Aku tonggak besi
Menancap tajam dan membumi
Menantang matahari berdiam diri
Diantara lembutnya pasir tepian laut
Yang terkadang membawa asa terhanyut
Aku tonggak besi
Yang tersapu ombak setiap saat
Menyibak mata menusuk kelopak
Aku tonggak besi
Yang senantiasa merindukan pelukan sang ombak
Meski pelukan itu akan membawa serpihan jiwaku
Terkikis perlahan dan akhirnya aku rapuh
Aku tonggak besi
Yang akan setia berdiri di sini
Menatap terbit dan tenggelamnya mentari
Demi pelukan sang ombak
Aku tonggak besi
Yang sadar bahwa aku sangat keras hati
Bumi yang menelanku sampai tiada kuasa mengusirku
Aku tetap disini
Namun kau sang ombak
Memelukku dengan buliran kedamaian
Membawaku pergi ke alam mimpi menuju harapan
Menciptakan asa dalam setiap sua
Aku tonggak besi
Membiarkan tiap serpihanku kau bawa wahai sang ombak
Mungkin akan kau jadikan lukisan dalam sanubarimu
Mungkin juga akan kau genggam dalam tiap mimpimu
Aku tonggak besi
Berdiri hingga suatu saat nanti akan ada akhir
Aku sadar sapuanmu mencerahkanku
Mendinginkanku
Aku tonggak besi
Juga sadar bahwa suatu hari nanti
Tatkala engkau datang dan mencoba untuk menyapaku
Aku rapuh dan sangat rapuh
Hancur seketika saat kau peluk
Buyar menyatu menjadi buliran pasir
Ombak...
Bawlah setiap serpihanku
Ke dalam alur kehidupanmu
Ke dalam tiap detik sapuanmu
Ke dalam mimpi mimpi peraduanmu
Ceritakan saja atau kau simpan sendiri
Aku tonggak besi
Yang senantiasa rela dipeluk sang ombak..
Thursday, 8 November 2012
Friday, 19 October 2012
Tanah Kekahiran Istriku, Sei Bahar
Sei Bahar atau Sungai Bahar merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi yang memisahkan diri dari Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. Petualanganku kali ini tidak sendirian dan bukan dalam rangka perjalanan dinas, melainkan perjalanan napak tilas jejak istriku. Hal ini disebabkan karena istriku sendiri merupakan putri kelahiran Sei Bahar (dulu masih menjadi bagian dari Kabupaten Batanghari). Pada saat itu, orang tua istriku merupakan keluarga transmigrasi yang datang dari Pulau Jawa. Entah bagaimana ceritanya kemudian keluarga istriku mendapatkan jatah daerah di Sei Bahar tersebut. Kemudian setelah sampai di daratan Sei Bahar tersebut, keluarga istriku mendapatkan tanah garapan serta pekarangan rumah lengkap beserta sarana pendukungnya. Mengantongi SK PNS, ayah dari istriku (“Babe”) kemudian bekerja di salah satu sekolah menengah pertama di wilayah tersebut. Kemudian Babe berusaha untuk menjadikan sekolah menengah pertama tersebut menjadi sekolah rintisan yang handal dan memiliki mutu yang bisa diandalkan. Banyak kisah perjuangan yang diceritakan Babe kepadaku, maklum saat dulu aku dekat dengan tetanggaku (yang sekarang menjadi istriku) aku senang bertanya tentang kisah inspiratif Babe tersebut. Dan syukurnya, Babe menanggapi setiap pertanyaanku dengan antusias dan dengan teliti menceritakan kisah-kisahnya. Masih aku ingat Babe menceritakan tentang kondisi sekolah menengah pertama tersebut, rekan-rekan sesama transmigrasi dari Pulau Jawa yang bersama-sama saling berjuang untuk membangun daerah Sei Bahar tersebut.
Kembali kemudian kepada kisah perjalananku menuju Sei Bahar. Pada tanggal 4 Oktober 2012 Ibu Mertuaku (“Bundo”) datang dari Wates menuju Jakarta. Dengan menggunakan Kereta Api Fajar Utama Yogyakarta dari Wates pukul 08.30 WIB tiba di Jakarta pukul 17.00 WIB. Kebetulan ada saat itu istriku mengambil jatah cuti dari kantornya, sementara jatah cutiku sudah habis untuk masa-masa pernikahanku dulu. Sehingga istrikulah yang kemudian menjemput Bundo di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat.Dengan menggunakan moda transportasi umum yaitu taksi istriku mengantarkan Bundo dari kontrakan kami di daerah Kota Bambu Selatan. Maklum karena pada hari itu merupakan hari Jumat, jadi sedikit wajar dan sudah umum sekali kalau kemudian kondisi jalan di Jakarta mengalami kemacetan (apalagi saat itu pas dengan waktu pulang kerja).
Jam 17.00 tepat aku juga segera pulang dari kantor (niatnya), namun karena kondisi cuaca ternyata sedikit menghalangiku dengan rintikan hujan yang deras membuatku sedikit mengurungkan diri untuk menembus hujan malam itu. Namun karena hujan tak reda-reda akhirnya aku nekat menembus hujan malam itu. Berbekal jaket pemberian istriku (yang katanya tidak tembus air) akhirnya aku melalui basahnya jalan-jalan di Jakarta. Hujan ternyata makin lebat hingga sepatuku pun bak galon tampungan air. Ketika aku jungkir sepatuku maka mengalirlah air dari sepatuku itu. Berhenti sebentar di lampu merah (yang menyala merah) aku merogoh handphone ku yang terletak di saku kemejaku yang terlindungi jaket tak tembus air itu. Kubaca ada pesan didalamnya yang menyatakan untuk membeli lauk makan malam untuk tiga porsi. Lalu perjalanan aku lanjutkan kembali dan kemudian aku mampir di sebuah warung tongseng kambing dan langsung aku pesan tiga porsi tanpa nasi.
Setelah pesanananku jadi aku segera meluncur ke rumah kontrakanku. Ternyata Bundo dan istriku sudah menungguku di ruang menonton tv. Setelah membersihkan diri dan menunaikan Sholat Maghrib akhirnya kami pun makan bersama. Setelah sedikit bercakap-cakap dan bercerita tentan bagaimana kondisi Babe, situasi perjalanan dan sedikit merencanakan perjalanan esok hari waktu pun beranjak menutup masa. Akhirnya kami memutuskan untuk tidur agar esok hari bisa siap untuk melakukan perjalanan.
Pagi pun akhirnya menjelang dan kami bersiap-siap. Seelah sarapan dengan nasi uduk samping Rumah Sakit Harapan Kita kami pun segera bergegas menuju ke Bandara Soekarno Hatta. Pada saat itu kami telah membeli tiket Jakarta-Jambi jauh hari. Karena harga juga merupakan salah satu pertimbangan kami akhirnya kami memilih (sebenarnya istriku yang mengatur perjalanan kali ini, hehehe) maskapai Batavia Air. Jadwal keberangkatan pesawat kami adalah pukul 09.00 WIB, oleh karena itu kemudian kami berangkat dari kontrakan kami jam 07.30 WIB mengingat kebetulan jarak rumah kontrakanku menuju bandara Soekarno Hatta hanya membutuhkan waktu sekitar 30-40 menit (tentu saja dengan asumsi kondisi jalanan Jakarta macet normal) menggunakan sarana taksi.
Setelah seian lama berada di taksi (sempat was-was pula sih karena kondisi jalanan yang agak macet menjelang pintu masuk tol) akhirnya kami tiba di Terminal 1 Bandara Soekarno Hatta. Dengan agak sedikit terburu-buru dalam melangkahkan kaki untuk segera melakukan check in di counter maskapai Batavia Air. Lega perasaan kami setelah kami berhasil melakukan check in (maaf ya Bun, jalannya agak cepet..hihihi). Akhirnya kami pun menuju ruang tunggu untuk menunggu sang pesawat yang rencana akan kami tumpangi. Sempat khwatir pula satu minggu sebelumnya mengingat ada pengumuman dari salah satu media massa yang mengatakan bahwa Bandara Sultan Thaha dinyatakan tertutup dikarenakan terdapat asap pembakaran lahan gambut. Tapi setelah melakukan pengecekan melalui akun twitter Bandara Sultan Thaha ternyata kabar tersebut tidaklah benar.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya kami dipanggil untuk memasuki ruang pesawat. Tidak terlalu penuh penumpang saat itu namun kami bertiga mendapatkan kursi di bagian belakang. Alasan dari flight attendant katanya untuk menjaga keseimbangan pesawat. Satu jam menunggu akhirnya kami tiba di Bandara SultanThaha Jambi. Kemudian kami melangkah menuju tempat kedatangan. Bundo sendiri telah membuat janii dengan Pakde Lani (teman seperjuangan saat dulu babat alas di Sei Bahar). Menunggu beberapa menit di ruang kedatangan akhirnya kami melihat sebuah mobil Daihatsu Taruna meluncur dan melambaikan tangan. Oh, ternyata itu Pakde Lani. Tanpa banyak cakap akhirnya kami melaju ke mobil tersebut dan menempatkan posisi di dalam mobil tersebut. Tak lama berkendara di mobil tersebut, kami diluncurkan ke sebuah rumah makan padang (aduh lupa namanya), dan kami pun mulai memesan menu.
Setelah beberapa saat menikmati hidangan menu masakan padang, akhrnya diputuskan untuk melanjutkan perjalanan ke wilayah Sei Bahar. Pada saat itu turun hujan yang tinggal gerimis saja (katanya sebelumnya hujan deras). Mobil yang disopiri oleh Abang Togar, warga Sei Bahar asal Medan melesat menyusuri jalan di Provinsi Jambi tersebut. Meksipun kondisi jalan sempit dan ramai kendaraan bermotor roda dua yang bersliweran tidak teratur namun Abang Togar tetap saja mengemudikan dengan kecepatan di atas 80 km/jam. Bahkan ketika ban mobil mengalami selip Abang Togar tetap cekatan membawa mobil tersebut.
Setelah sekitar 1 jam 45 menit menempuh perjalanan (kalau kondisi normal, tidak hujan bisa ditempuh daam waktu 1 jam) akhirnya kami sampai di Sei Bahar Unit 1. Oh, iya sepanjang perjalanan kami ribuan hektare perkebunan sawit lah yang menjadi pemandangan kami. Memang sudah dikenal di daerah Provinsi Jambi bahwa wilayah Sei Bahar merupakan sentra penghasil kelapa sawit selain tambang minyak dan sedikit batubara yang masih muda umurnya. Dulu kisahnya juga Babe dan Bundo di Sei Bahar memiliki perkebunan sawit, namun dikarenakan kemudian sesuai target kehidupan mereka untuk kembali ke Pulau Jawa akhirnya mereka mengalihkan perkebunan sawit yang mereka miliki tersebut.
Singgahlah kemudian kami di rumah Pakde Lani dimana kami disambut oleh Bude Lani dan ada Pak Maskur beserta istri. Tangis pecah ketika Bude Lani memeluk istriku. Entah mungkin rindu yang telah lama terpendam atau rasa bahagia yang amat sangat setelah lama tiada bertemu. Setelah acara berpelukan kemudian tibalah saat untuk beramah tamah dan berbasa-basi di ruang tamu kediaman Pakde Lani. Dengan suguhan khas rumahan kami pun menikmati kudapan yang dihidangkan hinga akhirnya kami memutuskan untuk ijin menjalankan sholat dhuhur.
Sekitar jam 15.00 WIB kemudian kami hendak meluncur berkunjung napak tilas ke tanah kelahiran istriku. Meluncur hanya dalam waktu 10 menit saja diantar oleh Abang Togar akhirnya kami tiba. Rupanya tetangga yang dahulu bersama keluarga Bundo dan Babe masih banyak yang masih menetap di wilayah Sei Bahar tersebut. Sambutan demi sambutan hangat dilemparkan melalui sunggingan senyum para tetangga. Diselingi beberapa canda dan tawa kami menuju bekas rumah Bundo dan Babe dulu yang kini telah menjadi perkebunan kelapa sawit. Dijenguk pula sumur yang dulu istriku pernah tercebur ke dalamnya dan sekarang sumur itu juga sudah mengering di tengah perkebunan kelapa sawit.
Bercakap-cakap dengan mantan tetangga yang kini telah bagaikan saudara menghangatkan suasana. Bercerita tentang masa lalu kemudian membandingkan dengan kondisi sekarang. Kulihat pula teman-teman istriku dulu saat dia hidup di area penghasil kelapa sawit ini. Sudah ada yang memiliki anak, masih ada yang kuliah atau bahkan sudah pergi ke daerah lain. Kami terus menyusuri tempat yang memiliki kenangan antara Bundo dan istriku. Setelah kemudian adzan Ashar berkumandang kemudian kami menunaikan ibadah sholat Ashar. Setelah itu kemudian kami berpamitan kepada seluruh tetangga mengingat ternyata Abang Togar memiliki keperluan untuk pergi ke Jambi. Dengan agak terburu-buru kami melewatkan suguhan yang sebenarnya telah dihidangkan oleh salah satu tetangga (kalau tidak salah namanya Santi).
Mengendarai dengan pelan akhirnya kami tiba kembali di rumah Pakde Lani. Meskipun sebelum tiba di kediaman Pakde Lani kami mampir ke pasar dan Sekolah Menengah Pertama yang dirintis oleh Babe. Sedikit kontras dengan cerita yang diriwayatkan oleh Babe tentang kondisi sekolah pada saat dulu dibangun dengan kondisi sekarang yang sudah bagus dan tertata rapi. Mungkin kalau Babe sempat untuk mengunjungi Sei Bahar ini juga akan terkesima dengan perkembangan yang ada. Sayang Babe tidak bisa ikut dikarenakan alasan pekerjaan dan kesehatan.
Adzan Maghrib berkumandang dan aku pun menuju masjid yang terletak di belakang persis rumah Pakde Lani. Aku menjadi masbuk saat itu, dan yang aku membuat aku terkesima adalah imam di masjid itu adalah seorang anak berumur sekitar 9 tahun dengan jumlah jamaah 4 orang. Dua makmum perempuan dan dua makmum laki-laki (termasuk aku). Dan bacaan anak tersebut luar biasa merdu dan kudengar lancar serta benar bacaannya. Selesai salam kemudian aku bersalaman dengan anak tersebut. Lugu, polos dan teduh sekali muka anak itu. Luar biasa kataku. Di kala teman seusianya sibuk bermain yang berkaitan dengan dunia dia sendiri masih menikmati dalam kelembutan pelukan agama. Luar biasa.
Aku pun kemudian melangkahkan kaki untuk kembali ke rumah Pakde Lani. Makan malam dan sedikit bercakap-cakap dengan keluarga Pakde Lani serta kemudian ada putra dari Pakde Lani yaitu Mas Rustam. Obrolan demi obrolan melepuhkan waktu yang berputar. Akhirnya kami tertidur di depan ruang TV (padahal bundo dan istriku sudah disarankan untuk tidur di dalam kamar). Hingga waktu Subuh menjelang aku memutuskan untuk mandi (karena hari itu juga aku musti kembali ke Jakarta, karena pada hari minggu sore aku musti berangkat mengikuti pendidikan dan pelatihan investigasi di Pusdikreskrim POLRI).
Setelah menunaikan sholat Subuh dan bersiap-siap akhirnya aku (diantarkan oleh Mas Rustam) berpamitan kepada keluarga Pakde Lani, Bundo dan Istriku untuk kembali ke Jakarta. Obrolan demi obrolan mengiringi perjalanan aku dan Mas Rustam. Tentang kondisi Sei Bahar, perkebunan Kelapa Sawit, cerita sejarah Pakde Lani dan Mas Rustam serta masih banyak lagi. Benar memang dengan kondisi cuaca yang bersahabat akhirnya aku tiba di Bandara Sultan Thaha Jambi hanya dalam waktu satu jam. Aku tiba di Bandara Sultan Thaha pada pukul 08.45 sementara jadwal keberangkatan pesawatku adalah jam 09.55. Menunggu dan menunggu akhirnya aku memutuskan untuk melakukan check in terlebih dahulu. Dan kaget ketika disampaikan oleh petugas check in maskapai Batavia Air bahwa pesawat akan mengalami keterlambatan sekitar 2 jam. Zink....krik..kriikkk... Aku musti berbuat apa pada saat masa tunggu tersebut. Namun hati tenang setelah Mas Rustam menyatakan siap untuk menemani menunggu. Duh...jadi gak enak juga sih. Berkali-kali aku tanyakan pada Mas Rustam apakah dia tidak memiliki acara atau agenda lain. Kalau ada aku bilang tidak apa-apa kok saya ditinggal sendirian. Namun Mas Rustam dengan kebaikan hatinya mengatakan “tidak apa-apa, saya tunggu lagians aya gak ada kegiatan lain kok, istri juga lagi dinas”.
Akhirnya kami pun memutuskan untuk bercakap-cakap di sebuah warung di sudut Bandara Sultan Thaha. Menikmati gorengan, kopi susu dan kepulan asap rokok dari pengunjung warung yang lain yang juga merupakan korban dari penundaan pesawat. “Oh, iya aku kan punya teman di Jambi ini”. Langsung aku sms temanku yang bernama Luhut untuk memberitahukan bahwa aku sedang berada di Provinsi Jambi tepatnya di Bandara Sultan Thaha. Dan benar saja kebetulan Luhut sedang libur dan siap meluncur ke Bandara Sultan Thaha. Bercakaplah kemudian kami bertiga. Ngalor ngidul obrolan kami meluncur hingga tak terasa waktu beranjak dan pengumuman bahwa pesawat Batavia Air sudah mendarat. Alhamdulillah. Akhirnya setelah membereskan pembayaran di warung tersebut kami pun berjalan menuju ruang keberangkatan. Setelah bersalam-salaman akhirnya aku mengucapkan banyak terima kasih kepada Mas Rustam dan Luhut yang telah bersedia menemaniku.
Setelah aku memasuki ruang tunggu benar saja aku langsung di minta untuk naik ke pesawat. Setelah duduk beberapa saat akhirnya pesawat pun beranjak meninggalkan Provinsi Jambi menuju Jakarta. Sama seperti saat perjalanand dari Jakarta menuju Jambi, perjalanan kali ini pun hanya memakan waktu 1 jam. Hingga akhirnya aku kabarkan kepada istriku bahwa aku telah tiba di Bandara Soekarno Hatta,kisah perjalanan di Sei Bahar ini aku nyatakan selesai untuk diceritakan. Kisah lain mungkin akan diceritakan oleh istriku sendiri melalui blog atau imajinasi yang terekam dalam tiap deret nukleus di otaknya.
Petualangan Sei Bahar....
Tanah Kelahiran Istriku
Kembali kemudian kepada kisah perjalananku menuju Sei Bahar. Pada tanggal 4 Oktober 2012 Ibu Mertuaku (“Bundo”) datang dari Wates menuju Jakarta. Dengan menggunakan Kereta Api Fajar Utama Yogyakarta dari Wates pukul 08.30 WIB tiba di Jakarta pukul 17.00 WIB. Kebetulan ada saat itu istriku mengambil jatah cuti dari kantornya, sementara jatah cutiku sudah habis untuk masa-masa pernikahanku dulu. Sehingga istrikulah yang kemudian menjemput Bundo di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat.Dengan menggunakan moda transportasi umum yaitu taksi istriku mengantarkan Bundo dari kontrakan kami di daerah Kota Bambu Selatan. Maklum karena pada hari itu merupakan hari Jumat, jadi sedikit wajar dan sudah umum sekali kalau kemudian kondisi jalan di Jakarta mengalami kemacetan (apalagi saat itu pas dengan waktu pulang kerja).
Jam 17.00 tepat aku juga segera pulang dari kantor (niatnya), namun karena kondisi cuaca ternyata sedikit menghalangiku dengan rintikan hujan yang deras membuatku sedikit mengurungkan diri untuk menembus hujan malam itu. Namun karena hujan tak reda-reda akhirnya aku nekat menembus hujan malam itu. Berbekal jaket pemberian istriku (yang katanya tidak tembus air) akhirnya aku melalui basahnya jalan-jalan di Jakarta. Hujan ternyata makin lebat hingga sepatuku pun bak galon tampungan air. Ketika aku jungkir sepatuku maka mengalirlah air dari sepatuku itu. Berhenti sebentar di lampu merah (yang menyala merah) aku merogoh handphone ku yang terletak di saku kemejaku yang terlindungi jaket tak tembus air itu. Kubaca ada pesan didalamnya yang menyatakan untuk membeli lauk makan malam untuk tiga porsi. Lalu perjalanan aku lanjutkan kembali dan kemudian aku mampir di sebuah warung tongseng kambing dan langsung aku pesan tiga porsi tanpa nasi.
Setelah pesanananku jadi aku segera meluncur ke rumah kontrakanku. Ternyata Bundo dan istriku sudah menungguku di ruang menonton tv. Setelah membersihkan diri dan menunaikan Sholat Maghrib akhirnya kami pun makan bersama. Setelah sedikit bercakap-cakap dan bercerita tentan bagaimana kondisi Babe, situasi perjalanan dan sedikit merencanakan perjalanan esok hari waktu pun beranjak menutup masa. Akhirnya kami memutuskan untuk tidur agar esok hari bisa siap untuk melakukan perjalanan.
Pagi pun akhirnya menjelang dan kami bersiap-siap. Seelah sarapan dengan nasi uduk samping Rumah Sakit Harapan Kita kami pun segera bergegas menuju ke Bandara Soekarno Hatta. Pada saat itu kami telah membeli tiket Jakarta-Jambi jauh hari. Karena harga juga merupakan salah satu pertimbangan kami akhirnya kami memilih (sebenarnya istriku yang mengatur perjalanan kali ini, hehehe) maskapai Batavia Air. Jadwal keberangkatan pesawat kami adalah pukul 09.00 WIB, oleh karena itu kemudian kami berangkat dari kontrakan kami jam 07.30 WIB mengingat kebetulan jarak rumah kontrakanku menuju bandara Soekarno Hatta hanya membutuhkan waktu sekitar 30-40 menit (tentu saja dengan asumsi kondisi jalanan Jakarta macet normal) menggunakan sarana taksi.
Setelah seian lama berada di taksi (sempat was-was pula sih karena kondisi jalanan yang agak macet menjelang pintu masuk tol) akhirnya kami tiba di Terminal 1 Bandara Soekarno Hatta. Dengan agak sedikit terburu-buru dalam melangkahkan kaki untuk segera melakukan check in di counter maskapai Batavia Air. Lega perasaan kami setelah kami berhasil melakukan check in (maaf ya Bun, jalannya agak cepet..hihihi). Akhirnya kami pun menuju ruang tunggu untuk menunggu sang pesawat yang rencana akan kami tumpangi. Sempat khwatir pula satu minggu sebelumnya mengingat ada pengumuman dari salah satu media massa yang mengatakan bahwa Bandara Sultan Thaha dinyatakan tertutup dikarenakan terdapat asap pembakaran lahan gambut. Tapi setelah melakukan pengecekan melalui akun twitter Bandara Sultan Thaha ternyata kabar tersebut tidaklah benar.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya kami dipanggil untuk memasuki ruang pesawat. Tidak terlalu penuh penumpang saat itu namun kami bertiga mendapatkan kursi di bagian belakang. Alasan dari flight attendant katanya untuk menjaga keseimbangan pesawat. Satu jam menunggu akhirnya kami tiba di Bandara SultanThaha Jambi. Kemudian kami melangkah menuju tempat kedatangan. Bundo sendiri telah membuat janii dengan Pakde Lani (teman seperjuangan saat dulu babat alas di Sei Bahar). Menunggu beberapa menit di ruang kedatangan akhirnya kami melihat sebuah mobil Daihatsu Taruna meluncur dan melambaikan tangan. Oh, ternyata itu Pakde Lani. Tanpa banyak cakap akhirnya kami melaju ke mobil tersebut dan menempatkan posisi di dalam mobil tersebut. Tak lama berkendara di mobil tersebut, kami diluncurkan ke sebuah rumah makan padang (aduh lupa namanya), dan kami pun mulai memesan menu.
Setelah beberapa saat menikmati hidangan menu masakan padang, akhrnya diputuskan untuk melanjutkan perjalanan ke wilayah Sei Bahar. Pada saat itu turun hujan yang tinggal gerimis saja (katanya sebelumnya hujan deras). Mobil yang disopiri oleh Abang Togar, warga Sei Bahar asal Medan melesat menyusuri jalan di Provinsi Jambi tersebut. Meksipun kondisi jalan sempit dan ramai kendaraan bermotor roda dua yang bersliweran tidak teratur namun Abang Togar tetap saja mengemudikan dengan kecepatan di atas 80 km/jam. Bahkan ketika ban mobil mengalami selip Abang Togar tetap cekatan membawa mobil tersebut.
Setelah sekitar 1 jam 45 menit menempuh perjalanan (kalau kondisi normal, tidak hujan bisa ditempuh daam waktu 1 jam) akhirnya kami sampai di Sei Bahar Unit 1. Oh, iya sepanjang perjalanan kami ribuan hektare perkebunan sawit lah yang menjadi pemandangan kami. Memang sudah dikenal di daerah Provinsi Jambi bahwa wilayah Sei Bahar merupakan sentra penghasil kelapa sawit selain tambang minyak dan sedikit batubara yang masih muda umurnya. Dulu kisahnya juga Babe dan Bundo di Sei Bahar memiliki perkebunan sawit, namun dikarenakan kemudian sesuai target kehidupan mereka untuk kembali ke Pulau Jawa akhirnya mereka mengalihkan perkebunan sawit yang mereka miliki tersebut.
Singgahlah kemudian kami di rumah Pakde Lani dimana kami disambut oleh Bude Lani dan ada Pak Maskur beserta istri. Tangis pecah ketika Bude Lani memeluk istriku. Entah mungkin rindu yang telah lama terpendam atau rasa bahagia yang amat sangat setelah lama tiada bertemu. Setelah acara berpelukan kemudian tibalah saat untuk beramah tamah dan berbasa-basi di ruang tamu kediaman Pakde Lani. Dengan suguhan khas rumahan kami pun menikmati kudapan yang dihidangkan hinga akhirnya kami memutuskan untuk ijin menjalankan sholat dhuhur.
Sekitar jam 15.00 WIB kemudian kami hendak meluncur berkunjung napak tilas ke tanah kelahiran istriku. Meluncur hanya dalam waktu 10 menit saja diantar oleh Abang Togar akhirnya kami tiba. Rupanya tetangga yang dahulu bersama keluarga Bundo dan Babe masih banyak yang masih menetap di wilayah Sei Bahar tersebut. Sambutan demi sambutan hangat dilemparkan melalui sunggingan senyum para tetangga. Diselingi beberapa canda dan tawa kami menuju bekas rumah Bundo dan Babe dulu yang kini telah menjadi perkebunan kelapa sawit. Dijenguk pula sumur yang dulu istriku pernah tercebur ke dalamnya dan sekarang sumur itu juga sudah mengering di tengah perkebunan kelapa sawit.
Bercakap-cakap dengan mantan tetangga yang kini telah bagaikan saudara menghangatkan suasana. Bercerita tentang masa lalu kemudian membandingkan dengan kondisi sekarang. Kulihat pula teman-teman istriku dulu saat dia hidup di area penghasil kelapa sawit ini. Sudah ada yang memiliki anak, masih ada yang kuliah atau bahkan sudah pergi ke daerah lain. Kami terus menyusuri tempat yang memiliki kenangan antara Bundo dan istriku. Setelah kemudian adzan Ashar berkumandang kemudian kami menunaikan ibadah sholat Ashar. Setelah itu kemudian kami berpamitan kepada seluruh tetangga mengingat ternyata Abang Togar memiliki keperluan untuk pergi ke Jambi. Dengan agak terburu-buru kami melewatkan suguhan yang sebenarnya telah dihidangkan oleh salah satu tetangga (kalau tidak salah namanya Santi).
Mengendarai dengan pelan akhirnya kami tiba kembali di rumah Pakde Lani. Meskipun sebelum tiba di kediaman Pakde Lani kami mampir ke pasar dan Sekolah Menengah Pertama yang dirintis oleh Babe. Sedikit kontras dengan cerita yang diriwayatkan oleh Babe tentang kondisi sekolah pada saat dulu dibangun dengan kondisi sekarang yang sudah bagus dan tertata rapi. Mungkin kalau Babe sempat untuk mengunjungi Sei Bahar ini juga akan terkesima dengan perkembangan yang ada. Sayang Babe tidak bisa ikut dikarenakan alasan pekerjaan dan kesehatan.
Adzan Maghrib berkumandang dan aku pun menuju masjid yang terletak di belakang persis rumah Pakde Lani. Aku menjadi masbuk saat itu, dan yang aku membuat aku terkesima adalah imam di masjid itu adalah seorang anak berumur sekitar 9 tahun dengan jumlah jamaah 4 orang. Dua makmum perempuan dan dua makmum laki-laki (termasuk aku). Dan bacaan anak tersebut luar biasa merdu dan kudengar lancar serta benar bacaannya. Selesai salam kemudian aku bersalaman dengan anak tersebut. Lugu, polos dan teduh sekali muka anak itu. Luar biasa kataku. Di kala teman seusianya sibuk bermain yang berkaitan dengan dunia dia sendiri masih menikmati dalam kelembutan pelukan agama. Luar biasa.
Aku pun kemudian melangkahkan kaki untuk kembali ke rumah Pakde Lani. Makan malam dan sedikit bercakap-cakap dengan keluarga Pakde Lani serta kemudian ada putra dari Pakde Lani yaitu Mas Rustam. Obrolan demi obrolan melepuhkan waktu yang berputar. Akhirnya kami tertidur di depan ruang TV (padahal bundo dan istriku sudah disarankan untuk tidur di dalam kamar). Hingga waktu Subuh menjelang aku memutuskan untuk mandi (karena hari itu juga aku musti kembali ke Jakarta, karena pada hari minggu sore aku musti berangkat mengikuti pendidikan dan pelatihan investigasi di Pusdikreskrim POLRI).
Setelah menunaikan sholat Subuh dan bersiap-siap akhirnya aku (diantarkan oleh Mas Rustam) berpamitan kepada keluarga Pakde Lani, Bundo dan Istriku untuk kembali ke Jakarta. Obrolan demi obrolan mengiringi perjalanan aku dan Mas Rustam. Tentang kondisi Sei Bahar, perkebunan Kelapa Sawit, cerita sejarah Pakde Lani dan Mas Rustam serta masih banyak lagi. Benar memang dengan kondisi cuaca yang bersahabat akhirnya aku tiba di Bandara Sultan Thaha Jambi hanya dalam waktu satu jam. Aku tiba di Bandara Sultan Thaha pada pukul 08.45 sementara jadwal keberangkatan pesawatku adalah jam 09.55. Menunggu dan menunggu akhirnya aku memutuskan untuk melakukan check in terlebih dahulu. Dan kaget ketika disampaikan oleh petugas check in maskapai Batavia Air bahwa pesawat akan mengalami keterlambatan sekitar 2 jam. Zink....krik..kriikkk... Aku musti berbuat apa pada saat masa tunggu tersebut. Namun hati tenang setelah Mas Rustam menyatakan siap untuk menemani menunggu. Duh...jadi gak enak juga sih. Berkali-kali aku tanyakan pada Mas Rustam apakah dia tidak memiliki acara atau agenda lain. Kalau ada aku bilang tidak apa-apa kok saya ditinggal sendirian. Namun Mas Rustam dengan kebaikan hatinya mengatakan “tidak apa-apa, saya tunggu lagians aya gak ada kegiatan lain kok, istri juga lagi dinas”.
Akhirnya kami pun memutuskan untuk bercakap-cakap di sebuah warung di sudut Bandara Sultan Thaha. Menikmati gorengan, kopi susu dan kepulan asap rokok dari pengunjung warung yang lain yang juga merupakan korban dari penundaan pesawat. “Oh, iya aku kan punya teman di Jambi ini”. Langsung aku sms temanku yang bernama Luhut untuk memberitahukan bahwa aku sedang berada di Provinsi Jambi tepatnya di Bandara Sultan Thaha. Dan benar saja kebetulan Luhut sedang libur dan siap meluncur ke Bandara Sultan Thaha. Bercakaplah kemudian kami bertiga. Ngalor ngidul obrolan kami meluncur hingga tak terasa waktu beranjak dan pengumuman bahwa pesawat Batavia Air sudah mendarat. Alhamdulillah. Akhirnya setelah membereskan pembayaran di warung tersebut kami pun berjalan menuju ruang keberangkatan. Setelah bersalam-salaman akhirnya aku mengucapkan banyak terima kasih kepada Mas Rustam dan Luhut yang telah bersedia menemaniku.
Setelah aku memasuki ruang tunggu benar saja aku langsung di minta untuk naik ke pesawat. Setelah duduk beberapa saat akhirnya pesawat pun beranjak meninggalkan Provinsi Jambi menuju Jakarta. Sama seperti saat perjalanand dari Jakarta menuju Jambi, perjalanan kali ini pun hanya memakan waktu 1 jam. Hingga akhirnya aku kabarkan kepada istriku bahwa aku telah tiba di Bandara Soekarno Hatta,kisah perjalanan di Sei Bahar ini aku nyatakan selesai untuk diceritakan. Kisah lain mungkin akan diceritakan oleh istriku sendiri melalui blog atau imajinasi yang terekam dalam tiap deret nukleus di otaknya.
Petualangan Sei Bahar....
Tanah Kelahiran Istriku
Posted by
Andhika Willy Wardana
Jam
19:34
Tuesday, 2 October 2012
Kau Rindu Gendi Bukan?
"Gendiiiiiiiiii....". Sepatah kata itu menggaung di ruang kamar kontrakan kami. Entah satu kali atau beberapa kali. Kata itu bahkan meraung-raung dalam hati. Melegakan dan menyenangkan. Suasana malam yang kelam berasa pagi hari nan sejuk. Hati sanubari ini bak bunga segar yang diseduh dengan segarnya embun pagi.
Tapi tidak dalam minggu ini. Seseorang pengumandang kata itu tiada ada di sini. Kontrakan yang sepi tiada teman berbagi. Tatapan nanar dari televisi,almari,ranjang,bak kamar mandi serta perkakas yang lain. Seolah mengatakan, "kau rindu dengan gendiii bukan?".
Istriku sedang menjalani proses pembelajaran di instansi tempat ia bekerja. Pendidikan dan Pelatihan Fungsional.
memang selama ini aku yang sering meninggalkan istriku dipeluk oleh kesepian kontrakan. Seiring tuntutan pekerjaan yang sering menugaskan aku untuk melakukan perjalanan dinas. Bahkan kalau dibuat rata-rata mungkin dua kali dalam sebulan aku meninggalkan istriku. Mungkin rasa ini yang sering dirasakan istriku saat aku meninggalkan dia. Sadar aku memang ini rasanya tidak nyaman. Wajar pula kalau kemudian istriku sering mencibirkan bibir tatkala tahu aku akan pergi untuk perjalanan dinas. Tapi itulah adanya, memang mau bagaimana.
Maafkan aku ya istriku... Sering aku menganggap remeh ketika ditinggal untuk perjalan dinas. Aku pikir 3 hari itu waktu yang singkat. Singkat memang untuk kategori perjalanan dinas. Tapi ternyata tiga hari di kontrakan tanpa pendamping hidup sungguh amat lama. Menunggu satu menit berlalu pun lamanya minta ampun.
Tayangan televisi menjadi tidak ada yang menarik. Makanan lezat yang biasa aku makan berdua, meski sangat sederhana namun sungguh terasa lezatnya. Namun ketika sendirian selezat apapun masakan atau nmakanannya menjadi tiada berasa. Ranjang atau tempat tidur yang biasanya penuh akan jejal-jejalan kaki aku dan istriku menjadi amat lebar amat lapang. Guling ke kiri dan ke kanan tiada kudapati dirinya.
Terbayang pula dalam anganku kemudian. Bagaimana seorang istri atau suami yang ditinggal pasangannya untuk bekerja di luar negeri hinga berbulan bahkan hitungan tahun lamanya dan hanya bisa pulang satu kali dalam setahun misalnya. Apa rasanya?
Gendi.... aku rindu kamu..
Tapi tidak dalam minggu ini. Seseorang pengumandang kata itu tiada ada di sini. Kontrakan yang sepi tiada teman berbagi. Tatapan nanar dari televisi,almari,ranjang,bak kamar mandi serta perkakas yang lain. Seolah mengatakan, "kau rindu dengan gendiii bukan?".
Istriku sedang menjalani proses pembelajaran di instansi tempat ia bekerja. Pendidikan dan Pelatihan Fungsional.
memang selama ini aku yang sering meninggalkan istriku dipeluk oleh kesepian kontrakan. Seiring tuntutan pekerjaan yang sering menugaskan aku untuk melakukan perjalanan dinas. Bahkan kalau dibuat rata-rata mungkin dua kali dalam sebulan aku meninggalkan istriku. Mungkin rasa ini yang sering dirasakan istriku saat aku meninggalkan dia. Sadar aku memang ini rasanya tidak nyaman. Wajar pula kalau kemudian istriku sering mencibirkan bibir tatkala tahu aku akan pergi untuk perjalanan dinas. Tapi itulah adanya, memang mau bagaimana.
Maafkan aku ya istriku... Sering aku menganggap remeh ketika ditinggal untuk perjalan dinas. Aku pikir 3 hari itu waktu yang singkat. Singkat memang untuk kategori perjalanan dinas. Tapi ternyata tiga hari di kontrakan tanpa pendamping hidup sungguh amat lama. Menunggu satu menit berlalu pun lamanya minta ampun.
Tayangan televisi menjadi tidak ada yang menarik. Makanan lezat yang biasa aku makan berdua, meski sangat sederhana namun sungguh terasa lezatnya. Namun ketika sendirian selezat apapun masakan atau nmakanannya menjadi tiada berasa. Ranjang atau tempat tidur yang biasanya penuh akan jejal-jejalan kaki aku dan istriku menjadi amat lebar amat lapang. Guling ke kiri dan ke kanan tiada kudapati dirinya.
Terbayang pula dalam anganku kemudian. Bagaimana seorang istri atau suami yang ditinggal pasangannya untuk bekerja di luar negeri hinga berbulan bahkan hitungan tahun lamanya dan hanya bisa pulang satu kali dalam setahun misalnya. Apa rasanya?
Gendi.... aku rindu kamu..
Posted by
Andhika Willy Wardana
Jam
08:35
Saturday, 22 September 2012
Lalu Menghancurkan
Ombak malam yang begitu tenang
Lalu menghancurkan
Meraih bulan lalu menghancurkan
Menepis daratan
Lalu menghancurkan
Merangkul bulir bulir pasir
Lalu menghancurkan
Menelan asa membumikan
Lalu menghancurkan
Merobek mimpi
Lalu menghancurkan
Sesaat menidurkan dalam buliran angan
Lalu menghancurkan
Istana pasir pun luluh latah
Lalu menghancurkan
Walau kadang suaranya menenangkan
Lalu menghancurkan
Lalu menghancurkan
Meraih bulan lalu menghancurkan
Menepis daratan
Lalu menghancurkan
Merangkul bulir bulir pasir
Lalu menghancurkan
Menelan asa membumikan
Lalu menghancurkan
Merobek mimpi
Lalu menghancurkan
Sesaat menidurkan dalam buliran angan
Lalu menghancurkan
Istana pasir pun luluh latah
Lalu menghancurkan
Walau kadang suaranya menenangkan
Lalu menghancurkan
Posted by
Andhika Willy Wardana
Jam
08:21
Thursday, 13 September 2012
Cemburu Itu?
Cemburu itu...
Bagaikan api
Membakar seluruh dinding hati
Asapnya membutakan nurani dan pikir
Abunya menenggelamkan beningnya kisah cinta
Cemburu itu...
Membunuh semua rasa bahagia yang sudah ada
Mengubur dalam-dalam kenangan indah yang telah terlukis
Hilang dalam sekejap waktu
Cemburu itu...
Sering menjadi malapetaka
Runtuhnya tali asmara hingga hilangnya nyawa
Meski penyesalan yang ada di akhir cerita
Cemburu itu...
Bisikan setan atau nafsu?
Cemburu itu...
Bersumber dari prasangka dan praduga
Kecurigaan dan ketiadaan rasa percaya
Takut kehilangan dan sakitnya dikhianati
Cemburu itu...
Sebenarnya tidak layak untuk manusia dengan manusia
Karena memang semua adalah milik-Nya
Tiada yang menjadi milik abadi manusia
Sebenarnya manusia tiada hak memiliki
Atas segala bentuk ciptaan-Nya
Cemburu itu...
Akhhh....sudahlah...
Bagaikan api
Membakar seluruh dinding hati
Asapnya membutakan nurani dan pikir
Abunya menenggelamkan beningnya kisah cinta
Cemburu itu...
Membunuh semua rasa bahagia yang sudah ada
Mengubur dalam-dalam kenangan indah yang telah terlukis
Hilang dalam sekejap waktu
Cemburu itu...
Sering menjadi malapetaka
Runtuhnya tali asmara hingga hilangnya nyawa
Meski penyesalan yang ada di akhir cerita
Cemburu itu...
Bisikan setan atau nafsu?
Cemburu itu...
Bersumber dari prasangka dan praduga
Kecurigaan dan ketiadaan rasa percaya
Takut kehilangan dan sakitnya dikhianati
Cemburu itu...
Sebenarnya tidak layak untuk manusia dengan manusia
Karena memang semua adalah milik-Nya
Tiada yang menjadi milik abadi manusia
Sebenarnya manusia tiada hak memiliki
Atas segala bentuk ciptaan-Nya
Cemburu itu...
Akhhh....sudahlah...
Posted by
Andhika Willy Wardana
Jam
08:37
Thursday, 30 August 2012
Berbicara Tentang Kemacetan di Jakarta
Berbicara tentang kemacetan di Jakarta sebagai megapolitannya Republik Indonesia mungkin bukanlah merupakan hal yang baru di telinga kita bahkan saya sendiri tidak habis pikir sampai kapan orang akan terus membicarakan mengenai permasalahan khas yang satu ini. Jakarta yang merupakan magnit bagi banyak masyarakat untuk mengadu nasib dalam mencari nafkah atau rizki sudah merupakan alasan yang sangat kuat tingginya jumlah penduduk di kota yang disebut daerah khusus ibukota ini yang kemudian secara tidak langsung akan membuat Jakarta kian padat dan sesak. Oleh karena itu dalam tulisan kali ini saya hendak mencoba berbicara atau sekedar ebrpendpat tentang faktor faktor yang memiliki sumbangsih terhadap kemacetan di jakarta.
POPULASI DAN JUMLAH KENDARAAN
Tidak dapat dipungkiri, jumlah populasi merupakan faktor yang sangat signifikan dalam menentukan kepadatan penduduk dalam suatu wilayah. Oleh karena Jakarta dianggap oleh sebagian besar masyarakat merupakan kota yang memiliki siklus perekonomian yang tinggi dan memiliki imbalan janji atas penghasilan yang lebih apabila dibandingkan dengan daerah lain, maka banyak kemudian masyarakat yang berbondong-nondong datang dan menetap di Jakarta. Pola urbanisasi yang sangat tidak terkontrol dan pola pertumbuhan penduduk yang sulit dikendalikan menjadikan Jakarta kian hari kian sesak. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jakarta, pada tahun 2011 dengan luas Provinsi D.K.I Jakarta sebesar 661,52 km² jumlah penduduk di Jakarta mencapai angka 10.187.595 jiwa sumber: http://jakarta.bps.go.id/flip/jda2012/index.html
Dapat kita lihat fenomena pada saat angkutan-angkutan transportasi dari luar Jakarta datang ke Jakarta pasti akan memunculkan wajah-wajah baru yang dipastikan akan menjadi penduduk di Jakarta. Dengan jumlah populasi yang kian membesar maka otomatis faktor-faktor yang lain seperti perumahan, alat transportasi akan meningkat. Kalau digambarkan dalam bentuk garis maka hubungan antara populasi dan perumahan serta alat transportasi adalah berbanding lurus. Dengan peningkatan tersebut tentu saja kian banyak moda transportasi (pribadi) yang bermunculan di Jakarta.
Pada tahun 2010 saja jumlah kendaraan bermotor bedasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jakarta mecapai 11.997.519 yang terdiri dari 8.764.130 sepeda motor, 2.334.883 mobil penumpang, 565.727 mobil beban, dan bus sebesar 332.779.
Tentu saja dapat dibayangkan bagaimana dengan luas wilayah Jakarta yang tetap namun tingkat populasi bertambah kian banyak yang diikuti dengan peningkatan jumlah kendaraan.
PERTUMBUHAN JALAN RAYA
Sudah dapat dipastikan faktor pertumbuhan jalan raya merupakan faktor yang bersifat statis sebenarnya namun secara sistem berpengaruh terhadap kemacetan di Jakarta. Sudah tidak dapat dipungkiri dengan luas wilayah Jakarta yang statis tentu saja tidak mudah untuk melakukan penambahan lebar jalan atau ruas jalan. Karena tidak semua wilayah dapat dijadikan jalan raya mengingat jumlah populasi yang besar juga serta merta akan membutuhkan hunian yang akan menggunakan lahan di wilayah Jakarta. Bukan hunian saja, melainkan sarana umum (non jalan), bangunan pemerintahan, bangunan sentra bisnis dan industri akan berebut dalam pemanfaatan lahan. Sehingga secara tidak sengaja (atau sebetulnya disengaja) penyediaan ruas jalan atau lebar jalan menjadi hal yang sangat sulit dilakukan. Tidak asing pula bahwa seringkali pengguna jalan raya harus menyerobot dengan cara naik trotoar, atau melawan arah (untuk menghindari kemacetan, padahal akan menimbulkan kemacetan baru)
TRANSPORTASI UMUM
Nah kalau berbicara tentang faktor yang satu ini mungkin tidak terlepas dari pengetahuan kita bagaimana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta jor jor an untuk menciptakan suatu moda transportasi umum yang dapat memecahkan solusi kecametan di Jakarta. Sudah tidak asing bukan mendengar istilah KRL, Busway, dan yang pernah ada Monorail dan Waterway (meskipun akhirnya mangkrak tidak jelas). Namun lagi-lagi meskipun transportasi umum tersebut memang dapat mengurangi tingkat kemacetan di Jakarta namun sampai saat ini menurut saya hal itu belum cukup untuk kemudian dibandingkan dengan negara asal yang diadopsi oleh Pemerintah Ibukota. Masih terdapatnya KRL yang mogok atau terlambat, jalur busway yang tidak steril yang menyebabkan busway tidak dapat datang sesuai jadwal karena harus berdesak-desakan pula dengan kendaraan pribadi yang lainnya. Itu apabila kita berbicara dengan transportasi yang disediakan oleh pemerintah. Kalau kemudian kita menilik pada kondisi sarana trasportasi umum yang disediakan oleh pihak swasta mungkin kita juga akan lebih miris lagi. Banyak angkutan umum yang menyerobot jalur, ugal-ugalan, ngetem dan disisi kesehatan asap sisa pembakaran mereka saya rasa berada di bawah nilai standar yang ditetapkan. Pada dasarnya apabila transportasi umum tesebut dapat memenuhi kriteria aman dan nyaman (nyaman dalam hal ini sangat relatif) maka diharapkan masyarakat yang menggunakan transportasi pribadi berpindah ke transportasi umum.
POLA PIKIR MASYARAKAT
Berbicara tentang pola pikir tentu saja hal tersebut berhubungan dengan masing-masing individu. Kesadaran masyarakat terhadap peraturan lalu lintas yang kemudian justru akan membahayakan terhadap diri sendiri dan pengguna jalan lain bahkan dampak panjangnya adalah akan menciptakan kemacetan lalu lintas. Hal tersebut dapat dilihat ketika banyak pengendara motor saling serobot jalur, melawan arah, tidak menaati rambu-rambu lalu lintas, dan masih banyak lagi. Sikap-sikap yang kemudian harusnya muncul dari kepribadian masing-masing pengguna jalan raya inilah yang kemudian sebenarnya harus digali agar masyarakat sadar dan peduli akan kondisi jalan raya di Ibukota sendiri. Selain itu, kepemilikan kendaraan bermotor yang berlebihan (meskipun sebenarnya hal tersebut tidak dilarang) juga menyebabkan jalanan Jakarta ini makin sesak. Coba saja bayangkan apabila dalam satu rumah tangga beranggotakan 5 orang dan kelima-limanya keluar rumah dengan menggunakan kelima mobil tersebut (satu mobil satu penumpang). Itu baru satu rumah tangga, bayangkan dengan jumlah penduduk di Jakarta apabila satu orang mengendarai satu kendaraan bermotor. Hal inilah yang kemudian mengilhami para birokrat untuk memunculkan kebijakan tentang 3in1 dan pajak progresif atas kepemilikan kendaraan bermotor.
PENEGAKAN HUKUM
Penegakan hukum sebenarnya dapat dijadikan kendali atas segala permasalahan yang ada di jalan raya. Sudah banyak aturan-aturan yang kita dengar merupakan metode yang digunakan oleh pemerintah untuk mengendalikan kemacetan di Jakarta. 3in1, sterilisasi jalur busway, pengenaan pajak progresif atas kepemilikan kendaraan bermotor, ERP (untuk yang ini saya belum mengetahui perkembangannya). Pada dasarnya peraturan-peraturan tersebut amatlah baik dalam upaya pengendalian kemacetan di Jakarta. Namun, sayangnya pengguna jalan memiliki cara tersendiri untuk menghindari atau mengakali peraturan tersebut. Sebutlah Joki, menggunakan nama orang lain untuk kendaraan yang dimiliki, serobot jalur busway. Sudah menjadi pemandangan umum di jalanan Ibukota terjadi praktek-praktek yang sebenarnya akan kembali memicu kemacetan di Jakarta. Petugas penegak hukum sebenarnya juga sudah melakukan penegakan terhadap peraturan tersebut, namun lagi-lagi karena lihainya para pengguna jalan membuat para aparatur penegak hukum tiada memiliki daya penuh dalam melakukan pengendalian, (dalam beberapa kasus memang justru terjadi aparatur negara yang melanggar peraturan-peraturan tersebut dengan menggunakan alasan yang birokratis). Sehingga dapat dikatakan bahwa penegakan hukum menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kemacetan di Ibukota ini.
SIKAP PEMERINTAH
Faktor yang satu ini saya temaptkan di bagian akhir bukan berarti faktor ini yang memiliki sumbangsih kecil terhadap kemacetan di Jakarta. Ketegasan pemerintah dalam melahirkan kebijakan sangat dibutuhkan sehingga dapat terwujud konsistensi dalam penerapannya. Seringkali dengan alasan finansial atau anggara kebijakan pemerintah dapat di liyukke dalam rangka penyesuaian dengan kondisi yang ada (istilahnya sih gitu "penyesuaian"). Selain itu aspek kepentingan juga sangat kencatl dalam proses melahirkan kebijaka-kebijakan yang berhubungan dengan kepentingan publik. Coba bagaimana apabila anda sekalian dipertemukan antara kepentingan individu vs kepentingan umum. Pasti anda akan mengalami proses bimbang dan ragu (apalagi hal itu menyangkut makan keluarga atau uang saku). Hal itulah yang kemudian menimbulkan kepentingan individu atau golongan (dengan alih-alih memperoleh manfaat yang lebih tinggi) lebih diutamakan daripada kepentingan publik yang notabene tidak menciptakan manfaat secara ekonomi (dalam jangka pendek).
Faktor faktor tersebut yang menurut saya memiliki sumbangsih terhadap kemacetan di Ibukota ini. Tentu saja dengan melihat faktor-faktor tersebut saya mencoba berbicara/berpendapat terkait permasalahan pada faktor-faktor di atas. Pendapat saya antara lain adalah sebagai berikut:
1. Pengendalian jumlah populasi (dengan mengintensifkan program keluarga berencana yang dulu sempat menjadi program utama pemerintah pada masa orde baru)
2. Pengendalian terhadap jumlah urbanisasi (meski sekarang pemerintah juga sudah jor-jor an dalam melakukan pengendalian ini, namun saya rasa pemerintah harus lebih maksimal dalam melakukan pengendalian terhadap kaum urban)
3. Memisahkan antara sentra bisnis dengan sentra pemerintahan (hal ini sudah pernah mengemuka tapi entahlah bagaimana proses selanjutnya)
4. Pembuatan jalan layang (apabila dimungkinkan dapat dibuat lima tingkat, karena saya bukan ahli teknik sipil maka saya tidak tahu apakah hal ini bisa diterapkan di Jakarta)
5. Menaikkan nilai pajak untuk kendaraan pribadi dan tarif parkir (meskipun dalam jangka pendek saya tahu hal ini akan menimbulkan inflasi yang mungkin sangat berdampak terhadap perekonomian, tapi dalam jangka panjang saya rasa hal tersebut dapat berdampak positif).
6. Meningkatkan pelayanan transportasi umum (dengan pengenaan pajak yang tinggi terhadap kendaraan pribadi dan biaya parkir yang tinggi, hasil dari pungutan tersebut dapat digunakan untuk penataan transportasi umum).
7. Pembatasan jumlah produksi kendaraan bermotor (nah disinilah pemerintah sangat berperan dalam nenentukan kebijakan. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya bahwa kebijakan kebijakan pemerintah harus memihak terhadap kepentingan umum bukanlah manfaat ekonomi jangka pendek. Memang benar dengan pembatasan jumlah produksi kendaraan bermotor akan menimbulkan dampak yang sangat signifikan terhadap perekonomian di Jakarta, bahkan di Indonesia. Investor akan hengkang dari Indonesia, penurunan PAD bahkan penerimaan negara, kenaikan harga yang akan menyebabkan inflasi. Tapi coba dipikir, apabila jumlah produksi tidak dikontrol dan pertumbuhan jumlah kendaraan menjadi sangat liar. Kemacetan bertambah parah dan akan terjadi stagnanisasi proses ekonomi (yang meliputi produksi, dan distribusi barang ekonomi) yang mengakibatkan adanya ekonomi biaya tinggi. Dengan adanya ekonomi biaya tinggi tersebut, tentu saja investor juga akan mempertimbangkan kembali untuk melakukan investasi di Indonesia bukan?
Nah mungkin itulah pembicaraan atau pendapat saya tentang kemacetan di Jakarta. Saya memang bukan siapa-siapa tapi saya hanya ingin Jakarta ini bebas kemacetan dan masyarakatnya semakin memiliki kepedulian terhadap kota yang diberikan gelar kota Megapolitan bahkan kota modern. Tidak lucu bukan apabila banyak mobil sport di kota modern hanya dapat melaju dengan kecepatan di bawah 20 km/jam. Atau di kota modern namun kita harus menempuh jarak 2km dalam waktu 2 jam bahkan lebih. Kota modern macam apa itu?
POPULASI DAN JUMLAH KENDARAAN
Tidak dapat dipungkiri, jumlah populasi merupakan faktor yang sangat signifikan dalam menentukan kepadatan penduduk dalam suatu wilayah. Oleh karena Jakarta dianggap oleh sebagian besar masyarakat merupakan kota yang memiliki siklus perekonomian yang tinggi dan memiliki imbalan janji atas penghasilan yang lebih apabila dibandingkan dengan daerah lain, maka banyak kemudian masyarakat yang berbondong-nondong datang dan menetap di Jakarta. Pola urbanisasi yang sangat tidak terkontrol dan pola pertumbuhan penduduk yang sulit dikendalikan menjadikan Jakarta kian hari kian sesak. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jakarta, pada tahun 2011 dengan luas Provinsi D.K.I Jakarta sebesar 661,52 km² jumlah penduduk di Jakarta mencapai angka 10.187.595 jiwa sumber: http://jakarta.bps.go.id/flip/jda2012/index.html
Dapat kita lihat fenomena pada saat angkutan-angkutan transportasi dari luar Jakarta datang ke Jakarta pasti akan memunculkan wajah-wajah baru yang dipastikan akan menjadi penduduk di Jakarta. Dengan jumlah populasi yang kian membesar maka otomatis faktor-faktor yang lain seperti perumahan, alat transportasi akan meningkat. Kalau digambarkan dalam bentuk garis maka hubungan antara populasi dan perumahan serta alat transportasi adalah berbanding lurus. Dengan peningkatan tersebut tentu saja kian banyak moda transportasi (pribadi) yang bermunculan di Jakarta.
Pada tahun 2010 saja jumlah kendaraan bermotor bedasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jakarta mecapai 11.997.519 yang terdiri dari 8.764.130 sepeda motor, 2.334.883 mobil penumpang, 565.727 mobil beban, dan bus sebesar 332.779.
Tentu saja dapat dibayangkan bagaimana dengan luas wilayah Jakarta yang tetap namun tingkat populasi bertambah kian banyak yang diikuti dengan peningkatan jumlah kendaraan.
PERTUMBUHAN JALAN RAYA
Sudah dapat dipastikan faktor pertumbuhan jalan raya merupakan faktor yang bersifat statis sebenarnya namun secara sistem berpengaruh terhadap kemacetan di Jakarta. Sudah tidak dapat dipungkiri dengan luas wilayah Jakarta yang statis tentu saja tidak mudah untuk melakukan penambahan lebar jalan atau ruas jalan. Karena tidak semua wilayah dapat dijadikan jalan raya mengingat jumlah populasi yang besar juga serta merta akan membutuhkan hunian yang akan menggunakan lahan di wilayah Jakarta. Bukan hunian saja, melainkan sarana umum (non jalan), bangunan pemerintahan, bangunan sentra bisnis dan industri akan berebut dalam pemanfaatan lahan. Sehingga secara tidak sengaja (atau sebetulnya disengaja) penyediaan ruas jalan atau lebar jalan menjadi hal yang sangat sulit dilakukan. Tidak asing pula bahwa seringkali pengguna jalan raya harus menyerobot dengan cara naik trotoar, atau melawan arah (untuk menghindari kemacetan, padahal akan menimbulkan kemacetan baru)
TRANSPORTASI UMUM
Nah kalau berbicara tentang faktor yang satu ini mungkin tidak terlepas dari pengetahuan kita bagaimana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta jor jor an untuk menciptakan suatu moda transportasi umum yang dapat memecahkan solusi kecametan di Jakarta. Sudah tidak asing bukan mendengar istilah KRL, Busway, dan yang pernah ada Monorail dan Waterway (meskipun akhirnya mangkrak tidak jelas). Namun lagi-lagi meskipun transportasi umum tersebut memang dapat mengurangi tingkat kemacetan di Jakarta namun sampai saat ini menurut saya hal itu belum cukup untuk kemudian dibandingkan dengan negara asal yang diadopsi oleh Pemerintah Ibukota. Masih terdapatnya KRL yang mogok atau terlambat, jalur busway yang tidak steril yang menyebabkan busway tidak dapat datang sesuai jadwal karena harus berdesak-desakan pula dengan kendaraan pribadi yang lainnya. Itu apabila kita berbicara dengan transportasi yang disediakan oleh pemerintah. Kalau kemudian kita menilik pada kondisi sarana trasportasi umum yang disediakan oleh pihak swasta mungkin kita juga akan lebih miris lagi. Banyak angkutan umum yang menyerobot jalur, ugal-ugalan, ngetem dan disisi kesehatan asap sisa pembakaran mereka saya rasa berada di bawah nilai standar yang ditetapkan. Pada dasarnya apabila transportasi umum tesebut dapat memenuhi kriteria aman dan nyaman (nyaman dalam hal ini sangat relatif) maka diharapkan masyarakat yang menggunakan transportasi pribadi berpindah ke transportasi umum.
POLA PIKIR MASYARAKAT
Berbicara tentang pola pikir tentu saja hal tersebut berhubungan dengan masing-masing individu. Kesadaran masyarakat terhadap peraturan lalu lintas yang kemudian justru akan membahayakan terhadap diri sendiri dan pengguna jalan lain bahkan dampak panjangnya adalah akan menciptakan kemacetan lalu lintas. Hal tersebut dapat dilihat ketika banyak pengendara motor saling serobot jalur, melawan arah, tidak menaati rambu-rambu lalu lintas, dan masih banyak lagi. Sikap-sikap yang kemudian harusnya muncul dari kepribadian masing-masing pengguna jalan raya inilah yang kemudian sebenarnya harus digali agar masyarakat sadar dan peduli akan kondisi jalan raya di Ibukota sendiri. Selain itu, kepemilikan kendaraan bermotor yang berlebihan (meskipun sebenarnya hal tersebut tidak dilarang) juga menyebabkan jalanan Jakarta ini makin sesak. Coba saja bayangkan apabila dalam satu rumah tangga beranggotakan 5 orang dan kelima-limanya keluar rumah dengan menggunakan kelima mobil tersebut (satu mobil satu penumpang). Itu baru satu rumah tangga, bayangkan dengan jumlah penduduk di Jakarta apabila satu orang mengendarai satu kendaraan bermotor. Hal inilah yang kemudian mengilhami para birokrat untuk memunculkan kebijakan tentang 3in1 dan pajak progresif atas kepemilikan kendaraan bermotor.
PENEGAKAN HUKUM
Penegakan hukum sebenarnya dapat dijadikan kendali atas segala permasalahan yang ada di jalan raya. Sudah banyak aturan-aturan yang kita dengar merupakan metode yang digunakan oleh pemerintah untuk mengendalikan kemacetan di Jakarta. 3in1, sterilisasi jalur busway, pengenaan pajak progresif atas kepemilikan kendaraan bermotor, ERP (untuk yang ini saya belum mengetahui perkembangannya). Pada dasarnya peraturan-peraturan tersebut amatlah baik dalam upaya pengendalian kemacetan di Jakarta. Namun, sayangnya pengguna jalan memiliki cara tersendiri untuk menghindari atau mengakali peraturan tersebut. Sebutlah Joki, menggunakan nama orang lain untuk kendaraan yang dimiliki, serobot jalur busway. Sudah menjadi pemandangan umum di jalanan Ibukota terjadi praktek-praktek yang sebenarnya akan kembali memicu kemacetan di Jakarta. Petugas penegak hukum sebenarnya juga sudah melakukan penegakan terhadap peraturan tersebut, namun lagi-lagi karena lihainya para pengguna jalan membuat para aparatur penegak hukum tiada memiliki daya penuh dalam melakukan pengendalian, (dalam beberapa kasus memang justru terjadi aparatur negara yang melanggar peraturan-peraturan tersebut dengan menggunakan alasan yang birokratis). Sehingga dapat dikatakan bahwa penegakan hukum menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kemacetan di Ibukota ini.
SIKAP PEMERINTAH
Faktor yang satu ini saya temaptkan di bagian akhir bukan berarti faktor ini yang memiliki sumbangsih kecil terhadap kemacetan di Jakarta. Ketegasan pemerintah dalam melahirkan kebijakan sangat dibutuhkan sehingga dapat terwujud konsistensi dalam penerapannya. Seringkali dengan alasan finansial atau anggara kebijakan pemerintah dapat di liyukke dalam rangka penyesuaian dengan kondisi yang ada (istilahnya sih gitu "penyesuaian"). Selain itu aspek kepentingan juga sangat kencatl dalam proses melahirkan kebijaka-kebijakan yang berhubungan dengan kepentingan publik. Coba bagaimana apabila anda sekalian dipertemukan antara kepentingan individu vs kepentingan umum. Pasti anda akan mengalami proses bimbang dan ragu (apalagi hal itu menyangkut makan keluarga atau uang saku). Hal itulah yang kemudian menimbulkan kepentingan individu atau golongan (dengan alih-alih memperoleh manfaat yang lebih tinggi) lebih diutamakan daripada kepentingan publik yang notabene tidak menciptakan manfaat secara ekonomi (dalam jangka pendek).
Faktor faktor tersebut yang menurut saya memiliki sumbangsih terhadap kemacetan di Ibukota ini. Tentu saja dengan melihat faktor-faktor tersebut saya mencoba berbicara/berpendapat terkait permasalahan pada faktor-faktor di atas. Pendapat saya antara lain adalah sebagai berikut:
1. Pengendalian jumlah populasi (dengan mengintensifkan program keluarga berencana yang dulu sempat menjadi program utama pemerintah pada masa orde baru)
2. Pengendalian terhadap jumlah urbanisasi (meski sekarang pemerintah juga sudah jor-jor an dalam melakukan pengendalian ini, namun saya rasa pemerintah harus lebih maksimal dalam melakukan pengendalian terhadap kaum urban)
3. Memisahkan antara sentra bisnis dengan sentra pemerintahan (hal ini sudah pernah mengemuka tapi entahlah bagaimana proses selanjutnya)
4. Pembuatan jalan layang (apabila dimungkinkan dapat dibuat lima tingkat, karena saya bukan ahli teknik sipil maka saya tidak tahu apakah hal ini bisa diterapkan di Jakarta)
5. Menaikkan nilai pajak untuk kendaraan pribadi dan tarif parkir (meskipun dalam jangka pendek saya tahu hal ini akan menimbulkan inflasi yang mungkin sangat berdampak terhadap perekonomian, tapi dalam jangka panjang saya rasa hal tersebut dapat berdampak positif).
6. Meningkatkan pelayanan transportasi umum (dengan pengenaan pajak yang tinggi terhadap kendaraan pribadi dan biaya parkir yang tinggi, hasil dari pungutan tersebut dapat digunakan untuk penataan transportasi umum).
7. Pembatasan jumlah produksi kendaraan bermotor (nah disinilah pemerintah sangat berperan dalam nenentukan kebijakan. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya bahwa kebijakan kebijakan pemerintah harus memihak terhadap kepentingan umum bukanlah manfaat ekonomi jangka pendek. Memang benar dengan pembatasan jumlah produksi kendaraan bermotor akan menimbulkan dampak yang sangat signifikan terhadap perekonomian di Jakarta, bahkan di Indonesia. Investor akan hengkang dari Indonesia, penurunan PAD bahkan penerimaan negara, kenaikan harga yang akan menyebabkan inflasi. Tapi coba dipikir, apabila jumlah produksi tidak dikontrol dan pertumbuhan jumlah kendaraan menjadi sangat liar. Kemacetan bertambah parah dan akan terjadi stagnanisasi proses ekonomi (yang meliputi produksi, dan distribusi barang ekonomi) yang mengakibatkan adanya ekonomi biaya tinggi. Dengan adanya ekonomi biaya tinggi tersebut, tentu saja investor juga akan mempertimbangkan kembali untuk melakukan investasi di Indonesia bukan?
Nah mungkin itulah pembicaraan atau pendapat saya tentang kemacetan di Jakarta. Saya memang bukan siapa-siapa tapi saya hanya ingin Jakarta ini bebas kemacetan dan masyarakatnya semakin memiliki kepedulian terhadap kota yang diberikan gelar kota Megapolitan bahkan kota modern. Tidak lucu bukan apabila banyak mobil sport di kota modern hanya dapat melaju dengan kecepatan di bawah 20 km/jam. Atau di kota modern namun kita harus menempuh jarak 2km dalam waktu 2 jam bahkan lebih. Kota modern macam apa itu?
Posted by
Andhika Willy Wardana
Jam
11:03
Wednesday, 25 July 2012
Lengkuas dan THR
Lengkuas (bukan nama sebenarnya), demikianlah orang memanggilku di wilayah ini. Yah, sebagai seorang wanita berumur 25 tahun aku sudah demikian terkenal. Bahkan aku dapat dikatakan adalah seorang bintang di wilayah ini. Wilayah tempat aku bekerja. Seantero manusia yang paling tidak pernah masuk ke dalam wilayah kerjaku ini sudah pasti mengetahui tentang keberadaanku. Tentu saja tidak cukup tahu namaku saja, melainkan bentuk tubuhku dan paras wajahku wereka pasti menetahuinya. Kalaupun tidak mereka pasti sudah memiliki gambaran akan aku.
Ramadhan. Yah bulan ini merupakan bulan penuh ampunan (menurut ceramah di masjid yang sering terdengar melalui pengeras suara di masjid seberang jalan). Bulan disaat orang orang mulai khususk beribadah mengharapkan limpahan rahmat dari Sang Pencipta. Banyak masjid yang mendadak ramai. Lebih ramai dari kondisi yang sebelumnya. Banyak suara orang mengaji di malam hari. Bahkan sampai larut malam. Masjid yang menyala lampunya ketika dini hari. Si penghuni masjid berteriak teriak entahlah menyebutkan apa, tapi terdengar dari kejauhan ada maksud mereka membangunkan orang yang masih tidur untuk segera bangun untuk menjalankan sahur.
Tapi tidak untuk aku.
Di ujung bulan penuh rahmat ini (ini juga aku dengar dari pengeras suara masjid yang sama, masjid di seberang jalan)terdapat hari yang disebut hari penuh kemenangan, dimana setelah sebulan penuh berharap rahmat dari Sang Pemilik dunia ini, menahan hawa nafsu. Tapi entahlah apa kemudian mereka akan meledakkan semua hawa nafsu yang tertahan atau apa. Apapun itu sepertinya tidak begitu berpengaruh untukku. Dalam sebulan ini adapula yang sibuk mempersiapkan untuk hari kemenangan tersebut. Baju baru, kue-kue, perabotan baru bahkan mungkin cat rumah yang baru atau sekedar keset atau taplak meja yang baru.Menyiapkan uang pecahan kecil untuk kemudian dibagikan kepada sanak saudara.
Sedangkan untuk aku?
Aku muslim. Aku sholat.Aku Puasa. Syahadat pun sudah sering aku lantunkan disaat saat sayup aku mengaji. Tapi aku sering merasakan rataban nasibku yang tidak menentu. Dan Ramadhan ini dan Ramadhan sebelum-sebelumnya menjadikan aku tersiksa akan hari kemenangan itu. Hari yang menjaminkan beberapa hal yang baru untukku dan untuk keluargaku (terdiri satu anak saja, aku ditinggalkan suamiku entah berapa tahun yang lalu). Ramadhan adalah bulan sepi untuk pekerjaanku. THR yang aku harapkan pun justru bertentangan dengan organisasi masyarakat bahkan kebijakan pemerintah. Salah salah justru semua lenyap dengan dinginnya suasana bilik jeruji besi. Ah, entahlah yang jelas di bulan Ramadhan pendapatanku selalu turun drastis. Meski aku menyandang gelar bintang di wilayah kerja ini, tapi tetap saja di bulan Ramadhan ini aku tidak menjadi sebuah pilihan yang istimewa. Bahkan aku harus bersaing dengan pekerja sesama profesiku yang bergelar teri atau kacang.
Semua demi THR yang sering dipanjangkan menjadi Tunjangan Hari Raya. Agar aku bisa mempersembahkan hal-hal yang baru untuk permata hatiku. Salsa namanya (kali ini aku sebutkan nama sebenarnya dari anakku satu-satunya yang sekarang tinggal bersama kakek dan neneknya di kampung nun jauh di sana). Agar aku bisa paling tidak membelikan kain untuk kedua orang tuaku yang sampai saat ini tidak tahu apa profesiku. Dapat membelikan mereka kue atau sekedar oleh oleh dari kota yang banyak disebut sebagai kota mencari uang (meskipun banyak orang yang terjebak di kota ini dengan istilah yang satu ini, termasuk aku)
Oh iya, aku belum cukup memperkenalkan diri. Untuk nama asliku, mohon maaf karena aku tidak ingin kepopueranku merambah dunia maya maka aku hanya menyebutkan nama smaranku. Aku adalah putri daerah yang berasal dari salah satu desa terpencil di Provinsi Jawa Timur. Aku sekarang mengadu nasib di kota ibukota, kota megapolitan, kota industri dan pusat kota administrasi negara. Aku bekerja di kawasan segitiga emas di Jakarta Barat. Bukan segitiga emas Jalan Sudirman tentu saja. Aku bekerja di sini juga bukan keinginanku sebenarnya. Penyalur kerja yang bangsat yang dulu menjanjikan aku untuk bekerja di sebuah minimarket. Yang kemudian memperkenalkanku dengan seorang laki-laki yang pernah aku cintai, dan bahkan sempat menjadi suamiku. Tapi kini pergi meninggalkanku dengan menancapkan luka besar yang menganga. Hingga akhirnya aku harus bergelut dengan nafas dan keringat dari orang yang mempekerjaiku atau istilahnya mengerjaiku. Meski mereka bau ataupun apa aku tidak peduli, aku hanya peduli pada lipatan lipatan kertas yang temuat dalam dompetnya. Tentang rasa atau kenikmatan (cuih, sambil meludah) tiada lagi yang dapat aku rasakan. Dan aku rasa itu tiada penting. Yang penting adalah kebahagiaan anakku nun jauh di sana.
Tentu kalian sudah bisa menebak apa profesiku bukan?maaf aku tidak bisa berlama-lama menjawab setiap pertanyaan, karena aku harus berjuang demi THR. Meski aku sadar jalan yang kutempuh ini adalah bukan jalan yang diajarkan oleh para guru agama di sekolah dasarku dulu, bukan ajaran dari kyai yang mengajarkanku bagaimana membaca kitab suci dengan merdu hingga aku khatam berpuluh kali. Tapi bagaimanapun itu, aku hanya ingin membahagiakan anakku dan hanya ini yang aku bisa (saat ini).
Lengkuas pun beranjak sedikit berlari mencoba menghampiri deretan mobil yang sedang melaju di jalan raya. Braaaaakkkkkkk...... sebuah mobil (entah warnanya apa) menghempaskan Lengkuas dari jalanan dimana dia berdiri.
Lengkuas meninggalkan sejumlah noda darah di sederet polesan polesan kosmetiknya, dengan kantung mata yang sedikit menggantung dan berwarna hitam (mengingat polesan kosmetiknya samar terhapus oleh tetesan darah). Lengkuas telah tiada dan ia tak berhasil memberikan THR tahun ini untuk keluarganya di kampungnya.
Harapannya telah pergi dan diganti dengan rupa rupa siksa di sana.
Lengkuas sebenarnya hanya mengharapkan THR saja.
Ramadhan. Yah bulan ini merupakan bulan penuh ampunan (menurut ceramah di masjid yang sering terdengar melalui pengeras suara di masjid seberang jalan). Bulan disaat orang orang mulai khususk beribadah mengharapkan limpahan rahmat dari Sang Pencipta. Banyak masjid yang mendadak ramai. Lebih ramai dari kondisi yang sebelumnya. Banyak suara orang mengaji di malam hari. Bahkan sampai larut malam. Masjid yang menyala lampunya ketika dini hari. Si penghuni masjid berteriak teriak entahlah menyebutkan apa, tapi terdengar dari kejauhan ada maksud mereka membangunkan orang yang masih tidur untuk segera bangun untuk menjalankan sahur.
Tapi tidak untuk aku.
Di ujung bulan penuh rahmat ini (ini juga aku dengar dari pengeras suara masjid yang sama, masjid di seberang jalan)terdapat hari yang disebut hari penuh kemenangan, dimana setelah sebulan penuh berharap rahmat dari Sang Pemilik dunia ini, menahan hawa nafsu. Tapi entahlah apa kemudian mereka akan meledakkan semua hawa nafsu yang tertahan atau apa. Apapun itu sepertinya tidak begitu berpengaruh untukku. Dalam sebulan ini adapula yang sibuk mempersiapkan untuk hari kemenangan tersebut. Baju baru, kue-kue, perabotan baru bahkan mungkin cat rumah yang baru atau sekedar keset atau taplak meja yang baru.Menyiapkan uang pecahan kecil untuk kemudian dibagikan kepada sanak saudara.
Sedangkan untuk aku?
Aku muslim. Aku sholat.Aku Puasa. Syahadat pun sudah sering aku lantunkan disaat saat sayup aku mengaji. Tapi aku sering merasakan rataban nasibku yang tidak menentu. Dan Ramadhan ini dan Ramadhan sebelum-sebelumnya menjadikan aku tersiksa akan hari kemenangan itu. Hari yang menjaminkan beberapa hal yang baru untukku dan untuk keluargaku (terdiri satu anak saja, aku ditinggalkan suamiku entah berapa tahun yang lalu). Ramadhan adalah bulan sepi untuk pekerjaanku. THR yang aku harapkan pun justru bertentangan dengan organisasi masyarakat bahkan kebijakan pemerintah. Salah salah justru semua lenyap dengan dinginnya suasana bilik jeruji besi. Ah, entahlah yang jelas di bulan Ramadhan pendapatanku selalu turun drastis. Meski aku menyandang gelar bintang di wilayah kerja ini, tapi tetap saja di bulan Ramadhan ini aku tidak menjadi sebuah pilihan yang istimewa. Bahkan aku harus bersaing dengan pekerja sesama profesiku yang bergelar teri atau kacang.
Semua demi THR yang sering dipanjangkan menjadi Tunjangan Hari Raya. Agar aku bisa mempersembahkan hal-hal yang baru untuk permata hatiku. Salsa namanya (kali ini aku sebutkan nama sebenarnya dari anakku satu-satunya yang sekarang tinggal bersama kakek dan neneknya di kampung nun jauh di sana). Agar aku bisa paling tidak membelikan kain untuk kedua orang tuaku yang sampai saat ini tidak tahu apa profesiku. Dapat membelikan mereka kue atau sekedar oleh oleh dari kota yang banyak disebut sebagai kota mencari uang (meskipun banyak orang yang terjebak di kota ini dengan istilah yang satu ini, termasuk aku)
Oh iya, aku belum cukup memperkenalkan diri. Untuk nama asliku, mohon maaf karena aku tidak ingin kepopueranku merambah dunia maya maka aku hanya menyebutkan nama smaranku. Aku adalah putri daerah yang berasal dari salah satu desa terpencil di Provinsi Jawa Timur. Aku sekarang mengadu nasib di kota ibukota, kota megapolitan, kota industri dan pusat kota administrasi negara. Aku bekerja di kawasan segitiga emas di Jakarta Barat. Bukan segitiga emas Jalan Sudirman tentu saja. Aku bekerja di sini juga bukan keinginanku sebenarnya. Penyalur kerja yang bangsat yang dulu menjanjikan aku untuk bekerja di sebuah minimarket. Yang kemudian memperkenalkanku dengan seorang laki-laki yang pernah aku cintai, dan bahkan sempat menjadi suamiku. Tapi kini pergi meninggalkanku dengan menancapkan luka besar yang menganga. Hingga akhirnya aku harus bergelut dengan nafas dan keringat dari orang yang mempekerjaiku atau istilahnya mengerjaiku. Meski mereka bau ataupun apa aku tidak peduli, aku hanya peduli pada lipatan lipatan kertas yang temuat dalam dompetnya. Tentang rasa atau kenikmatan (cuih, sambil meludah) tiada lagi yang dapat aku rasakan. Dan aku rasa itu tiada penting. Yang penting adalah kebahagiaan anakku nun jauh di sana.
Tentu kalian sudah bisa menebak apa profesiku bukan?maaf aku tidak bisa berlama-lama menjawab setiap pertanyaan, karena aku harus berjuang demi THR. Meski aku sadar jalan yang kutempuh ini adalah bukan jalan yang diajarkan oleh para guru agama di sekolah dasarku dulu, bukan ajaran dari kyai yang mengajarkanku bagaimana membaca kitab suci dengan merdu hingga aku khatam berpuluh kali. Tapi bagaimanapun itu, aku hanya ingin membahagiakan anakku dan hanya ini yang aku bisa (saat ini).
Lengkuas pun beranjak sedikit berlari mencoba menghampiri deretan mobil yang sedang melaju di jalan raya. Braaaaakkkkkkk...... sebuah mobil (entah warnanya apa) menghempaskan Lengkuas dari jalanan dimana dia berdiri.
Lengkuas meninggalkan sejumlah noda darah di sederet polesan polesan kosmetiknya, dengan kantung mata yang sedikit menggantung dan berwarna hitam (mengingat polesan kosmetiknya samar terhapus oleh tetesan darah). Lengkuas telah tiada dan ia tak berhasil memberikan THR tahun ini untuk keluarganya di kampungnya.
Harapannya telah pergi dan diganti dengan rupa rupa siksa di sana.
Lengkuas sebenarnya hanya mengharapkan THR saja.
Posted by
Andhika Willy Wardana
Jam
06:12
Tuesday, 17 July 2012
Jalan Sempit vs Mobil Besar
Kali ini aku menulis tentang salah satu pengalaman pribadi dan keherananku terhadap perilaku manusia di ibukota negara ini. Mungkin gambar yang aku unggah ebrsama tulisan ini tidak terlalu merefleksikan judul dari tulisanku kali ini. Tapi pada pokoknya aku ingin menceritakan betapa memaksanya kehendak orang di Jakarta ini. Bagaimana tidak, memang sih di beberapa tempat Jakarta memiliki jalan yang agak lebar (aku menggunakan kata agak ya, karena jujur aku sendiri susah untuk menemukan jalan yang dapat dikatakan lebar), namun mayoritas jalanan di Jakarta itu kecil, sesak dan tidak dapat diragukan lagi tentang prestasi kemacetan kota Jakarta ini. Kota sentra bisnis, roda perekonomian sekaligus para birokrat pemerintahan menggunakan jalan pikiran untuk mengatur negeri ini.
Dengan kondisi jalanan yang kecil tersebut, terdapat beberapa perilaku yang sangat membingungkanku. Yakni penggunaan mobil berukuran jumbo, dumbo, giant alias raksasa bin besar. Masih bingung sekali dalam benak pikiranku hal apakah yang mendasari para si empunya mobil itu menggunakan mobil yang ekstra memakan jalan. Tidak jarang bahkan sangat sering aku menjumpai para si mobil mobil giant ini kerepotan sendiri tatkala melaju di jalan sempit sekaaaaaliiiiii dan harus berpapasan dengan kendaraan lain. Masih untung jika yang berpapasan adalah tukang gerobak pembawa gas bumi alias elpiji, coba kalau mereka sama-sama berpapasan dengan mobil giant pula. Yakin aku urat urat di kepala mereka akan bermunculan dan saling ngotot untuk siapa yang berhak berjalan lebih dahulu. Atau memang ini ya maksud dan kehendak mereka menggunakan mobil raksasa itu. Hmmm... tapi aku rasa mereka juga masih mikir kalau mereka berpapasan dengan mobil yang satu ini:
Pasti mereka akan kelabakan dengan mata melotot bagaimana bisa mobil segede ini ada di jalan seperti ini.
Nah pertanyaan yang sama kan pada akhirnya, banyak pemilik kendaraan bermotor atau mobil dengan tipe kecil yang biasa disebut dengan jabatan atau status city car bertanya keheran-heranan. Bagaimana bisa mobil family segede ini berjalan di gang-gang sempit. Kegores dikit aja, pasti langsung marah-marah. Perilaku orang kaya yang aneh. Mustinya ketika orang semakin kaya dan banyak memiliki harta, maka seharusnya tergores dikit ataupun banyak bukanlah sebuah permasalahan. oh kan dia masih punya banyak duit buat ngeganti tuh kerusakan. hmmhh... tapi entahlah, mungkin emang semakin kaya orang semakin tinggi rasa kekhawatirannya.
Kembali kemudian kepada perilaku kepemilikan mobil besar tadi, sampai saat ini aku masih bingung..kalau kemudian ada beberapa orang yang beralasan dengan memiliki mobil ekstra besar maka semua anggota keluarga bisa keangkut dalam satu mobil. Tapi pada kenyataannya, orang yang memiliki mobil besar masih memiliki mobil dengan ukuran medium. Lalu, apakah mobil besar besar itu hanya digunakan untuk pamer, sok mewah gagah dan menjajah?
Tulisan ini sebenarnya tidak mencapai titik dimana aku menemukan konklusi dari hal yang membuatku terheran-heran tersebut. Tapi pada intinya aku menarik kesimpulan bahwa sebenarnya dengan alasan apapun mobil gede-gede tidak cocok untuk digunakan di tengah kota. Mungkin memang benar atau layak apabila mobil giant tersebut digunakan untuk melakukan perjalanan jauh sesuai tradisi yaitu mudik. Mengingat perjalanan jauh kita membutuhkan ruang yang lega untuk sekedar bergerak, ngeluk boyok atau beristirahat dengan nyaman.
Dan heran lagi dengan orang ibukota ini, sudah mobilnya besar, otomatis kapasitas mesinnya juga besar dengan cc besar. Tentu saja otomatis konsumsi bahan bakar pun menjadi lebih besar. Yang lebih aneh lagi ketika kemarin minyak dunia mengalami kenaikan harga yang berimbas pada kenaikan harga bensin, merekalah yang mengeluh. Mobil mahal gede yang katanya yang punya adalah orang kaya kok pake premium bukan pertamax. Sungguh sebuah ironi kisah orang kaya di Jakarta ini.
Hmmhh... ya sudahlah, mungkin ini hanyalah sebuah cerita yang mungkin sangat bisa dibantah oleh orang-orang kaya pemilik mobil giant tadi..
Dengan kondisi jalanan yang kecil tersebut, terdapat beberapa perilaku yang sangat membingungkanku. Yakni penggunaan mobil berukuran jumbo, dumbo, giant alias raksasa bin besar. Masih bingung sekali dalam benak pikiranku hal apakah yang mendasari para si empunya mobil itu menggunakan mobil yang ekstra memakan jalan. Tidak jarang bahkan sangat sering aku menjumpai para si mobil mobil giant ini kerepotan sendiri tatkala melaju di jalan sempit sekaaaaaliiiiii dan harus berpapasan dengan kendaraan lain. Masih untung jika yang berpapasan adalah tukang gerobak pembawa gas bumi alias elpiji, coba kalau mereka sama-sama berpapasan dengan mobil giant pula. Yakin aku urat urat di kepala mereka akan bermunculan dan saling ngotot untuk siapa yang berhak berjalan lebih dahulu. Atau memang ini ya maksud dan kehendak mereka menggunakan mobil raksasa itu. Hmmm... tapi aku rasa mereka juga masih mikir kalau mereka berpapasan dengan mobil yang satu ini:
Pasti mereka akan kelabakan dengan mata melotot bagaimana bisa mobil segede ini ada di jalan seperti ini.
Nah pertanyaan yang sama kan pada akhirnya, banyak pemilik kendaraan bermotor atau mobil dengan tipe kecil yang biasa disebut dengan jabatan atau status city car bertanya keheran-heranan. Bagaimana bisa mobil family segede ini berjalan di gang-gang sempit. Kegores dikit aja, pasti langsung marah-marah. Perilaku orang kaya yang aneh. Mustinya ketika orang semakin kaya dan banyak memiliki harta, maka seharusnya tergores dikit ataupun banyak bukanlah sebuah permasalahan. oh kan dia masih punya banyak duit buat ngeganti tuh kerusakan. hmmhh... tapi entahlah, mungkin emang semakin kaya orang semakin tinggi rasa kekhawatirannya.
Kembali kemudian kepada perilaku kepemilikan mobil besar tadi, sampai saat ini aku masih bingung..kalau kemudian ada beberapa orang yang beralasan dengan memiliki mobil ekstra besar maka semua anggota keluarga bisa keangkut dalam satu mobil. Tapi pada kenyataannya, orang yang memiliki mobil besar masih memiliki mobil dengan ukuran medium. Lalu, apakah mobil besar besar itu hanya digunakan untuk pamer, sok mewah gagah dan menjajah?
Tulisan ini sebenarnya tidak mencapai titik dimana aku menemukan konklusi dari hal yang membuatku terheran-heran tersebut. Tapi pada intinya aku menarik kesimpulan bahwa sebenarnya dengan alasan apapun mobil gede-gede tidak cocok untuk digunakan di tengah kota. Mungkin memang benar atau layak apabila mobil giant tersebut digunakan untuk melakukan perjalanan jauh sesuai tradisi yaitu mudik. Mengingat perjalanan jauh kita membutuhkan ruang yang lega untuk sekedar bergerak, ngeluk boyok atau beristirahat dengan nyaman.
Dan heran lagi dengan orang ibukota ini, sudah mobilnya besar, otomatis kapasitas mesinnya juga besar dengan cc besar. Tentu saja otomatis konsumsi bahan bakar pun menjadi lebih besar. Yang lebih aneh lagi ketika kemarin minyak dunia mengalami kenaikan harga yang berimbas pada kenaikan harga bensin, merekalah yang mengeluh. Mobil mahal gede yang katanya yang punya adalah orang kaya kok pake premium bukan pertamax. Sungguh sebuah ironi kisah orang kaya di Jakarta ini.
Hmmhh... ya sudahlah, mungkin ini hanyalah sebuah cerita yang mungkin sangat bisa dibantah oleh orang-orang kaya pemilik mobil giant tadi..
Posted by
Andhika Willy Wardana
Jam
14:18
Monday, 9 July 2012
Social Media vs Nge Blog
Judul yang aku pilih ini mungkin juga menimpa banyak kalangan. Tapi jujur tiada maksud untuk memunculkan pendapat mereka ke dalam pendapatku alias melakukan generalisasi paradigma. Jujur setelah beberapa waktu yang lalu muncul yang namanya social media yang meliputi Facebook, Twitter, Foursquare dan masih banyak lagi. Kemunculan social media akhir akhir ini menjadi salah satu faktor yang kemudian banyak orang menuliskan hal-hal yang merupakan ungkapan perasaan hati. Suka, duka, senang, sedih bahkan galau diluapkan dalam situs jejaring sosial. Sebelum kemunculan social media mungkin banyak orang mengungkapkan perasaan dalam coretan coretan tulisan melalui media blog.
Tapi kini, jujur aku akui sendiri menjadi sedikit kehilangan momen atau kata-kata untuk merangkai kata yang kemudian menjadi frase dalam blog. Karena saat ada kata yang ingin dicurahkan ingin diungkapkan social media menjadi piranti yang sangat memudahkan setiap pengguna dunia maya untuk mengungkapkan semuanya. Apalagi beberapa perangkat keras yang sangat mendukung dengan adanya teknologi social media tersebut. Tinggal tulis sebentar (gak perlu merangkai kata-kata yang panjang) langsung update, sudah deh dunia tahu mengenai segala apa yang terjadi pada diri kita. Meskipun tidak dipungkiri sewaktu waktu hal tersebut bisa menjadi bumerang untuk kita sendiri karena sebenarnya tidak semua hal yang kita alami bisa menjadi konsumsi masyarakat luas.
Berbeda dengan blog memang, meski orang bisa saja menulis pendek pendek dalam blog nya tapi orang bisa saja mengungkapkan perasaannya dalam suatu prosa yang tidak mudah dimengerti orang lain. Ungkapan perasaan yang indah atau sedih yang belum tentu setiap orang mengerti dengan arti tatanan kata yang dimaksud. Mungkin lebih cenderung menjadi makna yang tersirat. Dan kemudian etrangkai indah dalam suatu paragraph.
Dulu semasa aku sering banget bikin puisi dalam blog ku, mengungkapkan perasaanku, ketika aku baca sekarang aku sendiri tidak habis pikir, How did i do that? membaca setiap baris baris kata-kataku menjadi melemparku ke dalam masa masa yang lalu, masa masa saat aku berkutat di depan layar monitor komputerku dan mengungkapkan segala rasa yang ada di dalam hati.
Saat ini, meskipun aku juga merupakan pengguna dari social media tapi dalam hatiku juga terbesit untuk selalu merangkai kata dan mengungkapkan perasaan dan apa yang aku alami dan menumpahkan semuanya ke dalam paragraph yang tersimpan dalam blog. Seringkali juga disetiap kesempatan aku mengambil foto foto dari kondisi di sekitarku untuk kemudian aku persiapkan untuk menjadi bahan dari tulisanku ini. Meski tak jarang semua itu menjadi aku cancel karena sudah terlanjur aku upload di social media (menurutku jadi kurang berkesan saja).
Tapi aku akan tetap setia untuk menulis, entah itu puisi atau parafrase.
Tapi kini, jujur aku akui sendiri menjadi sedikit kehilangan momen atau kata-kata untuk merangkai kata yang kemudian menjadi frase dalam blog. Karena saat ada kata yang ingin dicurahkan ingin diungkapkan social media menjadi piranti yang sangat memudahkan setiap pengguna dunia maya untuk mengungkapkan semuanya. Apalagi beberapa perangkat keras yang sangat mendukung dengan adanya teknologi social media tersebut. Tinggal tulis sebentar (gak perlu merangkai kata-kata yang panjang) langsung update, sudah deh dunia tahu mengenai segala apa yang terjadi pada diri kita. Meskipun tidak dipungkiri sewaktu waktu hal tersebut bisa menjadi bumerang untuk kita sendiri karena sebenarnya tidak semua hal yang kita alami bisa menjadi konsumsi masyarakat luas.
Berbeda dengan blog memang, meski orang bisa saja menulis pendek pendek dalam blog nya tapi orang bisa saja mengungkapkan perasaannya dalam suatu prosa yang tidak mudah dimengerti orang lain. Ungkapan perasaan yang indah atau sedih yang belum tentu setiap orang mengerti dengan arti tatanan kata yang dimaksud. Mungkin lebih cenderung menjadi makna yang tersirat. Dan kemudian etrangkai indah dalam suatu paragraph.
Dulu semasa aku sering banget bikin puisi dalam blog ku, mengungkapkan perasaanku, ketika aku baca sekarang aku sendiri tidak habis pikir, How did i do that? membaca setiap baris baris kata-kataku menjadi melemparku ke dalam masa masa yang lalu, masa masa saat aku berkutat di depan layar monitor komputerku dan mengungkapkan segala rasa yang ada di dalam hati.
Saat ini, meskipun aku juga merupakan pengguna dari social media tapi dalam hatiku juga terbesit untuk selalu merangkai kata dan mengungkapkan perasaan dan apa yang aku alami dan menumpahkan semuanya ke dalam paragraph yang tersimpan dalam blog. Seringkali juga disetiap kesempatan aku mengambil foto foto dari kondisi di sekitarku untuk kemudian aku persiapkan untuk menjadi bahan dari tulisanku ini. Meski tak jarang semua itu menjadi aku cancel karena sudah terlanjur aku upload di social media (menurutku jadi kurang berkesan saja).
Tapi aku akan tetap setia untuk menulis, entah itu puisi atau parafrase.
Posted by
Andhika Willy Wardana
Jam
15:17
Saturday, 7 July 2012
Hunian Pertama
Setelah sesaat menikmati masa masa awal yang indah paska pernikahan, saatnya kami menghadapi kehidupan yang nyata. Kehidupan rumah tangga dalam pelukan kehangatan tinggal dalam sebuah keluarga. Karena kami sama-sama bekerja di ibukota negara Indonesia alias Daerah Khusus Ibukota Jakarta tentu saja kami memutuskan untuk berhuni atau tinggal di kota yang sumpek menurut kami. Karena harga rumah di Jakarta (bahkan di pinggiran Jakarta) mahalnya minta ampun, karena alasan waktu dan biaya maka kami memutuskan untuk mengontrak hunian dulu. Semoga saja hanya sementara..Aamiiin...
Istri saya bekerja di Jalan Gatot Subroto sementara saya bekerja di Jalan Ir. H. Juanda, maka kami harus bijak memilih hunian yang memudahkan akses kami ke kantor masing-masing. Tentu saja kami masih ingin bermanja-manja dengan tinggal di dalam kota Jakarta maka kami tidak ingin kami masih harus tersiksa dengan jauhnya jarak (mumpung belum berhuni di pinggiran Jakarta). Dengan berbagai pertimbangan dan rekomendasi dari salah satu rekan kerja, akhirnya kami memulai survey lokasi di daerah Slipi (sebenarnya kalau dalam pemetaan daerah namanya Palmerah. Bukanlah persoalan yang mudah untuk menemukan hunian yang cocok menurut kami berdua. Kadang aku cocok tapi istriku tidak cocok. Kami harus konsen ke hal tersebut, hehehe..tidak boleh egois satu sama lain.
Dengan perjuangan yang gigih akhirnya kami mendapatkan informasi dari rekan kerjaku yang mengatakan bahwa di daerah dia tinggal ada sebuah pavilium yang recomended untuk pasangan baru yang sedang mencari hunian sementara dan dekat dengan akses kantor yang aku sebutkan sebelumnya. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan tersebut akhirnya kami meluncur ke pavilium yang disebutkan tersebut, sebelumnya aku juga diberikan nomor telepon si penunggu atau penjaga pavilium tersebut. Setelah menghubungi si penjaga pavilum tersebut akhirnya memang benar terdapat kamar yang kosong dan ditinggal penghuninya. Tentu saja kami langsung meluncur ke pavilium tersebut.
Dengan mengndarai si gendut aku memboncengkan istriku meluncur ke pavilium tersebut (sungguh keren sebenarnya kalau ada yang bisa mengambil gambar kami saat mengendarai si gendut). Dengan ancer-ancer Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita dan petunjuk dari rekan kerjaku akhirnya kami menemukan hunian tersebut. Entahlah mengapa tiba-tiba ada rasa sreg dengan hunian ini, hunian ini memang berbentuk pavilium atau istilah jelaknya adalah rumah petak dimana satu kamar terdiri dari satu kamar tidur, satu ruang tamu, satu dapur dan satu kamar mandi. Sudah dilengkapi dengan spring bed,AC, lemari pakaian dan meja televisi. Dan pertimbangan akses ke kantor kami masing-masing pun tidak terlalu jauh (setelah melakukan observasi kami langsung mencoba rute ke kantor istriku dan kantor ku, 10 menit ke Gatot Subroto, dan 10 menit ke Juanda).
Akhirnya karena kami juga merasakan capai dalam mencari hunian di jakarta ini, akhirnya kami sepakat untuk menempati hunian tersebut. Dengan uang RP 1.500.000,00 hunian tersebut dapat kami sewa setiap bulannya. Tentu saja itu baru biaa sewa saja belum termasuk dengan biaya listrik yang kami gunakan.
Deal!!!!!
Akhirnya inilah hunian kami yang pertama setelah kami resmi menjadi suami dan istri.
Istri saya bekerja di Jalan Gatot Subroto sementara saya bekerja di Jalan Ir. H. Juanda, maka kami harus bijak memilih hunian yang memudahkan akses kami ke kantor masing-masing. Tentu saja kami masih ingin bermanja-manja dengan tinggal di dalam kota Jakarta maka kami tidak ingin kami masih harus tersiksa dengan jauhnya jarak (mumpung belum berhuni di pinggiran Jakarta). Dengan berbagai pertimbangan dan rekomendasi dari salah satu rekan kerja, akhirnya kami memulai survey lokasi di daerah Slipi (sebenarnya kalau dalam pemetaan daerah namanya Palmerah. Bukanlah persoalan yang mudah untuk menemukan hunian yang cocok menurut kami berdua. Kadang aku cocok tapi istriku tidak cocok. Kami harus konsen ke hal tersebut, hehehe..tidak boleh egois satu sama lain.
Dengan perjuangan yang gigih akhirnya kami mendapatkan informasi dari rekan kerjaku yang mengatakan bahwa di daerah dia tinggal ada sebuah pavilium yang recomended untuk pasangan baru yang sedang mencari hunian sementara dan dekat dengan akses kantor yang aku sebutkan sebelumnya. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan tersebut akhirnya kami meluncur ke pavilium yang disebutkan tersebut, sebelumnya aku juga diberikan nomor telepon si penunggu atau penjaga pavilium tersebut. Setelah menghubungi si penjaga pavilum tersebut akhirnya memang benar terdapat kamar yang kosong dan ditinggal penghuninya. Tentu saja kami langsung meluncur ke pavilium tersebut.
Dengan mengndarai si gendut aku memboncengkan istriku meluncur ke pavilium tersebut (sungguh keren sebenarnya kalau ada yang bisa mengambil gambar kami saat mengendarai si gendut). Dengan ancer-ancer Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita dan petunjuk dari rekan kerjaku akhirnya kami menemukan hunian tersebut. Entahlah mengapa tiba-tiba ada rasa sreg dengan hunian ini, hunian ini memang berbentuk pavilium atau istilah jelaknya adalah rumah petak dimana satu kamar terdiri dari satu kamar tidur, satu ruang tamu, satu dapur dan satu kamar mandi. Sudah dilengkapi dengan spring bed,AC, lemari pakaian dan meja televisi. Dan pertimbangan akses ke kantor kami masing-masing pun tidak terlalu jauh (setelah melakukan observasi kami langsung mencoba rute ke kantor istriku dan kantor ku, 10 menit ke Gatot Subroto, dan 10 menit ke Juanda).
Akhirnya karena kami juga merasakan capai dalam mencari hunian di jakarta ini, akhirnya kami sepakat untuk menempati hunian tersebut. Dengan uang RP 1.500.000,00 hunian tersebut dapat kami sewa setiap bulannya. Tentu saja itu baru biaa sewa saja belum termasuk dengan biaya listrik yang kami gunakan.
Deal!!!!!
Akhirnya inilah hunian kami yang pertama setelah kami resmi menjadi suami dan istri.
Posted by
Andhika Willy Wardana
Jam
06:42
Saturday, 30 June 2012
Bulan Madu Aku & Istriku
Perjalanan waktu telah menghantarkan hubungan kami kepada sesuatu hubungan yang lebih sakral. Diakui dan disaksikan secara resmi oleh banyak orang dan bahkan telah tercatat dalam lembaran negara yang mungkin akan disimpan dalam berkas berkas data di Kementerian Agama. Tentu saja akan disimpan dalam berkas Alloh SWT yang akan menjadi pertanggungjawaban kami kelak.
Seusai kami melangsungkan acara tersebut dan lumayan capai dalam melakukan bantu membantu membersihkan sisa sisa penghantar kebahagiaan. Kami menentukan untuk melakukan penyegaran jasmani dan rohani sekaligus melakukan liburan. Bali.
Sebenarnya perjalanan ini telah kami rencanakan jauh hari sebelum kami menjadi satu dalam sebuah naungan keluarga. Karen mengingat kami bukanlah orang yang dengan mudah menjentikkan jari untuk memperoleh rizki dari Alloh SWT. Demi menjangkau harga tiket pesawat yang relatif terjangkau untuk liburan ini.
Berangkat dari rumah masing-masing (mengingat rumah orang tua kami hanya berkisar 200 meter), pihak dari keluarga kami menghantarkan kami dan melepas kepergian kami dengan kebahagiaan dan harapan di Stasiun Wates. Ya, perjalanan kami menuju Bandara Adi Sutjipto kami tempuh dengan menggunakan Kereta Prambanan Ekspres atau lebih dikenal dengan sebutan Prameks. Kebetulan saat itu flight pesawat Garuda Indonesia dari Yogyakarta menuju Bali berada pada pukul 08.15 dengan batas waktu untuk check in adalah pukul 07.45. Dengan perhitungan yang tepat Prameks mengantarkanku tepat pada pukul 07.15 sampai di Stasiun Maguwo (stasiun ini hanya berjarak 100 meter dari airport).
Dengan langkah tersenyum kami bergegas menuju counter check in untuk pengurusan administrasi penerbangan. Karena kemudian dirasa waktu masih lama, dan berhubungan kami memang belum sarapan akhirnya kami memutuskan untuk sarapan di salah satu tempat makan di bandara tersebut. Setelah beberapa kunyahan makanan tersebut masuk ke dalam mulut kami akhirnya kami berberes diri dan akhirnya menuju ruang tunggu mengingat ada pengumuman yang menyatakan bahwa pesawat kami telah dinyatakan boarding dan para penumpang dipersilakan untuk naik ke dalam pesawat.
Di dalam pesawat kami bersendau gura layaknya pengantin baru, ya kami memang masih pengantin baru...hehehe. Pemandangan di luar jendela menjadi sangat indah ketika aku melihat bayangan istriku sebelum aku menembus kaca jendela pesawat itu. Beberapa menit berada di dalam pesawat akhirnya pesawat melewati areal Pegunungan Bromo, sang pilot menjelaskan sedikit tentang kisah Gunung Bromo ini.
Tak berapa lama kemudian pesawat mulai turun dari ketinggian 25.000 kaki karena dinyatakan telah akan mendarat. Memang tak berapa lama kemuian pesawat medarat tepat di Bandara Ngurah Rai Bali. Jujur Bali bukan merupakan tempat yang begitu asing untukku, karena beberapa perjalanan dinas dari kantorku telah menghafalkanku tentang Pulau Bali ini. Aku pun sudah punya kenalan rental mobil dan motor di pulau tersebut. Sehingga tanpa susah payah kami sudah segera mendapatkan sewa sepeda motor setiba aku di Pulau Bali, serta dicarikan hotel yang sesuai dengan budget yang telah kami sebutkan sebelumnya.
Format dari bulan madu kami ini adalah format backpacker (maunya sih gitu), dengan menyewa motor kami berniat untuk melakukan perjalanan ke beberapa tempat di Pulau Bali. Dengan sedikit banyak wawasanku tentang Bali, maka aku perkenalkana pula daerah daerah yang aku mengerti kepada istriku. Dan kebetulan pula istriku memiliki teman kerja yang berdinas di Pulau Bali. Jadi kami tidak terlalu kerepotan dalam menentukan kemana kami harus menuju. Hanya saja dengan cuaca Bali yang tropis sering kali menjadikan kami untuk lebih betah berada di dalam kamar hotel.
Beberapa gambar yang kemudian menjadi saksi bulan madu kami berhasil kami abadikan dalam sebuah rentetan foto yang hanya kami ambil dari kamera handphone (kebetulan si pocket camera lupa tiada dibawa).
Hotel dengan rate kamar Rp 250.000,00 per malam yang terkadang sering memanjakan kami dengan suhu kamar yang menggelayuti kami seolah tiada boleh pergi dari kamar ini.
Garuda Wishnu Kencana
The Mother Of Pura in Bali ... Besakih
Danau Kintamani / Danau Batur
Sebenarnya ada spot spot yang menarik namun karena kami saking terkesimanya dengan pemandangan indah dan masa kebahagiaan kami banyak yang terlewat dari lensa Blackberry kami.
Hingga akhirnya kami telah melewati 3 hari di Bali dan harus segera meninggalkan pulau ini untuk kemudian memulai hari yang baru di Ibukota Negara (Jakarta) dalam sebuah bahtera rumah tangga. Rumah tangga Wardana Wardhani.
Seusai kami melangsungkan acara tersebut dan lumayan capai dalam melakukan bantu membantu membersihkan sisa sisa penghantar kebahagiaan. Kami menentukan untuk melakukan penyegaran jasmani dan rohani sekaligus melakukan liburan. Bali.
Sebenarnya perjalanan ini telah kami rencanakan jauh hari sebelum kami menjadi satu dalam sebuah naungan keluarga. Karen mengingat kami bukanlah orang yang dengan mudah menjentikkan jari untuk memperoleh rizki dari Alloh SWT. Demi menjangkau harga tiket pesawat yang relatif terjangkau untuk liburan ini.
Berangkat dari rumah masing-masing (mengingat rumah orang tua kami hanya berkisar 200 meter), pihak dari keluarga kami menghantarkan kami dan melepas kepergian kami dengan kebahagiaan dan harapan di Stasiun Wates. Ya, perjalanan kami menuju Bandara Adi Sutjipto kami tempuh dengan menggunakan Kereta Prambanan Ekspres atau lebih dikenal dengan sebutan Prameks. Kebetulan saat itu flight pesawat Garuda Indonesia dari Yogyakarta menuju Bali berada pada pukul 08.15 dengan batas waktu untuk check in adalah pukul 07.45. Dengan perhitungan yang tepat Prameks mengantarkanku tepat pada pukul 07.15 sampai di Stasiun Maguwo (stasiun ini hanya berjarak 100 meter dari airport).
Dengan langkah tersenyum kami bergegas menuju counter check in untuk pengurusan administrasi penerbangan. Karena kemudian dirasa waktu masih lama, dan berhubungan kami memang belum sarapan akhirnya kami memutuskan untuk sarapan di salah satu tempat makan di bandara tersebut. Setelah beberapa kunyahan makanan tersebut masuk ke dalam mulut kami akhirnya kami berberes diri dan akhirnya menuju ruang tunggu mengingat ada pengumuman yang menyatakan bahwa pesawat kami telah dinyatakan boarding dan para penumpang dipersilakan untuk naik ke dalam pesawat.
Di dalam pesawat kami bersendau gura layaknya pengantin baru, ya kami memang masih pengantin baru...hehehe. Pemandangan di luar jendela menjadi sangat indah ketika aku melihat bayangan istriku sebelum aku menembus kaca jendela pesawat itu. Beberapa menit berada di dalam pesawat akhirnya pesawat melewati areal Pegunungan Bromo, sang pilot menjelaskan sedikit tentang kisah Gunung Bromo ini.
Tak berapa lama kemudian pesawat mulai turun dari ketinggian 25.000 kaki karena dinyatakan telah akan mendarat. Memang tak berapa lama kemuian pesawat medarat tepat di Bandara Ngurah Rai Bali. Jujur Bali bukan merupakan tempat yang begitu asing untukku, karena beberapa perjalanan dinas dari kantorku telah menghafalkanku tentang Pulau Bali ini. Aku pun sudah punya kenalan rental mobil dan motor di pulau tersebut. Sehingga tanpa susah payah kami sudah segera mendapatkan sewa sepeda motor setiba aku di Pulau Bali, serta dicarikan hotel yang sesuai dengan budget yang telah kami sebutkan sebelumnya.
Format dari bulan madu kami ini adalah format backpacker (maunya sih gitu), dengan menyewa motor kami berniat untuk melakukan perjalanan ke beberapa tempat di Pulau Bali. Dengan sedikit banyak wawasanku tentang Bali, maka aku perkenalkana pula daerah daerah yang aku mengerti kepada istriku. Dan kebetulan pula istriku memiliki teman kerja yang berdinas di Pulau Bali. Jadi kami tidak terlalu kerepotan dalam menentukan kemana kami harus menuju. Hanya saja dengan cuaca Bali yang tropis sering kali menjadikan kami untuk lebih betah berada di dalam kamar hotel.
Beberapa gambar yang kemudian menjadi saksi bulan madu kami berhasil kami abadikan dalam sebuah rentetan foto yang hanya kami ambil dari kamera handphone (kebetulan si pocket camera lupa tiada dibawa).
Hotel dengan rate kamar Rp 250.000,00 per malam yang terkadang sering memanjakan kami dengan suhu kamar yang menggelayuti kami seolah tiada boleh pergi dari kamar ini.
Garuda Wishnu Kencana
The Mother Of Pura in Bali ... Besakih
Danau Kintamani / Danau Batur
Sebenarnya ada spot spot yang menarik namun karena kami saking terkesimanya dengan pemandangan indah dan masa kebahagiaan kami banyak yang terlewat dari lensa Blackberry kami.
Hingga akhirnya kami telah melewati 3 hari di Bali dan harus segera meninggalkan pulau ini untuk kemudian memulai hari yang baru di Ibukota Negara (Jakarta) dalam sebuah bahtera rumah tangga. Rumah tangga Wardana Wardhani.
Posted by
Andhika Willy Wardana
Jam
08:47
Thursday, 21 June 2012
The Wedding Day
Sabtu Pahing tanggal 2 Juni 2012 pukul 09.00. Adalah waktu yang terpilih untuk dijadikan hari pernikahanku dengan calon istriku. Yessi Puspita Wardhani dan Andhika Willy Wardana. Sekilas tiada tergambar makna dari hari dan tanggal yang dipilih tersebut. Namun di balik pemilihan hari tersebut ada makna yang terkkandung di dalamnya. Yang pertama menjadi alasan dipilihnya hari itu beberapa hari yang lalu saat aku melamar calon istriku. Adalah hari ulang tahun calon istriku yang jatuh pada tanggal 2 Juni. Dan entah tanpa kesengajaan, tanggal 2 Juni 2012 jatuh pada hari pasaran Sabtu Pahing. Sabtu pahing adalah hari pasaran kelahiranku.
Setelah beberapa waktu yang lalu aku dan calon istriku mempersiapkan diri (tentunya beserta keluarga). Akhirnya datang pula hari ini. Sabtu 2 Juni 2012.
Karena jarak rumahku dengan rumah calon istriku (yah sekitar 200 meter saja), aku dan rombongan dari rumahku cukup melenggangkan kaki untuk menuju kediaman keluarga calon istriku. Beberapa orang membawa tatakan oleh oleh dan untuk maharnya sendiri dibawa oleh bulikku.
Perlahan tapi pasti aku dan rombongan bergerak mendekat. Perlahan pula aku melihat betapa riuhnya kediaman calon istriku. Aku mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja putih serta dasi abu abu bergaris biru. Aku beberapa kali diperingatkan oleh rombongan untuk tidak berjalan cepat. Tapi entahlah mungkin karena sudah merupakan kebiasaanku berjalan cepat.
Akhirnya pun setelah berjabat tangan dengan beberapa orang yang telah ditunjuk menjadi among tamu atau penyambut tamu, aku sampai di tempat duduku yang memang secara khusus disediakan untuk aku dan calon istriku. Calon istriku mengenakan kebaya muslim warna putih dihiasi beberapa untaian bunga melati. Cantik saat itu (sampai sekarang pun masih cantik kok istriku).
Sayup sayup namun pasti terdengar suara sang penghulu memberikan petunjuk dan arahan untuk aku dan wali dari calon istriku yang tiada lain adalah ayah dari calon istriku dan merupakan calon ayah mertuaku.
Setelah beberapa pengantar, waktunya datang juga. Pengucapan akad nikah atau ijab qobul. Pada saat itu telah dipilih bahwa akad nikah menggunakan bahasa jawa. Dan alhamdulillah karena kebetulan aku lahir dan telah lama tinggal di kawasan orang orang yang berbahasa jawa, aku dapat dengan lancar mengucapkan akda nikah dalam bahasa jawa tersebut tanpa membaca teks dan alhamdulillah tanpa ada pengulangan.
Banyak mata mata tertuju saat aku mengucapkan akad nikah itu. Suara lantang sang calon ayah mertua menegaskanku untuk bebricara lantang saat aku mengucapkan akad nikah tersebut.
Dua tangan menyeka wajah ketika aku selesai mengucapkannya. Alhamdulillah...
Setelah beberapa waktu yang lalu aku dan calon istriku mempersiapkan diri (tentunya beserta keluarga). Akhirnya datang pula hari ini. Sabtu 2 Juni 2012.
Karena jarak rumahku dengan rumah calon istriku (yah sekitar 200 meter saja), aku dan rombongan dari rumahku cukup melenggangkan kaki untuk menuju kediaman keluarga calon istriku. Beberapa orang membawa tatakan oleh oleh dan untuk maharnya sendiri dibawa oleh bulikku.
Perlahan tapi pasti aku dan rombongan bergerak mendekat. Perlahan pula aku melihat betapa riuhnya kediaman calon istriku. Aku mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja putih serta dasi abu abu bergaris biru. Aku beberapa kali diperingatkan oleh rombongan untuk tidak berjalan cepat. Tapi entahlah mungkin karena sudah merupakan kebiasaanku berjalan cepat.
Akhirnya pun setelah berjabat tangan dengan beberapa orang yang telah ditunjuk menjadi among tamu atau penyambut tamu, aku sampai di tempat duduku yang memang secara khusus disediakan untuk aku dan calon istriku. Calon istriku mengenakan kebaya muslim warna putih dihiasi beberapa untaian bunga melati. Cantik saat itu (sampai sekarang pun masih cantik kok istriku).
Sayup sayup namun pasti terdengar suara sang penghulu memberikan petunjuk dan arahan untuk aku dan wali dari calon istriku yang tiada lain adalah ayah dari calon istriku dan merupakan calon ayah mertuaku.
Setelah beberapa pengantar, waktunya datang juga. Pengucapan akad nikah atau ijab qobul. Pada saat itu telah dipilih bahwa akad nikah menggunakan bahasa jawa. Dan alhamdulillah karena kebetulan aku lahir dan telah lama tinggal di kawasan orang orang yang berbahasa jawa, aku dapat dengan lancar mengucapkan akda nikah dalam bahasa jawa tersebut tanpa membaca teks dan alhamdulillah tanpa ada pengulangan.
Banyak mata mata tertuju saat aku mengucapkan akad nikah itu. Suara lantang sang calon ayah mertua menegaskanku untuk bebricara lantang saat aku mengucapkan akad nikah tersebut.
Dua tangan menyeka wajah ketika aku selesai mengucapkannya. Alhamdulillah...
Posted by
Andhika Willy Wardana
Jam
10:41
Monday, 11 June 2012
Detik Detik Menjelang The Big Day
Masa masa itu menjelang juga. Masa masa di mana aku akan berstatus menikah. Masa masa auku akan menjadi seorang pemimpin keluarga. Menjadi seorang suami dari seorang istri. Menjadi seorang imam dari seorang makmum. Mengambil anak dari keluarga yang berbeda untuk hidup bersamaku. Mengarungi riak riak kehiduapn ini.
Ijab qobul a.k.a akad nikah insyaAlloh akan dilaksanakan pada tanggal 2 Juni 2012 (sudah berlalu sih sebnarnya waktu itu, cuma baru kesampaian postingnya). Lalu aku mulai ambil cuti pada tanggal 26 Mei 2012. Mungkin sebagian orang bilang kalau aku mengambil cuti terlalu lama di depan. Tidakkah begitu?tentu tidak, karena acara hajatan di desa itu membutuhkan beberapa hari untuk persiapan (tanpa mengingkari kalau hajatan pernikahan di kota juga membutuhkan waktu persiapan. Tapi karena beberapa item di rumah desa musti ngurusin sendiri dan jujur agak rempong yah jadinya musti cuti agak lama di depan. Lagian biar tampak fresh pula tatkala duduk di pelaminan. Kan istirahat lama di rumah yang notabene sebuah pedesaan yang minim polusi (selain orang bakar sampah dan asap knalpot sepeda motor.
Perlahan tapi pasti, detik detik itu kurasakan. Senin, Selasa terasa masih agak biasa. Tapi begitu memulai masuk hari Rabu, mulai kerasa deg deg an, grogi untuk hari sabtu sudah menggelora. Bahkan ada sedikit rasa tak rela melepas masa masa jejaka. Tapi dalam hati tetap mantap untuk mensegerakan datangnya hari Sabtu.
Ikrar ijab qobul sudah ada di tangan dan alhamdulillah sudah aku hafal. Yah, karena memang aku berasal dari salah satu desa yang berada di wilayah propinsi Yogyakarta. Maka diputuskan untuk melafalkan akad nikah dengan menggunakan bahasa Jawa. "Kula tampi nikahipun sedherek .... binti .... angsal kula Andhika Willy Wardana ... kanthi mas kawin kasebat kontan" Begitulah bunyi rapalan ijab qobul yang garis besarnya akan aku ucapkan nanti tatkala aku berjabat tangan dengan ayah dari calon istriku. Dan memang alhamdulillah pada kesempatan kali ini ayah dari calon istriku sendiri yang akan menikahkanku.
Detik detik ini terasa, dan aku mulai berpikir keras untuk ayolah segera hari sabtu. Segeralah lewati hari itu dan aku akan secara gagah mengucapkan ikrar ijab qobul itu.
Ijab qobul a.k.a akad nikah insyaAlloh akan dilaksanakan pada tanggal 2 Juni 2012 (sudah berlalu sih sebnarnya waktu itu, cuma baru kesampaian postingnya). Lalu aku mulai ambil cuti pada tanggal 26 Mei 2012. Mungkin sebagian orang bilang kalau aku mengambil cuti terlalu lama di depan. Tidakkah begitu?tentu tidak, karena acara hajatan di desa itu membutuhkan beberapa hari untuk persiapan (tanpa mengingkari kalau hajatan pernikahan di kota juga membutuhkan waktu persiapan. Tapi karena beberapa item di rumah desa musti ngurusin sendiri dan jujur agak rempong yah jadinya musti cuti agak lama di depan. Lagian biar tampak fresh pula tatkala duduk di pelaminan. Kan istirahat lama di rumah yang notabene sebuah pedesaan yang minim polusi (selain orang bakar sampah dan asap knalpot sepeda motor.
Perlahan tapi pasti, detik detik itu kurasakan. Senin, Selasa terasa masih agak biasa. Tapi begitu memulai masuk hari Rabu, mulai kerasa deg deg an, grogi untuk hari sabtu sudah menggelora. Bahkan ada sedikit rasa tak rela melepas masa masa jejaka. Tapi dalam hati tetap mantap untuk mensegerakan datangnya hari Sabtu.
Ikrar ijab qobul sudah ada di tangan dan alhamdulillah sudah aku hafal. Yah, karena memang aku berasal dari salah satu desa yang berada di wilayah propinsi Yogyakarta. Maka diputuskan untuk melafalkan akad nikah dengan menggunakan bahasa Jawa. "Kula tampi nikahipun sedherek .... binti .... angsal kula Andhika Willy Wardana ... kanthi mas kawin kasebat kontan" Begitulah bunyi rapalan ijab qobul yang garis besarnya akan aku ucapkan nanti tatkala aku berjabat tangan dengan ayah dari calon istriku. Dan memang alhamdulillah pada kesempatan kali ini ayah dari calon istriku sendiri yang akan menikahkanku.
Detik detik ini terasa, dan aku mulai berpikir keras untuk ayolah segera hari sabtu. Segeralah lewati hari itu dan aku akan secara gagah mengucapkan ikrar ijab qobul itu.
Posted by
Andhika Willy Wardana
Jam
15:50
the Last Day in Korea (episode 4)
Akhirnya perjalanan waktu ku mengikuti kegiatan Merger Workshop di Pulau Jeju, Korea menapaki pada akhir akhir masa. Akhir akhir masa aku menikmati gelapnya matahari di negeri tetangga. Beberapa hari di negeri dengan bendera Taegukgi cukup membuatku merindukan negeri asalku. Indonesia. Bahkan aku rindu kolotnya pemikiran pemikiranku dan ndesonya lingkunganku di kampung nun jauh di sana. Girinyono, Sendangsari, Pengasih, Kulonprogo.
Dengan beberapa masakan di sini yang rata rata tidak aku jumpai waktu aku kecil dulu. Nasi? ada sih cuma lauknya aja yang berbeda. citarasa masakan di sini pun berbeda ding. Kimci, seafood dan beberapa masakan yang terkadang disajikan dalam kondisi mentah atau setengah matang. Meski tak dapat aku pungkiri aku rindu dengan panasnya cuaca di Indonesia, hiruk pikuk manusia yang tiada teratur menapaki setiap kehidupan. Apalagi di Jakarta. Tapi aku akui aku rindu itu. Benar juga kata Mbak Lili (salah seorang seniorku di tempat aku bekerja). Bahwa sebagus apapun negeri orang pasti akan merindukan negeri sendiri.
Tapi paling tidak, perjalanan dinas kali ini membawa kesan tersendiri bagiku. Di mana aku bisa mengeksplore beberapa pengetahuan yang dimiliki oleh utusan utusan dari berbagai negara terkait regulasi tentang merger yang berlaku di negara mereka masing masing. Meskipun sebenarnya aku bisa mendapatkannya di website atau internet yang sering disebut sebagai jendela dunia. Tapi paling tidak, aku bisa bercakap-cakap dengan mereka secara langsung. Meski dengan logat bahasa Inggrisku yang kuentel dengan logat bahasa Jawa. hahahaha...dasar ndeso..
Sebagai oleh oleh hari terakhir, ternyata sang fotografer yang punya gawe memiliki misi untuk mengambil foto dari peserta workshop secara sembunyi sembunyi alias candid. Dan ternyata hasilnya bagus juga loh...hihihi entahlah emang kalao aku sendiri kalau dipoto dalam kondisi berpose hasilnya malah tak seindah aslinya alias lebih buruk dari kenyataannya. Emang aslinya juga gak bagus ding. Sebagai gambarannya berikut adalah foto yang diambil oleh sang fotografi.
Nah kalau tidak salah foto itu diambil saat peserta workshop sedang dalam agenda cofeebreak. Itu seseorang yang berjilbab putih dalam foto itu adalah Mbak Lili, iya dia saja yang mengenakan jilbab dalam workshop tersebut. Sampai Mr Jamal yang berasal dari Pakistan terpesona. hihihi..piss...
Oke perjalanan kemudian dilanjutkan sama persis ketika aku berangkat. Hanya saja dibalik. Dan untuk perjalanan pulang sampai di Bandara Incheon aku berdua saja dengan Mbak Wulan karena jadwal penerbangan Mbak LIli dan Mas Mulyawan dari Pulau Jeju berbeda atau selisih kurang lebih satu jam saja. Namun sayang sekali kami tidak sempat untuk mampir ke tempat perbelanjaan oleh oleh. Meskipun di bandara terdapat beberapa toko yang menjual oleh oleh dengan harga nominal yang sampai 5 kali lipat dari harga normal atau aslinya.
Beli sedikit oleh oleh untuk yang dirumah.
Selamat tinggal Korea..and I have to say that I love Indonesia so much...
Dengan beberapa masakan di sini yang rata rata tidak aku jumpai waktu aku kecil dulu. Nasi? ada sih cuma lauknya aja yang berbeda. citarasa masakan di sini pun berbeda ding. Kimci, seafood dan beberapa masakan yang terkadang disajikan dalam kondisi mentah atau setengah matang. Meski tak dapat aku pungkiri aku rindu dengan panasnya cuaca di Indonesia, hiruk pikuk manusia yang tiada teratur menapaki setiap kehidupan. Apalagi di Jakarta. Tapi aku akui aku rindu itu. Benar juga kata Mbak Lili (salah seorang seniorku di tempat aku bekerja). Bahwa sebagus apapun negeri orang pasti akan merindukan negeri sendiri.
Tapi paling tidak, perjalanan dinas kali ini membawa kesan tersendiri bagiku. Di mana aku bisa mengeksplore beberapa pengetahuan yang dimiliki oleh utusan utusan dari berbagai negara terkait regulasi tentang merger yang berlaku di negara mereka masing masing. Meskipun sebenarnya aku bisa mendapatkannya di website atau internet yang sering disebut sebagai jendela dunia. Tapi paling tidak, aku bisa bercakap-cakap dengan mereka secara langsung. Meski dengan logat bahasa Inggrisku yang kuentel dengan logat bahasa Jawa. hahahaha...dasar ndeso..
Sebagai oleh oleh hari terakhir, ternyata sang fotografer yang punya gawe memiliki misi untuk mengambil foto dari peserta workshop secara sembunyi sembunyi alias candid. Dan ternyata hasilnya bagus juga loh...hihihi entahlah emang kalao aku sendiri kalau dipoto dalam kondisi berpose hasilnya malah tak seindah aslinya alias lebih buruk dari kenyataannya. Emang aslinya juga gak bagus ding. Sebagai gambarannya berikut adalah foto yang diambil oleh sang fotografi.
Nah kalau tidak salah foto itu diambil saat peserta workshop sedang dalam agenda cofeebreak. Itu seseorang yang berjilbab putih dalam foto itu adalah Mbak Lili, iya dia saja yang mengenakan jilbab dalam workshop tersebut. Sampai Mr Jamal yang berasal dari Pakistan terpesona. hihihi..piss...Oke perjalanan kemudian dilanjutkan sama persis ketika aku berangkat. Hanya saja dibalik. Dan untuk perjalanan pulang sampai di Bandara Incheon aku berdua saja dengan Mbak Wulan karena jadwal penerbangan Mbak LIli dan Mas Mulyawan dari Pulau Jeju berbeda atau selisih kurang lebih satu jam saja. Namun sayang sekali kami tidak sempat untuk mampir ke tempat perbelanjaan oleh oleh. Meskipun di bandara terdapat beberapa toko yang menjual oleh oleh dengan harga nominal yang sampai 5 kali lipat dari harga normal atau aslinya.
Beli sedikit oleh oleh untuk yang dirumah.
Selamat tinggal Korea..and I have to say that I love Indonesia so much...
Posted by
Andhika Willy Wardana
Jam
10:07
Wednesday, 9 May 2012
Cultural Tour (Episode 3)
Hari ini adalah hari ketiga aku berada di Korea bersama beberapa orang dari beberapa negara pula. Seperti biasa hari ini diisi dengan agenda presentasi dan acara diskusi tentang merger mobile phone. Yang menarik adalah, pada kesempatan ini penyelenggaran workshop memberikan agenda untuk melakukan culutral tour. Mungkin selain untuk memberikan penyegaran kepada para peserta workshop, penyelenggara hendak ingin memperkenalkan keindahan pulau Jeju ini kepada para peserta mengingat pulau ini pernah bersaing untuk memperoleh kategori 7 wonder (kalau tidak salah bersaing dengan naga di Indonesia yang tidak lain adalah Komodo).Sepintas kemudian iseng aku mencari latar belakang keberadaan pulau Jeju ini, ternyata dulu di pulau terdapat penduduk wanita yang terkenal dengan penyelam wanita yang ikut melakukan perjuangan takala terjadi penjajahan di negara Korea ini. Katanya sih dulu negara ini pernah mengalami pembantaian rakyat yang bersejarah. Bahkan sampai sampai rakyat Pulau Jeju memiliki pepatah bahwa kebahagiaan itu seperti butir pasir sedangkan kesedihan itu sebesar batu karang.Hmmm.. tapi itu dulu, saat ini rakyat Jeju memang benar benar bangkit. Seiring dengan perkembanagn dari negara Korea sendiri yang agak pesat.
Nah kemudian kali ini kami berangkat dari hotel (setelah agenda formal selesai) pada pukul 13.20 waktu setempat menggunakan bus yang sudah disiapkan sebelumnya. Dari Bus tersebut rencananya kami akan menuju beberapa lokasi yang relatif mudah dijangkau dari hotel dan mungkin saja memiliki nilai keindahan tersendiri. Bus ini seolah olah sama dengan bus bus yang ada di Indonesia. Namun sungguh bus ini benar benar nyaman. Hampir sama dengan limousine bus yang aku naiki dari bandara Incheon kemarin.
Kemudian tujuan pertama kami adalah Cheonjeyeon Falls. Tempat tersebut merupakan sebuah tempat wisata yag terdiri dari sebuah anak tangga yang menyusui meiringnya kontur tanah kemudian mengantarkan kami kepada sebuah air terjun yang mungkin sedikit lebar kurang lebih ada kali ya sekitar 20 meter.
Sebenarnya aku memiliki banyak foto di objek air terjun tersebut, namun karena ku pikir tidak semua foto harus aku tampilkan jadi aku rasa tiga foto di atas sudah cukup mewakili gambaran dari air terjun tersebut.
Kemudian tujuan kami berikutnya adalah Botanica Garden. Sebuah kebun buatan yang berada di dalam sebuah bangunan mirip kubah (kalau sekilas melihat mirip dengan taman menteng yang ada di Jakarta). Setelah kemudian melihat sepintas dari luar, dan terasa udara sejuk (sesejuk bandung mungkin) lalu kami beranjak untuk masuk ke dalam kubah tersebut. Berbagai tanaman terbentang di dalamnya, dan pada saat aku mengambil gambar dari salah satu tanaman yang dijuluki tanaman Kantong Semar (kalau di Indonesia) salah seorang peserta yang berasal dari Korea mengatakan, "mengapa anda mengambil foto untuk tanaman ini, bukankah tanaman ini berasal dari Indonesia?". Oh iya bisikku dalam hati benar juga ya tanaman seperti ini amat banyak ada di Indonesia. Bahkan tiada perlu ke taman atau cagar alam mungkin ada rumahan yang menanam jenis tamanan ini. Setelah itu kemudian kami mengeksplorasi dalemannya kebun tersebut. Persis, semua tanaman tropis yang terdapat atau ada di negara ku negara Indonesia, hanya saja mungkin beberapa tanaman kaktus yang bukan merupakan jenis tanaman yang ada di negaraku.
Kemudian selanjutnya, hal yang tiada pernah ku bayangkan sebelumnya..aku atau kami tepatnya diberikan kesempatan untuk menaiki yatch. Bagi yang belum mengerti apa itu yatch, Yatch adalah sebuah kapal yang pada umumnya digunakan oleh orang kaya untuk menghabiskan waktunya. Sebuah kapal yang memiliki desain unik dan memiliki bentangan layar di atasnya. Tentu saja bukan layar yang sederhana, melainkan layar yang digunakan apabila sang empunya kapal ingin menikmati sepoinya angin laut, terobang-ambing dalam angin dan ombak. Tiada pernah ku sangka aku bakal bisa menaiki kendaraan laut jenis ini. Bahkan ketika yatch ini beranjak perlahan aku teringat akan kedua orang tua ku yang entah bagaiana mereka senantiasa mendoakanku sehingga aku dapat merasakan hal hal seperti ini. Perlahan yatch berjalan dan mematikan mesinnya. Berganti dengan layar yang berkembang di atasnya. Terombang-ambing, yah terombang ambing. Oh iya yatch ini juga mengantarkan kami pada pemandangan indah batuan karang yang terbentuk dari erupsi yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Entah jutaan, ratusan, atau puluhan tahun yang lalu. Namun hasilnya memang begitu indah, seperti balok balok batu yang sengaja dibentuk, namun anehnya mereka asli buaan alam (tentu saja atas kehendak Tuhan)Pada saat terombang ambing itu aku juga berkesampatan untuk melakukan kegiatan memancing ikan. Jujur memang beberapa tahun yang lalu memancing adalah aktifitas rutinku setiap akhir pekan. Namun aku belum pernah merasakan sensasi memancing di laut apalagi di atas yacth seperti ini. Ternyata tidak mudah memancing di atas yatch yang terombang ambing angin dan ombak. Hal itu dibuktikan dengan tiada nya ikan yang berhasil tertambat di kait pancingku. Akhirnya dengan bantuan dari kru yatch tersebut aku mendapatkan satu ika, entah ikan apa tapi kalau melihat dari bentuknya dan aku bandingkan dengan ikan yang pernah aku lihat di televisi sepertinya itu adalah kakap merah. Beberapa waktu kemudian kami dipersilahkan untuk menikmati hidangan khas Jeju di dalam yatch tersebut. Wow...kami makan beberapa sushi di atas yatch.
Setelah akhirnya angin menerpa layar dan mengantarkan kami mendekati dermaga, akhirnya layar mulai diturunkan dan digantikan dengan deru mesin diesel yang memutar kincir untuk mengantarkan kami kembali ke dermaga alias daratan. Tak lama berselang akhirnya kami sampai dan merapat di dermaga. Setelah kami melepaskan jaket pengaman yang memiliki fungsi untuk mengapungkan diri apabila kami tercebur ke dalam laut, kami dipersilahkan untuk makan malam. Meskipun langit cerah dan matahari bersinar mereka menyebutnya sebagai makan malam.
Di sinilah kami melakukan makan malam. Seperti biasa menu menu di sini tentu saja menu khas korea, seafood, dan kimci tentu saja.
Hoaahhmmm... ngantuk..tulisan ini aku buat pada pukul 24.00 waktu setempat. Lumayan agak capai karena hampir seharian kami melakukan perjalanan. Oh iya lupa, setelah dari tempat makan tadi kami dihantarkan ke tempat belanja. Girang dalam hati ini, terbesit dalam pikiran kami akan berbelanja pernak pernik atau cinderamata khas Jeju atau paling tidak khas Korea. Namun ternyata tebakan kami salah, kami dihantarkan pada sebuah modern supermarket. Yah..kalau di Indonesia seperti Carrefour atau Hypermart, sejenis itulah pokoknya. Wal hasil tentu saja dapat ditebak, barang barang yang dijual adalah barang barang kebutuhan sehari hari. Keuciiiiwaaa,.... tentu saja karena sebenarnya banyak pernak pernik yang harus kami beli sebagai tanda mata atau oleh oleh untuk masing masing kolega kami di negara masing-masing. Tapi karena kondisinya seperti itu, yah mau bagaimana lagi akhirnya kami berbelanja ala kadarnya. Dan setelah satu jam berselang akhirnya kami kembali ke Hotel.
Nah kemudian kali ini kami berangkat dari hotel (setelah agenda formal selesai) pada pukul 13.20 waktu setempat menggunakan bus yang sudah disiapkan sebelumnya. Dari Bus tersebut rencananya kami akan menuju beberapa lokasi yang relatif mudah dijangkau dari hotel dan mungkin saja memiliki nilai keindahan tersendiri. Bus ini seolah olah sama dengan bus bus yang ada di Indonesia. Namun sungguh bus ini benar benar nyaman. Hampir sama dengan limousine bus yang aku naiki dari bandara Incheon kemarin.
Kemudian tujuan pertama kami adalah Cheonjeyeon Falls. Tempat tersebut merupakan sebuah tempat wisata yag terdiri dari sebuah anak tangga yang menyusui meiringnya kontur tanah kemudian mengantarkan kami kepada sebuah air terjun yang mungkin sedikit lebar kurang lebih ada kali ya sekitar 20 meter.
Sebenarnya aku memiliki banyak foto di objek air terjun tersebut, namun karena ku pikir tidak semua foto harus aku tampilkan jadi aku rasa tiga foto di atas sudah cukup mewakili gambaran dari air terjun tersebut.
Kemudian tujuan kami berikutnya adalah Botanica Garden. Sebuah kebun buatan yang berada di dalam sebuah bangunan mirip kubah (kalau sekilas melihat mirip dengan taman menteng yang ada di Jakarta). Setelah kemudian melihat sepintas dari luar, dan terasa udara sejuk (sesejuk bandung mungkin) lalu kami beranjak untuk masuk ke dalam kubah tersebut. Berbagai tanaman terbentang di dalamnya, dan pada saat aku mengambil gambar dari salah satu tanaman yang dijuluki tanaman Kantong Semar (kalau di Indonesia) salah seorang peserta yang berasal dari Korea mengatakan, "mengapa anda mengambil foto untuk tanaman ini, bukankah tanaman ini berasal dari Indonesia?". Oh iya bisikku dalam hati benar juga ya tanaman seperti ini amat banyak ada di Indonesia. Bahkan tiada perlu ke taman atau cagar alam mungkin ada rumahan yang menanam jenis tamanan ini. Setelah itu kemudian kami mengeksplorasi dalemannya kebun tersebut. Persis, semua tanaman tropis yang terdapat atau ada di negara ku negara Indonesia, hanya saja mungkin beberapa tanaman kaktus yang bukan merupakan jenis tanaman yang ada di negaraku.
Kemudian selanjutnya, hal yang tiada pernah ku bayangkan sebelumnya..aku atau kami tepatnya diberikan kesempatan untuk menaiki yatch. Bagi yang belum mengerti apa itu yatch, Yatch adalah sebuah kapal yang pada umumnya digunakan oleh orang kaya untuk menghabiskan waktunya. Sebuah kapal yang memiliki desain unik dan memiliki bentangan layar di atasnya. Tentu saja bukan layar yang sederhana, melainkan layar yang digunakan apabila sang empunya kapal ingin menikmati sepoinya angin laut, terobang-ambing dalam angin dan ombak. Tiada pernah ku sangka aku bakal bisa menaiki kendaraan laut jenis ini. Bahkan ketika yatch ini beranjak perlahan aku teringat akan kedua orang tua ku yang entah bagaiana mereka senantiasa mendoakanku sehingga aku dapat merasakan hal hal seperti ini. Perlahan yatch berjalan dan mematikan mesinnya. Berganti dengan layar yang berkembang di atasnya. Terombang-ambing, yah terombang ambing. Oh iya yatch ini juga mengantarkan kami pada pemandangan indah batuan karang yang terbentuk dari erupsi yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Entah jutaan, ratusan, atau puluhan tahun yang lalu. Namun hasilnya memang begitu indah, seperti balok balok batu yang sengaja dibentuk, namun anehnya mereka asli buaan alam (tentu saja atas kehendak Tuhan)Pada saat terombang ambing itu aku juga berkesampatan untuk melakukan kegiatan memancing ikan. Jujur memang beberapa tahun yang lalu memancing adalah aktifitas rutinku setiap akhir pekan. Namun aku belum pernah merasakan sensasi memancing di laut apalagi di atas yacth seperti ini. Ternyata tidak mudah memancing di atas yatch yang terombang ambing angin dan ombak. Hal itu dibuktikan dengan tiada nya ikan yang berhasil tertambat di kait pancingku. Akhirnya dengan bantuan dari kru yatch tersebut aku mendapatkan satu ika, entah ikan apa tapi kalau melihat dari bentuknya dan aku bandingkan dengan ikan yang pernah aku lihat di televisi sepertinya itu adalah kakap merah. Beberapa waktu kemudian kami dipersilahkan untuk menikmati hidangan khas Jeju di dalam yatch tersebut. Wow...kami makan beberapa sushi di atas yatch.
Setelah akhirnya angin menerpa layar dan mengantarkan kami mendekati dermaga, akhirnya layar mulai diturunkan dan digantikan dengan deru mesin diesel yang memutar kincir untuk mengantarkan kami kembali ke dermaga alias daratan. Tak lama berselang akhirnya kami sampai dan merapat di dermaga. Setelah kami melepaskan jaket pengaman yang memiliki fungsi untuk mengapungkan diri apabila kami tercebur ke dalam laut, kami dipersilahkan untuk makan malam. Meskipun langit cerah dan matahari bersinar mereka menyebutnya sebagai makan malam.
Di sinilah kami melakukan makan malam. Seperti biasa menu menu di sini tentu saja menu khas korea, seafood, dan kimci tentu saja.
Hoaahhmmm... ngantuk..tulisan ini aku buat pada pukul 24.00 waktu setempat. Lumayan agak capai karena hampir seharian kami melakukan perjalanan. Oh iya lupa, setelah dari tempat makan tadi kami dihantarkan ke tempat belanja. Girang dalam hati ini, terbesit dalam pikiran kami akan berbelanja pernak pernik atau cinderamata khas Jeju atau paling tidak khas Korea. Namun ternyata tebakan kami salah, kami dihantarkan pada sebuah modern supermarket. Yah..kalau di Indonesia seperti Carrefour atau Hypermart, sejenis itulah pokoknya. Wal hasil tentu saja dapat ditebak, barang barang yang dijual adalah barang barang kebutuhan sehari hari. Keuciiiiwaaa,.... tentu saja karena sebenarnya banyak pernak pernik yang harus kami beli sebagai tanda mata atau oleh oleh untuk masing masing kolega kami di negara masing-masing. Tapi karena kondisinya seperti itu, yah mau bagaimana lagi akhirnya kami berbelanja ala kadarnya. Dan setelah satu jam berselang akhirnya kami kembali ke Hotel.
Posted by
Andhika Willy Wardana
Jam
22:21
Tuesday, 8 May 2012
Korea Hari Kedua (Edisi Kedua)
Setelah kemarin aku menceritakan tentang perjalanan menuju Korea hingga akhirnya sampai di hotel akhirnya kali ini aku akan bercerita lagi tentang hari kedua di Korea. Oh iya sebelumnya aku belum bercerita ya kalau pada kesempatan kali ini aku menginap di Haevichi Hotel & Resort Jeju, Korea. Jadi nih hotel terletak di sebuah pulau kecil itu yang namanya Jeju Island (pulau yang sekaligus enjadi tempat pertemuan kami dengan beberapa negara anggota OECD). Jadi hotel ini berada beberapa ratus meter dari bir pantai, entahlah aku lupa belum bertanya apa nama pantainya. Tapi pantainya konturnya bukanlah pasir melainkan bebatuan karang gitu.
Sepintas terlihat sih nih hotel wah banget,,ya iya lah secara acara international gini gak mungkin pake hotel ecek-ecek yang notabene mencari margin dari selisih harga hotel (ups...mengutip istilah dari beberapa berita di negeriku yang sedang banyak membahas tentang perjalanan dinas pegawai negara).
Dan kebetulan pula aku mendapat kamar di lantai 7 yang secara langsung menghadap langsung ke pantai. Angin sepoi sepoi yang memilikii suhu lebih dingin daripada suhu di dalam kamar yang sejak awalnya bersuhu 23 derajat membuatku kemudian memilih untuk menutup jendela saja dan menaikkan suhu ruangan kamar menjadi sekitar 28 derajat. Kebetulan waktu ugah agak sore sekitar jam 15.00 waktu setempat, tapi saat itu alangkah bahagianya mendapati kasur empuk nan menggirukan untuk dipeluk dan dibawa ke alam mimpi. Lalu terbaringlah aku kemudian diatasnya hingga sekitar pukul 17.30 waktu setempat. Nyamaaaann banget seteah sekian jam tidak bertemu dengan yang namanya kasur. Setelah terjaga kemudian aku membasuh badan ini dengan air Korea...hihihi iya air Korea...setelah menjalankan ibadah sholat (setelah mendapatkan petunjuk arah kiblat dari kompas Mas Mul) akhirnya kami berempat (rombongan dari Indonesia) jalan-jalan menyusuri sekeliling pantai.
Hingga akhirnya kemudian waktu menunjukkan sudah malam dan matahari telah beranjak dari keheningan siang bersembunyi di belahan dunia yang lain, selain itu suhu udara semakin tidak bersahabat maka kami memutuskan kemudian untuk beranjak kembali ke kamar masing-masing karena besok acara workshop akan dimulai pada pagi harinya. Oh iya tai tentu belum lengkap kalau tak aku tunjukkan makanan di Korea bukan. Makanan khas Korea sih gak jauh jauh dari yang namanya Kimci, seafood dan babi. Kimci itu sejenis sayur sayuran yang difermentasi dan kemudian diberikan bumbu sehingga rasanya agak asam dan pedas, untuk seafood tentu saja sudah diketahui hanya saja tidak seperti di Indonesia, seafood di sini di makan tidak matang alias mendekati tidak diolah, yah sama dengan makanan jepang gitu deh yang sering kita sebut sushi sushi gitu.. untuk tampilannya liat ndiri aja deh. Eh tapi untuk babi aku tidak ada fotonya soalnya jujur aku bukan pemakan babi ya.. hehehehe...Ini adalah Kimci dan teman-temannya (ada jamur, teri, sayuran, nori basah)
Dan ini adalah sea foodnya... sudah direbus kalau yang ini karena aku juga tidak bisa makan sea food yang masih mentah. Isinya antara lain udang, kerang dan cumi cumi..tapi karena kemudian diberi bumbu seperti kangkung balacan jadi lidah ini sangat bisa menerima rasanya...
hehehe ditunggu episode episode hari hari di Korea selanjutnya yaaahhh....
Sepintas terlihat sih nih hotel wah banget,,ya iya lah secara acara international gini gak mungkin pake hotel ecek-ecek yang notabene mencari margin dari selisih harga hotel (ups...mengutip istilah dari beberapa berita di negeriku yang sedang banyak membahas tentang perjalanan dinas pegawai negara).
Dan kebetulan pula aku mendapat kamar di lantai 7 yang secara langsung menghadap langsung ke pantai. Angin sepoi sepoi yang memilikii suhu lebih dingin daripada suhu di dalam kamar yang sejak awalnya bersuhu 23 derajat membuatku kemudian memilih untuk menutup jendela saja dan menaikkan suhu ruangan kamar menjadi sekitar 28 derajat. Kebetulan waktu ugah agak sore sekitar jam 15.00 waktu setempat, tapi saat itu alangkah bahagianya mendapati kasur empuk nan menggirukan untuk dipeluk dan dibawa ke alam mimpi. Lalu terbaringlah aku kemudian diatasnya hingga sekitar pukul 17.30 waktu setempat. Nyamaaaann banget seteah sekian jam tidak bertemu dengan yang namanya kasur. Setelah terjaga kemudian aku membasuh badan ini dengan air Korea...hihihi iya air Korea...setelah menjalankan ibadah sholat (setelah mendapatkan petunjuk arah kiblat dari kompas Mas Mul) akhirnya kami berempat (rombongan dari Indonesia) jalan-jalan menyusuri sekeliling pantai.
Hingga akhirnya kemudian waktu menunjukkan sudah malam dan matahari telah beranjak dari keheningan siang bersembunyi di belahan dunia yang lain, selain itu suhu udara semakin tidak bersahabat maka kami memutuskan kemudian untuk beranjak kembali ke kamar masing-masing karena besok acara workshop akan dimulai pada pagi harinya. Oh iya tai tentu belum lengkap kalau tak aku tunjukkan makanan di Korea bukan. Makanan khas Korea sih gak jauh jauh dari yang namanya Kimci, seafood dan babi. Kimci itu sejenis sayur sayuran yang difermentasi dan kemudian diberikan bumbu sehingga rasanya agak asam dan pedas, untuk seafood tentu saja sudah diketahui hanya saja tidak seperti di Indonesia, seafood di sini di makan tidak matang alias mendekati tidak diolah, yah sama dengan makanan jepang gitu deh yang sering kita sebut sushi sushi gitu.. untuk tampilannya liat ndiri aja deh. Eh tapi untuk babi aku tidak ada fotonya soalnya jujur aku bukan pemakan babi ya.. hehehehe...Ini adalah Kimci dan teman-temannya (ada jamur, teri, sayuran, nori basah)
Dan ini adalah sea foodnya... sudah direbus kalau yang ini karena aku juga tidak bisa makan sea food yang masih mentah. Isinya antara lain udang, kerang dan cumi cumi..tapi karena kemudian diberi bumbu seperti kangkung balacan jadi lidah ini sangat bisa menerima rasanya...
hehehe ditunggu episode episode hari hari di Korea selanjutnya yaaahhh....
Posted by
Andhika Willy Wardana
Jam
18:41
Monday, 7 May 2012
Perjalanan ke Korea (Edisi 1)
Perjalanan dinas kali ini aku mendapat undangan dari OECD (Organisation for Co-Operation and Development) untuk menghadiri competition workshop yang diadakan di Jeju Island, Korea. Tentu saja hal ini merupakan pengalaman yang lumayan menggiurkan bagiku, bagaimana tidak sebelumnya aku belum pernah membayangkan bakalan pergi ke luar negeri. Meskipun sebelumnya aku pernah pergi ke Singapura, namun karena jarak yang terlampau dekat dengan Indonesia, berasa tidak berada di luar negeri. Yah..meskipun kondisi kehidupannya berbeda tapi masih terasa Indonesianya.
Perjalanan dinas kali ini sebenarnya memang rutin agenda di kantor ku, dan kebetulan karena ada prinsip untuk pemerataan pengalaman, tibalah untuk giliranku diberangkatkan. Tentu saja aku tidak sendiri ada rekan rekan yang menyertaiku kali ini. Bapak Mulyawan, Mbak Lili dan Mbak Wulan.
Oke, tak banyak mengoceh lagi. Berita dipilihnya aku untuk menjadi salah satu peserta untuk mengikuti workshop tersebut adalah setelah beberapa waktu yang lalu aku dipanggil oleh atasanku langsung (Ibu Dewi Sita Yuliani, yang biasa dipanggil Mbak Dewi). Dalam ruangan beliau dijelaskan pula bahwa kondisinya bla...bla...bla.. dan akhirnya masuklah namaku dalam daftar peserta yang aan mengikuti workshop tersebut.
Bahagia dan bangga? tentu saja...namun aku tiada terlalu berlebihan dalam menanggapinya (biasa aja yaahhh)
Persiapan demi persiapan untuk mengikuti acara tersebut sudah dimulai sejak hampir dua bulan sebelum hari H. Mengabarkan kepada orang tua (dan alhamdulillah mereka senang dan bangga anaknya yang dulu punya kerjaan menggembala kambing bisa terbang ke negeri antah berantah nun jauh.
Hari demi hari dilalui hingga akhirnya tiba juga saat persiapan. Alhamdulillah saat siang menjelang keberangkatan calon istriku membantu aku dalam mempacking barang-barang. Mulai dari baju sehari-hari, baju kerja (yang sebelumnya aku membelinya bersama calon istriku saat aku mudik ke kampung halaman beberapa waktu yang lalu, dan beberapa snack serta perlengkapan perlengkapan yang lain. Terima kasih ya De'....
Kemudian menyiapkan uang dengan mata uang Won Korea yang sebelumnya aku titip kepada Mbak Wulan untuk menukarkankan Rupiah dengan Won. Kalau tidak salah pada saat itu aku menukarkan Rp 510.000 dan hasilnya mendapatkan 50.000 Won Korea.
Perjalanan demi perjalanan pun dimulai kemudian. Dari berangkat menggunakan Taxi Bluebird dari kost an ku sesaat setelah menunaikan ibadah sholat maghrib, kemudian menghampiri Mbak Lili dan Mbak Wulan di kost an mereka, kemudian langsung meluncur ke terminal 2D Bandara International Soekarno Hatta. Karena harus berurusan dengan Imigrasi maka kami meluangkan waktu untuk datang 2 jam lebih awal dari jadwal keberangkatan. Dan hasilnya kami tiba di bandara pada pukul 20.00 sementara pesawat kami (Korean Air) akan berangkat pada pukul 20.10. Lalu kami pun menunggu hingga akhirnya pesawat kami pun diberangkatkan. Berdasarkan informasi dari Mbak Lili dan Mas Mul yang sebelumnya memang pernah dinas ke Korea, penerbangan ini membutuhkan waktu kurang lebih 6 jam. Dalam hati ini berbisik, yah biasanya aku naek kereta api untuk mudik itu lebih dari 6 jam, yah aku pikir akan biasa saja. Tapi ternyata tidak juga, beda rasanya karena aku tidak bisa tidur. Turbulance yang kadang kadang membuatku pusing dan jarak antar kursi yang relatif sempit membuatku tidak nyaman untuk bergerak (maklum kelas ekonomi, hehehe. Lalu aku pun tertidur.
Kemudian pada akhirnya kami sampai di Bandara Incheon di Seoul, Korea. Seperti biasa untuk keperluan administratif kami harus melalui imigrasi. Bla...bla...bla..selesai, dan kami harus melanjutkan perjalanan ke Bandara Gimpo untuk melanjutkan penerbangan ke Jeju Island. Pada saat itu dikabarkan bahwa suhu di darat Seoul adalah 10 derajat celcius. Wow..kayak apa ya dinginnya, secara saat di Jakarta merasakan AC yang 16 derajat saja sudah membuat aku merapatkan selimut untuk tidur. Ah, tapi ternyata tidak sedingin yang aku kira, karena sebelumnya aku juga sudah mencari informasi bahwa di Korea sedang mengalami musim Semi sehingga suhu udara tidak terlalu dingin. Tapi tetap saja, sejukkk...segaarrr.... Perjalanan ke Bandar Gimpo kemudian kami lanjutkan dengan mengendarai Limousin Bus. Dengan merogoh kocek sebesar 7000 Won Korea akhirnya kami dapat menaiki Bus tersebut. Dan sungguh bus ini sangatlah nyaman. Persis dengan yang pernah aku lihat di film film luar negeri.
Setelah kemudian kami sampai ke Bandara Gimpo, penerbangan kemudian dilanjutkan dengan memakan waktu sekitar 1 jam. Dengan tiket pesawat yang sebelumnya telah diatur oleh penyelanggara akhirnya kami berhasil juga sampai ke Bandara International Jeju. Dari sini kami harus melanjutkan lagi perjalanan menuju hotel Haevichi dimana merupakan lokasi dimana workshop akan diadakan (akan aku ceritakan di episode berikutnya. Paling tidak inilah bagian pertama dari perjalanku menuju Jeju Island.
Perjalanan dinas kali ini sebenarnya memang rutin agenda di kantor ku, dan kebetulan karena ada prinsip untuk pemerataan pengalaman, tibalah untuk giliranku diberangkatkan. Tentu saja aku tidak sendiri ada rekan rekan yang menyertaiku kali ini. Bapak Mulyawan, Mbak Lili dan Mbak Wulan.
Oke, tak banyak mengoceh lagi. Berita dipilihnya aku untuk menjadi salah satu peserta untuk mengikuti workshop tersebut adalah setelah beberapa waktu yang lalu aku dipanggil oleh atasanku langsung (Ibu Dewi Sita Yuliani, yang biasa dipanggil Mbak Dewi). Dalam ruangan beliau dijelaskan pula bahwa kondisinya bla...bla...bla.. dan akhirnya masuklah namaku dalam daftar peserta yang aan mengikuti workshop tersebut.
Bahagia dan bangga? tentu saja...namun aku tiada terlalu berlebihan dalam menanggapinya (biasa aja yaahhh)
Persiapan demi persiapan untuk mengikuti acara tersebut sudah dimulai sejak hampir dua bulan sebelum hari H. Mengabarkan kepada orang tua (dan alhamdulillah mereka senang dan bangga anaknya yang dulu punya kerjaan menggembala kambing bisa terbang ke negeri antah berantah nun jauh.
Hari demi hari dilalui hingga akhirnya tiba juga saat persiapan. Alhamdulillah saat siang menjelang keberangkatan calon istriku membantu aku dalam mempacking barang-barang. Mulai dari baju sehari-hari, baju kerja (yang sebelumnya aku membelinya bersama calon istriku saat aku mudik ke kampung halaman beberapa waktu yang lalu, dan beberapa snack serta perlengkapan perlengkapan yang lain. Terima kasih ya De'....
Kemudian menyiapkan uang dengan mata uang Won Korea yang sebelumnya aku titip kepada Mbak Wulan untuk menukarkankan Rupiah dengan Won. Kalau tidak salah pada saat itu aku menukarkan Rp 510.000 dan hasilnya mendapatkan 50.000 Won Korea.
Perjalanan demi perjalanan pun dimulai kemudian. Dari berangkat menggunakan Taxi Bluebird dari kost an ku sesaat setelah menunaikan ibadah sholat maghrib, kemudian menghampiri Mbak Lili dan Mbak Wulan di kost an mereka, kemudian langsung meluncur ke terminal 2D Bandara International Soekarno Hatta. Karena harus berurusan dengan Imigrasi maka kami meluangkan waktu untuk datang 2 jam lebih awal dari jadwal keberangkatan. Dan hasilnya kami tiba di bandara pada pukul 20.00 sementara pesawat kami (Korean Air) akan berangkat pada pukul 20.10. Lalu kami pun menunggu hingga akhirnya pesawat kami pun diberangkatkan. Berdasarkan informasi dari Mbak Lili dan Mas Mul yang sebelumnya memang pernah dinas ke Korea, penerbangan ini membutuhkan waktu kurang lebih 6 jam. Dalam hati ini berbisik, yah biasanya aku naek kereta api untuk mudik itu lebih dari 6 jam, yah aku pikir akan biasa saja. Tapi ternyata tidak juga, beda rasanya karena aku tidak bisa tidur. Turbulance yang kadang kadang membuatku pusing dan jarak antar kursi yang relatif sempit membuatku tidak nyaman untuk bergerak (maklum kelas ekonomi, hehehe. Lalu aku pun tertidur.
Kemudian pada akhirnya kami sampai di Bandara Incheon di Seoul, Korea. Seperti biasa untuk keperluan administratif kami harus melalui imigrasi. Bla...bla...bla..selesai, dan kami harus melanjutkan perjalanan ke Bandara Gimpo untuk melanjutkan penerbangan ke Jeju Island. Pada saat itu dikabarkan bahwa suhu di darat Seoul adalah 10 derajat celcius. Wow..kayak apa ya dinginnya, secara saat di Jakarta merasakan AC yang 16 derajat saja sudah membuat aku merapatkan selimut untuk tidur. Ah, tapi ternyata tidak sedingin yang aku kira, karena sebelumnya aku juga sudah mencari informasi bahwa di Korea sedang mengalami musim Semi sehingga suhu udara tidak terlalu dingin. Tapi tetap saja, sejukkk...segaarrr.... Perjalanan ke Bandar Gimpo kemudian kami lanjutkan dengan mengendarai Limousin Bus. Dengan merogoh kocek sebesar 7000 Won Korea akhirnya kami dapat menaiki Bus tersebut. Dan sungguh bus ini sangatlah nyaman. Persis dengan yang pernah aku lihat di film film luar negeri.
Setelah kemudian kami sampai ke Bandara Gimpo, penerbangan kemudian dilanjutkan dengan memakan waktu sekitar 1 jam. Dengan tiket pesawat yang sebelumnya telah diatur oleh penyelanggara akhirnya kami berhasil juga sampai ke Bandara International Jeju. Dari sini kami harus melanjutkan lagi perjalanan menuju hotel Haevichi dimana merupakan lokasi dimana workshop akan diadakan (akan aku ceritakan di episode berikutnya. Paling tidak inilah bagian pertama dari perjalanku menuju Jeju Island.
Posted by
Andhika Willy Wardana
Jam
19:23
Friday, 20 April 2012
Malam Seserahan
Hihihi...sebenarnya ini udah kejadian beberapa waktu yang lalu, namun karena saya sedang tidak memiliki inspirasi yang bagus dalam membuat tulisan ya saya tunda tunda tunda. Maksudnya sih biar nanti kalau ada inspirasi bisa terkumpul dan terkordinasi dengan baik tuh kata-katanya.
Malam seserahan adalah salah satu fase menuju pernikahan dalam adat istiadat Jawa. Ya saya kurang memahami mitologi dari agenda seserahan ini, tapi berdasarkan penuturan beberapa tetangga yang sudah memiliki umur di atas saya mengatakan bahwa makna dari seserahan merupakan salah satu bentuk tanggung jawab dari calon mempelai laki-laki kepada calon mempelai perempuan. Isi dari seserahan sih saya rasa beraneka ragam jenisnya namun pada dasarnya adalah barang-barang yang akan dipakai sang calon mempelai perempuan. Dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Dalam hal pencarian dan pembelian barang-barang yang termasuk dalam daftar seserahan ini saya dan calon istri saya membutuhkan waktu energi yang lumayan dahsyatnya (agak lebay sedikit gak apa apa ya). Karena ternyata membeli sesuatu barang yang benarbenar diinginkan itu tidaklah semudah membeli barang kebutuhan sehari-hari yang suah jelas bentukany. Yang namanya barang yang dipakai perempuan tu.byeuh..byeuh..byeuuuhhh...susah karena banyak model banyak pilihan. Kembali pada selera sang calon istri saya dan terkadang masih banyak faktor yang lain.
Pada awalnya saya juga sudah bertanya kepada calon istri saya, apakah dalam seserahan ini akan menggunakan perhiasan atau tidak. Karena memang saya sudah mengetahui sebenarnya kebiasaan orang di kampung saya yang menggunakan perhiasan (biasanya terbuat dari emas) sebagai salah satu bahan yang digunakan dalam hantaran. Akhirnya karena memang calon istri saya ini sederhana orangnya (hehehe..kalau calon istri saya baca pasti berbunga-bunga hatinya) akhirnya memilih untuk tidak menggunakan perhiasan dalam hantaran kali ini.
Setelah memberikan tanda check pada daftar barang hantaran kami yang berarti barang sudah terbeli semua akhirnya kami sedikit bisa bernafas lega. "Alhamdulillah". Namun tiada hidup kalau tiada permasalahan atau ujian bukan, nah menjelang detik-detik acara seserahan eh ada sliweran dari mana bahwa memang pada umumnya seserahan menggunakan perhiasan emas. Dan calon istri saya galau deh.. Karena memang tidak dimungkinkan untuk membeli perhiasan tersebut akhirnya diputuskan bahwa instrumen perhiasan emas tersebut dikonversikan saja ada saat penyerahan mahar nanti saja.
Masuklah barang-barang kami ke tukang bungkus barang barang hantaran. Karena kami berdomisili di Jakarta dan tempat yang akan kami gunakan sebagai pernikahan adalah di kampung halaman kami, maka barang-barang tersebut pun mengalami migrasi dari kota ke desa . Untuk urusan ini saya meminta bantuan kepada orang tua saya untuk melakukan arahan arahan kepada si tukang bungkus tentang bagaimana tata cara atau apa saja yang dibungkus. Nah, kemudian suatu malam telepon berdering. Saya lihat siapa yang menelepon, ternyata ibu saya tersayang. Beliau menyebutkan bahwa barang dalam seserahan itu masih ada yang kurang. Glodaaaakkkkk!!!!! apalagi ini!!! Kemudian beliau mengatakan bahwa biasanya (lagi lagi menggunakan kamus pada umumnya) baju sang calon mempelai perempuan yang akan dipakai dala prosesi pernikahan dimasukkan dalam hantaran tersebut.
Sementara itu, pakaian yang akan digunakan calon istriku kelak salah satunya (bawahan) masih ada di tangan sang penjahit untuk dirangkai menjadi bawahan berbentuk jarik. Akhirnya dengan usaha susah dan payah ternyata sang kain tersebut belum mengalami proses mutilas untuk kemudian disambung kembali dalam rangkaian desain. Hasilnya, kain tersebut diambil dan kemudian saya bawa ke tukang bungkus untuk kemudian dibungkus. 1 hari sebelum prosesi.
Akhirnya malam yang ditunggu itu pun datang. Sabtu, 24 Maret 2012. Salah satu fase yang aku dan calon istriku lalui. Alhamdulillah. Segala prosesi berjalan lancar.
Terima kasih kepada segenap mas dan mbak yang telah membantu dalam prosesi fase seserahan ini. Coba saya sebutin deh, tapi mohoon maaf kalau tidak tersebut ya, ya saking banyaknya orang yang membantu saya soalnya.
Bapak dan Ibu
Bapak dan Ibu calon mertua saya
Segenap keluarga saya
Segenap keluarga calon istri saya
Para tetangga saya (pak Sadjiran, Pak Mujiwiyono, Pak Mulyadi, Pak Sumarjono, Pak Tohardi, Pak Riyadi, Pak Sumpeno, Mbak Darmo (simbah saya dari bapak saya), Om Heri (istrinya Bulek Maryati, Pak Jemirin, Mbak maryati (kebetulan ada 3 mbak maryati yang membantu keluarga saya dalam masak-memasak)..hmmm ada lagi gak ya...
Terima kasih juga untuk Kereta Api Senja Utama Yogyakarta yang senantiasa setia mengantarkan saya dan calon istri saya mengurusi semua ini.
Mbak-mbak yang mbungkusin hantaran saya
Matahari Department Store yang menyediakan barang-barang hantaran saya
Saya rasa sebenarnya masih ada lagi namun mungkin karena saya lupa atau kurang ingat, jadi mohon maaf ya yang kelewatan
Terimakasih semua!!!!
Semoga langkah saya dan calon istri saya ke depannya senantiasa dalam doa doa baik kalian.
Posted by
Andhika Willy Wardana
Jam
22:04
Subscribe to:
Comments (Atom)






























