktu SMA kelas satu kemarin.
treng theng theng theng.....suara itu pun lalu pada dengan sendirinya. Dilanjutkan dengan suara klak..dari suara standar dari motor vespa kak Dimas. Tak tahu rupanya kak Dimas bahwa di dalam rumah sudah ada ayah yang sepertinya siap menjadikan kak Dimas sebagai pendengar setia dari amarah dan celotehan ayah.
Ngiiiieeekkkk....suara pintu depan terbuka. Suasana hening, aku sendiri tidak tahu kemana ayah dan ibu yang suaranya tadi menggelegar memenuhi ruang keluarga. Suara langkah kaki kak Dimas juga kudengar berjalan biasa menuju kamarnya. Kebetulan kamar kak Dimas berada di lantai dua, jadi aku dengar setiap detak sepatunya menapaki lantai kayu rumah kami.
Klik...brukkk...suara pintu kamar kak Dimas tertutup. Dan suasana menjadi hening hingga tiba waktu makan malam keluarga. Memang sudah menjadi kebiasaan keluarga kami untuk makan bersama. Setelah sebelumnya kami menunaikan sholat maghrib dan sholat isya' berjamaah. Hingga selesai doa selepas sholat isya tiada peristiwa apa-apa. Surat yang ayah baca tadi siang pun belum dibahas sama sekali. Ah..mungkin ayah sudah diredakan oleh ibu tadi. Acara salam-salaman rutin setelah sholat isya' sudah dilaksanakan dan seolah tidak terjadi apa-apa.
Hingga akhirnya kami berkumpul di meja makan. Ibu sudah menyiapkan masakan-masakan khas Jawa yang menjadi favorit keluarga kami. Kebetulan jgua aku sedikit membantu pekerjaan ibu tadi, yah paling tidak untuk bantu siapin bumbu dan memotong sayur serta mencuci perkakas.
Setelah semua tersaji di meja makan, akhirnya kami makan malam bersama dalam suasana yang hikmat. Doa sebelum makan sudah terlantun pula sebelum kami mulai menyantap hidangan malam itu. Makanan khas Jawa memang sudah menjadi kepiawaian ibuku, yah maklumlah Ibu ku memang berasal dari Yogyakarta, jadi faseh benar dia akan masakan-masakan khas Jawa. Dan rasanya, ya sama dengan warung-warung terkenal yang menyajikan makanan khas Jawa. Mulai dari gorengan hingga sop-sop an ibu bisa memasaknya.
Doa sesudah makan akhirnya selesai kami panjatkan. Ketika aku dan ibuku hendak bergegas untuk merapikan meja makan dan membawa perkakas meja makan untuk dibersihkan tiba-tiba ayah mengucapkan sesuatu (pada saat makan malam itu ayah terdiam membisu, tidak seperti biasanya).
"Ibu, Adik, Dimas, tolong tunggu sebentar, jangan bergegas dari meja ini sebelum nanti ayah selesai bicara"
Kami semua tertegun dan terdiam diri. Wah, apakah ayah akan mengutarakan tentang isi surat tadi siang?, batinku bertanya demikian. Lalu kami yang semula sudah mengangkat bahu kami untuk bergegas akhirnya kembali pada posisi duduk semula.
"Dimas, tadi siang ayah menerima surat dari sekolah kamu", ayah berkata sambil menyerahkan surat tersebut kepada kak Dimas. Kak Dimas terlihat terkejut, namun bukan terkejut takut atau apa, melainkan terkejut bahagia dan kemudian berkaca-kaca.
"Bisa jelaskan kepada ayah, Dimas, tentang surat itu?", ayah bertanya kepada kak Dimas.
"ehm,,,ehm...jadi gini yah". belum selesai kak Dimas mengatakan kepada ayah, ayah sudah mengcaungkan jari telunjuk di mulut ayah.
"sssstttt....., ayah ingin tahu, sebenarnya keinginan Dimas bagaimana?"
"baiklah ayah, begini...sudah sejak dulu dimas mengikuti apa yang ayah inginkan. Dimas sudah menjadi seperti yang ayah inginkan. Berprestasi di sekolah, pendiam di rumah, dan tiada ulah Dimas yang menyusahkan ayah bukan?" tanya kak Dimas sambil mengernyitkan dahi.
"tapi yah, Dimas mohon kali ini ayah mau mengerti kemauan Dimas, Dimas berjanji pada ayah untuk menunjukkan bahwa Dimas ini anak ayah yang dapat membanggakan keluarga.Meski Dimas tahu bahwa keinginan ayah sebenarnya tidak sesuai dengan isi surat yang ayah terima itu, tapi Dimas berjanji bahwa kelak ayah akan bangga melihat Dimas menjadi Dimas yang Dimas inginkan, Dimas yang dulu ayah gendong di pangkuan ayah dengan penuh harapan. Jadi Dimas mohon yah, biarkan Dimas menjadi sosok Dimas yang sesuai dengan Dimas dan juga dapat membanngakan ayah"
Ayah hanya terdiam mendengar apa yang dikatakan kak Dimas. Perlahan tapi pasti aku lihat ayah mengatur irama nafasnya hingga terlihat betapa tenang ayah kemudian menanggapinya. Tidak seperti tadi siang ayah terdengar sangat emosional.
"baik, ayah akan dengarkan Dimas, ayah akan ikuti apa yang Dimas ingin tunjukkan pada ayah, tapi ayah gak mau sekalipun Dimas melenceng dari jalan Alloh. Hanya itu saja keinginan ayah saat ini. Terbanglah Dimas, setinggi Dimas bisa mengepakkan sayap, sejauh penglihatan dimas menatap, se dalam hati dimas merasakan", jawab ayah dengan banyak sekali kata-kata yang aku sendiri tak tahu apa artinya.
Perlahan kemudian kak Dimas bangkit dari kursinya dan segera merengkuh bahu ayah, dipeluk erat dengan tangis kecil dilengkapi sedikit tetesan air mata. Tepukan tangan ayah menepuk pundak kak Dimas. Ibu hanya bisa berkaca-kaca tetap di kursinya melihat ayah dan kak dimas saling sesenggukan berpelukan.
Kemudian pelukan erat mereka lepas dan diikuti dengan tatapan ayah kepada kak Dimas lalu usapan tangan ayah di rambut kak Dimas.
"anak ayah sudah besar ya rupanya bu?" ayah berkata lepas sambil menatap ibu. Ibu hanya mengangguk tanda mengiyakan atas perkataan ayah.
Surat itu... tiada pernah aku tahu...tiada pernah aku bertanya kepada ayah dan ibu ku bahkan kepada kak Dimas sekalipun. Hingga kini ayah dan ibu sudah memutih rambutnya. Kak Dimas sudah menjadi sosok kak Dimas yang benar-benar membanggakan keluarga. Kak Dimas yang benar-benar menjadi kak Dimas yang diinginkan kak Dimas. Kak Dimas yang sesuai dengan janji kak Dimas pada ayah saat itu.
Posted by
Andhika Willy Wardana
Jam
11:39
Thursday, 10 January 2013
6W6D
Hari ini vitamin untuk istriku sudah habis. Obat yang katanya berfungsi sebagai penguat janin juga sudah habis. Sudah waktunya kontrol kandungan. Sedikit banyak pertimbangan sih kemarin kemana akan menuju tempat kontrol kandungan. Sempat ada beberapa tempat yang direkomendasikan oleh teman-teman istriku dan temanku. Dua dokter praktek di daerah Kemanggisan dan dokter di Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita.
Akhirnya RSAB Harapan Kita menjadi pilihan kami. Karena letak rumah sakit tersebut dekat dengan rumah kontrakan kami akhirnya kami memutuskan untuk melakukan periksa atau kontrol pada hari rabu (tentu saja ini telah mempertimbangkan jadwal dokter prakte yang kami kehendaki). Dr. Sadina, S.Pog. Berdasarkan pencarian informasi di di internet sih katanya dokter yang satu ini orangnya supel, ramah, dan baik hati (tidak disertai dengan tidak sombong ya).
Hari itu cuaca sangat sejuk, maklum hujan turun sejak pukul 03.00 dini hari hingga pukul 08.00 tidak kunjung reda juga. Setelah siap-siap, akhirnya dengan beratapkan payung kami bergerak perlahan-lahan menuju RSAB. Dengan sedikit gerakan menghindar dari genangan air kami menyusuri gang di daerah Kota Bambu Selatan tersebut.Sebenarnya RSAB ini sangat dekat dengan rumah kontrakan kami. Kami berada di samping rumah sakit itu. Namun karena pintu depan rumah sakit itu berada jauh di depan, kami berniat untuk memutar menyusuri jalan raya. Namun tanpa disangka (agak lebay ini) ternyata ada pintu di samping rumah sakit itu. Langsung saja kami menyusuri jalan tersebut melalui selasar rumah sakit itu. Lumayan tidak kehujanan.
Ternyata RSAB ini ada rumah sakit jantungnya, jadi selasar yang kami lewati tadi ternyata rumah sakit jantungnya. Setelah berjalan agak lama sambil mengamati kondisi rumah sakit itu akhirnya kami menembus ke gedung RSAB (untuk anak dan bundanya). Masuk ke gerbang utama sudah terpampang tulisan customer service. Langsun saja kemudian kami bertanya kepada customer servicenya lalu dijelaskan mengenai mekanisme pendaftaran. Kebetulan istriku merupakan salah satu pegawai dengan status PNS yang dianugerahi kartu asuransi ASKES. Sempat terpikir bahkan memang berniat menggunakan kartu tersebut. Setelah mengambil nomor antrian elektronik (kebetulan dipisah antara pasien ASKES dan pasien biasa), kami menuju ke meja pendaftaran. Nomor terpampang di papan elektronik khusus ASKES. Nomor yang muncul adalah C002 sementara nomor antrian yang kami pegang adalah C003. Semenit dua menit kami menunggu belum ada pergerakan dari nomor antrian ASKES tersebut. Sedangkan nomor antrian pasien biasa sudah ebrgerak lebih dari dua angka. Akhirnya kami putuskan untuk undur dari penggunaan kartu ASKES tersebut dan aku ambil lagi nomor antrian pasien biasa pada mesin antrian. Setelah sebelumnya mengisi form aplikasi pasien yang berisi tentang identitas bla bla bla akhirnya kami dipersilahkan untuk menuju ke klinik kebidanan yang disa an diberi nama Anyelir.
Yang namanya instansi berplat merah memiliki urusan birokrasi tersendiri. Mungkin biar tertib administrasi "katanya". Setelah masuk ke klinik kebidanan tersebut kami melakukan registrasi lagi. Setelah di beri print out dari selembar kertas akhirnya kami dipersilakan masuk ke ruang timbang. Ting tong,...tidak ada petugasnya. Kami diminta untuk menunggu....dari jam 08.00 sampai jam 10.00 kami menunggu datangnya si suster tukang timbang itu. Mulai duduk tidak nyaman serong kiri serong kanan, makan roti Tango wafer dan sari kedelai hangat. Mendapt informasi kalau sang dokter sedang melakukan operasi tadi. Terhadap seorang perempuan yang mengalami pendarahan. Satu kata aku dan istriku. O.
Setelah menunggu agak sebentar (tolong ya digaris bawahi, agak sebentar), akhirnya kami dipanggil ke ruang USG (sebelumnya juga udah timbang). Di dalam ruang USG akhirnya istriku dipersilakan untuk berbaring, punggungnya diberikan alas semacam busa peninggi gitu. Jujur untuk pelayanan di dalam ruang USG ini ramah dan baik (mungkin yang kurang baik pegawai administratifnya saja). Dalam batin kami menebak-nebak, Dokter Sadina yang kek gimana ya, jadi penasaran setelah mendapatkan penelusuran bahwa dokternya baik dan ramah. Dur,...dur....durr.....setelah denga pose siap untuk di USG akhrinya eng ing eng... si dokter pun datang. Dan benar ternyata dokter Sadina itu ramah, baik dan cenderung gaol getooohhhh....
Penjelasan demi penjelasan disampaikan dengan ramah, sambil menggerak-gerakkan alat USG nya si dokter menunjuk-nunjuk jani alias si jabang bayi alias si dedek (aku manggilnya gitu). Detail demi detail dijelaskan, hingga kami pun hanya melongo a o a o saja. Setela selesai mengukur umur si jabang bayi alias janin akhirnya si dokter mencetak hasil USG tersebut, kemudian istriku mulai merapikan pakaiannya. Kemudian kami masih dipersilakan untuk ngobrol sama dokternya, sebenarnya bukan ngobrol sih tapi mungkin si dokter mau ngasih tau saran-saran atau obat yang akan berguna bagi istriku.
Kata dokter Sadina si janin sudah menunjukkan tanda-tanda kehidupan, sudah ada plasentanya..bentuknya lucu...duh..ini to calon dedek.....
Sebagai oleh oleh dari dokter Sadina di berikan hasil USG adalah resep yang ditulis untuk nebus vitamin Folavit di apotik serta diberikan pula print out dari hasi USG. Mau tau????hihihi.....
Gak nyangka ternyata udah ada HPL nya juga...alhamdulillah....
Sang dedek dan plasenta
Alhamdulillah tidak ada kelainan dan janin dinyatakan sehat
dedeknya udah gerak-gerak lho..kata dokter Sadina sih udah ada tanda-tanda kehidupan itu
Nah dari hasil USG tersebut usia janin istriku diperkirakan berusia 6 minggu 6 hari (kurang sehari berusia 7 minggu) hihihi..kemudian disarankan pula untuk tidak makan-makanan yang bersifat asam. tidak minum soda. Lalu kata dokter, sampai ketemu 4 minggu lagi ya...
Akhirnya RSAB Harapan Kita menjadi pilihan kami. Karena letak rumah sakit tersebut dekat dengan rumah kontrakan kami akhirnya kami memutuskan untuk melakukan periksa atau kontrol pada hari rabu (tentu saja ini telah mempertimbangkan jadwal dokter prakte yang kami kehendaki). Dr. Sadina, S.Pog. Berdasarkan pencarian informasi di di internet sih katanya dokter yang satu ini orangnya supel, ramah, dan baik hati (tidak disertai dengan tidak sombong ya).
Hari itu cuaca sangat sejuk, maklum hujan turun sejak pukul 03.00 dini hari hingga pukul 08.00 tidak kunjung reda juga. Setelah siap-siap, akhirnya dengan beratapkan payung kami bergerak perlahan-lahan menuju RSAB. Dengan sedikit gerakan menghindar dari genangan air kami menyusuri gang di daerah Kota Bambu Selatan tersebut.Sebenarnya RSAB ini sangat dekat dengan rumah kontrakan kami. Kami berada di samping rumah sakit itu. Namun karena pintu depan rumah sakit itu berada jauh di depan, kami berniat untuk memutar menyusuri jalan raya. Namun tanpa disangka (agak lebay ini) ternyata ada pintu di samping rumah sakit itu. Langsung saja kami menyusuri jalan tersebut melalui selasar rumah sakit itu. Lumayan tidak kehujanan.
Ternyata RSAB ini ada rumah sakit jantungnya, jadi selasar yang kami lewati tadi ternyata rumah sakit jantungnya. Setelah berjalan agak lama sambil mengamati kondisi rumah sakit itu akhirnya kami menembus ke gedung RSAB (untuk anak dan bundanya). Masuk ke gerbang utama sudah terpampang tulisan customer service. Langsun saja kemudian kami bertanya kepada customer servicenya lalu dijelaskan mengenai mekanisme pendaftaran. Kebetulan istriku merupakan salah satu pegawai dengan status PNS yang dianugerahi kartu asuransi ASKES. Sempat terpikir bahkan memang berniat menggunakan kartu tersebut. Setelah mengambil nomor antrian elektronik (kebetulan dipisah antara pasien ASKES dan pasien biasa), kami menuju ke meja pendaftaran. Nomor terpampang di papan elektronik khusus ASKES. Nomor yang muncul adalah C002 sementara nomor antrian yang kami pegang adalah C003. Semenit dua menit kami menunggu belum ada pergerakan dari nomor antrian ASKES tersebut. Sedangkan nomor antrian pasien biasa sudah ebrgerak lebih dari dua angka. Akhirnya kami putuskan untuk undur dari penggunaan kartu ASKES tersebut dan aku ambil lagi nomor antrian pasien biasa pada mesin antrian. Setelah sebelumnya mengisi form aplikasi pasien yang berisi tentang identitas bla bla bla akhirnya kami dipersilahkan untuk menuju ke klinik kebidanan yang disa an diberi nama Anyelir.
Yang namanya instansi berplat merah memiliki urusan birokrasi tersendiri. Mungkin biar tertib administrasi "katanya". Setelah masuk ke klinik kebidanan tersebut kami melakukan registrasi lagi. Setelah di beri print out dari selembar kertas akhirnya kami dipersilakan masuk ke ruang timbang. Ting tong,...tidak ada petugasnya. Kami diminta untuk menunggu....dari jam 08.00 sampai jam 10.00 kami menunggu datangnya si suster tukang timbang itu. Mulai duduk tidak nyaman serong kiri serong kanan, makan roti Tango wafer dan sari kedelai hangat. Mendapt informasi kalau sang dokter sedang melakukan operasi tadi. Terhadap seorang perempuan yang mengalami pendarahan. Satu kata aku dan istriku. O.
Setelah menunggu agak sebentar (tolong ya digaris bawahi, agak sebentar), akhirnya kami dipanggil ke ruang USG (sebelumnya juga udah timbang). Di dalam ruang USG akhirnya istriku dipersilakan untuk berbaring, punggungnya diberikan alas semacam busa peninggi gitu. Jujur untuk pelayanan di dalam ruang USG ini ramah dan baik (mungkin yang kurang baik pegawai administratifnya saja). Dalam batin kami menebak-nebak, Dokter Sadina yang kek gimana ya, jadi penasaran setelah mendapatkan penelusuran bahwa dokternya baik dan ramah. Dur,...dur....durr.....setelah denga pose siap untuk di USG akhrinya eng ing eng... si dokter pun datang. Dan benar ternyata dokter Sadina itu ramah, baik dan cenderung gaol getooohhhh....
Penjelasan demi penjelasan disampaikan dengan ramah, sambil menggerak-gerakkan alat USG nya si dokter menunjuk-nunjuk jani alias si jabang bayi alias si dedek (aku manggilnya gitu). Detail demi detail dijelaskan, hingga kami pun hanya melongo a o a o saja. Setela selesai mengukur umur si jabang bayi alias janin akhirnya si dokter mencetak hasil USG tersebut, kemudian istriku mulai merapikan pakaiannya. Kemudian kami masih dipersilakan untuk ngobrol sama dokternya, sebenarnya bukan ngobrol sih tapi mungkin si dokter mau ngasih tau saran-saran atau obat yang akan berguna bagi istriku.
Kata dokter Sadina si janin sudah menunjukkan tanda-tanda kehidupan, sudah ada plasentanya..bentuknya lucu...duh..ini to calon dedek.....
Sebagai oleh oleh dari dokter Sadina di berikan hasil USG adalah resep yang ditulis untuk nebus vitamin Folavit di apotik serta diberikan pula print out dari hasi USG. Mau tau????hihihi.....
Gak nyangka ternyata udah ada HPL nya juga...alhamdulillah....
Sang dedek dan plasenta
Alhamdulillah tidak ada kelainan dan janin dinyatakan sehat
dedeknya udah gerak-gerak lho..kata dokter Sadina sih udah ada tanda-tanda kehidupan itu
Nah dari hasil USG tersebut usia janin istriku diperkirakan berusia 6 minggu 6 hari (kurang sehari berusia 7 minggu) hihihi..kemudian disarankan pula untuk tidak makan-makanan yang bersifat asam. tidak minum soda. Lalu kata dokter, sampai ketemu 4 minggu lagi ya...
Posted by
Andhika Willy Wardana
Jam
16:48
Wednesday, 9 January 2013
Awal Kehamilan Istriku
Setelah aku dan istriku menapaki kehidupan pernikahan beberapa komitmen memang sudah terbentuk dari awal. Salah satunya adalah tentang memiliki momongan atau bayi atau anak.Pada awalnya setelah istriku penempatan di salah satu kementerian di Jakarta, istriku berniat untuk melanjutkan studi ke jenjang di atasnya. Studi yang dikehendaki ini merupakan studi lanjutan yang dinaungi kementerian tersebut. Dengan asumsi studi tersebut dapat ditempuh selama satu tahun maka kami pun bersabar untuk memiliki momongan tersebut.
Sebenarnya nya proses bersabar tersebut juga bukan merupakan proses untuk menunda kehamilan kemudian secara sengaja kami menggunakan KB untuk menundanya. Tidak. Kami hanya melakukan penundaan kehamilan menggunakan metode alami yaitu dengan menggunakan sistem kalender. Fertile dan Infertile.
Setelah kemudian program kami tersebut berjalan kurang lebih 6 bulan setelah kami menikah. Ternyata istriku kemudian mengetahui tentang satu pengumuman tentang studi lanjutan tersebut. Rincian pengumuman aku lupa je...hehehehe... Yang jelas setelah mengetahui pengumuman tersebut kemudian kami meninggalkan program fertile dan infertile yang kami jalani sebelumnya.Perjuangan dilanjutkan dengan semangat 45. Selain meninggalkan orientasi tentang studi lanjutan istriku tadi sebenarnya kami juga udah gerah dengan pertanyaan dari orang-orang "gimana udah isi belum?"... selalu saja pertanyaan itu menguing nguing di dalam telinga kami setiap kami berpapasan dengan orang yang telah mengetahui bahwa kami menikah 6 bulan yang lalu.
Setelah kemudian kami melepaskan program tersebut akhirnya perlahan lahan ada tanda-tanda yang terjadi pada istriku. Katanya istriku dia jarang mengalami telat datang bulan dan pada saat itu istriku telat sekitar 1 minggu an. Kemudian aku menyarankan untuk dilakukan pengetesan sederhana melalui test pack. Setelah dilakukan pengetesan (kebetulan testpack dilakukan dua kali, yang pertama aku yang beli test packnya yang kedua istriku sendiri yang beli testpacknya karena pada saat yng kedua aku sedang ada tugas di luar daerah).
Dua kali dilakukan test pack hasilnya sama seperti gambar tersebut. Harusnya apabila seorang wanita itu memang positif hamil harusnya muncul dua garis berwarna merah. Namun dua kali pengetesan warnanya masih kurang jelas. Yang satu berwarna merah jelas dan yang satu samar-samar berwarna ungu.
Karena kami merasa penasaran dan ingin menjaga pula kondisi janin (asumsi istriku emang benar sudah hamil), maka kamu pun berniat untuk memeriksakannya ke dokter kandungan. Sebenarnya saat keinginan itu muncul kami sedang berada di Semarang untuk menghadiri pernikahan rekan istriku. Sempat terpikir untuk melakukan pemeriksaan di dokter kandungan yang ada di Semarang. Akan tetapi setelah bertanya kiri dan kanan akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke dokter kandungan di Jakarta saja.
Setelah sanpai di Jakarta tepatnya di kontrakan kami yang berada di seputaran Slipi. Kami kemudian mengumpulkan informasi tentang keberadaan dokter dokter kandungan yang memiliki rekomendasi untuk dikunjungi (tepatnya untuk memeriksa kehamilan istriku). Kebetulann di dekat tempat rumah kontrakku terdapat salah satu rumah sakit anak dan bunda. Yaitu RSAB Harapan Kita. Kemudian kami melakukan pencarian dokter kandungan yang memiliki prestasi dan kalau bisa dokter tersebut berjenis kelamin perempuan.
Setelah dilakukan pencarian kemudian kami menuju ke rumah sakit tersebut. Setelah masuk ke dalam rumah sakit tersebut kami langsung menuju ke meja customer service (untuk menanyakan dimana letak keberadaan klinik kebidanan). Namun karena hari itu merupakan masa-masa liburan tahun baru, maka dengan lugas petugas jaga di counter customer service mengatakan bahwa hari tersebut klinik kebidanan libur.
Dengan langkah penasaran dan was-was akhirnya kami memutuskan untuk duduk sebentar di ruang tunggu dekat customer service tersebut. Setelah sedikit beradu pendapat (aku dan istriku) akhirnya kami melincur ke salah satu rumah sakit swasta di daerah Semanggi (MRCC Siloam). Sebelumnya aku sudah menghubungi rumah sakit tersebut untuk menanyakan jadwal klinik kebidanan (karena aku tidak mau nanti sudah jauh sampai Semanggi eh kliniknya tidak buka)dan syukurnya ternyata meski dalam masa liburan klinik kebidanan di rumah sakit swasta tersebut tetap buka.
Setelah sampai di rumah sakit swasta tersebut akhirnya kami langsung naik ke lantai 19 tempat dimana klinik kebidanan berada. Setelah melakukan proses antri dan pelengkapan prosedur administrasi, akhirnya istriku diperiksa dokter. Kalau tidak salah pada saat itu nama dokternya dokter Alvin. Dokter yang tidak pernah kami duga ternyata asalnya adalah dari Jogjakarta. Setelah dilakukan diskusi antara kami dan dokter Alvin akhirnya disepakati untuk melihat atau mengecek kehamilan istriku melalui aat USG. Karena istriku telatnya masih itungan hari, dokter tersebut menyarankan untuk dilakukan USG dari dalam. Setelah disetujui kemudian kami menuju ke ruang USG. Setelah dilakukan USG diperoleh hasil bahwa memang terdapat janin di rahim istriku. Dengan posisi yang normal.Untuk ukuran masih kecil karena mungkin baru berumur beberapa hari (bahkan alat USG dotker tersebut tidak bisa membaca berapa umur janin trsebut).
Alhamdulillah. Paling tidak kata itu yag sering meluncur dalam benak kami. Akhirnya Alloh SWT memberikan kepercayaan kepada kami untuk dapat menjaga keturunan kami. Dan semoga saja (senantiasa terlantun dalam doa kami) jani tersebut senantiasa sehat (ibunya juga sehat), dan dapat menjadi manusia yang senantiasa berjalan di jalan Alloh SWT, berbakti kepada orang tua, berguna bagi keluarga masyarakat dan bangsa.
Sebenarnya nya proses bersabar tersebut juga bukan merupakan proses untuk menunda kehamilan kemudian secara sengaja kami menggunakan KB untuk menundanya. Tidak. Kami hanya melakukan penundaan kehamilan menggunakan metode alami yaitu dengan menggunakan sistem kalender. Fertile dan Infertile.
Setelah kemudian program kami tersebut berjalan kurang lebih 6 bulan setelah kami menikah. Ternyata istriku kemudian mengetahui tentang satu pengumuman tentang studi lanjutan tersebut. Rincian pengumuman aku lupa je...hehehehe... Yang jelas setelah mengetahui pengumuman tersebut kemudian kami meninggalkan program fertile dan infertile yang kami jalani sebelumnya.Perjuangan dilanjutkan dengan semangat 45. Selain meninggalkan orientasi tentang studi lanjutan istriku tadi sebenarnya kami juga udah gerah dengan pertanyaan dari orang-orang "gimana udah isi belum?"... selalu saja pertanyaan itu menguing nguing di dalam telinga kami setiap kami berpapasan dengan orang yang telah mengetahui bahwa kami menikah 6 bulan yang lalu.
Setelah kemudian kami melepaskan program tersebut akhirnya perlahan lahan ada tanda-tanda yang terjadi pada istriku. Katanya istriku dia jarang mengalami telat datang bulan dan pada saat itu istriku telat sekitar 1 minggu an. Kemudian aku menyarankan untuk dilakukan pengetesan sederhana melalui test pack. Setelah dilakukan pengetesan (kebetulan testpack dilakukan dua kali, yang pertama aku yang beli test packnya yang kedua istriku sendiri yang beli testpacknya karena pada saat yng kedua aku sedang ada tugas di luar daerah).
Dua kali dilakukan test pack hasilnya sama seperti gambar tersebut. Harusnya apabila seorang wanita itu memang positif hamil harusnya muncul dua garis berwarna merah. Namun dua kali pengetesan warnanya masih kurang jelas. Yang satu berwarna merah jelas dan yang satu samar-samar berwarna ungu.
Karena kami merasa penasaran dan ingin menjaga pula kondisi janin (asumsi istriku emang benar sudah hamil), maka kamu pun berniat untuk memeriksakannya ke dokter kandungan. Sebenarnya saat keinginan itu muncul kami sedang berada di Semarang untuk menghadiri pernikahan rekan istriku. Sempat terpikir untuk melakukan pemeriksaan di dokter kandungan yang ada di Semarang. Akan tetapi setelah bertanya kiri dan kanan akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke dokter kandungan di Jakarta saja.
Setelah sanpai di Jakarta tepatnya di kontrakan kami yang berada di seputaran Slipi. Kami kemudian mengumpulkan informasi tentang keberadaan dokter dokter kandungan yang memiliki rekomendasi untuk dikunjungi (tepatnya untuk memeriksa kehamilan istriku). Kebetulann di dekat tempat rumah kontrakku terdapat salah satu rumah sakit anak dan bunda. Yaitu RSAB Harapan Kita. Kemudian kami melakukan pencarian dokter kandungan yang memiliki prestasi dan kalau bisa dokter tersebut berjenis kelamin perempuan.
Setelah dilakukan pencarian kemudian kami menuju ke rumah sakit tersebut. Setelah masuk ke dalam rumah sakit tersebut kami langsung menuju ke meja customer service (untuk menanyakan dimana letak keberadaan klinik kebidanan). Namun karena hari itu merupakan masa-masa liburan tahun baru, maka dengan lugas petugas jaga di counter customer service mengatakan bahwa hari tersebut klinik kebidanan libur.
Dengan langkah penasaran dan was-was akhirnya kami memutuskan untuk duduk sebentar di ruang tunggu dekat customer service tersebut. Setelah sedikit beradu pendapat (aku dan istriku) akhirnya kami melincur ke salah satu rumah sakit swasta di daerah Semanggi (MRCC Siloam). Sebelumnya aku sudah menghubungi rumah sakit tersebut untuk menanyakan jadwal klinik kebidanan (karena aku tidak mau nanti sudah jauh sampai Semanggi eh kliniknya tidak buka)dan syukurnya ternyata meski dalam masa liburan klinik kebidanan di rumah sakit swasta tersebut tetap buka.
Setelah sampai di rumah sakit swasta tersebut akhirnya kami langsung naik ke lantai 19 tempat dimana klinik kebidanan berada. Setelah melakukan proses antri dan pelengkapan prosedur administrasi, akhirnya istriku diperiksa dokter. Kalau tidak salah pada saat itu nama dokternya dokter Alvin. Dokter yang tidak pernah kami duga ternyata asalnya adalah dari Jogjakarta. Setelah dilakukan diskusi antara kami dan dokter Alvin akhirnya disepakati untuk melihat atau mengecek kehamilan istriku melalui aat USG. Karena istriku telatnya masih itungan hari, dokter tersebut menyarankan untuk dilakukan USG dari dalam. Setelah disetujui kemudian kami menuju ke ruang USG. Setelah dilakukan USG diperoleh hasil bahwa memang terdapat janin di rahim istriku. Dengan posisi yang normal.Untuk ukuran masih kecil karena mungkin baru berumur beberapa hari (bahkan alat USG dotker tersebut tidak bisa membaca berapa umur janin trsebut).
Alhamdulillah. Paling tidak kata itu yag sering meluncur dalam benak kami. Akhirnya Alloh SWT memberikan kepercayaan kepada kami untuk dapat menjaga keturunan kami. Dan semoga saja (senantiasa terlantun dalam doa kami) jani tersebut senantiasa sehat (ibunya juga sehat), dan dapat menjadi manusia yang senantiasa berjalan di jalan Alloh SWT, berbakti kepada orang tua, berguna bagi keluarga masyarakat dan bangsa.
Posted by
Andhika Willy Wardana
Jam
15:35
Subscribe to:
Comments (Atom)





