Sunday, 20 October 2013

Perkenalkan... Nama Saya Aidan Pravda Yudhistira

Hari ini aku capeeek sekali...
Entah sedang apa ibu ku di luar sana
Goncangan demi goncangan yang terjadi menimbulkan rasa sesak dan capek di tubuh mungilku ini
Apalagi terik hawa panas menelusup melalui kulit yang melindungiku

Lalu beranjak malam, capek itu tiada kunung usai
Aku meronta tapi tiada mendengar
Aku merengek untuk mengatakan bahwa aku capek tapi tiada pula suara ini menggelegar
Hanya tendangan tendangan yang bisa aku lakukan
Sepakan demi sepakan aku lancarkan ke kulit yang lembek melindungi
Aku tiada tahu musti bagaimana lagi

Aku menendang-nendang terus
Hingga entah pukul berapa aku tidak tahu
Maklum di sini senantiasa gelap remang-remang

Cairan yang selama ini melindungiku
Perlahan mengempes entah kemana
Aku tendang barangkali terus pecah entah kemana

Habis itu aku merasa guncang-guncangan kembali
Samar-samar riuh di luar sana
Kemudian guncangan mereda
Namun kemudian berganti hawa sejuk menerpa
Sehingga aku akhirnya melingkarkan badanku untuk melindungi suhu tubuhku

Tapi setelah cairan yang tadinya bersamaku menyusut
Aku merasa tiada kenyamanan
Ruang serasa tiada bersahabat
Tiada jenak aku bersemanyam

Aku menendang lagi...
Terus menendang...

Terus terusan aku menendang
Aku tiada tau apa yang sedang dirasakan oleh ibuku
Tapi sungguh aku sudah tiada kuasa untuk tinggal di dalam
Aku ingin keluar

Entah pukul berapa saat itu
Tapi aku merasa ada cairan asing dimasukkan ke dalam tubuh ibuku
Entah apa namanya tapi itu membuat aku merasa makin tiada betah ada di dalam sini
Aku semakin meronta ingin keluar

Jalan itu perlahan membuka
Terang cahaya menyerebak
Menitik cahaya menjadi terang

Aku kepalkan tangan ini
Aku bersiap keluar
Aku meluncur

Dengan sekuat tenaga
Dan aku juga merasa ada dorongan kuat yang mendorongku untuk keluar
Mungkin itu kekuatan ibu

Lambat perlahan aku melihat
Beberapa orang berkerumun menantiku
Entah siapa mereka aku tiada mengenal
Beberapa berseragam
Salah satu memegangi kepalaku

Tiga kali aku merasa di dorong
Akhirnya aku menyibakkan jalan untuk keluar

Lega rasa ini hingga aku pipis di saat itu
Entah siapa atau apakah ini
Aku bergidik dengan suasana yang sangat berbeda
Berisik sungguh di sini
Dengan suara aneh dan kilatan cahaya

Aku lahir di dunia
Dan perkenalkan
Nama saya Aidan Pravda Yudhistira

Nama itulah yang dipilih oleh orang tua saya
Katanya melalui beberapa kurun waktu tertentu untuk berdiskusi

Kata orang tua saya Aidan berarti semangat, Pravda berarti Kebenaran, dan Yudhistira adalah salah satu tokoh dewa pewayangan

Jadi arti dari nama saya adalah sosok manusia yang memiliki sifat utama sabar dan adil (sifat utama dari Yudhistira) dan memiliki semangat untuk menegakkan kebenaran...

Terima kasih Ibu, .... terima kasih juga untuk Ayah.....

Sekali lagi
Nama saya Aidan Pravda Yudhistira


Kalau masih ngeyel nama saya, liat saja akta kelahiran saya yang disimpan rapi oleh ayah saya...

Wednesday, 21 August 2013

Ayah dan Ibu Menyambutmu

Selasa 13 Agustus 2013,
Malam itu kebetulan aku ada rapat sampai jam 20.00 di kantor, sampai rumah waktu sudah menunjukkan pukul 21.30. Istriku masih setia menungguku dengan wajah sayunya. Ya maklumlah, tadi siang ternyata istriku di ajak ibunya (bundo) untuk berjalan kaki ke pasar. Masih mengenakan mukena setelah menunaikan sholat isya' istriku berkata bahwa makanan ada di dapur, udah disiapkan untuk buka puasa waktu itu sebenarnya.

Setelah aku mandi dan menunaikan sholat isya' aku menuntunkan nasi, sayur dan lauknya ke dalam mulutku. Perlahan hingga akhirnya habis tiada bersisa. Setelah selesai melakukan makan malam tersebut kemudian melakukan ritual sikat gigi, akhirnya aku membaringkan badanku di kasur. Aku pun tidur.

Terbangun kemudian jam 01.00 . Istriku sedang kebingunan. Dengan setengah menangis dan bingung istriku bangun dari kamar tidur dan menuju kamar mandi. Saat itu, karena aku juga baru saja terjaga dari tidur aku sempat ngah ngoh karena bingung ada apa. Tapi langsung terpikir bahwa sesuatu terjadi dengan kehamilan istriku. Bundo pun terbangun dan menanyakan pada istriku.

"Pecah ketuban, cepat pesen taxi", pinta istriku.

Langsung saja kuarahkan perhatianku kepada aplikasi pemesanan Taxi Bluebird di smartphone istriku. Langsung aku klik order now.

Selang 10 menit kemudian, taxi Bluebird pun datang... istriku kemudian masuk di bagian belakang bersama bundo, sementara aku duduk di samping supir setelah sebelumnya aku memasukkan barang di bagasi.

"ke RSAB Harapan Kita Slipi pak", pintaku cepat kepada Pak Supir.

Taxi pun meluncur segera menuju tempat yang aku maksudkan tadi. Alhamdulillah karena waktu masih menunjukkan pukul 02.00 kondisi jalan pun masih lengang, dengan waktu tempuh sekitar 40 menit kami tiba di RSAB Harapan Kita Slipi.

Masuk ke bagian Instalasi Gawat Darurat kami langsung disarankan menuju Ruang Cempaka (yang merupakan ruang bersalin di RSAB Harapan Kita). Kemudian kami disarankan untuk masuk ke kamar 203 oleh suster yang saat itu sedang bertugas. Setelah ditanya-tanya oleh suster kemudian di cek menggunakan alat elektronik, suster tersebut pun meninggalkan kami di ruang itu.

Tak tik tok tak tik tok.. suara detak jam yang terpampang di tembok ruang 203, perlahan dan tiada terasa ternyata matahari udah tinggi. Aku, istriku, dan bundo masih tetap terjaga tiada tertidur. Sesekali istriku merasakan sakit akibat kontraksi. Dari pertama masuk ternyata istriku sudah memasuki tahapan bukaan 2. Kami pun diminta untuk menunggu agar tahapan sampai pada bukaan yang lengkap alias bukaan 10.00

Waktu pun berjalan, tak terasa waktu pun menunjukkan pukul 10.00, suster masuk untuk memeriksan keadaan istriku. Dan hasilnya masih bukaan 2 meskipun kontraksinya sudah lebih teratur.

Dikarenakan kondisi istriku waktu masuk ke RSAB Harapan Kita sudah dalam keadaan pecah ketuban, maka akhirnya pun suster menyarankan untuk dilakukan induksi bantuan. Suster pun menyodorkan lembar persetujuan kepada ku. Aku pun melirik istriku dan bundo terkait persetujuan ini.

"Pertimbangan medis tentu sudah tepat, gak apa apa, insyaAlloh semua akan baik-baik saja", kata bundo kepadaku. Istriku yang sedang terbaring pun mengangguk mengiyakan. Lalu aku pun menandatangani lembar persetujuan tersebut.

Setelah lembar persetujuan tersebut aku tandatangani, suster pun keluar kemudian masuk kembali membawa peralatan infus (obat induksi dimasukkan melalui media infus ini). Benar saja, setelah dilakukan induksi ini, perut istriku makin bergejolak, ritme kontraksinya pun menjadi lebih sering, dan istriku mengerang kesakitan. Aku dan bundo pun hanya bisa memberikan semangat kepada istriku untuk dapat menjalani proses persalinan ini. Suster pun tidak luput kena marah istriku.

"Sakiiiittt susterrrrrrr!!!!!!!", bentak istriku kepada suster yang menunggui kami.

Akhirnya pukul 11.30 pun dokter kandungan kami datang masuk ke ruangan, tentu setelah sebelumnya suster melakukan observasi dan menyatakan bahwa bayi siap untuk lahir. Dokter Sadina pun masih bisa berkelakar di ruang persalinan tersebut, sambil mencandai istriku yang sedang kesakitan.

Dengan penuh perjuangan akhirnya tibalah saatnya mengejan. Posisi istriku yang tadinya tidur kemudian sudah dirubah menjadi duduk setengah tidur. Kontraksi yang tadinya ditahan, akhirnya dilepas juga melalui pengejanan istriku.

"Ayoo buuu... dorong bu.... ayo bu semangat...", sorak suster dan dokter yang menangani proses persalinan istriku.

Akhirnya setelah berjuang, pada pukul 11.45 anak kami lahir dan hadir di muka bumi ini. Melihat duni untuk pertama kalinya. Namun yang membuat heran adalah posisi dedek bayi yang tangannya "ndaplang" ke arah atas, setelah keluar pun dedek langsung pipis.

Sungguh, sangat menakjubkan ketika melihat dedek keluar dari tubuh ibu melalui jalan lahirnya. Setiap tetes keringat istriku, setiap detik ejanannya, darah yang menetes, erangan kesakitan. Sungguh hal yang luar biasa... istriku, aku sangat menyayangimu...

Dikarenakan posisi dedek bayi pada saat lahir tadi, akhirnya dokter pun menjahit sobekan di jalan lahir istriku. Perlahan tapi pasti dokter Sadina memasukkan benang jahit luka melalui jarum jahit yang berbentuk setengah lingkaran. Menembus daging dan akhirnya menciptakan susunan jahitan yang rapi.

Pada saat proses penjahitan tadi, sang dedek pun di telungkupkan di badan istriku (program IMD). Setelah proses penjahitan selesah, dedek pun masih dilengketkan di badan istriku. Harapannya adalah si dedek dapat memperoleh kolustrum dari sang istriku. Setelah hampir 1 jam 15 menit, dedek bayi dibawa ke ruang observasi untuk dilakukan pengecekan terhadap kondisi dedek bayi. Aku pun diminta untuk mendampinginya. Melihat dedek dibersihkan, diberikan suntikan pertama kali yaitu vitamin K lalu dimasukkan ke dalam kotak bayi di ruang observasi tersebut.

Aku kemudian kembali ke ruang persalinan, dimana istriku juga sedang mengalami proses observasi pasca persalinan. Istriku juga mulai merasakan rasa tidak nyaman pasca operasi.

Setelah dinyatakan kondisinya baik, akhirnya istriku dipindah ke bangsal Mawar nomor 209, bangsal yang telah kami pilih setelah kami menyesuaikan dengan budget asuransiku. Kelas VIP B yang lumayanlah fasilitasnya.

Dedek bayi pun menyusul nanti setelah lulus di ruang observasi.

Setelah semua beres di ruang bangsal tersebut, lalu aku berbenah untuk pulang ke rumah dulu untuk menguburkan ari-ari dedek yang sudah dibungkusin ama petugas kebersihan RSAB Harapan Kita.

Dengan menggunakan taxi aku meluncur ke daerah Jombang, Ciputat... dengan kondisi jalanan yang semi lancar akrhinya aku tiba di rumah sekitar saat sholat Maghrib. Langsung setelah meminjam cangkul dari satpam perumahan, aku langsung mengubur ari-ari dedek.

Kemudian aku membersihkan badan dan kemudian kembali lagi ke RSAB Harapan Kita. Kali ini aku menggunakan KRL Commuter Line untuk menempuh perjalanan dari Stasiun Sudimara menuju ke Stasiun Palmerah dan kemudian melanjutkan perjalanan ke RSAB HArapan Kita dengan menggunakan ojek.

Karena sebelumnya aku belum makan, maka setelah sampai di pelataran RSAB Harapan Kita aku memutuskan untuk mencari makan dulu (sebelumnya aku juga sudah dapat sms dari bundo bahwa aku disuruh makan dulu). Namun ketika sedang mencari makan, tiba-tiba mendapat info dari kakak sepupuku yang bernama Mbak Pipit bahwa dedek belum dimasukkan ke ruang rawat tempat istriku menginap. Padahal sudah sejak tadi siang jam 13.00 dedek diobservasi. Karena gusar, aku mengurungkan niat untuk mencari makan, akhirnya aku langsung meluncur menuju ruang perawatan. Namun untuk mengganjal perut, aku mampir ke gerai Dunkin Donnat untuk membeli beberapa potong donat. Kemudian setelah sampai di Ruang Mawar Nomor 209 aku menanyakan, kenapa kok dedek belum diperbolehkan masuk. Setelah bertanya-tanya akhirnya suster pun menjelaskan bahwa dedek perlu melakukan penyesuaian suhu tubuhnya dengan suhu ruang rawat.

Lama menunggu dan aku sering bolak-balik ke ruang penyesuaian suhu, akhirnya pada pukul 01.30 aku diperbolehkan untuk membawa dedek ke pelukan istriku di ruang rawat. Dengan suka cita, dedek disambut istriku dan bundo...

Hari-hari di ruang rawat Mawar 209 kami dilayani dengan sangat baik oleh petugas di RSAB Harapan Kita. Mulai dari petugas kebersihan, suster, dokter, dan petugas administrasi semua melayani dengan baik.

Dari awal masuk RSAB hingga kami akan pulang semua melayani dengan ramah, cepat dan jelas.

Akhirnya pada hari Jumat tanggal 16 Agustus 2013 kami diperbolehkan untuk meninggalkan RSAB Harapan Kita. Setelah pengurusan administrasi selesai, akhirnya kami meluncur ke rumah di daerah Jombang, Ciputat menggunakan taxi.

Pada kesempatan ini pula kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Taxi Bluebird yang telah mengantar kami dari Jombang, Ciputat ke RSAB Harapan Kita, Petugas Administrasi RSAB Harapan Kita yang telah membantu proses pengurusan administrasi kami, Suster di ruang Cempaka yang telah sabar dan setia membantu proses persalinan, Suster di Ruang Mawar yang membantu proses perawatan istri dan anak kami, dr. Sadina yang telah membantu sejak kehamilan hingga proses persalinan, dr. Aditya Suryansyah yang telah menangani anak kami, supir Taxi Taxiku yang telah mengantar kami dari RSAB Harapan Kita ke rumah di daerah Jombang, Ciputat, satpam kompleks yang telah meminjamkan cangkul kepada ku untuk menguburkan ari-ari anak kami, petugas kebersihan yang telah membantu proses pembersihan dan pembungkusan ari-ari ke dalam kendi, Jakarta Fried Chicken yang telah menjadi tempat makan pagi, makan siang, dan makan malam aku dan bundo, dan seluruh pihak yang tidak dapat ku sebutkan satu persatu.

Selamat datang anak kami... ayah dan ibu menyambutmu... LOVE YOU...
to be continued...

Wednesday, 7 August 2013

Home Sweet home

Finally...
Setelah menunggu dengan penuh kesabaran
Sedikit meleset dari rencana awal yang diperkirakan
Akhirnya kamii pindah menuju rumah baru kami
Di Perumahan Cluster Sudimara Bintaro, Jombang, Ciputat

Beberapa permasalahan sebelumnya seperti tiang listrik belum terpasang, akses jalan belum terhubung
Kendala jadwal akad kredit hingga akhirnya renovasi kamar tidur (untuk renovasi ini tidak ada permasalahan)

Setelah agak menahan rasa sabar pula di kontrakan sederhana di daerah Bonjol
Dengan bocornya air hujan, bau sampah dari tetangga kontrakan, lalat yang beterbangan hingga berisiknya tetangga

Akhirnya kami pindah juga

Sebelumnya juga dapat wejangan dari orang tua dan pakdeku
Terkait waktu dan segala perhitungannya untuk pindahan tersebut
Meskipun ada beberapa hal yang tidak aku indahkan
Dan aku sebelumnya juga telah menyampaikan maksudku tersebut
Dan mereka bisa memakluminya

Sebelumnya pada malam jumat aku dan pakdeku mengaji di rumah baru tersebut
Akhirnya pada jumat siang aku pindahann juga
Beberapa barang yang sudah aku dan istriku rapikan dalam dus dus bekas pindahan dulu dari Slipi

Setelah sebelumnya memastikan bahwa rumah tersebut memang sudah siap untuk kami tinggali
Dan memastikan pula bahwa pada terdapat petugas keamanan yang menjaga kompleks perumahan tersebut

Akhirnya kami putuskan untuk mencari informasi sewa kendaraan pindahan kepada petugas keamanan kompleks tersebut
Sebenarnya, secara mandiri pun aku bisa mencari sewa kendaraan tersebut
Tapi paling tidak dengan menyewa kendaraan dari si petugas keamanan tersebut, si petugas keamanan mengenal kami
Dan berkenan untuk memberikan perhatian kepada rumah kami

Meskipun sebenarnya juga terdapat permasalahan kecil terkait pindahan ini
Dari awalnya kami menghendaki pindahan menggunakan truk medium )roda empat, atau sering disebut truk engkel)
Si petugas keamanan pun sepakat akan mencarikan dan memberikan informasi bahwa ada truk yang dimaksud
Nah, pas di hari h nya, si petugas keamanan memberikan informasi bahwa truk engkel tersebut mengalami kerusakan
Sehingga musti digantikan dengan mobil bak terbuka biasa yang relatif kecil
Sebenarnya kami tidak masalah dengan jenis mobil yang akan mengangkut barang-barang kami
Kami hanya memandang aspek kuantitas barang kami dibandingkan dengan kapasitas mobil pengangkut
Tapi karena si petugas keamanan memberikan jaminan bahwa sebera[aun barangnya akan diangkut habis
Ya tidak masalah bagi kami, toh udah berkomitmen

Akhirnya pada tanggal 2 Agustus 2013 sekitar pukul 14.00 kloter pertama barang kami dibawa menuju rumah baru kami
Kami berangkat sendiri menggunakan sepeda motor untuk menuju rumah kami tersebut
Setelah beberapa saat akhirnya pindahan kami pun selesai

Dengan barang-barang yang berceceran di ruangan
Akhirnya selesai juga pindahan kami

Beberapa gambar rumah yang sempat kami abadikan dalam kamera handphone kami adalah sebagai berikut:



Monday, 24 June 2013

Defisit Anggaran

Aku dan isriku sudah mengincar rumah ini sejak berbentuk tanah kavling
Survey demi survey yang hampir saja menemui kebuntuan
Lokasi dan harga yang pas dengan kemampuan finansial kami
Perumahan Cluster Sudimara Bintaro
Sebuah perumahan kecil yang berada di sekitar Stasiun Sudimara
Tepatnya di Jl. Pembangunan Kelurahan Jombang, Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan

Dengan banyak pertimbangan
Akhirnya kami memilih salah satu kavling di pojokan alias hook
Blok F Nomor 01

Setelah memesan Booking Fee akhirnya kami memasuki proses bla bla bla
Untuk keperluan administrasi pembeliann rumah dan proses pembangunan rumah

Setelah hampir setahun lamanya kami menunggu proses pembangunan dan administrasi KPR
Akhirnya tiba juga waktu untuk akad kredit KPR kami dengan BTN Syariah

Hampir bersamaan dengan ketok palu kenaikan harga BBM bersubsidi
Diketok palu pula anggara keuangan kami
Resmi menjadi debitur dari BTN syariah
Resmi menetapkan defisit anggaran dalam neraca keuangan kaluarga kami

Tidak berhenti disitu
Karena kami merasa ukuran kamar kami relatif sempit
Jadi kami memutuskan untuk memperbesar ukuran kamar
Menggunakan cara renovasi rumah
Melalui tenaga developer
Biar gak ribet menurut kami
Kalau ada kerusakan bangunan lama toh tenaga developer juga bisa memperbaiki

Yah, paling tidak sudah melegakan rasanya
Penantian selama hampir setahun
Akhirnya kami punya gambaran atas rumah yang akan menjadi milik kami

Setelah beberapa waktu kami menyusun jadwal akad
Menyamakan antara jadwal aku, istriku, pihak notaris dan bank sendiri
Bukanlah suatu hal yang mudah
Fiiuuhhh...
Tapi akhirnya dengan kepercayaan
Bahwa sesuatu yang niatnya baik pasti diberikan kemudahan oleh Alloh SWT
Akhirnya akad terlaksana
Pada hari Selasa, 18 Juni 2013
Sudah melihat seritifikat
Sudah melihat deretan angka cicilan
Paling tidak lega lah


hehehe.... meskipun defisit anggaran..wkwkwkwkwk....

Tuesday, 4 June 2013

Ulang Tahun Pernikahan Pertama dan Ulang Tahun Kelahiran Istriku Ke 23

Waktu itu berganti seiring tingkah polah manusia. Hiruk pikuk yang mendera roda kehidupan senantiasa menyamarkan tiap gerak roda waktu. Tak terasa pernikahan kami sudah menginjak masa satu tahun, bertepatan pula dengan ulang tahun istriku yang ke 23.

Seiring air mata dan tawa yang menghias tiap langkah kami. Susah senang yang mendera tiada henti. Berjalan dan berhenti tiada kenal waktu menuju.

Untuk memperingatinya aku berpikir. Kado apa yang tepat untuk perayaan ini. Moment seperti apa yang harus aku persembahkan untuk istriku. Jujur sangatlah tidak mudah membuat sebuah kejutan untuk istriku. Selama ini kejutan-kejutan yang aku buat justru cukup sukses untuk membuat istriku jengkel atau kesal. Yahhh...misalnya tiba-tiba aku bilang tanggal sekian aku akan melakukan perjalanan dinas. Hihihihi.....

Akhirnya terpikir olehku untuk membeli kue. Sebagai orang awam dengan perkuean akhirnya aku bertanya-tanya pada beberapa orang termasuk mbah Google. Dimana sih pesan kue biasanya. Kata rekan dan atasan di kantorku, biasanya untuk perayaan gitu kue pesen di Harvest. Lalu aku kemudian mencari di internet mengenai keberadaan Harvest di daerah Tangerang Selatan. Jeng...jeng...jeng... tidak ada Harvest di sana...toeng...toeng..toeng... memutar otak kemudian aku melakukan penjelajahan lagi dengan kata kunci toko kue di Bintaro. Muncullah beberapa nama seperti Cheese Cake Factory, Toko Jojo. Lalu aku menjelajahi tiap halaman web toko-toko tersebut. Satu per satu contoh kue aku lihat di katalog mereka. Setelah melihat, akhirnya aku putuskan untuk menuju Toko Jojo.

Oh iya, perjalanan menuju Toko Jojo pun tidak mudah kawan-kawan. Secara aku dan istriku selalu bilang kalau mau pergi kemana saja. Walhasil hari itu aku baru saja pulang dari dinas luar di daerah Kalimantan Selatan. Sebelumnya aku pernah bilang pada istriku suatu saat akan melakukan pijat refleksi, karena akhir-akhir ini badanku tidak enak. Namun ketika aku di Banjarmasin aku sempat mengalami sakit pada telapak kaki. Entah kenapa ketika turun dari taksi tiba-tiba saja kakiku sakit secara mendadak. Sampai di hotel kemudian rekanku berbaik hati untuk memijat kakiku. Namun mungkin karena sifatnya sukarela dan gratisan dan tentunya temanku belum memiliki sertifikat pijat memijat, walhasil sakit di kakiku tidak sembuh, justru makin sakit. Hingga akhirnya bengkak deh kakiku.

NAh, kembali lagi ke perjalanan menuju Toko Jojo. Setelah menjemput istriku dari tempat kuliah, istriku secara kebetulan menyuruhku untuk menuju tempat pijat refleksi. Tempat pijat refleksi tersebut sebenarnya sudah sering kami lihat ketika kami jalan-jalan di wilayah Bintaro Sektor 3. Oke lah, aku kemudian meluncur ke tempat pijat refleksi tersebut. Setelah sampai di tempat tersebut ternyata aku tidak diterima sebagai konsumen di tempat pijat tersebut. Bukan karena apa-apa, melainkan karena telapak kakiku agak bengkak sehingga pemijat di tempat itu tidak berani mengambil resiko. Hmhhh.... Akhirnya setelah aku beritahukan kepada istriku perihal tersebut aku meluncur ke Toko Jojo (untuk ke Toko Jojo aku tidak memberitahukannya, hihihi...namanya aja usaha untuk membuat kejutan).

Setelah sampai di Toko Jojo, aku melihat beberapa contoh roti yang lucu-lucu. Lalu aku menemui mbak-mbak penjual. "Mbak, mau pesen kue". Setelah bercakap-cakap agak lama kemudian penjual roti di tempat tersebut ternyata tidak bisa membuatkan kue dalam waktu yang relatif cepat. Waktu itu kan hari Jumat, aku pesan untuk hari sabtu. Eh gak sanggup. Kemudian aku disarankan untuk ke toko kue yang berada di dalam Bintaro Plaza. Clairmont namanya. Setelah berjalan kaki menuju Bintaro Plaza (kebetulan letak Toko Jojo dengan Bintaro Plaza memang bersebelahan), akhirnya aku melihat beberapa contoh kue yang dipajang di gerai toko tersebut. Sebagai laki-laki yang awam dengan dunia perkuean tentu saja aku bingung, roti jenis apa yang cocok untuk merayakan moment ini ya, pikirku dalam hati. Lalu aku teringat dengan cerita istri jaman masih kerja di daerah Gatot Subroto, waktu itu istriku bercerita dengan antusias mengenai roti pelangi alias Rainbow Cake. Yo wis, akhirnya aku pilih Rainbow Cake dengan memilih beberapa hiasan di atasnya. Oke akhirnya kegiatan memesan kue sudah selesai, aku putuskan untuk aku ambil hari Sabtu jam 21.30.

Hari Sabtu itu kebetulan Biro di kantorku mengadakan acara Family Gathering di kawasan wisata Dunia Fantasi Jaya Ancol dengan penutup acara makan malam di Bandar Jakarta. Damn... kalau aku ikut sampai acara selesai tentu acara kejutan yang aku siapkan untuk istriku bisa berantakan. Akhirnya kebetulan posisinya istriku hamil, tentu saja gak bisa ikut acara dari awal sampai selesai. Kan aku juga khawatir nanti kalau istriku kecapekan. Mengingat pula Bintaro ke Ancol itu jarakanya lumayan cukup jauh.

Hari sabtu di Dunia Fantasi aku rasa cukup menyenangkan. Suasana yang tidak terlalu ramai membuat para pengunjung dapat menikmati setiap wahana tanpa perlu mengantri lama. Meski aku tidak naik ke semua wahana karena menemani istriku (alibi...hihihihi). Pokoknya menyenangkan deh hari itu..hihihi...alhamdulillah wajah istriku juga berser-seri...

Pulang dari Dunia Fantasi kami menggunakan moda tranportasi Taxi, mengingat waktu sudah sore (jam macet) dan jarak memang relatif cukup jauh akhirnya kami baru tiba di Bintaro pada pukul 19.30. Mengambil motor di parkiran Stasiun Pondok Ranji lalu pulang dulu ke kontrakan. Rencananya sih kami masih mau makan malam keluar. Whaaattt...kalau keluar makan malam lalu kapan aku bisa ngambil kue pesenanku..hahahahaha... Kebetulan pas pulang itu sudah ada kunjungan dari ibu kontrakan yang menawari baju muslim (maklum, emak-emak yang punya mental penjual..hihihihi). Ngobrol ngalor ngidul bla..bla..bla.. akhirnya waktu berjalan sampai jam 20.30. Ibu kontrakan pamit, istriku mandi. Akhirnya tanpa pikir panjang aku meluncur ke Bintaro Plaza untuk mengambil kue pesenanku.

Sampai di kontrakan lagi aku sedikit mengendap-endap melihat dimana istriku berada, di ruang tidur dan menunjukkan sudah agak ngantuk mukanya... hihihi... "dari mana mas?, tanya istriku kepadaku. "ini, dari isi bensin", jawabku sambil meletakkan kue pesenanku di lemari pakaianku. Lalu aku bertanya "jadi kita makan?. "Mas, beliin aja ya, terserah mau makan apa, makan di kontrakan aja", jawab istriku dengan nada agak ngantuk. Siaaappp kumendaaaaannnn.....

Misi memasukkan kue ke rumah kontrakan sudah berhasil. Akhirnya aku pergi ke tmepat orang jualan nasi goreng sekalian mampir ke Indomaret yang letaknya tidak jauh untuk membeli lilin (lucu juga kan beli kue perayaan gak ada lilin-lilinnya. Setelah terbeli semua akhirnya aku meluncur pulang. Lilin aku letakkan di bagasi motor agar tidak ketahuan. Kami pun makan malam.

Saat itu ada dua skenario di otakku. Mengucapkan selamat sekaligus ritual tiup lilin saat tengah malah pergantian hari, atau di pagi hari setelah istriku menunaikan sholat subuh. Untuk menunggu skenario yang pertama, aku sengaja untuk tidak tidur sampai tengah malam. Akhirnya aku bermain bola PES di netbook ku untuk menjaga agar aku tidak mengantuk. Saat pukul 23.30 istriku terbangun untuk minum air dan buang air kecil. Ketika mengambil air minum, istriku melihat kotak lilin yang ternyata aku lupa untuk menyimpannya. Istriku bertanya "loh mas, itu apa?". Aku menjawab dengan sekenanya, "oh gak tau itu, tadi pas mas bongkar-bongkar kardus nemu itu lilin". Mungkin karena rasa kantuk yang mendera istriku, dia lalu meluncur kembali ke tempat tidur. Teng..teng..teng... Jam 00.00, aku tengok istriku, masih terlelap..hmmhhh...rasanya skenario pertama tidak dapat dijalankan. Aku tidak tega membangunkan istriku dalam kondisi yang letih itu. Kemudian aku hanya berbisik pada istriku seraya mencium keningnya dan berucap, "selamat ulang tahun sayang, I love you".

Setelah mengucapkan itu kemudian aku menyiapkan rencana kedua untuk besok. Lilin sudak aku tata di tatakannya (biar besok tinggal tancap di kuenya), kemudian kue aku masukkan ke dalam kulkan agar tidak meleleh. Setelah semua beres dan rapi akhirnya aku beranjak tidur.

Alarm berbunyi pukul 04.30, aku terbangun kemudian mandi biar segar (cieee..menyambut perayaan soalnya musti segar jadinya)... aku cek lagi semua persiapan, oke beres. Setelah mandi kemudian aku menunaikan sholat subuh. Jam sudah menunjukkan pukul 05.00, aku kemudian bangunkan istriku untuk segera menunaikan ibadah sholat subuh. Ketika istriku beranjak menunaikan sholat subuh, kemudian aku mengambil sapu untuk berpura-pura sedang membersihkan dapur. Padahal aku ingin mempersiapkan kue yang sudah nongkrong di kulkas sejak tadi malam. Pintu dapur aku tutup, kemudian setelah lilin aku nyalakan dan kue siap, aku tengok istriku apakah sudah selesai menunaikan sholat subuh. Ternyata sudah selesai, saat itulah kemudian aku keluar dengan membawa kue yang ada lilin diatasnya sambil menyanyikan lagu ulang tahun.

Setelah meletakkan di atas meja,dan mengucapkan selamat kepada istriku, kami pun sama-sama berdoa untuk keluarga kami. Agenda tiup lilin pun berjalan sukses. Dan kemudian kami memakan kue tersebut...Hihihihi...

Happy 1st Anniversary for Our Wedding and Happy Birthday 23rd

Ayah Sayang Ibu, Ayah Sayang Dedek, Dedek Sayang Ibu... kita sekeluarga saling menyayangi


Tuesday, 14 May 2013

dr. Sadina... kami rindu konsultasi dengan anda

Perpindahan hunian aku dan istriku dari Slipi ke Bintaro tentu saja menimbulkan beberapa dampak. Entah itu dampak positif atau dampak negatif. Tapi salah satu dampak yang dirasakan adalah saat periksa kehamilan dedek.. Dulu saat kami tinggal di Slipi kami biasa melakukan pemeriksaan kandungan ke RSAB Harapan Kita. Dengan rekomendasi dokter terbaik yaitu dr. Sadina.

Pemeriksaan rutin yang kami jalani di RSAB Harapan Kita menimbulkan kesan tersendiri. Meskipun dari sisi pelayanan kami mesti harus sedikit bersabar, tapi paling tidak hasil yang kami peroleh saat kami melakukan pemeriksaan dengan dr. Sadina cukup sangat memuaskan. dr. yang atraktif, komunikatif, memiliki pengetahuan yang cukup luas tentang kandungan (maklum dokter kandungan kali ya..hehehehe), memiliki jiwa humoris yang bagus...wah pokoknya kesan yang tiada terlupakan deh..te o pe pokoknya... Jadi bisa buat rekomendasi teman-teman yang tinggal di seputaran Jakarta Barat deh... Cuma ya harus sedikit bersabar karena sibuknya dr. Sadina paling sehari hanya dapat melayani 10-12 pasien saja. Tapi sepadan lah dengan hasil konsultasi yang diperoleh.

Nah, ketika kami tinggal di Bintaro, setelah mempercayakan kepada mbah Google tentang informasi dokter kandungan yang oke, akhirnya kami tiba pada babak baru kontrol kehamilan di RSPB alias Rumah Sakit Premiere Bintaro. Suasana yang kami rasakan ketika pertama kali menginjakkan kaki di rumah sakit ini adalah takjub. Mungkin karena ini merupakan rumah sakit swasta kali ya, jadi desain ruang, kamar, dan ruang pemeriksaan sangatlah nyaman. Serasa tidak berada di rumah sakit deh pokoknya, ya meski pasti yang namanya rumah sakit tu punya bau-bauan yang khas (bau obat maksudnya).

Proses pelayanan pun sangat memuaskan, kami merasa nyaman untuk mengantri, karena antrian tidak banyak mengingat diantisipasi oleh jumlah counter yang memadai. Kemudian ruang antrian pun terasa nyaman, tepat di hadapan para pengantri terdapat televisi yang kebetulan menyiarkan acara yang menurut kami menyenangkan.

Tibalah kemudian kami berpindah ke antrian di depan ruang konsultasi. Lagi-lagi kami merasakan kenyamanan, ruang yang dingin, bersih, dan lagi-lagi di hadapan kami tengah ditayangkan acara yang menurut kami menarik di dalam sebuah layar televisi berukuran 32 inchi. Respon yang diberikan oleh perawat atau suster pun menyenangkan. Supel, ramah dan mmurah senyum membuat kami berpikir, wah luar biasa enak banget di Rumah Sakit ini, gak salah deh jawaban Mbah Google tentang rumah sakit ini.

Tiba kemudian kami masuk ke ruang konsultasi dengan dokter yang direkomendasikan oleh Mbah Googel dan beberapa teman istriku. Kesan pertama yang kami lihat, dokternya smart, simple, ramah. Tak perlu lama, kami pun masuk ke tahapan periksa kandungan dengan beberapa pertanyaan yang diajukan dan langsung menuju USG.

Waktu konsultasi terasa singkat, padahal kami sebenarnya ingin lama-lama menatap foto dedek yang sedang mulai beraksi di layar USG. Tapi entah kenapa, atau memang karena baru pertama kali, kami sedikit merasa canggung untuk berlama-lama. Sebenarnya bukan kami yang ingin cepat-cepat sih, tapi ketika dokter sudah mengatakan "sudah ya?, yah kami mau bilang apa, wong dokternya yang berkuasa. Kemudian kami kembali ke tempat duduk di hadapan dokter tersebut. Setelah diberikan sedikit penjelasan akhirnya kami diberikan buku periksa. Di sini dokter tidka memberikan resep secara tertulis, melainkan dokter telah mengetik resep tersebut dan kemudian langsung mengirimkannya melalui entah apa (mungkin jaringan internet atau intranet) ke bagian pembayaran.

Langsung kami menuju loket pembayaran dan menyelesaikan proses administrasinya dan selesai. Semua proses dari konsultasi sampai ke proses pembayaran mungkin hanya memakan waktu kurang lebih 45 menit.

Setelah beres semua kemudian kami duduk-duduk sebentar di lobi rumah sakit itu. Kami ngobrol sebentar dan saling mengatakan, "duh, enakan dr. Sadina ya?, dedek diajak bercanda, digodain, terus banyak hal yang dijelasin"...

Yah, tapi gimana lagi, jarak Bintaro - Slipi yang cukup jauh membuat kami kesulitan untuk melakukan konsultasi dengan dr. Sadina.
Sebenarnya kemarin kami juga sempat menyambangi RSAB Harapan Kita untuk bertemu dengan dia, namun apa daya dr. Sadina sedang cuti, yah mungkin inilah sudah tiba saatnya kami harus berpisah dengan dr. Sadina



Monday, 6 May 2013

Perjalanan Ibu dan Dedek



genduuuutttt.....
Tersenyum aku tatkala melihat istriku dengan bangganya memamerkan kegendutan perutnya. Bukan kegendutan yang sering dikhawatirkan oleh banyak kalangan perempuan. Melainkan gendut yang membahagiakan. Bagaiamana tidak, gendutnya istriku karena ada sosok yang hebat di balik perutnya. Sosok yang akan menjadi pelita keluarga kami.

Sundukan demi sundukan terasa di perut istriku. Makin terasa. Dan kini aku pun bisa merasakannya. Setelah beberapa waktu yang lalu aku penasaran sensasi sundulan, tendangan dan tinju sang dedek. Kini aku bisa merasakannya. Bahkan pada jam-jam tertentu yang memang waktunya Dedek untuk menunjukkan eksistensinya (opo eksistensi kih)

Tiap diperdengarkan ayat-ayat suci Al-Quran dan pada jam-jam tertentu dedek pasti menunjukkan aksinya.

Di sisi lain sebenarnya aku sempat melihat kegelisahan istriku. Saat tidur, saat duduk dan saat berdiri terlalu lama. Pegal katanya. Tapi ketika aku kemudian menatap matanya sambil menggodanya dengan melirik perutnya. Sunggingan senyum tercuta dari wajah istriku.

Entahlah, aku tiada kata-kata kali ini

Hanya ingin menunjukkan pada kalian semua. Dedek sudah tumbuh...istriku kian menjadi gendut...dan insyaAlloh semuanya sehat...

Aamiiiinn...

Wednesday, 17 April 2013

Dedek... Tendang Ayah Donk

Tidak terasa bulan demi bulan kehamilan istriku merangkak perlahan. satu bulan, dua bulan...hingga akhirnya sekarang menginjak usia kehamilan 5 bulan. Perut yang sudah menampakkan wajahnya. Dedek bayi yang sudah mulai berpolah menendang-nendang pada jam-jam tertentu (bahkan kami, terutama istriku sudah hafal betul jam-jam dedek akan nendang-nendang).

USG yang rutin dilakukan juga perlahan menunjukkan pergerakan dedek di dalam perut. Polah yang asyik, aktif dan tampak energik. Apalagi tatkala dokter menempelkan alat USG nya di perut istriku. Entah bercanda atau memang alamiah, dedek akan menggerakk-gerakkan tubuhnya layaknya ingin menunjukkan sesuatu.

Alhamdulillah dari hasil kontrol bulanan yang kami lakukan menunjukkan dedek normal dan sudah kelihatan sih tanda-tnda kelaminnya. Meski dokter agak ragu untuk menyatakan jenis kelaminnya, karena sang dokter pun masih bilang,"...hmmm...sepertinya kayak bapaknya, tuh ada monasnya". Entah kenapa rasanya tiap liat istriku di USG kami bahagia banget. Bahkan kami menamakan momen USG adalah moment take a picturenya dedek. Makanya kami sering bilang kalau mau USG dedek mandi dan dandan yang rapi biar nanti hasil USG nya bagus. hihihihi... menyenangkan sekali.

Kini aku sudah tidak tinggal lagi di Slipi, melainkan tinggal di Bintaro karena istriku melanjutkan studi di STAN again. Alhamdulillah, paling tidak besok pas hamil usia tua tidak perlu menempuh perjalanan yang jauh. Sebenarnya agak jauh juga sih..hihihi..maklum tidak gampang cari kontrakan suami istri di lingkungan dekat kampus.

Mumpung rumah juga belum jadi akhirnya kami memutuskan untuk ngontrak di daerah Bonjol, sebelah timur Perumahan Jurang Mangu Indah (PJMI). Untuk satu minggu ini, karena istriku masih ngantor di Gatot Subroto akhirnya istriku naik bus jemputan tiap pagi (berangkat pukul 06.00) dan aku naek motor menuju Juanda Jakarta Pusat.

Hari-hari yang semula kami berangkat kerja pukul 07.10 sekarang diubah menjadi berangkat pukul 05.30... hihihi..istriku jadi bangun pagi sekarang....

Tapi yang jelas seneng banget rasanya kalau denger kabar dedek nendang-nendang. Cuma sampai saat ini yang bisa merasakan tendangan dedek baru istriku. Mungkin karena usia kandungan yang masih umur 5 bulan kali ya. Ngiri kalau istri bilang," mas...dedek nendang-nendang lho..". Tiap denger kata itu pasti aku mengelus pertu istriku dan mencoba mendengar sedang apa gerangan dedek kok nendang-nendang. Tapi ya itu, aku belum bisa merasakan tendangan dedek secara seksama. Jadi sering deh ngobrol ama dedek melalui perut istriku. "dedek...tendang ayah donk..yang keras ya biar ayah terasa"...hihihi lucu sekali. Bahkan istriku juga bilang "dedek, ni ada ayah...tunjukin tendangan dedek yang paling kenceng dong"....

Monday, 15 April 2013

Blusukan di Tokyo

Mendapat kesempatan training di Tokyo, Jepang tentu saja tidak akan disia-siakan oleh peserta training untuk melakukan penjelajahan di negeri Sakura tersebut. Hal itu juga berlaku pada kesempatan yang aku dapatkan. Kebetulan training yang dilakukan adalah hari senin sampai Jumat. Dan dari jadwal itu aku dan rombongan memiliki kesmepatan untuk menikmati Tokyo di hari Sabtu dan Minggu. Bahkan pada saat itu kebetulan jadwal training kami pada salah satu hari seninnnya bertepatan dengan Hari Pembangunan di Jepang. Jadi pada saat itu jadwal training diliburkan. He...he..hee....

Biasanya dan memang sudah umum, ketika berada di suatu tempat bersama rombongan untuk melakukan penjelajahan pasti dilakukan secara bersama-sama atau berkelompok. Hal itu juga dilakukan oleh peserta training kali ini. Ubyung-ubyung bareng bareng. Terkesan kompak dan maklum untuk berpergian di negeri yang jauh dari rumah paling tidak kalau ada apa-apa bisa ada yang saling membantu. Tapi ada juga sih kelemahan dari pergi beramai-ramai, waktu yang dibutuhkan untuk mengunjungi menjadi semakin lama karena semua akan dieksplore secara mendetail berdasarkan hasrat masing-masing. Nah, pada kesempatan libur Hari Pembangunan tersebut kemudian aku pergi sendiri, sebenarnya pada awalnya mau pergi bersama-sama, namun karena ternyata tempat tujuan dari rombongan tidak sesuai dengan agenda tempat yang akan aku kunjungi, maka aku dengan terpaksa (halah) memutuskan untuk menjelajahi Tokyo sendirian. Bermodalkan peta dan one day pass (tiket kereta seharian) maka aku meluncur menyusuri tiap sudut kota Tokyo.

Berjalan dari Tokyo International Center aku berjalan menuju stasiun Yoyogi Uehara, berjalan kaki menyusuri jalan yang mirip dengan gang di film Doraemon aku membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk sampai di stasiun Yoyogi Uehara. Tapi karena kondisi udara yang dingin tentu saja dapat mengurangi rasa capek dan keringat (keringat tidak ada sama sekali, karena kondisi dingin). Ya..kalau kaki kaki sih terasa pegelnnya, namun semua akan dijalani untuk sebuah petualangan bukan...hehehehe....

Dengan melihat peta, aku pelajari mana tujuan-tujuan yang segaris. Aku daftar kemudian untuk aku jadikan rencana kunjungan. Tempat tujuan pertama yang aku kunjungi adalah Asakusa. Oh, Asakusa ini adalah tempat pusat oleh-oleh pernak-pernik khas Jepang. Di samping terdapat kuil untuk sembahyang di sana. Oh iya, perjalanan ku kali ini sebenarnya tidak sendirian, ada salah satu rekan pelatihanku yang ikut bersamaku, namun destinasinya adalah Asakusa (mengingat ini adalah salah satu pusat oleh-oleh di Jepang). Setelah menaiki kereta listrik Chiyoda Line kemudian transit di stasiun Omote Sando, kemudian kami transit ke kereta Ginza Line. Untuk sampai di Asakusa kami turun di dua pemberhentian terakhir.

Setelah sampai di Asakusa, akhirnya kami memutuskan untuk memisahkan diri (sebelumnya aku memberitahu informasi tentang rute dan destinasi yang terdapat di peta kepada rekanku). Akhirnya kami berpisah untuk masing-masing membeli barang atau oleh-oleh yang ingin di beli.















Setelah puas melakukan potret - potret dan barang untuk oleh-oleh sudah terbeli maka tanpa pikir lama perjalanan aku lanjutkan. Setelah mempelajari peta, tujuan berikutnya adalah Tokyo Sky Tree. Untuk mencapai tujuan ini tiada diperlukan naik moda tranportasi lagi, karena lokasi sudah dekat sehingga untuk menuju ke Tokyo Sky Tree dilakukan melalui jalan kaki. Lagi-lagi karena tempat untuk pejalan kaki dibuat nyaman di Jepang sehingga nyaman saja berjalan kaki meski agak jauh sih sebenarnya untuk ukuran di Indonesia, yah mungkin sekitar 2 kilometer deh.. tapi ya karena hawanya sejuk dan jalan sangat nyaman untuk dilalui so ya enjoy enjoy saja.







Setelah puas mengambil foto, akhirnya aku segera menuju ke tempat tujuan berikutnya yaitu Ueno Park... untuk sampai ke tempat ini aku harus menuju ke stasiun Asakusa lagi dan menaiki kereta Ginza Line ke arah Omote Sando. Hanya melewati dua stasiun akhirnya aku sampai di stasiun Ueno. Turun di sini kemudian aku berjalan kaki menuju Ueno Park. Di Ueno Park ini terdapat beberapa tempat tujuan yang memang dijadikan satu oleh pemerintah Jepang. Ada kebun binatang, dan beberapa museum.













Dari Ueno Park kemudian aku melanjutkan perjalanan ke Imperial Palace (haduh kali ini aku lupa tepatnya dimana) yang jelas aku naek kereta dari Ueno menuju Omote Sando, kemudian transit menggunakan kereta Chiyoda Line lalu turun di stasiun di bawah Imperila Palace (aku lupa nama stasiunnya apa). Dari sini aku mendapatkan beberapa foto yang yah lumayan bagus lah, tapi untuk di Imperial Palace pengunjung tidak bisa bebas memasuki bangunan itu. Karena Imperial Palace ini hanya dibuka dua kali dalam satu tahun.











Tak lama di sini, yah karena situasinya gitu-gitu aja, akhirnya untuk mengefisienkan waktu akhirnya aku segera meluncur menuju Tokyo Tower (hehehe...sebenarnya pada awalnya di peta aku bacanya mau menuju Pokemon Town Center, eh malah nyasar ke Tokyo Tower), yah lumayan deh, sebenarnya nih tempat sudah direncanakan untuk dikunjungi bersama dengan rombongan, eh malah nyasar di sini ya sudah lah. Hehehe... Sebelum ada Tokyo Sky Tree di Jepang, Tokyo Tower ini merupakan icon dari tower di Jepang, bahkan tahun 70an ni Tower sudah berdiri. Biasa kan sebagai icon negara maju, banyak negara membangun tower pencakar langit. Gak tau juga kan fungsi dari tower ini wong juga gak dijadikan sebagai menara telekomunikasi kok.























Waktu sudah menunjukkan jam 16.15 ketika aku dengan agak capai menjelajahi Tokyo Tower ini. Udara semakin dingin, jalanan makin sepi. Aku tetap saja menyusuri jalan di sekitar Tokyo Tower. Sebenarnya sempat mau makan di Yoshinoya di salah satu sudut di jalan dekat Tokyo Tower. Namun mengingat waktu makin sore dan memang sebenarnya tidak ada list tempat tujuan yang ingin aku kunjungi, maka aku segera memutuskan untuk kembali ke Tokyo International Center. Setelah sempat bertanya kepada polisi setempat dimana letak stasiun yang menuju Omote Sando, akhirnya aku terbaring terkapar di dalam kereta dengan mata tertutup, sesampai di Omote Sando kemudian aku berganti kereta dan menuju stasiun Yoyogi Uehara. Sampai di Yoyogi Uehara aku segera mempercepat langkah untuk segera tiba di Tokyo International Center. Selain udara yang makin dingin menusuk, aku juga tidak ingin ketinggalan waktu untuk sholat ashar. Dengan sedikit terengah-engah mengingat kontur jalan menuju Tokyo International Center turun naik, akhirnya aku tiba di kamarku yang hangat. Segera berwudhu, mandi kemudian menuju tempat makan. Ahhhh...capek sekali hari ini...tapi paling tidak ada pengalaman dan petualangan yang sudah aku jalani hari ini.

Thursday, 21 March 2013

Tokyo

Aduuuhhhh telat psotingnya padahal aku udah sampai di Indonesia sebulan yang lalu...hihihi...maklum bercengkerama dengan istri dan pekerjaan membuat waktu ini menjadi relatif sempit. hehehe..baiklah saatnya kembali bercerita...

Setelah pelatihan di Kobe usai, kemudian rombongan kami pindah ke Tokyo lebih tepatnya pelatihan akan diadakan di Kantor Pusat JFTC. Kemudian untuk penginapan kami, kami ditempatkan di bangunan milik JICA yang memang digunakan sebagai tempat untuk menginap para peserta pelatihan dari berbagai negara. Banyak kami bertemu dengan berbagai orang yang berasalh dari belahan lain dunia ini. Di sana kami juga berjumpa dengan sesama orang Indonesia yang juga sedang mengikuti pelatihan. Lama waktu pelatihan mereka pun beragam, dari 2 minggu hingga ada yang mencapai 6 bulan.

Pindahan kami dari Kobe menuju Tokyo sepertinya sudah aku ceritakan di post sebelum ini yaitu menggunakan Kereta Super Cepat Sinkanzen (bener gak ya ni nulisnya..). Tiba di Tokyo kemudian kami dijemput menggunakan bus JICA untuk menuju asrama (Tokyo International Center, atau sering disebut TIC), perjalanan dari stasiun pemberhentian Sinkanzen menuju TIC ditempuh dalam waktu kurang lebih 45 menit.

Setelah menempuh perjalanan tersebut, sampailah kami di TIC tersebut. Tempatnya sepertinya agak dipinggiran, jauh dari keramaian, banyak pepohonan, dikelilingi taman, dan hawanya sejuk menusuk tulang...hahaha..maklum pada saat itu musim dingin masih tercatat dalam ramalan cuaca di Jepang. Sapuan salju juga terkadang masih menerpa lembutnya rambut orang tropis yang berkunjung ke Jepang.



Di TIC tersebut kami diberikan pengarahan sebentar oleh pemandu kami Mrs. Yamada, dijelaskan beberapa ketentuan tentang hal-hal yang boleh dan hal-hal yang tidak boleh dilakukan di TIC. Setelah melakukan briefing tersebut kemudian kami melakukan register di recepcionist TIC, setelah melakukan pendaftaran akhirnya kami mendapatkan kamar masing-masing. Sebenarnya gambaran kamar yang ada di TIC ini telah dijelaskan di Indonesia pada saat kami mendapatkan pengarahan dari kantor perwakilan JICA di Indonesia. Dan persis memang, kondisi kamar dan fasilitas yang ada di TIC sama dengan apa yang dijelaskan di Indonesia. Kamar ukuran sedang, kamar mandi minimalis, meja kerja, televisi, lemari, gantungan baju, serta fasilitas-fasilitas antara lain laundry room (cuci sendiri sendiri ya, untuk setrika pinjam..hehehe...), vending machine, arena olahraga, sarana komputer, tempat sarapan dan makan malam (makan siang juga boleh), klinik, serta jadwa-jadwal pelajaran tambahan yang menarik (budaya Jepang).





Kemudian dalam menjalani keseharian di TIC dilakukan secara rutin, pagi hari sarapan disediakan pada pukul 06.00 - 09.00 (weekdays), sementara untuk weekend adalah pukul 06.30 - 09.00. Menu di TIC ini lumayan bersahabat dengan lidah Indonesia ku, yah paling tidak bisa diterima lah kalau hanya telur ceplok, roti tawar, ayam yakiniku, sop ayam (yang jelas berlabel halal food). Kemudian untuk makan siang dan makan malam, tiap orang diberikan jatah masing-masing sebesar 700 Yen per hari. Kemudian jatah tersebut diberikan dalam bentuk meal card, kartu yang kalau makan digesek di mesin kasirnya gitu. Jadi nanti bisa keliatan surplus atau defisit..hehehehe.....

Kemudian untuk menuju kantor JFTC kami menggunakan moda transportasi yang pada umumnya digunakan oleh masyarakat Jepang, yah apalagi kalau bukan kereta listrik. Dari TIC kami berjalan sekitar 10 menit untuk mencapai stasiun Yoyogi Uehara, sayangnya jalannya aku lupa mengabadikan dalam kamera. Setelah sampai di Stasiun Yoyogi Uehara kami menggunakan kereta Chiyoda Line untuk menuju Stasiun Kasumigaseki, dari stasiun tersebut kemudian kami berjalan sekitar 5 menit untuk mencapai kantor JFTC. Ternyata kantor JFTC menjadi satu gedung dengan kantor kejaksaan di Jepang. Sehingga pada saat hendak memotret bangunannya eh dilarang sama petugas keamanannya...hihihi...

Kemudian tempat pelatihan kami berada di lantai 11 kantor JFTC. Standar sih ruangan pelatihan..meja melingkar, whiteboard, proyektor dan heater...maklum Jepang dingin bro..hihihi...



Keseharian masa-masa pelatihan di kantor JFTC ini yah standard lah, jam masuk jam 09.00 selesai jam 16.00. Jam istirahat adalah jam 12.30 - 13.30 . Waktu istrirhat digunakan untuk makan siang dan sholat. Oh iya di Jepang tu susah lho mencari mushola dalam bangunan, bahkan untuk wudhu aja gak ada keran khusus untuk wudhu. Jadi kami ramai-ramai wudhu di wastafel toilet, dan tau sendiri pasti akan meninggalkan jejak (jejak-jejak cipratan air). Dan ketika orang Jepang melihat mereka seolah-olah berkata "busyet dah..jadi becek ni lantai toilet..." dan mereka sepertinya tidak suka dengan kondisi basah. Makanya dari itu ketika di dalam toliet tersebut terdapat alat pel, maka kami pun setelah berbecek-becek ria melakukan kegiatan pengepelan lanti...hahahaha...
Kemudian di dekat toilet (di luar) terdapat vending machine...di Jepang harga minuman mineral 600ml seharga 70 Yen... setara Rp 8000,- . Untuk sholat kami juga mesti menggunakan kompas (untung salah satu teman membawa perlengkapan tersebut). Karena bahkan untuk arah barat orang Jepang terkadang tidak faham.
Okelah..itu sekelumit cerita tentang TIC dan kegiatan pelatihan di kantor JFTC... untuk penjelajahan ku di Tokyo nanti akan aku ceritakan dalam posting tersendiri....