Sunday, 12 November 2017

Mbak Yani, The Best 1St House Assistant We Met

nah, akhirnya kali ini kesempatan buat nulis testimoni asisten rumah tangga kami yang pertama kali kami dapatkan sendiri. Tau kan beberapa lama lalu tulisan tentang kehadiran anak kami yang kedua. Tentunya hal itu juga berdampak ke kehidupan kami mengingat aku dan istriku sama sama bekerja. Aidan yang saat itu Daycare pun mau tidak mau musti pensiun dari Daycare yahud di LIPI. Kami memutuskan dengan usia Aidan yang bertambah Aidan mau gak mau memang harus move on menjadi anak rumahan yang nantinya akan rutin rumah sekolah rumah sekolah. Selain pertimbangan itu, faktor biaya juga mempengaruhi pilihan kami untuk akhirnya menggunakan jasa asisten rumah tangga. Ya ada juga sih faktor g tega kalau nantinya anak kami yang kedua yang masih bayi banget musti terpapat kemacetan ibukota...hehehe...capeknya bro..kasihan...

Akhirnya diputuskan lah bahwa kami akan menggunakan jasa asisten rumah tangga. Bertanya kesana kesini, dari yang penyalur biasa ke penyalur yayasan. Ada beberapa plus minus dari perbandingan dua jasa penyediaan tenaga kerja tersebut. Dari mulai harga, sisi profesionalitas, attitude, dan lain sebagainya. Dalam hal ini kami menekankan pentingnya attitude untuk asisten rumah tangga. Karena beberapa informasi di media sosial menggambarkan kekejaman sosok dari asisten rumah tangga dari mulai perilaku kriminal pencurian sampai ke penganiayaan. Ngobrol sana sini sama temen yang menggunakan jasa penyalur tenaga kerja malah bikin galau karena ternyata ujungnya semua kembali ke attitude individunya, penyalur baik itu resmi atau tidak resmi tidak dapat memberikan garansi 100% terhadap perilaku sang asisten rumah tangga.
Gila kan, selain susahnya mendapatkan asisten rumah tangga ternyata masih ada kendala lagi dari attitude si pengasuhnya. Tetapi kami tidak lantas gegabah dengan istilah yang penting dapat dulu. Dan kebetulan aku punya jiwa yang agak prejudice ketika melihat seseorang, bahkan ketika pertama kali melihat fotonya pun aku sudah bisa menduga duga. Dari beberapa penyalur yang menyodorkan tenaga asisen rumah tangga kami selalu minta fotonya. Dan hampir 100% kami menolak kandidat asisten rumah tangga tersebut. Hahahahaha...sudah kayak macam audisi aja kami ini. Kami tetep yakin bahwa bila tiba saatnya nanti Alloh akan memberikan yang terbaik untuk kami.

Hingga satu waktu, kami mendapatkan rekomendasi dari temen di kampung (Terima kasih ya mas Vuad Arnis Nugroho) beberapa penyalur di daerah Magelang dan sekitarnya yang pernah digunakan oleh Mas Vuad tadi. Dari penyalur yang mas Vuad rekomendasikan akhirnya nyantol satu. Penyalurnya namananya Pak Tur, dari daerah di Kabupaten Magelang. Dan luar biasanya, Pak Tur ini tidak mematok tarif untuk usahanya mencarikan tenaga asisten rumah tangga. Seiklhasnya saja, luar biasa bukan. Dari beberapa komunikasi akhirnya kami diberikan informasi ada tenaga yang mau bekerja. Awalnya ada dua tenaga yang dibundling mau bekerja di tempat kami, tapi karena rumah kami kamarnya kecil akhirnya kami menyampaikan kalau kami butuh satu tenaga saja. Dan akhirnya kami mendapatkan sosok asisten rumah tangga yang ternyata TOP.

Dari awal penampakan foto yang dikirimkan Pak Tur kepada kami, kami sudah yakin ini orang baik, dengan wajah yang lugu dan beberapa testimoni yang disampaikan Pak Tur akhirnya dengan bacaan basmallah kami hire Mbak Yani sebagai anggota keluarga kami. Oh iya, setiap kami hendak menggunakan jasa tenaga asisten rumah tangga kami selalu menekankan bahwa hubungan kami dengan asisten rumah tangga bukan layaknya majikan dengan bawahan, melainkan kami anggap sebagai saudara sendiri. 

Akhirnya Mbak Yani pun berangkat dari Magelang ke rumah kami di daerah Tangerang Selatan menggunakan travel yang drop off door to door, sehingga tidak ada cerita kesasar mencari rumah atau kami kerepotan menjemput di terminal atau di stasiun.

Kami masih ingat ketika pertama kali Mbak Yani menginjakkan kaki di rumah kami, dari mulai uncluk uncluk masuk kamar hingga akhirnya malu malu saat bercakap cakap dengan kami. Sopan banget orangnya, gud point saat pertama jumpa. Meskipun kami juga sebelumnya telah memasang cctv sebagai jaga jaga, ini saran dari tetangga juga. Dan dalam hal pekerjaan rumah Mbak Yani ini ternyata tidak pilih pilih semua dijabanin, kecuali untuk masak karena lidahku sudah biasa dimanjakan sama masakan istri...hehehehe so untuk memasak tetep istri. Ya meskipun Mbak Yani bantu bantu juga, awalnya si cuma ngliatin istriku masak, lalu mulai nanya nanya apa yang bisa dibantu dari iris bumbu, nguleg sampai rajang rajang bahan masakannya. Pokoknya rumah kami yang biasanya berantakan jadi luar biasa rapi deh berkat Mbak Yani, bahkan sampai rumput di depan rumah dia cabutin dengan telaten. Ini sampai istriku terkesan banget deh, sampai kami bilang kalau Mbak Yani is the best House Assistant We Ever Met.

Terima kasih ya Mbak Yani. Dan ternyata di balik keluguan Mbak Yani, dia sudah lama malang melintang bekerja bersama orang di perantauan (mulai dari Jambi, Tangerang, Jogja dan Sleman)
Tapi sayang sungguh sayang, ke Te O Pe an Mbak Yani tadi harus kami akhiri karena istri pindah tugas ke Jambi. Kami harus merelakan Mbak Yani untuk tidak bekerja lagi bersama kami. Bahkan saking nyesegnya aku sendiri pernah jengkel sama Mbak Yani karena dia g mau ikut kami ke Jambi meskipun sudah kami sampaikan insentif lebih yang bisa kami berikan. Tapi keputusan untuk tidak ikut ke Jambi karena memang amanah dari suaminya, ya kami mau gimana lagi. Suaminya yang lebih berkuasa atas Mbak Yani. 

Dan akhirnya kami memutuskan untuk merelakan Mbak Yani untuk pulang ke kampung halamannya di Magelang sana. Hiks hiks hiks....sudah sudah Alloh tau yang terbaik untuk hamba Nya. 

Inilah akhir cerita dari testimoni kami untuk Mbak Yani, kami selalu mendoakan semoga segala urusan Mbak Yani dan keluarga selalu dimudahkan dan diridhoi Alloh SWT. Terima kasih Mbak Yani. Mohon maaf pula kalau selama tinggal bersama kami banyak hal yang kurang berkenan di hati Mbak Yani. 

Monday, 6 November 2017

Perumahan Villa Kenali Permai

Setelah lama tidak menulis karena gempuran media sosial yang lain yang memanjakan dan melenakan serta membuat aku menjadi malas untuk menuliskan cerita atau sekedar merangkai kata-kata. Yah bagaimana tidak sekarang tinggal klik hiburan visual yang gratisan dan dapat menyesuaikan keinginan kita, ingin nonton apa, bisa customize iklannya....meskipun banyak yang memanfaatkan momen ini untuk mendapatkan pundi pundi dengan kreatifitas membuat video blogging....hehehe aku pernah mencoba, dan belum berhasil...ingat belum ya, bukan tidak...
Lalu media sosial laiinnya yang melenakan kita dengan hingar bingar keakraban semu di dunia maya. 

Yah, begitulah, entah kenapa malam ini aku bisa muncul hasrat untuk menulis...mungkin juga efek LDM juga kali ya..galau man...

Oke, kembali ke judulnya (bukan kembali ke laptop ya, khawatirnya nanti digugat hak cipta..wkwkwkwk). Tulisan ini sebenarnya harusnya segera dirilis setelah tulisanku sebelumnya tentang mutasi istri dan anak-anakku ke Jambi kemarin. Ya, karena judul dari tulisanku kali ini merupakan tempat yang terpilih untuk menjadi tempat tinggal istri dan anak-anakku di Jambi.

Perumahan Villa Kenali Permai, setelah beberapa waktu sebelumnya istriku sendiri survei ke Jambi untuk mencari rumah kontrakan (hebat kan istriku, hehehe soalnya karena kondisi anak-anakku yang gak mungkin diajak untuk survey ke Jambi. Berbekal iklan di salah satu portal jual beli (baca OLX) akhirnya istriku menelusuri Kota Jambi dengan berjalan kaki antara satu perumahan ke perumahan, kalau agak jauhan sih memanfaatkan layanan aplikasi transportasi online. Pas ke Jambi ya luar biasa sih, ternyata jarak antara satu perumahan dengan perumahan yang lain (yang ditelusuri menggunakan moda jalan kaki) jauh, hebat memang istriku itu. Padahal waktu itu cuaca lagi panas dan banyak debu, sampai istriku bilang kalau kakinya sampai belang terbakar matahari dan jadi bersisik karena debu.

Pilih dipilih akhirnya ketemua sama salah satu rumah di Perumahan Villa Kenali Permai. Yah lumayan besar si (apalagi kalau dibandingkan dengan rumah di Cluster Sudimara Bintaro Blok F1, jauh brooo) dengan kamar tiga buah (2 kamar ukuran 3x3, satu kamar ukuran 6x3) ruang tengah dan ruang tamu yang besar, satu kamar mandi dengan bak mandi ukuran besar, dapur yang relatif standar ukurannya serta lantai atas untuk jemuran pakaian. Menariknya di Jambi ini adalah ketersediaan air PAM yang hanya mengalir tatkala matahari sudah tenggelam. Biasanya sih air mulai mengalir pada pukul 20.00, dan tidak ada sumber air cadangan (misalkan air sumur, karena konon katanya kondisi air sumur mengandung minyak, meskipun sudah dilakukan pengeboran hingga mencapai kedalaman 80 meter). Jadinya standar rumah di Jambi, khususnya di Perumahan Villa Kenali Permai pasti memiliki tandon air (kalau di Jakarta sering disebut toren, kalau di Jambi disebut Tedmon). Dan pertama kali ke Jambi ini kaget banget sama air nya, lumpur bro...ini air pam aja kayak gini apalagi air sumurnya, so kami musti pasang filter air ala ala yang ditancapkan di keran kamar mandi, itupun tidak menjamin air dalam bak kamar mandi akan bersih selamanya, paling tidak minimal dua minggu sekali kami musti kuras bak mandinya untuk membuang lumpur yang mendendap di dasar bak kamar mandi.Oh iya satu lagi kisah tentang air ini, karena waktu mengisi air itu hanya bisa dilakukan saat malam hari, maka sudah menjadi cerita umum kalau kami musti mengalami tragedi air melimpah limpah saat pukul 03.00 dini hari, karena kami kan kalau malam tidur so air penuh g ketahuan. Yah begitulah tentang air.

Kemudian cerita lain lagi ketika kami harus mengisi perabotan rumah ini, kan kami dapat rumah ini kondisi kosongan alias bukan full furnished, so kami musti mengisi perabotan rumah. Saat itu yang menjadi prioritas adalah kulkas (untuk keperluan ASI perah dari istriku), kompor plus tabung gas nya, dan kasur. Dengan itung-itungan budget, akhirnya kami (tepatnya istriku) menitipkan sejumlah uang ke pemilik rumah untuk membelikan barang barang tersebut. Setelah tinggal di sana kemudian kami mulai perlahan lahan menambahh kebutuhan perabotan seperti freezer untuk menyimpan ASIP, kemudian satu kasur lagi untuk calon pengasuh Ahza, Televisi, dan layanan internet (maklum mantan orang Jakarta yang tidak terlalu bisa lepas dari koneksi internet, apalagi jaringan sinyal televisi free to airtidak terlalu bagus). Mungkin aku kedepannya aku akan menulis tentang jaringan internet di Jambi dan testimoni atau cerita bagaimana kami mendapatkan pengasuh Ahza (padahal rencanaku untuk menulis tentang pengasuh Ahza sebelumnya belum terlaksana). Oh iya ada satu lagi, karena kami belum memiliki kendaraan pribadi kami mengandalkan aplikasi transportasi online untuk menjangkau ke beberapa tempat di Kota Jambi. Saat itu baru ada Gojek, kalau sekarang sih Grab dan Uber juga udah masuk baik untuk kendaraan roda empat maupun roda dua nya. Tapi karena lama-lama karena dirasakan repot dan berat diongkos akhirnya kami memutuskan untuk membeli kendaraan pribadi (baca motor matic, oh iya bahan tulisan lagi kayaknya ke depan tentang motor ini mengingat istriku udah lama banget gak naik motor, terakhir kalau tidak salah pas waktu SMP) dan lagi lagi berbekal aplikasi jual beli OLX kami melakukan pencarian kendaraan bermotor roda dua matik yang kelengkapan surat surat dan pajaknya beres, apa itu motornya? kayaknya nanti bakal aku tulis lagi deh..hehehehe...

So kali ini sepertinya cukup ulasanku tentang Perunahan Villa Kenali Permai, tempat tinggal sementara keluargaku (smoga saja tahun depan sudah balik ke Cluster Sudimara Bintaro Blok F No. 1, Aaaaaamiiiin), di mana sih tepatnya perumahan itu, hehehehe anakku Aidan aja udah tahu jalannya, pokoknya lewat penjual gorengan belok kiri ya (menirukan saat kami sedang mengarahkan driver gocar, hehehehe)....

Tuesday, 5 September 2017

Mutasi change everything

Mutasi...pernah dengar kata ini bukan..ya kalau belum bisa lah buka kamus atau mbah gugel juga ada. Mutasi sering diidentikkan dengan rotasi pegawai, bongkar pasang pegawai, baik dari posisi jabatan maupun tempat atau wilayah kerja *penempatan. Identik juga dengan promosi atau demosi. Pada intinya sih cuma satu, jenengan atau anda tidak bisa bertahan atau stay di satu tempat kerja atau di satu jabatan tertentu atau di satu posisi tertentu. Anda harus bisa move on...kalau gagal move on gimana? ya entahlah, mau gak mau mau, setuju atau tidak setuju anda harus move on..hehehehe...

Mutasi juga dikenal di seluruh penjuru atau tempat bekerja, baik instansi pemerintah maupun swasta, bahkan dari karyawan pasar sampai bos bos berdasi antar provinsi antar pulau bahkan antar negara juga mengenal istilah mutasi. Bahkan kendaraan bermotor pun yang notabene benda mati juga mengenal adanya mutasi. 

Lalu kali ini kenapa aku nulis tentang mutasi? apa aku kena mutasi? apa aku terkena rotasi ?
yes...you're right...tapi bukan aku tepatnya yang kena mutasi, melainkan istriku, mantan pacarku, ibunya anak anakku. Promosi apa demosi...mmmm mungkin tepatnya promosi ya, karena menduduki posisi yang baru dan berbeda dari posisi sebelumnya. Dari yang sebelumnya staf pelaksana biasa menjadi jabatan fungsional tertentu (mmmm...detail jabatannya tidak aku sampaikan di sini ya, mengingat aspek kerahasiaan yang diatur dalam undang-undang, hahahahaha).

Nah, sebenarnya memang aku dan istriku sudah menyadari, lambat atau cepat istriku pasti kena mutasi. Tidak ada pegawai yang abadi di satu tempat kerja atau satu tempat kantor. Semua pasti akan pindah, entah kapan waktunya dan entah kemana penempatannya. Entah jabatan biasa atau jabatan tertentu. Entah promosi atau sekedar rotasi biasa. Semua akan pindah pada waktunya.

Nah, karena memang sudah tahu hal itu sebelumnya...(mhhhhhh...tarik nafas karena nyeseg juga kalau mengingat ingat, namun bagaimanapun semua harus dijalani) kami sudah berembug, berembug di atas ranjang..(eits..jangan ngeres dulu, karena sejak ada anak-anak ranjang lah tempat yang aman dan nyaman serta kondusif untuk melakukan kegiatan rapat atau rembugan, tentu saja menunggu anak anak tidur). Kami berbicara di atas ranjang (wis lah gak usah disebutin lagi ranjangnya, pikirannya jadi aneh aneh), bahwa di kantornya sedang ada program pengangkatan jabatan fungsional "agak" besar-besaran, dan karena dulu istriku pernah ikut diklat fungsional tersebut maka kemudian istriku ditawari kembali untuk menduduki jabatan tersebut. Tentu dengan konsekuensinya, seperti penempatan tempat kerja (yang ini gak tahu kemana) dan insentif yang diterima serta beban kerjanya. Setelah banyak pertimbangan, terutama aku gak mau dibilang membatasi istriku meskipun terbesit dalam pikiran kami berdua nanti anak anak gimana kalau istriku pindah pindah (tapi untuk hal ini mau gak mau emang kerjaan di kantor istriku tidak mengijinkan seseorang abadi tinggal di satu tempat) maka akhirnya aku setujui istriku untuk mengambil jabatan fungsional itu. eh saat itu istriku sedang mengandung anak kedua kami ya...

Dan dua hari menjelang kelahiran anak kedua kami ada pengumuman meluncur. Penempatan pegawai fungsional. Jeng jeng jeng...awalnya sih harapanku istriku ditempatkan di Jakarta saja, atau Bandung atau Tangerang atau Jogjakarta, tapi ternyata Alloh berkehendak lain, Istriku ditempatkan sebagai pegawai fungsional di....di....di....Kota Jambi. jreng jreng jreng....kok bisa? kok bisa di Jambi sih? duh trus gimana? bla bla bla....tapi lagi lagi rembugan di atas (ranjang tuh kan disebut lagi ranjangnya) akhirnya dengan pasrah dan yakin bahwa Alloh memiliki reencana dan kehendak atas penempatan ini akhirnya kami menghela nafas dan baiklah mari kita hadapi ini.

Lalu mbak yang kami persiapkan untuk momong adiknya Aidan (eh kan sekarang udah tahu namanya ya...hihihi Ahza Gaffar Kusumayuda) ternyata tidak berkenan alias tidak diperkenankan oleh suaminya untuk ikut kami ke Jambi, duh padahal top recomended banget mbak ku yang ini (besok deh aku bikin tulisan khusus tentang mbak ku ini)yowis mau gimana lagi, meskipun sebelumnya aku sempat kecewa sama mbak ku, kok tega sih sama kami yang musti nyari mbak mbak lagi di Jambi nanti, padahal mbak ini udah kami anggap sebagai keluarga sendiri, sudah bisa klik sama Aidan. Padahal sudah dibilangin masalah waktu tempuh Jambi - Magelang bisa ditempuh lebih cepat daripada Tangerang Selatan - Magelang, tapi tetep aja mendengar kata Jambi yang berarti di luar pula membuat suami mbak ku tidak mengijinkan untuk ikut bersama kami. hiks hiks hiks...

Ya sudahlah mau gimana lagi, mau gak mau suka gak suka setuju gak setuju memang harus dijalani apa adanya...dan pas menjalani hari hari menjelang keberangkatan kami ke Jambi aku senantiasa mengingat ayat Al Quran surat Al Baqoroh (ayat terakhir) yang menyatakan bahwa Alloh tidak memberikan ujian kepada manusia melebihi kemampuan manusianya. dari situ aku yakin bahwa semua ini pasti ada hikmahnya. pasti ini baik...

Sempat juga kepikiran apa ini jalan membebaskan riba (metode amputasi) dengan menjual rumah di Cluster Sudimara Bintaro lalu beli rumah secara cash di Jambi. Tapi ternyata langkah itu belum kami tempuh. Astaghfirulloh.....dunia masih memberatkan kami, dari sisi sentimentil dan pikiran bagaimana nanti kalau balik lagi ke Jakarta. Masih nyari rumah lagi. bla bla bla....astaghfirulloh di sini sebenarnya aku sadar kalau aku secara tidak langsung sudah meragukan kekuasaan Alloh...astaghfirulloh....

Baiklah, tapi semua memang harus dijalani..mutasi ke Jambi insyaAlloh kami siap menyambutmu...rencana demi rencana yang disusun semua diputuskan atau Alloh telah mengetahui apa yang akan terjadi. Bismillah....insyaAlloh kami akan jalani mutasi di Jambi ini, tepatnya istriku,,,tentu saja dengan segala konsekuensinya karena aku juga tidak bisa meninggalkan pekerjaanku di Jakarta, next kami akan menjalani kehidupan Long Distance Marriage...dan aku juga akan menjalani atau merasakan yang namanya PJKA alias pulang jumat kembali ahad... Jakarta-Jambi-Jakarta tiap week end atau paling tidak atau paling minim satu bulan dua kali....

Semua akan berubah, dan kami belum tahu bagaimana kehidupan di Jambi, tapi baiklah akan kami jalani. Mutasi istri ke Jambi

Friday, 28 July 2017

Blue Light

Masih nyambung sama tulisan yang kemarin, kelahiran anakku yang kedua. Biasa, salah satu kondisi was was pasca anak lahir adalah kondisi bilirubin. Iya itu wajar, karena semua bayi saat didalam kandungan pencernaannya menggunakan enzim eh apa lah namanya, yang kemudian enzim atau apalah namanya itu tidak akan berfungsi atau harus dikurangi jumlahnya ketika nanti bayi melakukan proses pencernaan di luar kandungan. Nah enzim itulah yang nantinya harus dibuang atau dipecah lalu dikeluarkan melalui keringat, pipis atau pup bayi. Pada saat proses pemecahan inilah organ hati berusaha keras. Ketika enzim tersebut gagal atau kurang berhasil untuk dikeluarkan maka akan timbul warna kuning pada kulit dan mata. Nah, kalau orang jaman dulu, bayi pada awal awal kelahirannya dijemur di pagi hari kan, sebenarnya analogi nya adalah untuk memicu keringat dari si bayi sehingga proses pengeluaran enzim melalui keringat berhasil. Selain itu juga diusahakan untuk mimik yang banyak agar memperlancar proses pengeluaran melalui urine dan faeses. Meskipun ada beberapa dokter yang menolak analogi menjemur bayi dengan alasan suhu yang dingin atau malah terpapar radiasi sinar ultraviolet.

Tapi kebanyakan kondisi rumah sakit di kota menyediakan ruang perawatan untuk bayi dengan suhu yang rendah, nah kalau kayak gini gimana bisa berkeringat si dedek bayi nya. Malah sempat suudzon aku, jangan jangan ini by design..hahahaha...demi pemasukan rumah sakit...

Nah, kejadian sama si Ahza....karena paket melahirkan (3 hari 2 malam) sudah habis...karena istri melahirkan di hari kedua sehingga mau g mau di hari kedua (real perawatan) kami musti pulang, sebenarnya sih extra sehari juga g apa apa, tapi karena kondisi istriku sudah diijinkan pulang oleh dr obgyn nya dan bosen sama suasana rumah sakit(adakah orang yang mau berlama lama di rumah sakit, semewah apapun rumah sakitnya aku kira g ada yang mau) so kami pulang. Nah, karena memang kondisi bayi belum memungkinkan untuk dilakukan cek bilirubin (efektif untuk cek bilirubin adalah hari ketiga kelahiran) maka bayi pun pulang tanpa cek bilirubin dan diberikan catatan untuk keesokam harinya kembali ke rumah sakit untuk cek bilirubin. Sebenarnya sih emang ada sedikit kuning tapi waktu itu aku pikir masih wajar, sama kayak jaman Aidan dulu.

Nah pas kembali keesokan harinya kami cek lab, dan yang bikin g tega itu adalah ketika darah Ahza diambil sebanyak 7 tabung mikro di coblos pakai jarum, ya meskipun katanya untuk bayi itu syaraf nya belum sempurna merasakan sakit tapi ya orangtua mana yang tega liat anaknya berdarah darah. Nah, hasil lab nya baru ketauan 3 jam setelahnya, nah pas waktu itu hasilnya masih dibawah 12 (ambang batas nya katanya segini), lalu istriku lapor ke dokter anaknya...oh oke...trus diingatkan lagi keesokannya untuk imunisasi (mengingat kepulangan awal sehingga ada vaksin yang belum bisa langsung diberikan).

Nah pas imunisasi ini g tau lampu ruangan dokter itu terbuat dari jenis apa, Ahza nampak kuning banget, di perut, di dadah, bahkan di pipi dan hidung, sedikit kuning juga di mata. Akhirnya dokter menyarankan untuk cek lab lagi. Oh No...si Ahza bakal dicoblos coblos lagi....
Akhirnya kami cek lab lagi, dan karena waktu itu udah malam sehingga hasil lab nya kami ambil keesokan harinya. Dan jeng jeng ....hasilnya sudah 11,9 mepet banget...dan akhirnya disarankan sama dokter untuk disinar...btw tapi alhamdulillah ASI istriku banyak dan si Ahza doyan nenen nya sehingga kondisi tubuhnya juha bagus untuk mendorong si bilirubin keluar melalui pipis nya.

Akhirnya si Ahza check in lagi di ruang sinar. Blue Light Room....huhuhu....Ahza di sinar biru....dimasukkan semacam inkubator gitu trus disinar (emang benar warnanya biru) di bagian atasnya dan mata si Ahza diberikan tutup mata agar tidak terpapar sinar biru itu. Ya karena ASI istriku banyak sama suster disarankan untuk memerah ASI trus dibawakan ke rumah sakit agar si Ahza tidak dehidrasi mengingat panasnya sinar biru itu. Oke baiklah..akhirnya kami bagi tugas, istriku milk producer (ini bukan olokan lho, tapi amanah yang berkah yang diberikan Alloh kepada makhluk yang namanya ibu) dan aku sebagai messenger alias kurir. Malam gelap, pagi buta aku ngirim ke rumah sakit. Sekali perah alhamdulillah bisa bawa 2-3 botol ASI. Dan kata susternya Ahza mimiknya kenceng, dan itu jadi hal positif dalam rangka mengurangi bilirubi itu sehingga bisa dikeluarkan melalui urine nya.

Aku tanya ke susternya, emang biasanya berapa hari sih di sinar itu, jawabannya ya tergantung sama bayi nya dan bilirubinnya, tapi kalau dengan kondisi Ahza insyaAlloh dua hari cukup pak. Ah melegakan, jadi g usah lama lama si Ahza nginep di rumah sakit. Dan benar alhamdulillah di hari kedua biliribun Ahza sudah dibawah batas aman so boleh pulang.

Oh iya, Ahza di sinar di RS Premiere Bintaro juga ya....estimasi biayanya sekitar Rp1,6 juta permalam...best point di sini adalah para perawatnya yang luar biasa helpfull, ramah, dan g neko neko, bahkan mereka sering memberikan saran saran untuk.meringankan beban orang tua bayi nya, sedikit berbeda sama dokternya...hihihihi....so terima kasih ya ibu ibu perawat di ruang NICU RS Premiere Bintaro. Semoga kalian senantiasa diberikan keberkahan dalam menjalani tugas dan pekerjaannya. Aaaaaaamiiiin....

Akhirnya dengan diantarkan suster (yang medok sekali logatnya) kami di lepas di pintu lobi rumah sakit. Terima kasih bu suster, Ahza...welcome home...CSB F1

Wednesday, 26 July 2017

Ahza Gaffar Kusumayuda

Hari itu rencananya aku sama istri mau kontrol kehamilan usia 39 minggu. Biasanya sih aku kontrol di Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita di Slipi, Jakarta Barat. Tentu sudah tau kalau memang aku dan istriku sudah cocok banget sama dr. Sadina P Besar. Salah satu dokter senior di RSAB Harapan Kita. Tapi gak tau untuk kehamilan yang kedua ini kami agak mengalami kesulitan untuk bertemu beliau. Mencocokkan antara jadwal kami, jadwal dokternya, sama quota pengunjungnya. Pernah tu kejadian udah jauh jauh dibelain dari Ciputat Tangerang Selatan pagi buta pula, eh sampai rumah sakit diinfoin kalau beliau tidak praktek, atau sudah dapat diantrian di pagi hari e pas siang hari sampai rumah sakit diinfo lagi dari perawatnya kalau beliau tidak praktek. heuuu......

Akhirnya beberapa kali (eh dua kali ding) kami kontrol kehamilan ke dr. Rudiyanti di RS Premiere Bintaro. Beliau dokter senior juga sih, dulu pas kehamilan pertama pernah dapat pengalaman kurang nyaman sama beliau dari sisi komunikasinya. Apa perlunya gitu, gak pakai basa-basi seperti yang dilakukan oleh dr. Sadina. Tapi akhirnya di kontrol kehamilan yang kedua ini kami sudah menemukan klik dengan dr. Rudiyanti. Sebenarnya orangnya enak kok, pinter pinter kita aja nanya nanya nya..hehehehe...

Kembali ke kontrol usia 39 minggu tadi, jadi "katanya" istri g ada feeling apa-apa waktu itu, kontrol seperti biasa. Karena pas itu hari jumat aku sholat jumat dulu, eh trus pas balik balik ke rumah sakit istriku bilang kalau tidak boleh pulang dulu mau langsung ke ruang CTG (tentu bagi para pelanggan poli kebidana udah tau apa CTG ini, jadi tidak perlu aku jelaskan ya..kalau belum tau juga tinggal klik mbah gugel..hehehehe) katanya udah bukaan 2, dokternya juga bilang semoga aja bisa lahiran hari ini atau besok soalnya minggu depan dokternya cuti...

Lalu pergi ke ruang CTG di lantai tiga RS Premiere Bintaro. Beberapa saat menunggu trus dapat hasil kalau istriku mending langsung daftar program kelahiran. Pikir pikir bimbang, mau lahiran di RS Premiere Bintaro atau meluncur ke RSAB Harapan Kita. Saat itu pertimbangannya adalah dari sisi biaya dan Aidan (mengingat Aidan belum bisa lepas dari ayah atau ibunya padahal saat itu sudah ada mertua dan adik iparku tapi tetep aja Aidan gak bisa lepas dari ayah atau ibunya). RSAB Harapan Kita dengan harga sekitar Rp15 juta bisa dapat fasilitas VIP B dengan kamar yang luas sehingga kami sepat mikir nanti Aidan bisa tidur bareng di situ, tapi gambling juga karena dr. Sadina juga belum tentu ada saat itu. Sementara di RS Premiere Bintaro perkiraan harga untuk kelas III adalah sebesar Rp16 juta. Pikar pikir timbang timbang akhirnya kami putuskan untuk lahiran di RS Premiere Bintaro. Gak apa apa deh di kelas tiga, karena dari info susternya saat itu sedang sepi so nanti bisa kelas III berasa VIP.

Kemudian aku melakukan pengurusan administrasi terkait pembayaran dan check in kamar observasi dan ruang persalinan. Karena istri belum ada feeling apa-apa dan bukaan emang masih di angka dua akhirnya kami ya masih biasa aja, istri jalan jalan, berharap bukaan nambah. Oh iya, karena memang pada awalnya kami niatanya kontrol, so kami belum bawa perlengkapan apa apa. Akhirnya aku, istriku, Aidan, dan adik iparku memutuskan untuk pulang ke rumah, nanti sekitar jam 17.00 balik lagi ke rumah sakit, rencananya sih mau tukeran nanti Aidan sama adik iparku di rumah, trus aku sama ibu mertuaku ke rumah sakit. Meskipun akhirnya Aidan ikut balik lagi ke rumah sakit karena enggak mau ditinggal di rumah.

Sampai di rumah sakit istriku lalu langsung menuju ke lantai 3, masuk ke kamar perawatan (bukan kamar observasi ya, karena ternyata kebijakan di RS Premiere Bintaro begitu ambil paket melahirkan maka seluruh fasilitas langsung di open, kamar inap juga sudah di check in, kayak di hotel aja....) lalu aku nemeni Aidan maen maen di luar kamar atau di luar bangsal. Karena harusnya Aidan tidur siang tapi tidak tidur, maka pas maen sore itu dia liyer liyer ngantuk....lalu (jam berapa ya aku lupa) aku dan Aidan pulang ke rumah. istriku berdua dengan ibu mertuaku. 

Sesampainya di rumah, trus gak selang lama Aidan akhirnya tidur..maklum siangnya gak tidur..trus aku kekabaran sama istriku, bagaimana dia di rumah sakit. Trus jam berapa tepatnya aku lupa katanya karena pembukaan gak nambah akhirnya istriku diberikan induksi, induksi oles katanya. Dan tau sendiri kan, namanya di induksi itu sakit (katanya ibu ibu yang pernah mengalami lho, ya aku sih percaya aja) trus kira kira jam 23.00 aku diminta istriku untuk ke rumah sakit nemeni istriku. Karena Aidan sudah terlelap akhirnya aku meluncur ke rumah sakit, sebelumnya aku pesen sih ke adik iparku untuk jagain Aidan (dan ternyata aku lupa kalau aku stel alarm jam 4 pagi di hp yang aku taruh di kamar..hehehehehe..makanya sekalian aku minta tolong buat matiin alarm sebelum waktunya agar Aidan enggak terbangun)

Sesampai di rumah sakit aku liat istriku merasakan kesakitan, tidak bisa tidur, katanya sih sebenarnya sakitnya akan sedikit ilang kalau dipakai buat jalan jalan, tapi tidak diperbolehkan sama susternya karena khawatir nanti pas masa nya melahirkan akan kehabisan tenaga. Trus aku nanya sama istriku, apakah setelah di induksi oles sudah ada peningkatan pembukaan, kata istriku sudah di cek beberapa waktu yang lalu tapi belum ada perkembangan pembukaan, dan nanti akan diperiksa perkembangan pembukaannya tiap 4 jam. Oke baiklah, kamu dapat menghadapi ini istriku..kamu kuat kamu kuat kamu bisa insyaAlloh dimudahkan.

Trus sebelum masuk waktu subuh aku dikabari adik iparku kalau Aidan terbangun dan minta aku untuk pulang, yowis dengan berat hati aku lagi lagi meninggalkan istriku melewati masa masa sakitnya. Sesampai di rumah ternyata Aidan udah asyik maenan hape yellow, hape Nokia kuning yang sebenarnya sudah jarang tidak dipakai, bukan karena rusak, tapi karena beberapa aplikasi sudah tidak bisa digunakan lagi di hp yellow ini (maklum os Windows yang kurang dapat dukungan support dari aplikasi pihak ketiga)..oalah le'''kalau tau kamu enjoy di rumah lak yo aku tadi masih nemenin ibuk mu...

Waktu bergulir hingga agak siang sekitar jam 10.00 apa ya setelah melalui proses negosiasi sarapan Aidan, mandinya Aidan akhirnya kami meluncur kembali ke rumah sakit....sesampai di parkiran mobil RS Premiere Bintaro aku dikabari kalau adiknya Aidan udah lahir...alhamdulillah.....rupanya karena induksi oleh gak nambah bukaan akhirnya diputuskan untuk memberikan induksi infus...langsung deh nambah nambah pembukannya, trus katanya lahirannya mudah karena menggunakan atau minta dikasih ILA...so katanya gak sampai setengah jam adiknya Aidan lahir ke muka bumi ini. Alhamdulillah..meskipun kelahiranmu kali ini tidak didampingi ayahmu tapi insyaAlloh kamu akan jadi anak yang membanggakan, berbakti pada orang tua, sholeh, dan berguna bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa. 

o iya, namanya Ahza Gaffar Kusumayuda...... 
tentu tau kan, jenis kelamin dari nama ini..hehehe iya laki-laki....anak kedua kami laki-laki
pencarian nama anak kedua ini sedikit kehabisan inspirasi, yang jelas Kusumayuda itu anak kedua dari pandawa setelah yudhistira...ya tau kan maksudnya...hehehehehehehe....

Tuesday, 23 May 2017

Kamu boleh kok bekerja, tapi jangan ganggu kewajibanku, jangan ganggu hak anakmu

Pagi itu suasana hening di rumah keluarga Bobi. Bukan hari kerja dimana Bobi dan istrinya bekerja. Bukan hari liburan saat semua keluarga sedang pergi meninggalkan rumahnya. Dan bukan pula karena anggota keluarga belum bangun dari tidurnya.

Semua hening, tapi ada, terpaku membisu di ruang makan keluarga. Hanya terdengar hembusan nafas yang sangat samar. Sebelumnya memang terdengar suara sendok dan piring beradu. Tapi semua menjadi hening saat sang juru kunci rumah tangga menyampaikan gagasan atau memulai pembicaraan di pagi yang sebenarnya indah dan cerah itu.

"Aku ingin bekerja ayah"
Kalimat itu lah yang membuat suasana menjadi hening. Bukan hening yang mencekam. Tapi kalimat itu jelas jelas membutuhkan rentetan kalimat bahkan ceramah selanjutnya. Atau paling tidak membutuhkan sebuah jawaban atau penjelasan. Nah, nafas yang samar tadi menunjukkan geliat otak yang sedang berpikir. Otak yang membutuhkan asupan oksigen dari paru paru.


"Kenapa ibu ingin bekerja?"
Kalimat itulah yang berikutnya menggema di ruang makan. Jawaban yang runtut pun mulai meluncur sangat lancar sekali dari penggagas obrolan pagi itu. Membantu ekonomi keluarga, mengurangi beban suami, eksistensi diri, penghargaan terhadap orang tua yang telah menyekolahkan dan menggantungkan asa.


Kembali suasana menjadi hening. Bobi sebenarnya tahu jawaban apa yang benar atas penjelasan itu, tapi benar belum tentu baik bukan?. Musti mencari strategi agar jawaban yang benar itu bisa diterima dengan baik. Sudah banyak didengar di telinga Bobi, baik dari ilmu manajemen keluarga maupun dari ilmu agama, bagaimana pendapat tentang istri yang bekerja. Mulai dari degradasi harkat laki laki sebagai seorang suami yang mutlak merupakan tulang punggung keluarga, stigma sosial, terbengkalainya kewajiban dan hak anggota keluarga. Tapi di sisi lain Bobi juga mengerti, penghasilannya memang pas, tapi sebenarnya pas untuk kebutuhan keluarganya (ingat bukan tentang Alloh maha mencukupi, rizki manusia berusaha dan berdoa, hasilnya serahkan kepada Alloh SWT), Bobi juga mengerti pendidikan tinggi yang telah ditempuh istrinya memberikan peluang yang besar bagi istrinya untuk menunjukkan kepada dunia siapa dirinya (baca eksistensi), mengurangi beban suami? (wait, keluarga bukan beban, melainkan tanggung jawab yang menjadikan kewajiban suami untuk mencari nafkah untuk keluarga, so baca "keluarga itu bukan beban suami, melainkan tanggung jawab suami").

Tapi Bobi mengerti juga, jawaban jawaban tadi dapat memicu pertengkarang yang justru membawa musibah bagi keluarganya. Bagi suasana sarapan pagi itu.

"hmmmhhh...baiklah, Ibu boleh bekerja dengan syarat, pekerjaan Ibu tidak menggangu kewajiban ayah mencari nafkah untuk keluarga yang merupakan tanggung jawab ayah, pekerjaan Ibu tidak mengganggu kewajiban Ibu untuk mengatur rumah tangga keluarga, mendidik anak anak, dan menjadi tempat ayah untuk melepas lelah, membagi pengalaman hidup memberikan semangat untuk ayah dalam mengemban amanah dalam keluarga ini, oh iya, satu lagi pekerjaan Ibu tidak boleh mengganggu hak anak anak untuk dapat bermain bahagia bersama ibunya, hak anak untuk mendapatkan makanan lezat khas ibunya, serta pelukan hangat dari ibunya saat mereka mencurahkan segala pengalaman hari hari nya, pelukan hangat dari ibunya saat mereka mencoba menunpahkan air mata".


Aku Dirampok

Dunia ini katanya gemerlap
Penuh dengan warna yang bisa kuraih
Yang setiap saat bisa saja datang
Tapi bisa saja pergi


Dunia ini katanya hanya sementara
Tempat orang berpesta pora
Tempat tujuan untuk mencari
Mencari yang fana atau untuk selamanya


Dunia ini katanya berputar
Kadang di bawah kadang di atas
Tapi tak segan pula untuk menggilas 
Siapa yang tak bergerak


Dunia ini katanya tak terbatas
Segala bisa berubah tanpa batas
Bergerak kemana saja 
Tapi tak jarang pula kau terpaku pada satu titik
Titik di mana kau hanya terkunci 
Dalam satu ruang dalam satu waktu


Dunia ini katanya bebas
Bebas memilih 
Bisa sesuai hati atau ikut arus
Tapi terkadang banyak yang tidak tahu
Banyak hal yang dirampas


Dunia ini telah merampasku
Satu satunya istriku
Masa bermain anakku
Waktuku bersama keluargaku
Waktuku untuk mengadu kepada Mu

Tuesday, 16 May 2017

Tukang Cukur Langganan Pasar Petojo

Mmmmm....kali ini aku akan menceritakan tentang tukang cukur langgananku sejak aku bekerja di Jakarta tahun 2009 sampai sekarang. Sebenarnya sih mungkin bingung juga (dulu aku juga begitu) kenapa sih tukang cukur musti langganan, toh banyak kan tukang cukur di Jakarta, mulai dari yang 10 ribuan sampai yang jutaan (kalau yang jutaan sih otomatis sudah pasti g masuk list ku, ra nyandhak duit e), alat cukurnya toh juga sama, cara cukurnya (motong pakai gunting, sisir pakai sisir rambut alias jungkat) juga sama. Lalu kenapa musti ada preferensi khusus dalam memilih tukang cukur?

Nah, ternyata beda guys, beda tukang cukur beda style cukur nya. Meskipun gambar model yang ditempel di arena cukur sama tapi tetep aja berbeda hasilnya, bahkan dari awal start cukur juga udah beda awalnya. Ada yang selalu setia pakai gunting biasa, ada yang pakai gunting acak, ada yang mulai dengan mesin potong rumput, eh alat potong rambut yang menggunakan mesin maksudnya, ada yang mulai dari memotong bagian atas, ada yang memulai dari bagian samping. Dan itu guys, hasilnya berbeda.

Nah kan mustinya kang cukur (dibaca tukang cukur) mustinya selain memperhatikan keinginan customernya juga bisa memberikan saran atau arahan kepada customer untuk menyesuaikan model cukuran dengan bentuk wajah, bentuk muka dan bentuk kepala, serta jenis rambutnya. Nah inilah yang kadang membuay hasil cukuran rambut berbeda beda. Waton cukur sesuai yang diminta customernya, kalau hasilnya tidak sesuai kan rambut yang sudah dipotong tidak bisa dikembalikan lagi (wah bisa jadi peribahasa pengganti nasi bubur itu deh, rambut terlanjur dipotong).

Nah neh noh, aku sendiri juga di Jakarta udah beberapa kali berganti tukang cukur tapi g tau kenapa kok beberapa gak sreg atau gak cocok dengan model atau bentuk kepalaku. Ya hasilnya kalau jelek banget aku minta gundul sekalian atau ya terima apa adanya dengan catatan tidak kembali ke tukang cukur yang sama. Nah enggak tau kenapa aku justru cocok cukur di tukang cukur dekat kos ku dulu di daerah Petojo Enclek. Tepatnya di Pasar Petojo Enclek. Mmmm....mungkin beberapa orang miris, sedih, atau malah hoek hoek liat tempat tukang cukur ini. Ya maklum ini tempat cukur yang harganya masuk dalam segmen rendah (tarif 10 ribuan), berbekal kios dengan luas 3x2 meter, tiga kursi cukur, kipas ethek ethek ala kadarnya, dan piranti cukur yang semi modern (membahasa aluskan tradisional).

Nah tukang cukur ini biasa dipanggil mamang yana, aku juga gak tau sih siapa nama sebenarnya, tapi itulah sebutannya. Tukang cukur ini dari awalnya merupakan tukang cukur langganan para prajurit pengawal presiden (mungkin karena faktor lokasi yang dekat dan harga yang terjangkau mengingat model potongan prajurit kan standar seperti itu). Enggak tau kenapa kalau habis cukur disini tu aku merasa kok cocok ya hasil potongannya dengan bentuk kepalaku, ya tentunya pas awal aku sebutin modelnya (cuma bilang dirapiin tapi jangan pakai gunting sasak ya, itu lho gunting yang punya gerigi gerigi). Cuma memang ada beberapa kekhawatiran sih cukur di tempat seperti ini, ya melulu tentang kebersihan sarana dan prasarana cukur rambutnya, penularan penyakit dan asap rokok (maklum beberapa customer merokok saat menunggu giliran untuk dicukur rambutnya). Tapi bismillah aja lah, lha udah nyoba kelain tempat hasilnya selalu kecewa je. Entah dari rambut yang gak rata, kerokan yang gak lurus, dan lain sebagainya. So, meskipun sekarang aku udah tinggal di daerah Tangerang Selatan, kalau urusan cukur rambut aku akan menyempatkan diri untuk cukur di Pasar Petojo ini, ya untung saja lokasinya bisa kujangkau dengan berjalan kaki dari kantor. Meskipun nanti sisa sisa rambutnya tidak bersih maksimal, masih ada remah remah, eh masih ada rontokan rambut di baju kerja dan ditanyain temen gak gatel tuh, tapi ya gimana lagi namanya cocok tak bisa berpindah ke lain hati, eh ke lain tukang cukur rambut maksudnya. 

Ups..ngomong ngomong rambut udah grondong nih eh gondrong, saat nya meluncur ke Pasar Petojo ah....

Sunday, 30 April 2017

Terima Kasih Daycare Paradise LIPI

Saat aku lipat beberapa pakaian Aidan, aku menjadi termelo melo, termehek mehek, trenyuh, terharu, sudah setahun setengah Aidan di asuh dalam asuhan Daycare Paradise LIPI. Masih teringat jelas bagaimana saat saat awal Aidan kami titipkan di Daycare ini. Masih teringat pula beberapa kekhawatiran dan pertekaran aku dengan istriku yang diakibatkan karena rasa ku, khawatirku, yang memang kuakui kadang berlebihan. Hingga akhir akhir ini aku melihat Aidan sudah sangat enjoy di Daycare ini, bahkan saking betahnya beberapa kali gak mau pulang, masih pengen berada di Daycare. Bahkan ketika sampai rumah pun kadang sudah bilang kalau besok harinya ingin pergi ke Daycare.

Memang sudah tulisannya, sudah garisnya, kalau tiap perjumpaan selalu akan diikuti dengan adanya perpisahan. Sudah dirancangkan juga memang suatu saat Aidan lulus dari Daycare. Entah karena alasan usia atau alasan lainnya. Perdebatan dalam pemilihan Daycare atau pengasuh di rumah sepertinya sudah aku tuliskan dalam tulisanku dulu ketika Aidan masuk Daycare. So aku pikir aku tidak akan termelo melo dalam kenangan itu. 

Dalam tulisan ini aku akan menekankan rasa terima kasihku kepada segenap ibu guru di Daycare Paradise LIPI. Dari sejak awal yang Aidan nangis dahsyat saat ditinggal. Dari worry yang luar biasa saat Aidan sedang sakit namun harus tetap berada di Daycare. Terima kasih kepada ibu guru yang telaten merawat Aidan, peduli dengan Aidan, mengingat Aidan memang butuh perhatian yang luar biasa terutama dalam hal makan. Dalam hal bergaul dengan teman temannya. 

Tidak banyak yang sebenarnya aku bisa lakukan atau aku berikan kepada ibu guru di Daycare Paradise LIPI. Jutaan ucapan terima kasih mungkin saja tidak cukup untuk membalas segala kebaikan ibu guru di sana. Semoga lantunan terima kasih ini juga merupakan doa untuk para ibu guru yang telah berusaha luar biasa untuk merawat Aidan.

Aidan lulus dari Daycare Paradise LIPI karena sebentar lagi punya adik. Karena sebentar lagi masuk jenjang sekolah, PAUD atau TK. Karena alhamdulillah sekarang aku sudah ada mbak yang nantinya akan merawat atau mendampingi adiknya Aidan.

Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.
Untuk Ibu Lina, Ibu Leni, Ibu Yana, Ibu Endang, Ibu Pipit, Ibu Aida, Ibu Zia, Ibu Riska, Ibu Modez, dan Mas Farhan. Terima kasih atas segala kepedulian selama ini, Terima kasih atas segala bantuannya selama ini. Terima kasih atas seala kesabaran yang dimiliki.

Minta maaf.
Apabila selama aku , kami mengenal ibu  ibu semua, banyak hal yang kurang berkenan di hati para ibu guru.

Aku harapkan jalinan silaturahmi di antara kami dengan para ibu guru Daycare Paradise LIPI tidak berhenti hanya karena Aidan sudah lulus dari Daycare Paradise LIPI. Jalinan silaturahmi antar umat manusia.

Terima kasih Daycare Paradise LIPI. Sampai berjumpa lagi di lain kesempatan.

Sunday, 9 April 2017

Gaya Gayaan Nginep di Hotel Ibis Slipi

Wkwkwkwkkkk...judulnya gaya gayaan di hotel Ibis...opo meneh iki..hihihihi...

Emmm... nganu...pas kemarin pergi ke Vietnam itu istriku rasan rasan pengen juga nginep di hotel, leyeh leyeh tanpa beban...emang di rumah penuh beban ya...huahahahaha....

So...oke aku iyain...selain nyenengin istri...emang duit suami tu buat apa sih hehehe kalau enggak buat keluarga...ya ndilalah aja anakku yo seneng banget kalau diajak ke hotel. Gak tau juga kok bisa seneng di hotel kenapa..hihihi...nek aku sih jane yo biasa wae soale kan udah beberapa kali dan bisa dikatakan sering masuk hotel kanan keluar hotel kiri (baca sering pindah pindah hotel dari satu tempat di tempat yang lain, dalam agenda perjalanan dinas tentunya).

Yowislah....atur atur waktu dan milih tempat...kepilihlah Hotel Ibis Slipi...oh iya sebelumnya kami juga musti atur waktu (dalam arti sebenarnya) karena tanggal 1 April kemarin alhamdulillah aku kedatangan mbak yang datang dari Magelang (kenalan dari Pak Tur, Pak Tur ini kenalannya mas Vuad) yang nantinya akan momong atau bantu bantu kami merawat adiknya Aidan. InsyaAlloh mbaknya jujur, sabar dan amanah. Nah makanya kami atur waktu deh agar tidak bersinggungan atau tidak menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan.

Yowis akhirnya dipilih waktu ngepasin jadwal kontrol kehamilan istriku, nah mempersempit wilayah pencarian hotel akhirnya dipersempit dengan center point RSAB Harapan Kita. So dapatlah Hotel Ibis Slipi. Lalu kenapa milih hotel ini? yes....ini adalah the power of mbah gugel..karena pas browsing atau searching dengan keyword hotel di Slipi, si Ibis ini nongol duluan. Trus liat tarif nya di Ibisnya langsung, dan di Traveloka..eh lha kok harganya sama (padahal kan biasanya aplikasi travel gitu lebih murah, lha ini ternyata tidak). Dan akhirnya ya sudah aku pesen aja melalui website Ibis nya langsung, dengan pertimbangan offering yang di Traveloka itu ternyata kamar yang kuincar tidak menyediakan skema pembatalan dan tanpa sarapan. Wah njuk piye kalau ada insiden mendadak terus hangus begitu saja, atau toh misalnya jadi apa yo musti nambah lagi biaya untuk makan..heuuuu....

bla bla bla bla dan bla bla bla packing packing dan siapin berkas dokumen yang diperlukan untuk kontrol kehamilan. Lalu sore hari sepulang kantor kami meluncur ke Hotel Ibis. Dan seperti biasa, kami disuguhi dan menikmati macetnya Jalan Jenderal Gatot Subroto. Bagaimana tidak, dari Gedung LIPI ke Hotel Ibis kami memerlukan waktu hampir sejam..bayangpun coba..adohe gak sepiro tuapi muaceteeeeee....

Sesampai di hotel langsung check in dan ubar ubar bekal di tas, ngglongsor di kasur dan si Aidan karena emang seneng di hotel langsung deh main main (bahkan dengan kesenangan anakku ini aku punya pikiran jadi reviewer atau visitor di setiap hotel yang ada di Jakarta pas liburan atau sebulan sekali). Bla bla bla...gitu ceritaku gaya gayaan nginep di Hotel Ibis Slipi, sebagai pemanis blog aku nyoba buat video (video?lagi?tanpa editan?dasar males, nek niat gawe video mbok diedit trus diunggah ke Youtube gitu lho, kan kalau bagus bisa dapat penghasilan sekalian).....wis monggo diliat sedikit vlog..eh videonya ya....



Wednesday, 5 April 2017

Golden Dragon Water Puppet

Yeeeeeaaayyyyy...hari ini aku gak ngantor...ups gak ngantor kok malah seneng... sebenarnya sih bukan niat gak mau ngantor, tapi awalnya karena ada insiden pompa air gak nyala tadi pagi padahal jam udah menunjukkan angka 05.25. Utak-utik sebentar sih feelingku otomatis yang di atas toren yang bermasalah, dan karena waktu mepet ya sudah gak mungkin aku naik naik buat benerin otomatisnya, hasilnya aku langsung saja sementara trus siangnya nanti tak benerin (nah dari sini nih, niat awal buat gak ngantor..wkwkwkwkwk)

Setelah pompanya nyala (dengan mode non otomatis) aku juga memutuskan untuk tidak mandi dulu, biarlah istri yang mandi. Awalnya sih mau mandi di kantor, tapi setelah mikir mikir lagi kan aku gak masuk kantor kenapa mandi di kantor, yo wis lah, tar antar istri dan anak dulu ke daerah Gatot Subroto lalu aku balik pulang buat benerin pompa air sama sekalian mandi (padahal sampai tulisan ini aku ketik aku belum mandi juga...hahahahahaha...)

Sik...sik...sik....trus apa hubungane tulisanku ini sama judul di atas..kok babar blas gak nyambung....
Oke kembali ke leeekkkktooookkk...eh kembali ke topik tentang water puppet. Ini sebenarnya salah satu materi ku saat aku di Vietnam kemarin, tapi lagi-lagi karena pekerjaan di kantor tidak memberikan aku waktu untuk cukup menulis ya akhirnya tertunda dan tertunda. 

Nah, Water Puppet itu sebenarnya?????kalian tau puppet kan? iya wayang...nah kan kita tau sendiri di Indonesia juga terkenal akan wayangnya, dalam beberapa media bahkan...ada media kulit yang disebut wayang kulit, ada yang medianya orang yang disebut wayang orang..lalu ada beberapa wayang lagi misal wayang thengul alias wayang golek, wayang rumput, dan wayang kertas. Nah di Vietnam ini uniknya, emmmm,,,wayangnya sih sama dibuat dari bahan kayu, yang nggerakin juga dalang yang berujud manusia bukan robot atau mesin (tapi di sini dalangnya banyak), trus tempat pentasnya itu di air. Nah jadi ngerti kan kenapa namanya water puppet, Wayang yang dimainkan atau dipentaskan di air, bukan wayang nya dari air..ingat itu ya..catet..hihihihi....

Ya sebenarnya sih kita bisa liat gambaran water puppet saat kita source di mbah gugel atau yutub bahkan. Tapi ya namanya pengalaman yang ingin dibagikan, oke oke saja kan...hehehehe...sebenarnya foto Golden Dragon Water Puppet itu sendiri sudah aku tampilkan di tulisanku sebelumnya, tapi kan baru luarnya aja ya..hehehehe...nah dalam tulisanku kali ini aku akan membagikan beberapa video saat aku menonton pertunjukan wayang air itu. Gak full ya, sepotong potong biar penasaran dan mau nonton sendiri di Vietnam sono...hehehehe...so monggo videonya di bawah ini ya...oh iya aku juga belum tau nih cara ngatur spoiler buat video agar bisa rapi kayak foto gitu...tapi ya begitulah...toh ini hanya buat sharing saja..moga bagus isinya..kalau penampakannya kurang yahud ya mohon dimaklum saja...video ini tanpa editan ya, bukan karena mempertahankan orisinalitas tapi jujur karena gak punya kreatifitas buat ngedit video....iki endi video ne kok tulisan terus...hehehehe ok e oke monggo...




Nah, gimana setelah nonton videonya? aku sih penasaran...penasaran tentang apa?, penasaran tentang itu wayang gerakinnnya gimana, kan gak mungkin juga si dalang nyelem di abwah air kan..heheheheh sayangnya gak ada translate nya so aku gak bisa cerita apa apa tentang sebenarnya ini wayang nyeritain apa sih....

So, karenan udah masuk waktu dhuhur aku sudahin dulu deh nulis blognya..sampai jumpa di tulisanku yang lain....hehehehehe

Friday, 31 March 2017

Aristo Hotel Ho Chi Minh City

Mmmmm.....kenapa dengan Aristo Hotel?

So begini, pertama aku akan menjelaskan dulu, di sini aku tidak bermaksud menjelekkan, mempromosikan atau apalah penyebutannya. Aku juga tidak terafiliasi dengan pihak manapun dalam menulis tulisan ini. Aku cuma mau kasih review singkat aja tentang hotel Aristo dimana aku pernah menginap di sini, di Vietnam tentunya.

Aristo Hotel merupakan salah satu hotel bintang 3 di daerah Ho Chi Minh City, Vietnam. Lokasinya tidak terlalu jauh dari bandara Ho Chi Minh, yah kira kira waktu tempuh perjalanan antara 45 menit sampai satu jam.

Kemudian ketika masuk ke lobby nya, mmmm.... Mungkin tidak jauh berbeda dengan hotel pada umumnya, ada meja rsepsionist tentu dengan resepsionist nya yg siap menyambut kita dengan bahasa mereka dan mereka ngerti kok bahasa Inggris. Ya meski musti dicampur campur sedikit dengan bahasa isyarat alias bahasa tubuh, hehehehe...

Oke, selain resepsionist tadi kita juga bisa melihat ada tourdesk yg punya daftar tujuan wisata di Vietnam, ada rak kaca berisi merchandise, dan jangan salah ya, harga merchandise di hotel lebih murah daripada di Benthan Market. Kok bisa? Ya gak tau..hehehe..Oh iya, di Vietnam ini kalian tidak perlu khawatir menukarkan uang Rupiah, karena di sini kita bisa menukarkan Rupiah kita ke Dong langsung..hehehehe...


Lanjut ke bagian kamar, kebetulan pas dinas kali ini aku dapat jatah kamar yang suite, mmm...kemungkinan sih ini alokasi kamar untuk pimpinan ku, tapi karena beliau menginginkan kamar yang berdekatan dengan staf, akhirnya pimpinanku mendapatkan kamar suite family, sementara rekan ku yang lain dapat kamar tipe deluxe. Nah, di kamar ini luasnya ya cukup lumayan lah buat sendirian ya lega banget, mungkin ideal kali untuk bertiga atau bapak ibu dengan dua anak, soalnya selain tempat tidur king size juga ada sofanya. Fasilitas lain ada lemari pakaian, bath up dan shower serta perlengkapan mandi standar lainnya, tv dengan saluran international (subtitle nya bahasa Vietnam), kemudian ada water heater (bisa untuk nyeduh pop mi atau bubur instan), minibar, yah standar hotel bintang 3 deh.

Kemudian tiba saat sarapan, nah menunya di sini sebenarnya standar juga dengan masakan masakan hotel lainnya (hotel international ya), cuma karena lidahku lidah Indonesia dan tepatnya lidah Jawa beberapa menu makanan yanh bisa aku terima dan aku konsumsi antara lain, nasi goreng (tidak setasty di Indonesia), dimsum, mi goreng, omellete, sunnyside egg (ini ada cerita lucu juga dimana aku niat hati mau pesen telor ceplok eh malah salah bilang boiled egg, disuguhilah aku dengan telur rebus...wkkkk huuuu ndesoooo), sereal, buah buahan (kayaknya buah khas di sini jambu biji, jambu air, dan nangka), oh iya di sini kalau makan buah buahan pakai taburan garam dan cabe.

Nah, di sini juga disediakan kolam renang dan gym, so kalau kalian mau renang atau olahraga bisa deh. Terus, lokasi Hotel Aristo ini deket sama beberapa spot foto yang bagus seperti Gereja Katedral, museum perang Vietnam, Water puppet, museum perjuangan, mall atau depertment store, topi kopi (nah ini lagi, kan katanya Vietnam terkenal dengan Tran Nguyen, atau apa ya aku lupa namanya) banyak di daerah Hotel Aristo ini. Bagi yang mau cari supermarket juga ada kok deket Hotel Aristo, yang mau beli minuman atau snack ringan bisa pergi ke supermarket itu.

So, finally kayaknya itu aja review ku tentang Hotel Aristo di Ho Chi Minh. Yah, semoga saja bisa berguna bagi rekan rekan yang ingin jalan jalan ke Vietnam. Oh, iya satu lagi, di sini kita juga bisa pakai aplikasi taxi online Grab dan Uber. Kemarin sih aku rencana mau review taxi online di Vietnam, tapi coba deh tar bisa atau tidak. Masalah tarif yang jelas ya lebih murah taxi online daripada taxi reguler. Cuma PR nya ya pas mau ngobrol sama drivernya karena mereka bener bener tidak ngerti bahasa Inggris (kejadian ini juga sama halnya kalau kita naik taxi reguler, blue bird nya Vietnam itu namanya Vinashun).

Oke deh....aku akhiri dulu tulisan review tentang Hotel Aristo, nanti ku upload sekalian tentang kondisi Hotel Aristo nya sama beberapa spot di sekitarnya.

Tulisan ini diakhiri di pesawat Vietnam Airlines VN631 tujuan Jakarta penerbangan dari Vietnam pukul 09.00 waktu setempat.

Wednesday, 29 March 2017

BenThan Market

Benthan Market

Mbuh ding, piye nulise nek cara Indonesiane sih munine kayak gitu. Tempat ini merupakan salah satu tempat yang kayaknya wajib dikunjungi wisatawan atau traveler yang sedang ada di Vietnam. Emmmm...bentuknya sih seperti pasar tradisional layaknya Malioboro atau pasar baru gitu. Di Benthan Market itu banyak dijual pernak pernik khas Vietnam, mulai dari gantungan kunci, tempelan magnet kulkas, kaos kaos, tas, kopi. Oh, iya katanya di sini ada kopi yang khas kalau gak salah bunyinya Trang Ngu Yen. Nah itu kopi juga dapat kamu temui di pasar eh...kok pasar..di Benthan Market.

Nah uniknya, di pasar ini sebenarnya terbagi dua jadwal..apa ya bilangnya..pokoknya memang ada jadwal yang berbeda di pasar ini. Pada pagi hari ada beberapa penjual yang menjajakan dagangannya (dengan jenis yang aku sebutin tadi, plus kayaknya ada pasar sayurnya. Nah kemudian, nanti mulai jam 19.30 waktu setempat (eh tidak ada perbedaan waktu antara Vietnam dengan Indonesia ding)...nanti akan ada penjual alias pedagang yang mulai membuka lapaknya...diiii...badan jalan, layaknya pasar tumpah pasar malam di Indonesia. Jualannya sama? iya sama..tapi konon katanya yang di pasar malam ini lebih murah..

Eit..jangan senang dulu, murah di pasar ini sangat relatif, tergantung kemampuan dalam menawar...pengalaman menawar di sini aku memulai dari sepertiga dari harga yang ditawarkan..yah paling paling nanti kita dapat di harga setengahnya...kan gak mungkin ya penjual rugi, so asumsinya ketika penjual melepas dengan harga setengah mereka udah dapat untung kan. 
Nah, kali ini aku mencoba mengunggah video pas aku ada di Benthan Market itu. MMmm..aku mungkin belum jelaskan sebelumnya ya, kalau di sini aku bersama beberapa rekan dari Indonesia..ya seperti dalam video ini, salah satu nya adalah bos ku..hehehehe...hayo yang mana bosku...hehehehehe... So, beneran di sini kamu musti bener bener pinter nawar, kalau tidak ya hasilnya kamu pasti akan dapat harga yang lebih mahal. Oh, iya di sini juga "katanya" kainnya bagus bagus dan murah pula. Tapi ingat ya , murah di sini relatif dengan kemampuan kita melakukan negosiasi atau proses tawar menawar. Tapi tenang, ada solusi bagi kalian yang tidak pandai menawar.

Di Benthan Market ni (kalau siang ya) di bagian dalam pasarnya ada semacam toko atau gerai yang menawarkan harga fixed... wah gak bisa nawar dong....eit..tenang sobat..harga fixed di sini ternyata sudah sepertiga dari harga yang ditawarkan di penjual yang kalau kita mau beli harus menawar dulu..hehehehe so lebih murah kan, dan lebih membantu kalau kita memang tidak memiliki keahlian dalam melakukan tawar menawar.Oh, iya selain berbelanja, di dekat atau bahkan di sekitar area Benthan Market ini kita dapat menemukan warung atau tempat makan yang menyajikan makanan halal. Tentu bagi umat muslim sangat penting untuk memperhatikan halal nya makanan yang masuk ke dalam tubuh. Nah, jangan khawatir, di dekat Benthan Market ini ada beberapa spot yang menyajikan makanan halal. Kebanyakan penjual makanan halal ini berasal dari Malaysia yang notabene adalah Muslim, so kita gak akan ragu untuk memakan makanan di sini karena selain melabeli makannya dengan label halal, si empunya warung sendiri juga merupakan orang Muslim so mengerti tentang apa itu Halal apa itu Haram.
Beberapa menu yang ditawarkan di sini adalah menu masakan melayu seperti nasi goreng, ayam goreng, dan beberapa mie rebus atau mi goreng. OH iya untuk kalian yang sempat makan di sini, jangan lewatkan untuk makan bakmi khas Vietnam atau sering dikenal dengan istilah Pho...khas Vietnam dan halal..(khusus di warung halal ya) soalnya kalau yang di jual di warung biasa tidak bisa menjamin kehalalanya baik dari cara memasak maupun daging yang dimasak. hehehehe... selamat mencoba 



Kerja di Vietnam

Kerja? di Vietnam? Dhik Andhi? ngapain?

wkwkwkwkwk.... mungkin pertanyaan itu juga melinatas di pikiran sang penulis...cie cie cie bilangnya sang penulis padahal kualitas tulisannya juga mbuh mbuh an...


Awalnya sebenarnya aku mau nulis daily report gitu, trus juga kepikiran buat vlog...tapi emang lagi lagi...nulis atau bikin video itu ternyata enggak cuma tentang waktu luang untuk berkarya, tapi yang palinh penting adalah ide dan mood untuk menulis.

Yah...semalam sih aku iseng iseng coba buat video pakai movie maker, hasilnya? Bubar dan berakhir dengan tombol delete..

So, akhirnya kuputuskan untuk merangkum saja beberapa aktifitas di sini dalam....yaaa..mungkin beberapa kegiatan, mungkin akan kubagi sesuai dengan jenis kegiatannya kali ya...misal kegiatan formal, dan informal....dan mungkin juga nanti ada beberapa foto dan video yang ku unakuggah di sini, atau mungkin cenderung membiarkan foto dan video yang akan berbicara...whwhwheheh..kalau kek gitu berarti emang aku lagi males nulis atau g punya mood

So, first impression saat pertama tiba di vietnam itu...apa ya....sama kayak di Jakarta dari sisi transportasi atau cuaca...yah cuma beda bahasa yang bener bener g ngerti...masih pula ada beberapa orang di sini yang enggak ngerti bahasa Inggris...ini terjadi saat nannya alamat misalnya, atau pas ngobrol sama driver uber...yaaaaa...aku dan rekan plus bos di sini ngerasain taxi online..ya lumayan murah lah...oh iya mata uang di Vietnam itu namanya Dong dan ternyata nilai tukarnya lebih murah dari Rupiah...


yah, beginilah kira-kira gambaran aku yang sedang bekerja, wallpaper laptopku yang berisi gambar atau foto Aidan waktu masih umur berapa bulan ya itu, hehehehe.... Dalam forum ini, hadir beberapa delegasi dari beberapa negara seperti Singapura, Jepang, Myanmar, Malaysia, Indonesia (ini mah negara asal penulis), Laos, Kamboja, Fillipina, Thailand, ...yah anggota negara ASEAN lah, minus Brunai Darussalam kayaknya. Ya seperti aku bilang sebelumnya, karena memang bahasa emak dari masing masing negara ini bukan bahasa Inggris, so far obrolan bahasa Inggris nya yang penting pesan tersampaikan saja. hehehehehe...grammar mbuh ra urus.  wkwkwkwk... tapi yang penting ya itu, pesan tersampaikan to...wong speaker dari Jepang aja glagep glagep kok omong nganggo bahasa Inggris. hehehehe.

 Nah, kalau ini kira kira gambaran jalan di Vietnam saat malam tiba. Di sini model jalanya searah gitu, dan tata kotanya di bikin blok blok gitu, apa karena dulu ini negara bekas jajahan Inggris ya...ah embuhlah..so far gilanya pemotor di sini gak jauh beda dengan di Indonesia, masih ada beberapa pengendara yang nyelonong saat lampu merah, melawan arah, dan lain sebagai nya, bedanya mungkin di sini lebih rapi karena model blok dan searah itu kali ya...
So...so far enjoylah dengan nilai tukar rupiah di sini, dari pengalaman belanja harganya juga relatif lebih murah atau paling tidak sama dengan Indonesia..

Lho...ha trus mana kerjanya? Wkwkwkek...singkat aja deh, di sini aku mengikuti kegiatan workshop antar negara ASEAN membahas atau lebih tepatnya sharing tentang pengalaman menangani merger di negara masing masing. Ya meskipun terdapat kendala dari sisi bahasa karena memang basic bahasanya bukan bahasa Inggris tapi paling tidak tersampaikan lah pesannya...wehehrhehehe...

Oke ini dulu deh sementara, selanjutnya biar foto atau video yang menjelaskan...udah dilirik sama panitia workshop nya...wkwkwkwkwk

Sunday, 26 March 2017

Vietnam Air Waktu Setempat

Yak...sesuai judul kali ini...Vietnam...negara kunjungan ku kali ini, setelah sebelumnya gagal ke DC akhirnya aku kembali ditugaskan untuk mengikuti acara di Vietnam.

Belum terbayang bagaimana kondisi Vietnam. Beberapa waktu yang lalu sempat browsing tentang Vietnam. Dari hasil penelusuran itu kondisi Vietnam tidak jauh berbeda dengan kondisi di Jakarta, terutama kondisi jalan raya nya dimana para pejalan kaki akan mengalami kesulitan untuk menyeberang jalan, saking ruwetnya, well itu masih dari hasil penelusuran, let's see tommorrow.

Oh iya, di perjalanan ku kali ini aku mendapatkan titipan dari adikku tentang membuatkan tulisan penyemangat atau apalah istilahnya dengan latar belakang pemandangan di Vietnam. Apalah itu awalnya aku tidak tahu, hingga akhirnya kemarin istriku memberikan contoh tulisan dengan latar belakang pemandangan alam, gunung kalau tidak salah. Oke baiklah, kita liat apakah aku punya kemampuan menulis kata kata penyemangat dengan paduan pemandangan alam.

Berat sebenarnya meninggalkan dua orang yang aku sayangi, Aidan yg lagi lucu gemesin plus nyebelin...wekekekek nyebelin juga tetep ngangenin kok....lalu Ibunya alias istriku yang sekarang sedang mengandung memasuki trimester ketiga. Luv u all...

Aku jadi kangen lho nyetiri mobil buat nganter kalian ke tempat kerja sekaligus ke Daycare Aidan. Hihihi padahal ini aku nulis masih di pesawat, belum sampai di Vietnam. Yah, semoga kalian baik baik saja di sana, dan sampai ketemu di hari kamis ya...hehehehe...

Oh iya bu, bekal yang ibu bawain belum sempat ayah makan, soalnya tadi langsung nemenin pimpinan di ruang tunggu, aku baru makan bala bala alias bakwannya...nanti malam so ayah masih punya cadangan makan malam yang lezat, kok tau kalau lezat, hehehe...tadi aku ngintip sebentar ke wadah bekal makanannya..hehehehe...

Oh iya, tadi pas perjalanan dari rumah ke bandara aku diantar oleh driver Uber yang luar biasa, ramah dan orangnya sharing tentang kehidupannya, dimana dari pembicaraan yang ngalor ngidul itu dapatlah suatu kesimpulan...menjadi manusia sabar dan ikhlas itu tidak mudah, butuh niat, tekad dan usaha yanh luar biasa, tapi yakinlah bahwa Alloh telah menentukan apa apa yang terbaik untuk manusia.

Yah, sepenggal kisah ini harapannya menjadi pengantar kisahku berkelana, mungkin tidak tepat ya kalau dibilang berkelana lha wong dibiayai negara..hehehehe...lha gimana mau berkelana, ni beneran di dompet uangku tinggal Rp150.000...hello..beneran lho ini...dan aku pegangnya Rupiah, enggak pegang Dong (mata uang Vietnam) atau dollar..hehehe aku sedang menikmati ketiadaanku...eh tepatnya ketiadaan uang saku...hehehehe....

Ya sudah, nanti ceritanya disambung lagi...pengen sih sebenarnya nge Vlog kayak orang orang itu, tapi ya mau gimana lagi belum punya kemampuan eeiting foto, sama muka diedit juga kali ya biar camera face...wkwkwkwk...yowis lah sementara nulis dulu, lha wong  nulis aja kadang masih enggak konsisten je, apalagi bikin Vlog...hehehehe...

Lho tadi katanya udah, kok masih ngecipris aja...oke oke...kusudahi dulu ya pengantar kisahku di Vietnam...nanti aku sambung lagi...

Ditulis di pesawat Vietnam Air pukul 16.18 waktu setempat

Friday, 17 March 2017

Pernah Akan ke DC, tapi GAK JADI

Aku sendiri sebenarnya gak pernah mimpi atau pengen pergi ke DC. Ya, dari beberapa negara yang sudah aku kunjungi memang aku punya list negara yang ingin aku kunjungi seperti Inggris dan Arab Saudi. Aku gak pernah mimpi pergi ke negara paman Sam. Alasannya...entahlah, gak pengen aja..hehehehe....

Eh, tiba tiba kok dipanggil pak bos...penugasan negara untuk mengikuti acara konferensi International Competition Network di Washington DC. Antara percaya gak percaya, soalnya biasanya negara tujuan Eropa dan Amerika sono tuh udah jadi konsumsinya para pejabat dan staf senior. Loh emang aku belum senior secara udah bekerja selama 9 tahun...xexexexe

Aku masih bertanya tanya sama pak bos, "pak, beneran saya yang ditugasin?", Pak bos sih jawab saja, "iya, setelah pembahasan dengan pimpinan, kamu yang dipilih".

Kabar ini langsung saja ku sampaikan ke istri aku, gimana menurutnya mengingat istriku saat ini sedang mengandung anakku yang kedua. Lalu istriku mengiyakan untuk berangkat mumpung ada kesempatan.

Setelah mengantongi ijin itu aku semangat deh untuk menerima tawaran tugas dinas itu (apalagi pembiayaan dinas ini menggunakan APBN bukan donor yang konon katanya bisa bawa pulanh uang saku puluhan juta). Beberapa dokumen kemudian aku coba siapkan...Eladalah ternyata aku baru ingat kalau pasporku udah habis 2 bulan yang lalu...musti siap siap untuk urus perpanjangan paspor deh...

Nah pas nya, pas mau ngurus perpanjangan itu, anakku, aku, dan istriku terkena sakit. Pink Eye alias konjungtivitis kata dokter. Enggak tau dapatnya darimana, tapi kecurigaan sih anakku dapat dari Daycare barunya (setelah beberapa waktu mencoba memindahkan Aidan ke Daycare yang relatif lebih dekat dari rumaj, eh ternyata malah langsung dapat cinderamata sakit mata)

Tahu sendiri rasanya sakit mata kan, selain mata yang memerah kepala terasa nyut nyut an badan juga lemes. Nah pas itu, bos juga bilang kalau dokumen terkait paspor dan visa harus diurus segera. Karena memang undangannya tergolong mepet...waktu itu aku cuma diberi waktu seminggi untuk mengurus dokumen itu.

Nah, kabar lainnya, ternyata dokumen dokumen yang aku butuhkan untuk perpanjangan paspor berada di kampung halaman Yogyakarta (baca Wates, Kulonprogo). Selain itu juga ada pertimbangan biaya pengurusan paspor dan visa yang saat itu memang aku tidak punya spare money lagi (maklum pas itu penugasannya turun di tanggal yang sangat tua).

Akhirnya dengan kondisi real yang ada, aku dengan berat dan tidak berat hati menyampaikan kepada bos kalau aku tidak bisa mengikuti tugas dinas ini karena dokumen paspor. Dengan berat hati pula pak bos menyampaikan," wah sayang lho Dhik, jarang jarang soalnya staf dikirim ke DC pakai APBN lagi". Yah mau gimana lagi, emang kondisinya g bisa.

Yah, akhirnya penugasan itu kemudian di alihkan ke seniorku (tuh kan ke senior, bukan ke teman sejawat, eh temen seangkatan).

Hehehe...cerita yang mungkin bisa jadi kenangan kalau aku pernah akan pergi ke DC tapi ENGGAK JADI....wkwkekekek....