Sunday, 12 November 2017
Mbak Yani, The Best 1St House Assistant We Met
Monday, 6 November 2017
Perumahan Villa Kenali Permai
Pilih dipilih akhirnya ketemua sama salah satu rumah di Perumahan Villa Kenali Permai. Yah lumayan besar si (apalagi kalau dibandingkan dengan rumah di Cluster Sudimara Bintaro Blok F1, jauh brooo) dengan kamar tiga buah (2 kamar ukuran 3x3, satu kamar ukuran 6x3) ruang tengah dan ruang tamu yang besar, satu kamar mandi dengan bak mandi ukuran besar, dapur yang relatif standar ukurannya serta lantai atas untuk jemuran pakaian. Menariknya di Jambi ini adalah ketersediaan air PAM yang hanya mengalir tatkala matahari sudah tenggelam. Biasanya sih air mulai mengalir pada pukul 20.00, dan tidak ada sumber air cadangan (misalkan air sumur, karena konon katanya kondisi air sumur mengandung minyak, meskipun sudah dilakukan pengeboran hingga mencapai kedalaman 80 meter). Jadinya standar rumah di Jambi, khususnya di Perumahan Villa Kenali Permai pasti memiliki tandon air (kalau di Jakarta sering disebut toren, kalau di Jambi disebut Tedmon). Dan pertama kali ke Jambi ini kaget banget sama air nya, lumpur bro...ini air pam aja kayak gini apalagi air sumurnya, so kami musti pasang filter air ala ala yang ditancapkan di keran kamar mandi, itupun tidak menjamin air dalam bak kamar mandi akan bersih selamanya, paling tidak minimal dua minggu sekali kami musti kuras bak mandinya untuk membuang lumpur yang mendendap di dasar bak kamar mandi.Oh iya satu lagi kisah tentang air ini, karena waktu mengisi air itu hanya bisa dilakukan saat malam hari, maka sudah menjadi cerita umum kalau kami musti mengalami tragedi air melimpah limpah saat pukul 03.00 dini hari, karena kami kan kalau malam tidur so air penuh g ketahuan. Yah begitulah tentang air.
Kemudian cerita lain lagi ketika kami harus mengisi perabotan rumah ini, kan kami dapat rumah ini kondisi kosongan alias bukan full furnished, so kami musti mengisi perabotan rumah. Saat itu yang menjadi prioritas adalah kulkas (untuk keperluan ASI perah dari istriku), kompor plus tabung gas nya, dan kasur. Dengan itung-itungan budget, akhirnya kami (tepatnya istriku) menitipkan sejumlah uang ke pemilik rumah untuk membelikan barang barang tersebut. Setelah tinggal di sana kemudian kami mulai perlahan lahan menambahh kebutuhan perabotan seperti freezer untuk menyimpan ASIP, kemudian satu kasur lagi untuk calon pengasuh Ahza, Televisi, dan layanan internet (maklum mantan orang Jakarta yang tidak terlalu bisa lepas dari koneksi internet, apalagi jaringan sinyal televisi free to airtidak terlalu bagus). Mungkin aku kedepannya aku akan menulis tentang jaringan internet di Jambi dan testimoni atau cerita bagaimana kami mendapatkan pengasuh Ahza (padahal rencanaku untuk menulis tentang pengasuh Ahza sebelumnya belum terlaksana). Oh iya ada satu lagi, karena kami belum memiliki kendaraan pribadi kami mengandalkan aplikasi transportasi online untuk menjangkau ke beberapa tempat di Kota Jambi. Saat itu baru ada Gojek, kalau sekarang sih Grab dan Uber juga udah masuk baik untuk kendaraan roda empat maupun roda dua nya. Tapi karena lama-lama karena dirasakan repot dan berat diongkos akhirnya kami memutuskan untuk membeli kendaraan pribadi (baca motor matic, oh iya bahan tulisan lagi kayaknya ke depan tentang motor ini mengingat istriku udah lama banget gak naik motor, terakhir kalau tidak salah pas waktu SMP) dan lagi lagi berbekal aplikasi jual beli OLX kami melakukan pencarian kendaraan bermotor roda dua matik yang kelengkapan surat surat dan pajaknya beres, apa itu motornya? kayaknya nanti bakal aku tulis lagi deh..hehehehe...
So kali ini sepertinya cukup ulasanku tentang Perunahan Villa Kenali Permai, tempat tinggal sementara keluargaku (smoga saja tahun depan sudah balik ke Cluster Sudimara Bintaro Blok F No. 1, Aaaaaamiiiin), di mana sih tepatnya perumahan itu, hehehehe anakku Aidan aja udah tahu jalannya, pokoknya lewat penjual gorengan belok kiri ya (menirukan saat kami sedang mengarahkan driver gocar, hehehehe)....
Tuesday, 5 September 2017
Mutasi change everything
Mutasi juga dikenal di seluruh penjuru atau tempat bekerja, baik instansi pemerintah maupun swasta, bahkan dari karyawan pasar sampai bos bos berdasi antar provinsi antar pulau bahkan antar negara juga mengenal istilah mutasi. Bahkan kendaraan bermotor pun yang notabene benda mati juga mengenal adanya mutasi.
yes...you're right...tapi bukan aku tepatnya yang kena mutasi, melainkan istriku, mantan pacarku, ibunya anak anakku. Promosi apa demosi...mmmm mungkin tepatnya promosi ya, karena menduduki posisi yang baru dan berbeda dari posisi sebelumnya. Dari yang sebelumnya staf pelaksana biasa menjadi jabatan fungsional tertentu (mmmm...detail jabatannya tidak aku sampaikan di sini ya, mengingat aspek kerahasiaan yang diatur dalam undang-undang, hahahahaha).
Nah, sebenarnya memang aku dan istriku sudah menyadari, lambat atau cepat istriku pasti kena mutasi. Tidak ada pegawai yang abadi di satu tempat kerja atau satu tempat kantor. Semua pasti akan pindah, entah kapan waktunya dan entah kemana penempatannya. Entah jabatan biasa atau jabatan tertentu. Entah promosi atau sekedar rotasi biasa. Semua akan pindah pada waktunya.
Nah, karena memang sudah tahu hal itu sebelumnya...(mhhhhhh...tarik nafas karena nyeseg juga kalau mengingat ingat, namun bagaimanapun semua harus dijalani) kami sudah berembug, berembug di atas ranjang..(eits..jangan ngeres dulu, karena sejak ada anak-anak ranjang lah tempat yang aman dan nyaman serta kondusif untuk melakukan kegiatan rapat atau rembugan, tentu saja menunggu anak anak tidur). Kami berbicara di atas ranjang (wis lah gak usah disebutin lagi ranjangnya, pikirannya jadi aneh aneh), bahwa di kantornya sedang ada program pengangkatan jabatan fungsional "agak" besar-besaran, dan karena dulu istriku pernah ikut diklat fungsional tersebut maka kemudian istriku ditawari kembali untuk menduduki jabatan tersebut. Tentu dengan konsekuensinya, seperti penempatan tempat kerja (yang ini gak tahu kemana) dan insentif yang diterima serta beban kerjanya. Setelah banyak pertimbangan, terutama aku gak mau dibilang membatasi istriku meskipun terbesit dalam pikiran kami berdua nanti anak anak gimana kalau istriku pindah pindah (tapi untuk hal ini mau gak mau emang kerjaan di kantor istriku tidak mengijinkan seseorang abadi tinggal di satu tempat) maka akhirnya aku setujui istriku untuk mengambil jabatan fungsional itu. eh saat itu istriku sedang mengandung anak kedua kami ya...
Dan dua hari menjelang kelahiran anak kedua kami ada pengumuman meluncur. Penempatan pegawai fungsional. Jeng jeng jeng...awalnya sih harapanku istriku ditempatkan di Jakarta saja, atau Bandung atau Tangerang atau Jogjakarta, tapi ternyata Alloh berkehendak lain, Istriku ditempatkan sebagai pegawai fungsional di....di....di....Kota Jambi. jreng jreng jreng....kok bisa? kok bisa di Jambi sih? duh trus gimana? bla bla bla....tapi lagi lagi rembugan di atas (ranjang tuh kan disebut lagi ranjangnya) akhirnya dengan pasrah dan yakin bahwa Alloh memiliki reencana dan kehendak atas penempatan ini akhirnya kami menghela nafas dan baiklah mari kita hadapi ini.
Lalu mbak yang kami persiapkan untuk momong adiknya Aidan (eh kan sekarang udah tahu namanya ya...hihihi Ahza Gaffar Kusumayuda) ternyata tidak berkenan alias tidak diperkenankan oleh suaminya untuk ikut kami ke Jambi, duh padahal top recomended banget mbak ku yang ini (besok deh aku bikin tulisan khusus tentang mbak ku ini)yowis mau gimana lagi, meskipun sebelumnya aku sempat kecewa sama mbak ku, kok tega sih sama kami yang musti nyari mbak mbak lagi di Jambi nanti, padahal mbak ini udah kami anggap sebagai keluarga sendiri, sudah bisa klik sama Aidan. Padahal sudah dibilangin masalah waktu tempuh Jambi - Magelang bisa ditempuh lebih cepat daripada Tangerang Selatan - Magelang, tapi tetep aja mendengar kata Jambi yang berarti di luar pula membuat suami mbak ku tidak mengijinkan untuk ikut bersama kami. hiks hiks hiks...
Sempat juga kepikiran apa ini jalan membebaskan riba (metode amputasi) dengan menjual rumah di Cluster Sudimara Bintaro lalu beli rumah secara cash di Jambi. Tapi ternyata langkah itu belum kami tempuh. Astaghfirulloh.....dunia masih memberatkan kami, dari sisi sentimentil dan pikiran bagaimana nanti kalau balik lagi ke Jakarta. Masih nyari rumah lagi. bla bla bla....astaghfirulloh di sini sebenarnya aku sadar kalau aku secara tidak langsung sudah meragukan kekuasaan Alloh...astaghfirulloh....
Baiklah, tapi semua memang harus dijalani..mutasi ke Jambi insyaAlloh kami siap menyambutmu...rencana demi rencana yang disusun semua diputuskan atau Alloh telah mengetahui apa yang akan terjadi. Bismillah....insyaAlloh kami akan jalani mutasi di Jambi ini, tepatnya istriku,,,tentu saja dengan segala konsekuensinya karena aku juga tidak bisa meninggalkan pekerjaanku di Jakarta, next kami akan menjalani kehidupan Long Distance Marriage...dan aku juga akan menjalani atau merasakan yang namanya PJKA alias pulang jumat kembali ahad... Jakarta-Jambi-Jakarta tiap week end atau paling tidak atau paling minim satu bulan dua kali....
Semua akan berubah, dan kami belum tahu bagaimana kehidupan di Jambi, tapi baiklah akan kami jalani. Mutasi istri ke Jambi
Friday, 28 July 2017
Blue Light
Masih nyambung sama tulisan yang kemarin, kelahiran anakku yang kedua. Biasa, salah satu kondisi was was pasca anak lahir adalah kondisi bilirubin. Iya itu wajar, karena semua bayi saat didalam kandungan pencernaannya menggunakan enzim eh apa lah namanya, yang kemudian enzim atau apalah namanya itu tidak akan berfungsi atau harus dikurangi jumlahnya ketika nanti bayi melakukan proses pencernaan di luar kandungan. Nah enzim itulah yang nantinya harus dibuang atau dipecah lalu dikeluarkan melalui keringat, pipis atau pup bayi. Pada saat proses pemecahan inilah organ hati berusaha keras. Ketika enzim tersebut gagal atau kurang berhasil untuk dikeluarkan maka akan timbul warna kuning pada kulit dan mata. Nah, kalau orang jaman dulu, bayi pada awal awal kelahirannya dijemur di pagi hari kan, sebenarnya analogi nya adalah untuk memicu keringat dari si bayi sehingga proses pengeluaran enzim melalui keringat berhasil. Selain itu juga diusahakan untuk mimik yang banyak agar memperlancar proses pengeluaran melalui urine dan faeses. Meskipun ada beberapa dokter yang menolak analogi menjemur bayi dengan alasan suhu yang dingin atau malah terpapar radiasi sinar ultraviolet.
Tapi kebanyakan kondisi rumah sakit di kota menyediakan ruang perawatan untuk bayi dengan suhu yang rendah, nah kalau kayak gini gimana bisa berkeringat si dedek bayi nya. Malah sempat suudzon aku, jangan jangan ini by design..hahahaha...demi pemasukan rumah sakit...
Nah, kejadian sama si Ahza....karena paket melahirkan (3 hari 2 malam) sudah habis...karena istri melahirkan di hari kedua sehingga mau g mau di hari kedua (real perawatan) kami musti pulang, sebenarnya sih extra sehari juga g apa apa, tapi karena kondisi istriku sudah diijinkan pulang oleh dr obgyn nya dan bosen sama suasana rumah sakit(adakah orang yang mau berlama lama di rumah sakit, semewah apapun rumah sakitnya aku kira g ada yang mau) so kami pulang. Nah, karena memang kondisi bayi belum memungkinkan untuk dilakukan cek bilirubin (efektif untuk cek bilirubin adalah hari ketiga kelahiran) maka bayi pun pulang tanpa cek bilirubin dan diberikan catatan untuk keesokam harinya kembali ke rumah sakit untuk cek bilirubin. Sebenarnya sih emang ada sedikit kuning tapi waktu itu aku pikir masih wajar, sama kayak jaman Aidan dulu.
Nah pas kembali keesokan harinya kami cek lab, dan yang bikin g tega itu adalah ketika darah Ahza diambil sebanyak 7 tabung mikro di coblos pakai jarum, ya meskipun katanya untuk bayi itu syaraf nya belum sempurna merasakan sakit tapi ya orangtua mana yang tega liat anaknya berdarah darah. Nah, hasil lab nya baru ketauan 3 jam setelahnya, nah pas waktu itu hasilnya masih dibawah 12 (ambang batas nya katanya segini), lalu istriku lapor ke dokter anaknya...oh oke...trus diingatkan lagi keesokannya untuk imunisasi (mengingat kepulangan awal sehingga ada vaksin yang belum bisa langsung diberikan).
Nah pas imunisasi ini g tau lampu ruangan dokter itu terbuat dari jenis apa, Ahza nampak kuning banget, di perut, di dadah, bahkan di pipi dan hidung, sedikit kuning juga di mata. Akhirnya dokter menyarankan untuk cek lab lagi. Oh No...si Ahza bakal dicoblos coblos lagi....
Akhirnya kami cek lab lagi, dan karena waktu itu udah malam sehingga hasil lab nya kami ambil keesokan harinya. Dan jeng jeng ....hasilnya sudah 11,9 mepet banget...dan akhirnya disarankan sama dokter untuk disinar...btw tapi alhamdulillah ASI istriku banyak dan si Ahza doyan nenen nya sehingga kondisi tubuhnya juha bagus untuk mendorong si bilirubin keluar melalui pipis nya.
Akhirnya si Ahza check in lagi di ruang sinar. Blue Light Room....huhuhu....Ahza di sinar biru....dimasukkan semacam inkubator gitu trus disinar (emang benar warnanya biru) di bagian atasnya dan mata si Ahza diberikan tutup mata agar tidak terpapar sinar biru itu. Ya karena ASI istriku banyak sama suster disarankan untuk memerah ASI trus dibawakan ke rumah sakit agar si Ahza tidak dehidrasi mengingat panasnya sinar biru itu. Oke baiklah..akhirnya kami bagi tugas, istriku milk producer (ini bukan olokan lho, tapi amanah yang berkah yang diberikan Alloh kepada makhluk yang namanya ibu) dan aku sebagai messenger alias kurir. Malam gelap, pagi buta aku ngirim ke rumah sakit. Sekali perah alhamdulillah bisa bawa 2-3 botol ASI. Dan kata susternya Ahza mimiknya kenceng, dan itu jadi hal positif dalam rangka mengurangi bilirubi itu sehingga bisa dikeluarkan melalui urine nya.
Aku tanya ke susternya, emang biasanya berapa hari sih di sinar itu, jawabannya ya tergantung sama bayi nya dan bilirubinnya, tapi kalau dengan kondisi Ahza insyaAlloh dua hari cukup pak. Ah melegakan, jadi g usah lama lama si Ahza nginep di rumah sakit. Dan benar alhamdulillah di hari kedua biliribun Ahza sudah dibawah batas aman so boleh pulang.
Oh iya, Ahza di sinar di RS Premiere Bintaro juga ya....estimasi biayanya sekitar Rp1,6 juta permalam...best point di sini adalah para perawatnya yang luar biasa helpfull, ramah, dan g neko neko, bahkan mereka sering memberikan saran saran untuk.meringankan beban orang tua bayi nya, sedikit berbeda sama dokternya...hihihihi....so terima kasih ya ibu ibu perawat di ruang NICU RS Premiere Bintaro. Semoga kalian senantiasa diberikan keberkahan dalam menjalani tugas dan pekerjaannya. Aaaaaaamiiiin....
Akhirnya dengan diantarkan suster (yang medok sekali logatnya) kami di lepas di pintu lobi rumah sakit. Terima kasih bu suster, Ahza...welcome home...CSB F1
Wednesday, 26 July 2017
Ahza Gaffar Kusumayuda
Tuesday, 23 May 2017
Kamu boleh kok bekerja, tapi jangan ganggu kewajibanku, jangan ganggu hak anakmu
Aku Dirampok
Tuesday, 16 May 2017
Tukang Cukur Langganan Pasar Petojo
Nah tukang cukur ini biasa dipanggil mamang yana, aku juga gak tau sih siapa nama sebenarnya, tapi itulah sebutannya. Tukang cukur ini dari awalnya merupakan tukang cukur langganan para prajurit pengawal presiden (mungkin karena faktor lokasi yang dekat dan harga yang terjangkau mengingat model potongan prajurit kan standar seperti itu). Enggak tau kenapa kalau habis cukur disini tu aku merasa kok cocok ya hasil potongannya dengan bentuk kepalaku, ya tentunya pas awal aku sebutin modelnya (cuma bilang dirapiin tapi jangan pakai gunting sasak ya, itu lho gunting yang punya gerigi gerigi). Cuma memang ada beberapa kekhawatiran sih cukur di tempat seperti ini, ya melulu tentang kebersihan sarana dan prasarana cukur rambutnya, penularan penyakit dan asap rokok (maklum beberapa customer merokok saat menunggu giliran untuk dicukur rambutnya). Tapi bismillah aja lah, lha udah nyoba kelain tempat hasilnya selalu kecewa je. Entah dari rambut yang gak rata, kerokan yang gak lurus, dan lain sebagainya. So, meskipun sekarang aku udah tinggal di daerah Tangerang Selatan, kalau urusan cukur rambut aku akan menyempatkan diri untuk cukur di Pasar Petojo ini, ya untung saja lokasinya bisa kujangkau dengan berjalan kaki dari kantor. Meskipun nanti sisa sisa rambutnya tidak bersih maksimal, masih ada remah remah, eh masih ada rontokan rambut di baju kerja dan ditanyain temen gak gatel tuh, tapi ya gimana lagi namanya cocok tak bisa berpindah ke lain hati, eh ke lain tukang cukur rambut maksudnya. Sunday, 30 April 2017
Terima Kasih Daycare Paradise LIPI
Sunday, 9 April 2017
Gaya Gayaan Nginep di Hotel Ibis Slipi
Wednesday, 5 April 2017
Golden Dragon Water Puppet
Ya sebenarnya sih kita bisa liat gambaran water puppet saat kita source di mbah gugel atau yutub bahkan. Tapi ya namanya pengalaman yang ingin dibagikan, oke oke saja kan...hehehehe...sebenarnya foto Golden Dragon Water Puppet itu sendiri sudah aku tampilkan di tulisanku sebelumnya, tapi kan baru luarnya aja ya..hehehehe...nah dalam tulisanku kali ini aku akan membagikan beberapa video saat aku menonton pertunjukan wayang air itu. Gak full ya, sepotong potong biar penasaran dan mau nonton sendiri di Vietnam sono...hehehehe...so monggo videonya di bawah ini ya...oh iya aku juga belum tau nih cara ngatur spoiler buat video agar bisa rapi kayak foto gitu...tapi ya begitulah...toh ini hanya buat sharing saja..moga bagus isinya..kalau penampakannya kurang yahud ya mohon dimaklum saja...video ini tanpa editan ya, bukan karena mempertahankan orisinalitas tapi jujur karena gak punya kreatifitas buat ngedit video....iki endi video ne kok tulisan terus...hehehehe ok e oke monggo...
Nah, gimana setelah nonton videonya? aku sih penasaran...penasaran tentang apa?, penasaran tentang itu wayang gerakinnnya gimana, kan gak mungkin juga si dalang nyelem di abwah air kan..heheheheh sayangnya gak ada translate nya so aku gak bisa cerita apa apa tentang sebenarnya ini wayang nyeritain apa sih....
So, karenan udah masuk waktu dhuhur aku sudahin dulu deh nulis blognya..sampai jumpa di tulisanku yang lain....hehehehehe
Friday, 31 March 2017
Aristo Hotel Ho Chi Minh City
Wednesday, 29 March 2017
BenThan Market
Di Benthan Market ni (kalau siang ya) di bagian dalam pasarnya ada semacam toko atau gerai yang menawarkan harga fixed... wah gak bisa nawar dong....eit..tenang sobat..harga fixed di sini ternyata sudah sepertiga dari harga yang ditawarkan di penjual yang kalau kita mau beli harus menawar dulu..hehehehe so lebih murah kan, dan lebih membantu kalau kita memang tidak memiliki keahlian dalam melakukan tawar menawar.Oh, iya selain berbelanja, di dekat atau bahkan di sekitar area Benthan Market ini kita dapat menemukan warung atau tempat makan yang menyajikan makanan halal. Tentu bagi umat muslim sangat penting untuk memperhatikan halal nya makanan yang masuk ke dalam tubuh. Nah, jangan khawatir, di dekat Benthan Market ini ada beberapa spot yang menyajikan makanan halal. Kebanyakan penjual makanan halal ini berasal dari Malaysia yang notabene adalah Muslim, so kita gak akan ragu untuk memakan makanan di sini karena selain melabeli makannya dengan label halal, si empunya warung sendiri juga merupakan orang Muslim so mengerti tentang apa itu Halal apa itu Haram.
Kerja di Vietnam

Sunday, 26 March 2017
Vietnam Air Waktu Setempat
Yak...sesuai judul kali ini...Vietnam...negara kunjungan ku kali ini, setelah sebelumnya gagal ke DC akhirnya aku kembali ditugaskan untuk mengikuti acara di Vietnam.
Belum terbayang bagaimana kondisi Vietnam. Beberapa waktu yang lalu sempat browsing tentang Vietnam. Dari hasil penelusuran itu kondisi Vietnam tidak jauh berbeda dengan kondisi di Jakarta, terutama kondisi jalan raya nya dimana para pejalan kaki akan mengalami kesulitan untuk menyeberang jalan, saking ruwetnya, well itu masih dari hasil penelusuran, let's see tommorrow.
Oh iya, di perjalanan ku kali ini aku mendapatkan titipan dari adikku tentang membuatkan tulisan penyemangat atau apalah istilahnya dengan latar belakang pemandangan di Vietnam. Apalah itu awalnya aku tidak tahu, hingga akhirnya kemarin istriku memberikan contoh tulisan dengan latar belakang pemandangan alam, gunung kalau tidak salah. Oke baiklah, kita liat apakah aku punya kemampuan menulis kata kata penyemangat dengan paduan pemandangan alam.
Berat sebenarnya meninggalkan dua orang yang aku sayangi, Aidan yg lagi lucu gemesin plus nyebelin...wekekekek nyebelin juga tetep ngangenin kok....lalu Ibunya alias istriku yang sekarang sedang mengandung memasuki trimester ketiga. Luv u all...
Aku jadi kangen lho nyetiri mobil buat nganter kalian ke tempat kerja sekaligus ke Daycare Aidan. Hihihi padahal ini aku nulis masih di pesawat, belum sampai di Vietnam. Yah, semoga kalian baik baik saja di sana, dan sampai ketemu di hari kamis ya...hehehehe...
Oh iya bu, bekal yang ibu bawain belum sempat ayah makan, soalnya tadi langsung nemenin pimpinan di ruang tunggu, aku baru makan bala bala alias bakwannya...nanti malam so ayah masih punya cadangan makan malam yang lezat, kok tau kalau lezat, hehehe...tadi aku ngintip sebentar ke wadah bekal makanannya..hehehehe...
Oh iya, tadi pas perjalanan dari rumah ke bandara aku diantar oleh driver Uber yang luar biasa, ramah dan orangnya sharing tentang kehidupannya, dimana dari pembicaraan yang ngalor ngidul itu dapatlah suatu kesimpulan...menjadi manusia sabar dan ikhlas itu tidak mudah, butuh niat, tekad dan usaha yanh luar biasa, tapi yakinlah bahwa Alloh telah menentukan apa apa yang terbaik untuk manusia.
Yah, sepenggal kisah ini harapannya menjadi pengantar kisahku berkelana, mungkin tidak tepat ya kalau dibilang berkelana lha wong dibiayai negara..hehehehe...lha gimana mau berkelana, ni beneran di dompet uangku tinggal Rp150.000...hello..beneran lho ini...dan aku pegangnya Rupiah, enggak pegang Dong (mata uang Vietnam) atau dollar..hehehe aku sedang menikmati ketiadaanku...eh tepatnya ketiadaan uang saku...hehehehe....
Ya sudah, nanti ceritanya disambung lagi...pengen sih sebenarnya nge Vlog kayak orang orang itu, tapi ya mau gimana lagi belum punya kemampuan eeiting foto, sama muka diedit juga kali ya biar camera face...wkwkwkwk...yowis lah sementara nulis dulu, lha wong nulis aja kadang masih enggak konsisten je, apalagi bikin Vlog...hehehehe...
Lho tadi katanya udah, kok masih ngecipris aja...oke oke...kusudahi dulu ya pengantar kisahku di Vietnam...nanti aku sambung lagi...
Ditulis di pesawat Vietnam Air pukul 16.18 waktu setempat
Friday, 17 March 2017
Pernah Akan ke DC, tapi GAK JADI
Aku sendiri sebenarnya gak pernah mimpi atau pengen pergi ke DC. Ya, dari beberapa negara yang sudah aku kunjungi memang aku punya list negara yang ingin aku kunjungi seperti Inggris dan Arab Saudi. Aku gak pernah mimpi pergi ke negara paman Sam. Alasannya...entahlah, gak pengen aja..hehehehe....
Eh, tiba tiba kok dipanggil pak bos...penugasan negara untuk mengikuti acara konferensi International Competition Network di Washington DC. Antara percaya gak percaya, soalnya biasanya negara tujuan Eropa dan Amerika sono tuh udah jadi konsumsinya para pejabat dan staf senior. Loh emang aku belum senior secara udah bekerja selama 9 tahun...xexexexe
Aku masih bertanya tanya sama pak bos, "pak, beneran saya yang ditugasin?", Pak bos sih jawab saja, "iya, setelah pembahasan dengan pimpinan, kamu yang dipilih".
Kabar ini langsung saja ku sampaikan ke istri aku, gimana menurutnya mengingat istriku saat ini sedang mengandung anakku yang kedua. Lalu istriku mengiyakan untuk berangkat mumpung ada kesempatan.
Setelah mengantongi ijin itu aku semangat deh untuk menerima tawaran tugas dinas itu (apalagi pembiayaan dinas ini menggunakan APBN bukan donor yang konon katanya bisa bawa pulanh uang saku puluhan juta). Beberapa dokumen kemudian aku coba siapkan...Eladalah ternyata aku baru ingat kalau pasporku udah habis 2 bulan yang lalu...musti siap siap untuk urus perpanjangan paspor deh...
Nah pas nya, pas mau ngurus perpanjangan itu, anakku, aku, dan istriku terkena sakit. Pink Eye alias konjungtivitis kata dokter. Enggak tau dapatnya darimana, tapi kecurigaan sih anakku dapat dari Daycare barunya (setelah beberapa waktu mencoba memindahkan Aidan ke Daycare yang relatif lebih dekat dari rumaj, eh ternyata malah langsung dapat cinderamata sakit mata)
Tahu sendiri rasanya sakit mata kan, selain mata yang memerah kepala terasa nyut nyut an badan juga lemes. Nah pas itu, bos juga bilang kalau dokumen terkait paspor dan visa harus diurus segera. Karena memang undangannya tergolong mepet...waktu itu aku cuma diberi waktu seminggi untuk mengurus dokumen itu.
Nah, kabar lainnya, ternyata dokumen dokumen yang aku butuhkan untuk perpanjangan paspor berada di kampung halaman Yogyakarta (baca Wates, Kulonprogo). Selain itu juga ada pertimbangan biaya pengurusan paspor dan visa yang saat itu memang aku tidak punya spare money lagi (maklum pas itu penugasannya turun di tanggal yang sangat tua).
Akhirnya dengan kondisi real yang ada, aku dengan berat dan tidak berat hati menyampaikan kepada bos kalau aku tidak bisa mengikuti tugas dinas ini karena dokumen paspor. Dengan berat hati pula pak bos menyampaikan," wah sayang lho Dhik, jarang jarang soalnya staf dikirim ke DC pakai APBN lagi". Yah mau gimana lagi, emang kondisinya g bisa.
Yah, akhirnya penugasan itu kemudian di alihkan ke seniorku (tuh kan ke senior, bukan ke teman sejawat, eh temen seangkatan).
Hehehe...cerita yang mungkin bisa jadi kenangan kalau aku pernah akan pergi ke DC tapi ENGGAK JADI....wkwkekekek....






