Wednesday, 25 December 2019

Moreland 171

Masih berhubungan dengan kehidupanku (awal) di Melbourne. Ya pastinya sih, tulisanku sampai Desember 2020 pasti akan berkutat di seputar Melbourne. 

Nah, kali ini berhubungan dengan akomodasi atau tempat tinggal sementara di Melbourne. Pas awal-awal mendekati keberangkatan ke Melbourne ini sebenarnya kami lumayan pusing memikirkan bagaimana tempat tinggal di sana. Apakah bisa proses pencarian dan mendapatkan tempat tinggal di Melbourne dilakukan dari Indonesia?

Proses pencarian yang melibatkan mesin pencari google, situs pencarian sewa tempat tinggal di Australia baik Gumtree, realestate.com, domain.com, marketplace yang lain serta forum Indomelb. Dan banyak pendapat di sini, ada yang mengatakan better salah satu (studentnya) berangkat terlebih dahulu ke Melbourne untuk mencari tempat hunian (karena memang susah-susah gampang) untuk mendapatkan hunian di Melbourne, apalagi dengan jumlah dana yang terbatas (tentu saja, kalau duitnya tidak terbatas tak usah lah pusing-pusing, beli sekalian saja properti di Melbourne....wkwkwkwk), tapi ada juga yang membagi pengalamannya bisa mendapatkan hunian on the spot, dalam artian seluruh anggota keluarga berangkat, dengan asumsi segala pengurusan untuk memperoleh hunian atau tempat tinggal dilakukan dari Indonesia.

Beberapa kali apply dan membaca peraturan dari agen properti di Melbourne, memang mengharuskan (secara aturan baku ya) calon penyewa posisinya ada di Melbourne dulu, karena ada salah satu syarat (inspeksi) dimana calon penyewa sendiri hadir dalam proses tersebut, serta beberapa dokumen atau form yang harus diisi dan dilengkapi dengan beberapa persyaratan lainnya (di sini hal yang paling penting adalah bukti kepemilikan dana dan sumber pendanaan atau living cost ketika berada di Melbourne). Sementara ada opsi lain yaitu numpang atau istilahnya hunian temporer di orang Indonesia yang juga sedang belajar di Melbourne...hmmm...ada lagi sih opsi lain yaitu sewa AirBnB (dulu kami sempat kepikiran untuk pakai cara ini apabila memang tidak mendapatkan hunian di Melbourne, meskpun setelah jalan kesini kepikiran juga kalau dulu jadi sewa Air BnB berapa duit yang musti kami keluarkan...hooooo...)

Nah, memang ada beberapa cara untuk mendapatkan hunian (sewa/rent) bagi pelajar dan keluarganya untuk tinggal di Melbourne.

Pertama, secara resmi atau official mengunjungi situs sewa hunian seperti realestate.com, domain.com, gumtree, atau langsung ke website agen properti di Melbourne. Karena memang di Melbourne ini kebanyakan properti yang disewa itu oleh sang pemilik/landlord diserahkan kepada agen properti untuk melakukan proses penyewaannya, dalam artian si landlord tinggal terima beres (meskipun persetujuan akhir masih berada di tangan si landlord). Adapula memang beberapa landlord yang masih sempat dan mau mengurusi proses sewa menyewanya sendiri, tanpa bantuan agent. Nah, untuk proses mendapatkan hunian langsung ke pemilik tentu saja hampir sama dengan proses mendapatkan kontrakan di Indonesia, calon penyewa menghubungi si pemilik, lalu inspeksi (inspeksi ini sangat penting dilakukan untuk melihat kondisi tempat tinggal, apakah calon penyewa setuju dengan segala kondisi nya karena nanti di akhir masa sewa apabila terdapat kerusakan maka si penyewa menanggung biaya perbaikannya, yang tentu tidak murah), cocok harganya (kadang-kadang ada juga yang melakukan negosiasi di sini, baik dari nilai harganya atau dari permintaan untuk melakukan perbaikan di unit yang akan disewakan). Nah sedangkan proses mendapatkan hunian sewa melalui agen ada beberapa tahap yang dilakukan seperti, mengisi formulir dan kelengkapannya yang dapat diunduh di website agent, membuat janji untuk melakukan inspeksi (jadwal inspeksi ini umumnya memang ditentukan oleh agen, jadi kita tidak bisa sembarangan datang ke agen lalu minta inspeksi rumah), inspeksi (pada proses inspeksi ini kita akan bersaing dengan banyak orang yang juga sedang mencari hunian sewa), menyerahkan formulir aplikasi dan persyaratan lainnya kepada agen (untuk nanti diperiksa dan apakah disetujui atau tidak, biasanya sih faktor utamanya adalah tentang dana atau kemampuan kita untuk membayar sewa hunian itu), setelah agen memilah dan memilih aplikasi dari para calon penyewa maka si agen akan menyerahkman keputusan akhir kepada si landlord untuk menentukan mana yang berhak menyewa rumahnya, tanda tangan perjanjian sewa dan serah terima kunci. Oh iya, untuk kelengkapan rumah tanggan seperti listrik, gas, dan air kita musti memasangnya sendiri (jadi belum tentu pas serah terima kunci gas, listrik dan airnya sudah tersedia), tapi ada juga agen yang mau membantu proses instalasi gas, air dan listrik tadi sehingga pas kita masuk ke rumah tersebut segalanya sudah terpasang.

Kedua, takeover dari pelajar di Melbourne yang sudah akan pulang ke Indonesia setelah studinya selesai atau lebih sering dikenal Back For Good (BFG). Meskipun proses nya tetap sama dengan proses yang pertama tadi, tapi biasanya proses takeover ini lebih mudah, disamping itu kita bisa mendapatkan perabot milik pelajar sebelumnya secara gratis (tapi ada juga beberapa yang bayar...hihihi).

Nah, dari kedua proses itu, cara pertama sudah kami tempuh dan semua hasilnya nihil karea kami selalu tidak bisa melakukan inspeksi (karenea kami masih berada di Indonesia). Untuk cara yang kedua, kami memposting di grup Facebook Indomelb untuk mendapatkan takeover hunian baik yang temporari atau syukur syukur yang permanent..hehehe...dari sinilah kemudian cerita Moreland 171 akan dimulai.


Berawal dari postingan ku  di Facebook tersebut, kemudian ada salah seorang calon pelajar yang menawarkan hunian temporari. Sebut saja namanya Ibu R (saya tidak berani menyebutkan namanya karena belum meminta ijin kepada beliau..hehehe). Ibu R ini sebenarnya posisinya juga masih di Indonesia karena masa studinya baru akan dimulai setelah lebaran tahun 2019, sementara dia sudah mendapatkan sewa hunian sejak bulan Februari 2019 (wow, keren banget kan...ternyata sebelumnya beliau sudah melakukan inspeksi di Melbourne dan sudah menyerahkan aplikasi dan persyaratannya kepada agen). Nah pada saat itu, beliau juga menyampaikan kalau posisi huniannya masih kosongan tidak ada perabotannya, namun untuk listrik, air dan gas sudah terpasang. Bagi kami si tidak masalah, yang penting bisa berteduh tatkala hujan, bisa bernaung tatkala matahari bersinar terang. Setelah melakukan diskusi dan pertemuan, saat itu pertemuan dilakukan di kawasan pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, alhamdulillah beliau mempercayai kami untuk menyewa secara temporer huniannya.

Nah, setelah kami tiba di Melbourne, selepas dijemput dari Bandara Tulamarine kami menuju ke Moreland 171. Kami tiba di rumah itu sekitar pukul 14.00 waktu setempat dengan kondisi perut yang belum terisi dan badan yang capek, syukurnya anak-anak gak rewel waktu itu. Kunci  rumah waktu itu ditaruh di suatu tempat rahasia oleh Pak L (sahabat ibu R) yang ternyata disana membantu proses mendapatkan hunian tersebut. 

Hunian ini terdiri dari dua kamar tidur (kamar mandi dan toilet berada di dalam masing-masing kamar) di lantai dasar, dan dapur serta ruang keluarga dan satu toilet di lantai dua, juga tersedia halaman belakang untuk menjemur pakaian serta ruangan laundry (kok malah jadi ngiklan ya...hehehehe), lokasi sangat strategis karena dekat dengan akses tram, kereta, dan sekolah....

Hal pertama yang kami lakukan adalah..ngglongsooooorrrr......di lantai karpet....g masalah...hehehehe....alhamdulillahnya beberapa hari kemudian Ibu R berbaik hati pada kami dan membelikan matras untuk kami. Setelah beberapa saat gegoleran, akhirnya kami memutuskan untuk membeli makan siang, meskipun bingung kemana mencari makan siang dan menunya apa, halal atau tidak, anak-anak doyan atau enggak. Dan baru tau juga kalau di Melbourne kebanyakan toko sudah menutup tokonya di jam 17.00, jadi sepi brooo...akhirnya karena bingung, aku membeli chips atau sering aku sebut kentang goreng dan roti. 

Namun setelah sampai di hunian, deng....deng....ternyata anak-anak g doyan....heuuuu....lalu teringat kalau kita membawa beberapa bekal makanan instan di koper dari Indonesia (singkatnya Indomie), lalu istriku memasak mie tersebut untuk anak-anak (dan pastinya suka, karena rasanya kan Indonesia banget yang terkenal micin micinnya, g sehat sih, tapi mau gimana lagi, kondisi darurat). Nah setelah kenyang, waktu itu kami juga tidak langsung jalan-jalan di sekeliling rumah, ya selain badan masih capek kami juga masih mau lanjut gegolerannya...hehehehe...sehabis kenyang lalu mandi lalu tidur lagi hingga esok harinya...hihihihi....

Baru deh esok harinya kami jalan-jalan di sekitar Moreland 171...

Tulisan ini dibuat selain untuk mencurahkan isi memori di kepada dalam suatu tulisan, sekaligus juga untuk mengucapkan terima kasih kepada Ibu R yang telah berkenan mengijinkan kami untuk tinggal di huniannya....

Friday, 6 December 2019

Tiba di Australia (transit Sydney - lanjut Melbourne)

Yesss.....
Setelah beberapa jam perjalanan terbang menggunakan maskapai Qantas, akhirnya sayup-sayup terdengar pengumuman dari speaker di kabin pesawat bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di daratan Australia...wekekekek...tepatnya di Sydney. Seperti biasa suara speaker itu memberitahukan kondisi cuaca di daratan, waktu setempat dan perbedaan waktunya, serta ucapan terima kasih telah terbang bersama maskapai mereka. Melongok ke arah jendela yang agak jauh dari tempat duduk kami terlihat pemandangan nan jernih di luar sana, langit biru dan sedikit sapuan awan putih di setiap sisinya. Hmmm...masih biasa saja sih...hehehe....

Perlahan tapi pasti, roda pesawat pun menempel di landasan pacu pesawat, getaran?tidak terlalu berasa..mungkin karena bodi pesawat yang besar kali ya..Setelah pesawat berhenti dengan sempurna, para penumpang pun mulai mengambil barang bawaan mereka yang tersimpan di bagasi kabin pesawat. Demikian pula kami, pelan-pelan aku mulai mengambil beberapa tas di bagasi kabin di atas kepalaku...satu tas punggung ukuran medium dan beberapa tas kecil milik istriku dan perlengkapan anak-anak. Oh, iya...sebelum pendaratan ini kami juga mengisi beberapa isian dalam formulir yang menjelaskan tentang identitas diri, kondisi kesehatan, dan informasi mengenai barang bawaan kami. Dari beberapa kali penerbangan internasional sebelumnya, aku selali dengan jujur mengisi formulir barang bawaan sesuai benar dengan apa yang aku bawa. Kali ini, karena ada beberapa perhatian khusus terhadap barang bawaanku, aku menyatakan bahwa aku membawa produk madu (dan ternyata aku lupa satu hal, aku lupa menyatakan aku membawa tanah dari Indonesia, padahal ini sangat tidak diperbolehkan, lha wong kalau ada tanah yang menempel di sepatu saja harus dibersihkan kok, bahkan bisa bisa sepatunya diminta untuk ditinggal). Tanah ini dititipkan oleh bude (almarhumah) yang masih memegang budaya jawa lama, bukan tanah biasa melainkan tanah di dekat area tempat mengubur atau menyimpan ari-ari anakku (kebetulan ari-ari Aidan dan Ahza itu disimpan di area yang sama, jadi bisa satu untuk berdua..hehehe). Tanah ini aku simpan di dalam tas punggungku, yang untungnya tidak diketahui oleh petugas bandara Sydney.

Nah, setelah turun dari pesawat, kemudian kami menuju area kedatangan internasional yang memeriksa identitas diri (pasport dan visa), scanning barang bawaan baik yang dari bagasi pesawat maupun yang hand carry, serta mengisi beberapa formulir yang kami lupa isi ketika berada di dalam pesawat. Kesan pertama melihat petugas bandara (baik dari imigrasi maupun bea cukai nya) aku melihat kok kebanyakan mereka sudah atau kelihatan tua ya, kemudian mereka semua mayoritas bertato (mungkin stigma tato di Australia tidak senegatif di Indonesia barangkali, sehingga tato dinilai hal yang wajar dalam kehidupan sehari-hari mereka). Biasanya, ketika melewati pemeriksaan pasport, pasport akan di stempel...tapi di Sydney tidak, hanya di scan saja ke dalam komputer...aku berpikir...oh mungkin nanti akan di stempel di Melbourne, pikirku demikian...meskipun nanti di Melbourne pun bahkan kami sudah tidak melalui proses imigrasi atau bea cukai lagi. Dan karena tadi aku menyatakan barang bawaan kami mengandung madu, lalu kami diharuskan untuk melalui area khusus dengan anjing besar di sana yang mengendus endus kami dan tas-tas kami. Para petugas berpesan kepada kami, anjing-anjing ini sudah terlatih jadi tidak berbahaya namun tetap saja dihimbau agar tidak melakukan gerakan yang tiba-tiba atau mendadak, biasa saja...rileks katanya...Sempat deg-deg an sama tanah yang tadi sih, tapi alhamdulillah semua beres, lancar, tidak ada kendala suatu apa.

Setelah melalui proses imigrasi dan bea cukai tersebut, kemudian kami berpindah ke area terminal yang lain untuk menunggu pesawat yang menuju Melbourne. Mampir sebentar ke area toilet dan refill air minum, saat itu kami tiba di bandara Sydney sekitar jam 07.00 waktu setempat, sementara penerbangan kami menuju Melbourne adalah jam 09.00 waktu setempat. Hmmmm...lumayan nunggunya, gegoleran di area ruang tunggu bandara Sydney. Sarapan anak-anak gimana? mbuh..karena gak begitu paham dengan makanan Australia, tapi untungnya bekal kami dari Indonesia masih ada..roti rotian biasa...dan alhamdulillah saja anak-anak tidak rewel kelaparan, kalau Aidan sih malah betah kalau g makan...hahahaha...Mondar-mandir...ke depan ke belakang, ke samping kanan samping kiri, ngglethak atau gegoleran di ruang tunggu hingga akhirnya ada pemberitahuan boarding pesawat yang sedang kami tunggu. Yeaaayyy.....lanjut kita....proses check in dan masukin koper ke dalam bagasi pesawat sudah dilalui sebelum gegoleran tadi ya...hehehe...

Pesawat Qantas dari Sydney menuju Melbourne ini sejenis Boeing yang lebih kecil daripada penerbangan sebelumnya. Setelah semua tas masuk bagasi kabin, duduk di kursi penumpang...memasang sabuk hingga berbunyi klik...lalu ealah...ada pengumuman kalau pesawat mengalami gangguan teknis dan mengalami sedikit keterlambatan...oh okeeee...baiklah....Sembari menunggu proses pemeriksaan pesawat tersebut, pramugari mulai membagikan kudapan (kue snack kecil dan minuman serta buah) kepada para penumpang. Lumayan cukup lama sih waktu pemeriksaan pesawat ini, sebenarnya anak-anak juga mulai resah, karena ga ada fasilitas hiburan di pesawat ini, jaringan wifi juga tidak ada. Sampai kalau tidak salah, akhirnya pada jam 10.00 waktu setempat pesawat kami mulai take off. Penerbangan dari Sydney ke Melbourne ini ditempuh dalam waktu 2 jam, sehingga kami tiba di Melbourne sekitar jam 12.00 waktu setempat. Dalam penerbangan ini ndak ado alias tidak ada yang spesial, biasa saja...so tidak banyak cerita yang bisa dituliskan di sini.

Sesampai di bandara Melbourne, tepatnya bandara Tulamarine...ternyata kami langsung menuju area pengambilan bagasi, tidak ada lagi urusan sama imigrasi dan bea cukai. Setelah mengambil 3 koper, kami pun berjalan menuju area kedatangan domestik bandara Tulamarine. Sebelum berangkat ke Australia ini kami sudah bergabung dalam grup orang Indonesia di Melbourne (terkenal dengan sebutan Indomelb), untuk memperoleh informasi tentang akomodasi dan penjemputan dari bandara menuju tempat yang kami tuju. Setelah itu, kami kemudian berkomunikasi dengan salah seorang warga Indomelb yang kebetulan memberikan atau melayani jasa penjemputan dari bandara Tulamarine. MMM....tidak aku sebutkan namanya ya, hehehe....Setelah komunikasi tersebut kami pun juga sudah menyepakati area penjemputan kami. Meskipun sebenarnya kami bingung dimanakah area penjemputan yang telah disepakati tersebut. Setelah menunggu beberapa saat, dan tetap bekomunikasi (sudah mengaktifkan paket roaming internasional sekaligus paket data internet sejak dari Indonesia) kami pun menunggu di area parkiran mobil sekaligus area penjemputan yang terletak di area lobi hotel Park Royal yang terletak persis di depan bandara Tulamarine. Dan setelah beberapa saat, yang menjemput kami pun tiba, dan ternyata yang menjemput kami adalah perempuan...hehehe...padahal waktu janjian dari Indonesia nanti yang akan menjemput adalah bapak-bapak..hehehe...tidak masalah...
Kami dijemput menggunakan mobil sedan ukuran medium, yang sebenarnya sempat gak yakin apakah muat koper-koper kami masuk ke dalam bagasi mobil tersebut, tapi ternyata muat juga...hehehehe....Setelah semua barang masuk dan kami sudah duduk di bangku penumpang, perlahan dan sesuai kecepatan yang berlaku mobil pun meninggalkan area bandara Tulamarine menuju daerah Coburg....

Alamat yang kami tuju berada di area Moreland Road.....

171 Moreland Road....yang akan menjadi cerita selanjutnya, termasuk kebaikan salah satu keluarga Indonesia kepada kami sehingga bisa muncul 171 Moreland Road dalam cerita perjalanan kami....



Tuesday, 3 December 2019

Terbang Bersama Qantas

Tulisan ini dibuat bukan untuk tujuan review ya, atau membanding-bandingkan dengan maskapai penerbangan yang lain. Seperti biasa, tulisan ini hanya mewakili pengalaman yang aku alami. Dan selalu saja, tiap mau nulis itu mau aku awali dengan, duuuuhhh dah lama gak nulis...dan emang betul sih, lama g nulis. Materi tulisan ini pun sebenarnya sudah terjadi pada bulan Februari 2019. Yaaahhh...semoga saja inspirasinya tidak hilang dan momennya tidak kelupaan.

Oke, melanjutkan cerita perjalanan keluarga kami ke Melbourne, Australia. Setelah beberapa persiapan yang dilakukan di Indonesia kemarin, akhirnya tiba lah kami memang harus berangkat ke Melbourne. Waktu berlalu cepat memang, hingga tak terasa kami pun harus berangkat ke Australia. Pada saat jari ini mengetik pun, sudah terbesit bahwa tinggal beberapa bulan lagi sudah balik ke Indonesia. hehehe...

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan kami dalam memilih maskapai penerbangan adalah:

Harga
Hehehe...tentu saja faktor ini merupakan faktor terpenting dalam pemilihan maskapai penerbangan untuk terbang dari Indonesia ke Melbourne, Australia. Hal ini dikarenakan tentu saja karena kondisi finansial kami yang cukup (Alloh yang maha mencukupkan), kemudian biaya yang ditanggun oleh negara, dalam hal ini kantor istriku adalah tiket untuk penerbangan istriku saja, so untuk tiket penerbangan ku dan anak-anakku ditanggung sendiri. 

Penerbangan langsung atau transit
Sebenarnya faktor ini juga dipengaruhi oleh harga, karena biasanya yang penerbangan langsung itu lebih mahal daripada yang transit. Selain itu, kami juga mempertimbangkan kondisi kesehatan atau tingkat kelelahan dari anak-anak, meskipun mereka telah memiliki pengalaman menaiki mobil dalam jangka waktu yang lama saat mudik lebaran, tapi kami pikir hal ini akan berbeda mengingat kalau dalam perjalanan darat, kami bisa saja berhenti untuk melepaskan penat atau bosan, lha kalau naik pesawat? mau parkir di awan dulu terus selfi selfi sama bidadari atau dewa dewa gitu...hahaha. Penerbangan langsung dari Jakarta-Melbourne itu sebenarnya ada maskapai Garuda Indonesia, namun jadwal penerbangan pesawat ini tidak ada setiap hari, meskipun sebenarnya untuk harga masih masuk dalam toleransi biaya dalam anggaran yang kami buat. Lalu kemudian akhirnya diputuskan untuk menggunakan pesawat yang transit. Ada beberapa pilihan saat itu, transit di Kuala Lumpur, Singapura, Denpasar, atau di Sydney. Dari pilihan transit tersebut, penerbangan yang paling murah adalah penerbangan yang transit di Denpasar menggunakan maskapai Scoot. Maskapai ini adalah maskapai penerbangan Low Cost Carrier yang kemungkinan sering dipakai oleh turis atau wisatawan yang berpergian dengan mode backpacker traveling, selain itu ada pula Malindo Air yang merupakan anggota dari grup Lion Air (udah bergidik duluan kalau denger pesawat grup Lion Air, meskipun maskapai ini jadi langgananku saat istriku dinas di Jambi kemarin)

Oke, dari dua pertimbangan besar tersebut, akhirnya kami memilih terbang bersama Qantas dan transit di Sydney. Estimasi lama penerbangan adalah 5 sampai 7 jam. Jadwal penerbangan antara sore menjelang malam hari, so kami pilih jadwal itu agar anak-anak bisa tidur nyenyak saat terbang.

Setelah jadwal dipilih, maskapai sudah oke, maka tinggalah waktunya untuk membayar...untuk urusan kali ini tugas diserahkan kepada ibu bendahara umum...hihihi....

Hmmmm...ini mah cuma pengalaman proses pemesanan tiket pesawat ya, belum mewakili pengalaman terbang menggunakan Qantas. Oke baiklah...akan dilanjutkan dengan pengalaman terbang menggunakan maskapai Qantas. Serius, tulisan ini aku lanjutkan beberapa minggu setelah paragraf tentang proses pemilihan pesawat ditulis. Jeda waktu membuat jeda pula ide menulis.

Baik, proses terbang bersama Qantas ini dimulai dari berangkat dari rumah...hehehehe....tentu saja, perpisahan dengan keluarga yang tinggal di Indonesia, ada beberapa tetes mata di sana. Lalu perjalanan dari rumah menuju Bandara Soekarno Hatta menggunakan moda transportasi Go-Car, lalu proses check in dan proses imigrasi (alhamdulillah semuanya lancar, seperti biasanyanya aku lebih suka datang lebih awal daripada terburu-buru atau bahkan terlambat), meskipun hasilnya adalah kami terkatung-katung cukup lama di ruang tunggu, makan di restoran bandara yang aku pun juarang sekali melakukannya meskipun sering lalu lalang di bandara ini. Bahkan beli mainan yang harganya lebih mahal daripada toko mainan reguler di luar bandara.Eh iya, sebelum check in di bandara sebenarnya kami sudah memesan tempat duduk secara online, karena waktu itu entah penuh atau di tahan oleh pihak maskapai, kami sebenarnya terpisah oleh selasar pesawat (model Air Bus yang terdapat dua selasar atau dua lorong), jadi dua kursi di tengah bagian pinggir, dan satu kursi di pinggir (dekat jendela, tapi yang bagian dekat lorong). Nah, mungkin karena tau kami adalah sebuah keluarga kecil dimana anak-anakku masih kecil, pas kami check in di bandara, petugasnya baik, mengaturkan tempat duduk kami, dan akhirnya kami bisa bersatu di baris tengah.

Suasana di dalam Pesawat Qantas
Nah, tibalah waktunya boarding...kami masuk ke dalam pesawat secara perlahan...hahahaha...secara normal...apalah bahasanya, seperti pada umumnya lah atau biasa saja, kemudian disambut oleh pramugari yang masih orang Indonesia (biasanya sih memang begini, penerbangan ke luar Indonesia dilayani oleh mayoritas pramugari dari Indonesia), kemudian sesaat setelah boarding kami diberikan snack, yang aku sempat deg deg an kalau kalau anakku gak mau makan, hihihi...tapi untungnya mau sih. model roti gitu sama kacang-kacangan (kalau kacang-kacangan tentu anakku g makan ya...hehehehe). Lalu kemudian kami menikmati fasilitas hiburan yang disediakan di pesawat, dan ajaibnya di penerbangan ini kami mendapatkan fasilitas free wifi, so tetep bisa browsing, searching, social media dan berkomunikasi dengan orang di bawah sana. Kami sempat deg-deg an sebenarnya, bagaimana nanti kalau si bungsu rewel, kalau yang gede sih sepertinya sudah lulus dalam hal perjalanan jauh.Tapi, ya alhamdulillahnya gak rewel rewel amat, ya cuma agak kikuk atau bingung waktu momen menjelang tidur karena harus tidur dalam posisi yang tidak biasanya.

Beberapa saat setelah terbang, tibalah waktu makan. Dan, memang biasanya untuk penerbangan keluar Indonesia, maskapai masih menyediakan makanan Indonesia, sebut saja nasi..yah, sebagai orang yang punya lidah Indonesia kami pun memesan nasi sebagai menu makan malam kami...lauknya apa ya waktu itu (kan kan kan sampai lupa akhirnya materi yang mau ditulis). Tapi ya pokoknya alhamdulillah proses makan malam itu lancar. Setelah prosesi makan selesai, dan lampu pesawat mulai diredupkan, akhirnya sesi tidur pun dimulai...dan seperti biasanya alhamdulillah anak-anak gak rewel. Si kecil bobok nya masih minta jatah pada emaknya, sementara si sulung tidur sendiri di kursi sambil menikmati fasilitas hiburan di pesawat yang dilengkapi dengan headphone menempel di telinga.

Bosan?jenuh?lama banget penerbangannnya? \biasa saja ah menurutku hihihi...5-7 jam perjalanan, sementara kami pernah terjebak dalam mobil imut nan kecil selama hampir 24 jam di perjalanan arus balik lebaran...hehehe...So far  begitulah pengalaman kami terbang menggunakan Qantas. Karena diawal sudah dijelaskan kalau tulisan hanya sekedar berbagi pengalaman dan tidak bermaksud untuk mereview pesawat tersebut, maka tak ada kata rekomendasi atau tidak rekomendasi untuk pesawat ini...yang terpenting adalah alhamdulillah perjalanan kami lancar...

Proses tiba di Australia nya (Sydney dan Melbourne) akan ditulis kemudian...hehehe....

Wednesday, 12 June 2019

Sekolah Anak di Melbourne

Membawa anak anak turut serta orang tua yang melanjutkan studi di negara laini tentu tidak boleh serta merta kemudian mengabaikan pendidikan sang anak. Waktu adalah uang, you know? nah, pada tulisan kali ini aku akan bercerita tentang bagaimana memilih dan seluk beluk pencarian sekolah di Melbourne.

Kalau kemudian kita menilik kembali atau merefleksikan pencarian sekolah di Indonesia dengan di negara lain tentu akan sangat berbeda, tentu saja permasalahan kurikulum dan sebagainya menjadi faktor pembedanya. Sudah terkenal bukan seleksi calistung dan njlimetnya pekerjaan rumah tatkala anak-anak sekolah di Indonesia, bahkan konon katanya ada yang menyebutkan bahwa sekolah di Indonesia tidak ramah untuk perkembangan mental anak, anak-anak terlalu dituntut itu ini dan . bahkan tidak bisa menikmati nyamannya bersekolah.

Pemberlakuan tes masuk sekolah di Indonesia kemungkinan besarnya adalah karena jumlah populasi tidak sebanding dengan jumlah bangku sekolah yang tersedia, dan terdapat perbedaan standar yang dimiliki tiap tiap sekolah sehingga akhirnya muncul lah istilah sekolah favorit yang jumlah calon siswa pendaftarnya sangat melebihi quota sehingga diperlukan screening awal untuk siswa yang dapat masuk ke sekolah tersebut. Sudah terbayang dalam benak pikiranku, bagaimana bisa anak yang mau sekolah mau belajar agar pintar tapi harus pintar dulu..wee...trus tar guru nya ngapain?oh iya, belum lagi tuntutan guru untuk memenuhi standar standar prosedur administrasi untuk mendapatkan tambahan insentif sehingga para guru pun ada yang beberapa lebih fokus pada isian lembar administrasi tersebut daripada fungsi utamanya sebagai pemberi ilmu kepada para muridnya.

Nah, kembali ke proses pencarian sekolah di Melbourne. Hal pertama yang harus di provide adalah alamat rumah, you know why? karena kebijakan pemilihan sekolah di Melbourne itu berdasarkan zonasi, jadi keinget zonasi atau rayonisasi di Indonesia yang mendapatkan pro dan kontra. Jadi, di Melbourne ini pendaftaran sekolah melalui satu pintu yaitu Department of Education and Training Victoria, yah...semacam Departemen Pendidikannya deh. Jadi mulai dari submit dokumen lalu isi formulir dan pembayarannya semua tersentralisasi di departemen tersebut. Meskipun tidak menutup kemungkinan kita bisa survey dulu ke sekolahnya dan isi form, tapi tetap saja nanti Departemen Pendidikan yang akan melakukan approval nya. Nah, nanti si Departemen Pendidikan akan memilihkan sekolah buat kita sesuai dengan alamat yang tersedia, eh tapi di formulir ada kolom pilihan sekolah ding...jadi kita bisa menentukan pilihan sekolah mana yang akan kita tuju, tapi tetep pertimbangan utamanya adalah alamat rumah kita sehingga tidak terlalu sulit untuk menjangkau sekolah tersebut. 

Setelah melakukan pemilihan sekolah, kemudian nanti akan ada perintah untuk melakukan pembayaran yang ditransfer ke Departemen Pendidikannya itu, setelah di transfer nanti ada semacam surat keterangan diterima dan nantinya surat keterangan itu dibawa dan ditunjukkan ke sekolah yang dituju. Permasalahan biaya, ternyata untuk Public School atau istilahnya sekolah negeri, semua biayanya sama, dan model di sini bukan semesteran ya, jadi modelnya semacam term, dalam setahun ada 4 term, ya mungkin kalau di bahasa Indonesiakan semacam tri wulan gitu deh. 

Nah, untuk besaran biaya ini memang bikin geleng geleng kepala sih. Per tahunnya kena sekitar AU$11.000 atau sekitar Rp110.000.000, kebayang kan ketika kita akan pergi keluar negeri bersama anak-anak, biaya yang akan dikeluarkah untuk sekolah anak. Meskipun benar adanya terdapat porongan harga untuk beasiswa AAS atau pHd atau master by research, potongan ini pun berlaku untuk Childcare nya...yah lumayan lah emang kalau bisa termasuk dalam tiga kategori tersebut.

So, setelah formulir yang dari Departemen Pendidikan tersebut diserahkan kepada sekolah, eh di sini nanti kita akan disodori formulir lagi..wkwkwkwk..yang pada intinya menjelaskan data diri si anak, orang tuanya, sekaligus dengan data imunisasi serta beberapa kesediaan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Well, setelah diisi semua nanti diserahkan kepada petugasnya kemudian akan diberitahu kapan si anak dapat mulai sekolahnya. Oh iya, untuk seragam sekolah sendiri, sekolah juga menjualnya namun tidak menutupp kemungkinan juga untuk para siswa membeli di department store di luar sekolah yang memang lebih murah daripada yang dijual sekolah. Dan untuk seragam yang tidak dibeli di sekolah tentunya tidak ada emblem atau badge karena bersifat umum. Jenis seragam di sini pun sama saja dari hari senin sampai hari jumat. Polo Shirt/long sleeve warna Kuning, celana pendek atau panjang warna biru, sweeter atau jacket warna biru, untuk asesoris seperti tas dan topi sepertinya hanya dijual di sekolah saja. Oh iya, untuk seragam ini karena di Melbourne itu ada empat musim, maka seragamnya pun menyesuaikan sesuai dengan kebutuhan anak, mau pakai lengan panjang atau lengan pendek, celana panjang atau celana pendek, pakai jaket atau sweeter atau tidak sama sekali tidak menjadi masalah. Yang utama adalah atasan kuning bawahan biru, dah gitu aja..hehehehe...

Untuk jam sekolah di Melbourne adalah dimulai pukul 09.00 sampai pukul 15.30, wew...lama juga ya, dan ini berlaku untuk anak prepschool sampai anak kelas 6. Di sesi sekolah itu ada sesi makan siang sama sesi makan snack, dan semua bekal di bawa sendiri dari rumah. Sekolah menyediakan untuk snack sih, tapi berbentuk buah-buahan. Ya, lumayan capek sih apabila dibandingkan dengan sekolah anak-anak di Indonesia. Anakku pertama sekolah bahkan sampai sekarang kalau pulang langsung rebahan dan tertidur. Tapi alhamdulillah nya si anak enjoy di sekolah, karena memang sekolahnya menyenangkan, banyak aktifitas dan menyenangkan. Bahkan saking enaknya, si anak malah pengen sekolah terus, mungkin daripada di rumah lebih membosankan...wkwkwkwkwk....Oh iya, kemudian model absensi atau ijin tidak masuk sekolah dilakukan melalui media digital atau elektronik, dimana apabila si anak tidak masuk sekolah maka wajib memberitahu sekolah melalui aplikasi tersebut.

Yap...kira-kira begitu berbagi pengalamanku tentang sekolah anak di Melbourne. Secara spesifik, anakku sekolah di Moreland Primary School. Dan dia senang sekolah di sini, karena memang di Indonesia dia sudah casi cis cus bahasa Inggris, ditambah lagi di sini ketemu temen temen semua berbahasa Inggris, yah ibarat kata pucuk dicinta ulampun tiba....pas banget lah...cuma memang sih sedikit puyeng juga besok kalau kembali ke Indonesia musti nyariiin sekolah yang paling tidak suasananya menyenangkan dan bisa mengakomodasi kemampuan bahasa anakku..hehehehe

Thursday, 25 April 2019

Medical Check Up for Australia VISA

Yap...sesuai judul, kali ini aku masih membahas tentang lanjutan proses mengurus visa. Setelah mengisi aplikasi di formulir yang telah disediakan oleh kedutaan Australia (ini formulir lumayan banyak sih, lebih dari 15 halaman dan beberapa lampiran yang mesti diserahkan) lalu di serahkan secara online. Yah, salah satu enaknya membuat visa Australia ini adalah segala prosesnya online, jadi kita gak perlu wira-wiri ke kedutaan Australia yang ada di Jakarta (kan ini bakalan bikin repot juga kalau ada WNI di luar Jakarta atau bahkan di di luar Pulau Jawa yang ingin membuat visa Australia). Tapi ada kelemahannya juga sih, kalau ada apa-apa yang kurang jelas kita musti baca sendiri secara detail informasi yang ada di website kedutaan Australia, gak ada semacam asistensi dari staf kedutaan Australia nya, kalaupun mau asistensi paling kita minta diurusin sama agen (ini enaknya kita tinggal siapin beberapa dokumen, lalu dikasih ke agen, kita tinggal duduk manis tunggu si agen bekerja dan akhirnya beres).Oh iya, awalnya kami (aku dan istri) berniat mengurus visa sendiri tanpa agen. Bukan karena aspek biaya sih karena mengurus visa via agen itu tidak dipungut biaya (ini agen yang akhirnya kami pakai ya, dia cuma ambil keuntungan dari selisih kurs, atau mungkin juga dapat fee dari universitas nya). So alasan mau mengurus sendiri adalah ingin belajar bagaimana caranya mengurus visa sendiri, yah tujuannya adalah biar tahu gitu lah. 

Nah, namun ada tantangan yang pada akhirnya membuat kami mau tidak mau akhirnya menggunakan jasa agen untuk mengurus visa kami. Treeeeenngggg…..apa tuh? Kami kan pergi ke Australia berempat, termasuk anak-anak dimana yang paling besar sudah memasuki usia sekolah. Nah, ketentuan di visa anak yang sudah memasuki usia sekolah itu harus melampirkan bukti telah diterima di sekolah di Australia. Nah, untuk ini sebenarnya kami juga sudah inisiatif untuk mengurus secara pribadi. Mulai dari mengirimkan email ke Departemen Pendidikan Australia, mengirimkan email ke sekolah yang kami inginkan, atau minta tolong sama representatif Universitas Melbourne yang ada di Indonesia. Lalu apa yang bikin susah? Nah, menariknya adalah salah satu syarat diterimanya anak di sekolah di Australia (sekolah tujuan kami adalah Moreland Primary School, apa dan kenapanya sepertinya akan aku buat posting tersendiri saja) adalah memiliki alamat tempat tinggal di Australia, karena ternyata kebijakan Departemen Pendidikan di Australia itu adalah dengan membuat semacam rayonisasi gitu, jadi anak-anak diterima sekolah itu bukan karena alasan nilai atau tes gitu (calistung kayak di Indonesia), melainkan menggunakan alamat tinggal sang anak.Nah dari situ, kami sudah jelaskan kalau posisi kami masih di Indonesia, dan rencananya kami akan cari akomodasi (dan saat itu memang kami juga sedang mencari akomodasi di area yang berdekatan dengan Moreland Primary School). Namun, tetep saja prosesnya bolak-balik yang pada intinya mereka minta alamat tinggal di Australianya dulu. Jreeeng...jreeeenggg...ini sempat membuat proses pembuatan visa kami mandeg beberapa hari, karena menunggu beberapa email dari Departemen Pendidikan Australia dan sekolah yang bersangkutan, meskipun pada akhirnya jawabannya sama. 

Kemudian, kami bertanya di salah satu sosial media yang anggotanya berisikan orang Indonesia yang berada di Australia atau juga sedang dalam proses pengurusan visa (baca Forum Indomelb). Muncul kemudian beberapa alternatif solusi, seperti istriku berangkat ke Australia sendiri dulu (untuk mengurus sekolah anak dan akomodasi), meminjam alamat teman yang ada di Australia, dan menggunakan jasa agen. Pada akhirnya kami memilih untuk menggunakan jasa agen dan juga meminjam alamat teman yang ada di Australia.

Bagi yang mau kontak agennya (kami pakai IDP, terbukti sangat very highly recommended) bisa kontak ke sosial media aku ya….bukan mau promosi, tapi cuma mau sharing dan sekedar membantu saja.

Wew….malah ngiklan….

Nah, benar memang setelah menggunakan jasa agen ini (sebut saja agen IDP), kami memang tinggal menyerahkan beberapa dokumen ke agennya itu, paling tiap hari atau beberapa hari kami tinggal tanya follow up nya bagaimana. Untuk masalah sekolah anak akhirnya juga dibantu sama agen untuk pengurusannya, plus memang akhirnya kami harus pinjam alamat teman dulu yang sudah ada di Australia, karena memang tetap harus menginfromasikan alamat yang ada di Australia, ini hanya untuk menentukan dimana anak akan bersekolah, makanya cari alamatnya yang di dekat dengan sekolah yang kita inginkan.Nah, setelah semua persyaratan diterima (ini visa belum granted ya), kemudian kami minta percepatan jadwal untuk medical check up. Kenapa minta percepatan? Satu, karena istriku pada saat itu masih bertugas di Jambi dan tempat MCU itu adanya di dekat rumah yang di Tangerang Selatan (baca Ramsay Premier Bintaro) so istriku harus mengalokasikan waktu melalui cuti, Kedua karena jadwal menstruasi istri, dimana medical check up itu tidak bisa dilakukan ketika wanita sedang menstruasi bahkan beberapa hari setelah menstruasi juga tidak bisa. Makanya kemudian kami request ke agennya agar bisa propose untuk medical checkp up nya dipercepat. Setelah tawar menawar tanggal dan harinya, akhirnya kami dapat juga jadwal atau pengantar untuk melakukan medical check up. Ohh iya, untuk medical check up for visa ini tidak bisa ujug-ujug datang ke rumah sakit kemudian minta diperiksa ya, karena memang kita butuh pengantar dari Pemerintah Australia bahwa yang bersangkutan melakukan medical check up dalam rangka pengurusan visa.

Nah lalu apa saja yang di cek pada saat medical check up?
  1. Mengisi formulir tentang riwayat kesehatan (dah gpp jujur aja, gak usah ada yang ditutup-tutupi). 
  2. Ukur berat badan dan tinggi badan serta tekanan darah
  3. Periksa mata
  4. X-Ray (ini untuk dewasa ya, anak-anak enggak dirontgen) yang bertujuan untuk mendeteksi ada atau tidaknya TBC, karena memang Australia ketat banget dalam bidang TBC ini dan Indonesia disinyalir masih terdapat kasus penderita TBC
  5. Wawancara sama dokter sama diperiksan beberapa anggota tubuh.
Nah, udah deh gitu aja...tapi jangan harap ya, hasil pemeriksaan itu bisa kita lihat di hari itu bahkan kita tanya kepada dokternya bagaimana hasilnya. Karena ternyata sekelas dokter atau rumah sakit tempat kita medical check up itu tidak memiliki informasi itu. Semua dokumen hasil pemeriksaan langsung di kirim ke Pemerintah Australia. So, kalau ada apa-apa, lolos atau tidak tes kesehatannya yang bakal info si Pemerintah Australianya, ini kasus biasanya terjadi kalau menyangkut TBC tadi, karena apabila terdeteksi harus menjalani masa perawatan dulu selama 6 bulan baru bisa deh kembali mengurus visa.Nah, setelah itu, baru deh kita kembali komunikasi dengan agen untuk follow up. Ini ada bermacam-macam kejadian ya, ada yang sehari setelah medical check up visa langsung granted, ada beberapa hari bahkan ada yang sampai beberapa minggu, semua tergantung kepada pegawai di Pemerintah Australia, dan kita juga tidak bisa menanyakan secara langsung proses aplikasi kita sudah sampai tahap mana, ada yang kurang atau tidak. So, pada saat itu kami hanya bisa follow up ke agen nya. Dan pada saat itu, 2 minggu kemudian visa kami granted (setelah ada instruksi untuk melakukan pembayaran visa dan beberapa hal lainnya). Yeaaayyyy...siap-siap deh beli tiket pesawatnya, eit jangan lupa tetap cari akomodasi (ini juga bakalan aku ceritain karena ada orang Indonesia yang muncul tiba-tiba dan berkenan membantu kami, ini kami sebut juga sebagai bagian dari Rencana Alloh, karena Dia pasti memberikan jalan/solusi dari tempat yang tidak diduga-duga). 

So, tunggu cerita selanjutnya ya…..

salam Toko DhikAndhi….Eeehhh...malah ngiklan lagi….