Friday, 23 December 2011

My 1st Motorcycle


Motor pertama yang aku beli dengan hasil jerih payahku sendiri
Honda GL 100 yang kemudian ku rubah tampilan menjadi Honda CB 100
Dengan mengusung mesin GL Neotech
Yah, mungkin memang lagi musim motor Honda CB di tengah kemajuan peradaban
Motor dengan inovasi-inovasi terbaru
Namun ternyata si CB tak mau kalah pamor
Banyak kalangan pecintan motor khususnya Honda CB merombak total tampilan kuda besinya
Bahkan tidak hanya dari tampilan saja
Melainkan dari tenaga alias mesin para rider pun mengotak-atik
Biar motor tua tapi mesin gak kalah mudanya
Maka seringlah dijumpai motor Honda CB bermesin tiger, bahkan terakhir ku lihat ada yang menggunakan mesin Kawasaki Ninja 250
Yah itulah kenapa kemudian aku memilih motor tua sebagai motor pertamaku
Pas lagi nge trend
Lha wong aku saja dapat komplain dari kekasih tercinta
Mengapa memilih motor ini
Selain Joknya yang kecil yang membuat para pembonceng musti ekstra pegangan ama drivernnya
Terus mesin yang terkadang kurang kompromi pada saat-saat tertentu hingga harus berhenti di sembarang tempat
Tapi ya itulah
Mungkin karena kebacut suka
Hal-hal komplain malah menjadikan motor semakin lucu
Tatkala pembonceng musti lebih mendekat ke drivernya karena kalau tidak bisa jatuh
Tatkala musti turun dari motor ketika motor mogok
Atau bahkan ngedumel waktu ngedorong motor
That's the story

Wednesday, 14 December 2011

Tak Ada Kata Yang Terangkai

Bingung mau nulis apa...
Sudah lama luapan hati ini tak tersurat dalam tulisan
Entah karena rutinitas menulis dalam format tertentu
Atau karena luapan hati ini tak mampu tersuratkan

Yang jelas
Aku bingung mau nulis apa...

Tuesday, 15 November 2011

Luangkan Waktu Bekerja Untuk Dunia

Mungkin bagi kebanyakan orang yang membaca bakalan menerkan bahwa anggapan saya terbalik. Hal ini memang sengaja saya lakukan, karena memang saya miris melihat kemudian orang mengesampingkan ibadah demi hasrat keduniaan mereka. Meeting.. Tugas yang tanggung hampir selesai...atau alasan yang lain yang kemudian adzan pun tidak bisa menggoyahkan aktifitasnya.

Menjadi pertanyaan dalam batin saya, penting mana sih kemudian urusan menghadap Pencipta dengan urusan yang diciptanya?
Bagi kaum pebisnis mungkin memang falsafah atau paham waktu adalah uang itu berlaku bagi mereka, sehingga setiap jam dan menit bahkan detik mereka analogikan sebagai perputaran uang.

Tapi saya rasa tidak, menghadap Pencipta lebih mulia daripada terlena dengan apa yang dicipta Nya.

Luangkan waktumu untuk bekerja
Karena ibadah yang mengalir rutin dalam tiap detik jiwa
Mengalir secara terus menerus dalam aliran darah kehidupan
Ibadah tidak hanya berarti sholat, puasa maupun yang lainnya
Jadikan setiap sendi kehidupan menjadi sebuah peribadatan
Manifestasi sebuah rasa syukur akan karunia nikmat Nya
Bahkan bekerjapun bisa merupakan sebuah ibadah

Jadi
Untuk dunia ini
luangkan lah waktumu sejenak saja
Lebih banyaklah ibadah
Karena dia sang Pencipta mu...

Sunday, 13 November 2011

Pelukan Setan Saat Subuh

Angin dini hari berusaha menyeruak masuk
Denting jam pun terlelap
Tiada hewan malam yang mengusik telinga

Sesaat sayup ayat Quran lamat-lamat menerobos mimpi
Alarm bahkan menghardik tidur
Tapi serta merta tangan ini merayap
Membunuh si tukang yang membangunkan tidur
Tanpa membuka mata..
Bahkan sesaat meledak terdengar adzan subuh

Pelukan setan
Merayu memang kemudian memeluk mimpi kembali
Sambil membisikkan rayu di hati
Ini masih terlalu pagi..
Istirahatlah sejenak barang 5 - 10 menit
Toh dengan rentang waktu segitu engkau tak kan terlambat menunaikan Sholat bukan?

Lalu samar hati ini mengiyakan
Kembali melelapkan mata untuk berjumpa mimpi

Menit bergulir hingga mentari tlah tinggi
Tersentak tubuh ini
Takut dan terkejut melihat mentari tlah bersinar terang
Hati ini menagih janji pada sang setan
Mana katamu aku hanya tidur 5 - 10 menit sesaat setelah adzan subuh
Kini aku harus tertinggal masa nya...

Sang setan hanya tertawa
Dan berkata dalam hatinya...
Inilah temanku besok saat di neraka
Teman yang ku peluk tatkalan adzan subuh berkumandang
Pelukan yang membuatnya meninggalkan salah satu perintah Alloh SWT

Monday, 3 October 2011

Kami Mulai Beranjak


Telah lama kami beradu jemari
Telah lama kata cinta saling menyapa hati kami
Telah lama pula kami saling menyayangi dan mengasihi

Peluh sedih air mata pun telah menghiasi
Menutup gelak canda tawa cinta
Merah marah pun menghiasi desir otak kami

Kami mulai beranjak
Dari situ kami memantapkan langkah
Kami masih dan akan saling menyayangi

Meski kami sering bertengkar
Sering beradu tawa
Cemooh
Dan kebencian sesaat

Kami beranjak melangkah
Memadu kasih menjadi ikatan
Menjelang mimpi yang kami idamkan

Bismillahirrohmanirrohim....
Ridhoi kami ya Alloh...
Kami mulai beranjak...

Wednesday, 31 August 2011

Memaknai Diam

Diam....
Tak berkata-kata
Membisu mungkin banyak orang menyatakannya

Ada yang mengatakan bahwa diam itu emas
Ada pula yang mengatakan bahwa diam itu laksana menyimpan mutiara
Dalam buritan mulut

Aku memaknai diam
Sesuai dengan tulisan yang aku coretkan di dinding kamarku
Bahwa ibu dari segala adab adalah sedikit bicara
Entah mungkin aku yang salah menafsirkan atau hanya sekedar beda pendapat

Sedikit bicara dengan diam

Akhir-akhir ini ada yang bermasalah dengan prinsip yang aku pegang tadi
Karena kemudian diamku menjadi salah arti
Menjadi tidak komunikasi
Menjadikan salah persepsi

Aku diam
Karena aku pikir
Diam akan melahirkan sebuah kewibawaan
Tentu saja tidak senantiasa diam
Diam pada tempatnya
Bicara ala kadarnya dan berkualitas

Meneng ning mentes

Mungkin dapat diperibahasakan demikian

Aku masih ragu dengan orang memaknai diam

Aku diam karena aku tidak ingin terlalu banyak bicara
Aku diam karena sedikit bicara
Dan menjadikan seperti apa yang terpampang di tembok kamarku
Ibu dari segala adab adalah sedikit bicara

Thursday, 18 August 2011

Sarang Jerami dan Sangkar Emas

Jerami itu coklat
Menggelayut semrawut di cabang pohon mangga
Tak rapi memang
Berwarna coklat kumuh dan sedikit berbau tahi burung

Sangkar itu berwarna emas
Megah nan kokoh tatkala memandangnya
Seolah mahligai dan kebahagiaan hidup bisa tercapai di dalamnya
Berhiasan makanan nan mewah

Namun
Sarang jerami lebih hangat tatkala malam memeluk
Tatkala bulu basah tersiram rintik hujan

Sarang jerami tak pernah sedih
Ketika sang burung terbang mengepakkan sayap
Bebas ke angkasa
Dia akan senantiasa siap menjadi penghangat tubuh sang burung
Meski dia sendiri tidak bisa berteduh tatkala hujan beriringan menari
Di tengah awan yang memendam mentari

Sangkar emas memang menawarkan kemewahan
Kemegahan pagi hari
Terpantul dari kilau tiap sayat cahaya mentari
Membusungkan dada tiap burung yang berada di dalamnya
Makanannya pun burung tak perlu mencari
Mahal tentu dan bergizi

Namun sangkar emas tak menawarkan kebebasan
Tak rela semenit pun burung membuka pintu
Untuk sekedar bercicit di luar sangkar
Dan sangkar emas tak mampu memberikan kehangatan
Tatkala malam mendera dengan dinginnya

Monday, 15 August 2011

Antusias Buka Bersama di Ibukota

Buka puasa merupakan ritual wajib pada saat kita berpuasa
Dan biasanya lebih rame ketika bulan Ramadhan
Karena berpuasa berjamaah
Sehingga penuhlah warung tatkala maghrib menjelang

Ini lah yang aku lihat di Jakarta ini
Antusias benar orang yang berpuasa untuk melakukan acara ritual buka bersama
Bersama teman sekantor
Teman sepermainan atau istilahnya teman gaul
Atau bahkan bisa jadi ajang reuni
Paling tidak aku bisa melihat sebuah keindaha di sana
Kebersamaan
Kehangatan bersilaturahmi

Namun ada sedikit sedih aku melihat
Di ibukota ini
Tatkala maghrib menjelang
Yang rame tentu saja pusat makanan
Liat saja waiting list para pengunjung sampai berjubel
Bahkan ada yang memesan tempat duduk dari jam 12.00 siang
Ketika adzan berkumandang
Orang sibuk mencicipi dan melahap makanan yang ada di hadapan mereka
Seolah semua akan dimasukkan ke dalam sistem pencernaan
Dan pada saat itu semua tak berpikir untuk meramaikan masjid
"Tar lah habis makan/buka"
Biasanya orang akan mengatakan hal itu
Katanya sih biar lebih konsentrasi kalau sholat sehabis makan
Paling tidak perut tidak keroncongan

Kemudian sekitar 15-30 menit
Mereka bergegas ke masjid/mushola
Dan memang
Banyak yang bepikiran bahwa maghrib setelah buka dengan makan banyak
Hasilnya
Mushola penuh (tau sendiri bagaimana ketimpangan bangunan mall yang megah dengan mushola yang tak cukup untuk menengadah)
Para pengunjung alias calon jamaah sholat maghrib berjubel
Apakah masih bisa berkonsentrasi kalau sudah seperti ini?
Suara sang imam tak terdengar
Kalah dengan riuh ramai para pengunjung
Kata amiin yang terseriak pun selah meraba apa yang telah diucapkan ama imam

Padahal
Kalau mereka buka dengan sedikit makanan saja
Lalu bergegas menegakkan sholat
Tentu tidak berdesak-desakan
(namun bisa juga ya,kalau semua berpikiran seperti ini mushola pasti penuh juga)
Yah, paling tidak pada jam buka mereka berjejalan di rumah Alloh

Oh iya, mungkin bisa juga
Sebelum menentukan tempat buka
Perlu dipertimbangkan
Tempat makan yang memiliki mushola yang luas
Jadi bisa deh berbuka dan menunaikan sholat maghrib dengan nyaman

Sunday, 14 August 2011

Arisan Jabatan Struktural

Pada saat itu musimnya mutasi dan pensiun
Pada saat itu pula musimnya promosi
Ada yang naik dan ada yang tersingkir
Terlempar jauh ke daerah pun bisa membuat orang pindah instansi
Dengan konsekuensi jabatan tak naik

Lucunya,
Pada saat itu
Pimpinan penentu mutasi dan promosi menjadi sering mendapat kunjungan
Bukan kunjungan presiden atau inspektorat
Atau kunjungan dari lembaga lain yang ingin bersilatrurahmi

Melainkan kunjungan dari para kroco
Yang notabene tak punya cukup poin untuk mendapatkan promosi
Keahlian yang dimiliki dikhawatirkan tidak sesuai jabatan yang dipangku
Hanya keahlian lobi
Mungkin kasarnya hanya kemampuan menjilat
Demi sebuah jabatan struktural

Bahkan tak segan dia mengkambinghitamkan teman yang selama ini menjadi teman seperjuangan
Menyingkirkan melalui jalan belakang
Berbaik hati bermuka dua
Demi jabatan struktural

Dan sayangnya lagi
Pimpinan melihat dengan subjektifitas
Tanpa melihat poin yang dimiliki
Prestasi kinerja yang sudah dilakukan
Bahkan tak melihat relevansi bidang keahlian yang dimiliki

Dan demi jabatan struktural
Pimpinan pun mulai buta karena pujian
Bujuk rayu
Dan terkadang jasa-jasa palsu

Dan akhirnya
Yang terjadi adalah carut marut kelembagaan
Jabatan struktural dipangku oleh orang yang tidak memiliki kompetensi
Sesuai bidang keahlian yang dimiliki

Kebijakan menjadi kabur
Terkadang tak sesuai dengan tupoksi kelembagaan
Melenceng jauh dari visi misi lembaga

Namun, sebagai staf bisa apa
Di bawah pimpinan
Staf hanyalah suruhan
Diam atau kemudian ikut menjadi sistem penjilatan
Membenarkan apa yang menurut pimpinan itu benar

Semua itu karena
Arisan Jabatan Struktural

Tuesday, 9 August 2011

Balas Budi Katanya

Kasih Ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia


Sepenggal lagu itu sering aku dengar
Dan memang aku tahu itu benar adanya
Bahwa sampai kapanpun seorang anak berusaha membalas segala kebaikan ibu
Takkan pernah dia mampu

Meski sang anak banyak harta
Banyak berkorban
Berusaha keras membahagiakan sang ibu
Tapi itu takkan pernah cukup membalas

Aku punya kisah dan aku tak tahu apakah sama dengan yang lain
Aku ibu ku sayang sama aku
Meski beliau sering memarahiku
Mungkin karena aku terlampau nakal atau ibu terlampau sayang padaku
Tapi dia tidak pernah menuntutku
Dia selalu mendoakanku

Lalu aku mendengar cerita dari sosok ibu yang lain
Sosok ibu yang mengaku telah berbudi
Mengaku telah menjadi sosok yang berpiutang
Kemudian salah atau tidak pengertianku
Dia menagih budinya

Entah aku yang bodoh atau semua ini di luar kekuasaanku
Tapi seolah hal itu memupuskan lagu di atas tadi
Hanya memberi tak harap kembali

Ayah, Rumah Kita Juga Ikut Terbakar


Pada saat itu senja telah menutup lembarannya
Berganti dengan gelitik suara remang-remang malam
Temaram lampu listrik memecahkan pupil
Orang berduyun berbaris rapi meniti jalan menuju masjid

Maklum saja, bulan ini bulan ramadhan
Paling tidak orang punya alasan untuk meramaikan masjid tatkala habis masa maghrib
Lihat saja, bukan sebuha cerita lagi
Kalau masjid lebih sepi tatkala bukan bulan ramadhan

Saat itu aku berbaris dalam deretan shaf terdepan
Di masjid Al Fauz di lingkungan kantor walikota Jakarta Pusat
Sholat Isya sudah selesai dilaksanakan
Tinggal sholat tarawih berjamaah

Di pertengahan sholat tarawih
Di sela sayup-sayup alunan ayat Al Quran
Terdengar sirine mobil pemadam kebakaran
Saat itu masih ruku sehingga tidak banyak yang mempedulikan
Kemudian tiba saat jari telunjuk mengacung dan kemudian merekat kembali
Salam kedua di ucapkan
Dan kemudian dari luar terdengar teriakan terbata-bata
"kabakaran..kebakaran..kebakaran di gang delapan"
Deretan shaf paling belakang akhirnya riuh
Bubar carut marut
Entah mungkin mereka ingin menonton, membantu atau bahkan menjadi korban
Yang jelas, sekitar 20% jamaah sholat tarawih malam itu bubar

Di sampingku, berdiri dengan tenang seorang bapak tua
Yang tetap konsentrasi pada ibadahnya
Meski orang carut marut mempedulikan kebakaran

Hingga akhirnya akhir dari sholat tarawih menjelang
Sang anak dari bapak yangt adinya juga berada di sampingku
Yang ikut lari mengikuti arah sirine mobil pemadam kebakaran
Kembali dengan baju basah keringat
Dengan nafas tersengal-sengal
Sedikit bijak dan mengatakan
"Kebakaran gang delapan sudah padam yah"
Sang bapak hanya menimpali dengan sunggingan senyum saja kepada berita dari anak itu

Dan kemudian sang anak pun menimpali lagi dengan kata- kata
"Ayah, Rumah Kita Juga Ikut Terbakar"

Sunday, 24 July 2011

Jakarta 23 Juli 2011

Jakarta..
Yah..ini jadi kota tempat tinggalku saat ini
Bahkan kemungkinan beberapa tahun ke depan

Malam ini tanggal 23 Juli 2011
Aku kembali menikmati malam di ibukota negara ini
Gemerlap lampu yang seolah tidak memejamkan mata manusia
Desingan deru kendaraan bermotor seolah aktifitas tidak pernah berhenti

Kunikmati malam ini dengan beberapa hembusan angin
Bersama sang kekasih diringi melodi pengamen jalanan
Menatap rembulan yang tidak terbit malam ini
Namun sepercik sinar bintang menghiasi malam ini
Meski hanya satu dua saja

Angin malam tak pernah dingin di sini
Bahkan terkalahkan oleh udara dingin ruangan saat matahari menunjukkan keperkasaannya
Sesekali hanya menghempaskan debu ke permukaan wajah saja
Atau angin yang disebabkan oleh deru kendaraan bermotor

Tapi paling tidak
Tanggal 23 Juli 2011 aku bisa menikmati malam
Dengan kerak telor di suasana klasik
Kota Tua

Meski sebelumnya baratayuda melanda
Namun mungkin itulah pemanis cerita
Penghantar cerita kisah
Yang membuat dewi asmara senantiasa memeluk dalam naungan sayap cintanya

Friday, 15 July 2011

The Placement

On Friday, July 15th 2011
You knew that your placement is announced
And you feel confused
So did I

I prayed everyday
Make a wish that your placement is not make destination between us

Alhamdulillah
On Friday, July 15th 2011
I heard the result
I heard from you

And you said Kanwil Jakarta Pusat
I was relieved to hear that
Alloh give me a sign
Alloh has answer my pray

Sunday, 10 July 2011

Sometimes, Love is Suck


When the sky change their color
From blue into orange and then dark
I always wondering you

I call you
But you not answer my phone
I know you have many activity there
I'm just wondering that you call say a little word
Just say "I am sorry i can talk to you now because i am busy"
I just want to hear your voice

Do you know
When you not answer my phone
What is my imagination?

Sometimes, Love is suck
Feel jealous
Miss you

I know that
Since many years ago
While i hate love
And dont want to know the love again

Yes, it's happening to me now

And i hate it

When i must feel many things in my heart
But i can show it
Say it
And it just happen to me
Deep in my heart

Remove you temporary
I can't
Never can't do that

So i just feel this
Alone..alone
And sometimes you do not believe that i feel this
I do not know where i must go
For tell my feeling

I keep this by my self
And deep so deep
On my heart

Sometimes, Love is Suck

But i can not deny
that I love you so much

Sunday, 3 July 2011

Jadi Begini Rasanya

Jadi begini ya rasanya
Ditinggal kekasih pergi meski tak lama

Jadi ini ya yang kamu rasakan setiap aku dinas luar
Meski hanya 3 hari

Jadi ini ya yang kamu rasakan
Gundah,bingung,kangen,cemas semua campur aduk menjadi satu

Kita sering bertengkar saat kita berdekatan
Kita sering ngambek tak jelas saat berdampingan
Tapi saat kita jauh
Kita terkapar juga dalam naungan rindu
Dalam lautan siksa asmara

Aku rindu saat kamu jauh
Bahkan untuk saat ini
Yang hanya 20 hari

Tapi menurutku 20 hari itu tidaklah sebentar
Ada banyak jam di sana yang harus kulewatkan tanpa melihatmu

Sms, gtalk, Facebook, webcam
Mungkin bisa sedikit meredam rasa ini
Tapi tentu saja tak bisa menawarkan rasa
Aku rindu...

Aku biarkan saja mencoba
Sedikit meredam gejolak rindu ini
Dengan menyandarkan diri
Pada doa-doa
Tentu saja doa untuk mu
Doa untuk kita

Aku tak bisa membayangkan
Bagaimana rasanya berpisah jauh lebih lama daripada ini
Dan aku tak mau

10 hari
cepatlah berlalu
karena aku rindu

Aku rindu akan amarahmu padaku
Aku rindu mimik wajahmu tatkala bete ma aku
Aku rindu cubitan sakitmu
Dan aku rindu cibiran bibirmu
Aku rindu senyummu
Aku rindu tawaanmu
Aku rindu kata "garis-garis"


Aku rindu semuanya dari dirimu

Kasih Sayang Di Balik Semua Ini

Gumpalan awan nan pekat menyelimuti
Bumi biru mendadak gelap
Mentari terang galau tuk menembus semua
Memicingkan mata saja sudah tiada silau adanya

Hati ini semuram bumi
Gelap meraung tak berhenti
Mencari secerca cahaya namun tak kunjung ada

Sadar adanya cahaya itu abadi
Sadar cahaya itu akan kembali menembus
Gelap nan pekat rentetan awan

Jengkel, marah dan sakit hati
Perwujudan awan nan pekat yang menjadi-jadi
Menggerus menutupi cinta nan abadi
Kasih sayang yang setia serta mulia

Kasih,
Di balik semua ini ada kasih dan sayang
Yang rela menunggu awan menggumpal nan pergi
Mengusir bahkan akan

Kasih,
Cahaya itu ada
Namun bisu untuk mengungkapkan

Kasih,
Awan itu hanyalah sementara

Kasih,
Cahaya itu abadi

Friday, 1 July 2011

FUCK

FUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCK
FUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCKFUCK

Monday, 27 June 2011

My Initial is not H


My name is Andhika Willy Wardana
With all my character
With all my weakness

You can't compare me with another man
Because they are not me

My name is Andhika Willy Wardana
And my initial is not H

Maybe,
initial H have more concern about your daily activity
initial H can make you feel comfort to tell all about your problem

Better than me?
Of course it can be

But,
I don't want to be initial H
I want to be myself

Andhika Willy Wardana
And not initial H

Monday, 20 June 2011

Rahasia Bapak

Bapak sy dari kampung.. Lahir di keluarga besar dengan ekonomi yang tidak terlalu baik. Semasa kecilnya, bapak sering bekerja memanjat pohon kelapa, membuat bata, bahkan bertani demi sekolah. Tapi cita - cita bapak ga pernah padam.. Suatu hari, dia melihat mobil2 pribadi yang lewat di depan sawahnya. Saat itu, bapak bergumam: "saya pasti bisa punya mobil seperti itu nanti!"

Lulus SMA, bapak bersikeras pergi ke Jakarta. Berbekal ijazah yang nilainya pas - pasan, bapak melakukan pekerjaan apa saja asal halal. Mulai dari tukang bangunan yang tidur beratap langit, buruh pabrik bagian pengepakan, dll. Tapi cita2 bapak nggak pernah padam.

Bapak pun memutuskan melanjutkan kuliah di Universitas Terbuka Jakarta. Gajinya yang nggak seberapa disisihkan untuk membayar biaya kuliah. Terkadang, perilaku negatif dari orang lain menimpanya, seperti fitnah, cemoohan, ejekan, dll. Tapi bapak tabah menjalani itu semua.

Karena uangnya sangat pas2an, seringkali bapak hanya mampu makan nasi dan tahu di warteg. Satu hari, pelayan warteg nanya: "koq makannya pake tahu terus mas?" Bapak cuma tersenyum santai, "Bosen makan ayam mbak.. di kampung Ibu saya masak ayam terus.." Padahal kenyataannya, bapak kekurangan uang. Malah dia harus minum sebanyak mungkin supaya cuma makan 2x sehari.

Setelah kuliah tingkat ke-2, Bapak pun melamar menjadi guru dan diterima. Disini, taraf hidupnya naik. Bahkan Bapak memberanikan diri membeli tanah dengan sistem cicilan. Di usia 23, Bapak melamar Ibu. Kuliahnya di UT terpaksa ditinggalkan dan nggak selesai karena Ibu ane ngga mau ditinggal kalo malem

Meskipun gaji seringkali kurang karena harus mencicil ke matrial untuk membangun rumah sederhana (dulu rumah ane lantainya tanah ), bapak nggak mau berhenti berusaha. Bapak pun memutuskan berwiraswasta. Profesi guru ditinggalkan karna Bapak ingin mengembangkan usahanya.

Jatuh bangun dalam berwiraswasta sudah dirasakan Bapak ane. Bapak pernah menjadi pengusaha bajaj , omprengan buruh pabrik, bando (aksesoris itu lho), bengkel, warung2, dll. Bapak sendiri nggak pernah membuka seperti apa pekerjaannya ke kami, anak2nya. Bapak selalu menegaskan, "tugas kamu cuma belajar! kalo kamu ga pinter, bapak yang malu!"

Satu hari pas ane SMA, ane buka2 lemari dokumen keluarga dan menemukan map yang diikat dan dibungkus rapih.. Pas ane buka, rupanya itu ijazah Bapak ganDia merahasiakan ijazah sekolahnya. Nilainya? Ancuuuur.. Sambil ngakak2, ane ledekin Bapak.. Tau apa jawaban bapak gan?

Bapak emang ga pinter.. Tapi bapak akan ngelakuin apa aja supaya anak2 bapak pinter2..

Ane nangiiis gan

Buat agan yang ngerasa hidupnya stagnan dan suram, liat tuh contoh bapak ane.. Sekarang, di usianya yang 47, bapak bisa tenang karna meskipun ga berlebih, ekonomi keluarga ane jauh dari kata kekurangan. Bapak udah pernah pny mobil sampe 4 biji mskipun skrg smua dijual krn ga ada yg bs nyetir . Bapak jg udah bisa beliin rumah bwt anak2nya mskpun sederhana. Dan yang paling bikin Bapak bangga, menurut Bapak sih, karna anak2nya pinter2 gan.. Ini rahasia bapak ane dlm meninggalkan lembah hitam kemiskinannya:
1. PELIT. Bapak pelit gan.. Ane minta 1rb perak aja ga dikasih dr dulu.. Tapi kalo udah berkaitan dgn sekolah, mau minta 1jt besok jg dicariin ama Bapak
2. GA NGEROKOK. Dulu waktu masih muda Bapak ngerokok, tapi pas udah merit Bapak berhenti ngerokok. Alesannya simple: rokok mahal
3. JUJUR.
4. KERJA KERAS dan NGGAK CEPET PUAS.
5. SHOLAT DHUHA dan TAHAJJUD! <== serius gan.. sesibuk apapun, Bapak selalu sholat dhuha dan tahajud, meskipun bacaannya blom fasih krn bapak dlu waktu kecil ga dikirim ngaji

SEMOGA CERITA BAPAK ANE INI MENGINSPIRASI YA GAN..

Disalin dari http://www.kaskus.us/showthread.php?t=7717886

Friday, 17 June 2011

Kontrol Merger Melalui Notifikasi

Persaingan usaha merupakan salah satu isu yang muncul setelah era orde baru ambruk. Dengan dimulainya kancah era reformasi, nadi-nadi sektor yang dulunya dipenuhi dengan konglomerasi dan praktek monopoli mulai dikurangi. Hal ini bukanlah sebuah main-main, pemerintah menunjukkan konsen ke isu persaingan usaha dengan mengeluarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Meskipun ada beberapa kontroversi dalam pembentukan undang-undang tersebut, namun dalam hal ini saya tidak akan membahasnya. Pemerintah memberikan amanat kepada Komisi Pengawas Persaingan Usaha atau yang disebut KPPU untuk mengawasi penegakan undang-undang tersebut.

Dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 terdapat 53 Pasal beserta penjelasannya. Salah satu pasal dalam undang-undang tersebut adalah mengenai penggabungan, peleburan dan atau pengambilalihan saham perusahaan, yang dikhalayak umum sering disebut merger dan akuisisi. Ada dua pasal yang konsen ke merger dan akuisisi dalam undang-undang tersebut.

Pasal 28 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999:
(1) Pelaku usaha dilarang melakukan penggabungan atau peleburan badan usaha yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat
(2) Pelaku usaha dilarang melakukan pengambilalihan saham perusahaan lain apabila tindakan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat


Pasal 29 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999:
(1) Penggabungan atau peleburan badan usaha atau pengambilalihan saham sebagaimana dimaksud dalam pasal 28 yang berakibat nilai aset dan atau nilai penjualannya melebihi jumlah tertentu wajib diberitahukan kepada Komisi, selambat-lambatnya 30 (tiga puluh)sejak tanggal penggabungan, peleburan dan atau pengambilalihan tersebut

Untuk mendukung penegakan dua pasal ini pada bulan Juli 2010, Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah nomor 57 tahun 2010 tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan Yang Dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Peraturan pemerintah tersebut juga mempertegas bahwa setiap transaksi merger dan akuisisi wajib diberitahukan kepada Komisi (KPPU). Tentu saja pemerintah menetapkan nilai-nilai/ketentuan untuk sebuah transaksi yang awjib diberitahukan kepada KPPU. Misalkan saja seperti nilai aset. penjualan dan tidak terafiliasi.

Mungkin saja, para pelaku usaha menganggap bahwa ketentuan ini merupakan salah satu birokrasi yang akan memperpanjang birokrasi dalam rangka ekspansi usaha. Namun, di sisi lain perlu juga dilihat pada kasus Telkomsel dan Indosat yang bermula dari proses akuisisi. Pemberitahuan yang wajib dilakukan oleh pelaku usaha tersebut, justru diharapkan mempermudah para pelaku usaha untuk memperoleh kepastian hukum terhadap transaksi yang dilakukan.

Dilihat dari sisi yang berbeda, merger dan akuisisi akan menciptakan perubahan di struktur pasar. Perubahan struktur pasar seperti inilah yang dapat menimbulkan praktek monopoli seperti penguasaan pasar yang kemudian disalahgunakan untuk menaikkan harga (di atas harga kompetitif) yang merugikan konsumen atau kemudian untuk menekan pesaing usahanya.

Dengan adanya kontrol merger yang dilakukan dengan memberitahukan (notifikasi) kepada KPPU diharapkan potensi-potensi perilaku anti persaingan yang ditimbulkan dari prosesm merger dan akuisisi dapat ditekan. Dalam hal ini, pelaku usaha juga bisa melakukan konsultasi kepada KPPU sebelum melakukan transaksi merger dan akuisisi. Dengan adanya konsultasi, maka pelaku usaha dapat mengetahui apakah merger dan akuisisi yang akan dilakukan dikemudian hari memiliki potensi untuk menciptakan praktek monopoli atau tidak.

Setelah pelaku usaha melakukan pemberitahuan, maka KPPU akan melakukan penilaian beberapa aspek seperti konsentrasi pasar, potensi perilaku anti persaingan, entry barier, efisiensi dan kepailitan. Akhir dari penilaian tersebut adalah sebuah pendapat komisi, yang menentukan apakah merger dan akuisisi tersebut berpotensi atau tidak menimbulkan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.

Dalam melakukan penilaian tersebut, diharapkan bahwa KPPU melakukan penilaian yang tepat. Hal ini untuk menghindari kesalahan penentuan merger dan akuisisi yang tidak berpotensi menciptakan persaingan usaha tidak sehat namun dinilai berpotensi menciptakan persaingan usaha tidak sehat, demikian pula sebaliknya

Tuesday, 14 June 2011

Kursi Biru


Kursi ini hanyalah kursi biasa
Bukan kursi yang bisa diperebutkan petinggi negara
Bukan kursi yang diduduki para narapidana
Bukan pula kursi listrik yang menghukum para terpidana

Menatap kursi ini entah mengapa bisa membuat aku tersenyum
Tak ku sangka sebelumnya
Aku biasa melihat, merasakan dan menduduki kursi ini
Mungkin bagi beberapa orang kursi ini hanyalah kursi biasa
Di deretan para antrian pnumpang pesawat

Naik pesawat?
Tak pernah aku impikan sebelumnya
Hanya sering aku lihat mereka berlalu lalang di atas atap rumahku
Suaranya yang menderu
Membuat aku berlari keluar dan menatap langit
Seraya menunjuk pesawat

Kini,
Bahkan aku sudah capai
Mmm...sebenarnya tidak juga
Kartu anggota penerbanganku juga masih menunjukkan kalau volume penerbanganku masih medium
Tapi paling tidak aku sudah sedikit lelah
Pusing berada pada tekanan udara yang telah terpengaruhi gaya gravitasi bumi
Naik dan turun menekan tiap lambungku

Kursi biru ini
Adalah kursi biru diruang tunggu bandara Adisucipto
Jogjakarta

Sunday, 8 May 2011

Kubawa Engkau Terbang...Namun...

Kau sungguh bunga nan indah
Berkelopak merah di tengah kebun bunga nan gundah
Menebar pesona dengan warnamu

Aku tertarik dan aku mendekat
Ku cium aromamu perlahan namun dalam
Ku pejamkan mataku untuk menghayati rasamu
Aku menatapmu lama
Hingga aku ingin sedikit memegangmu
Merasamu

Ku beranikan sayapku nan kokoh ini menyentuh sisi-sisi lembutmu
Aku merasakan betapa lembut bulu dalam tiap sudut ari mu
Sungguh indah memang
Dalam hati ini terbesit kemudian rasa ingin memiliki
Ingin membawamu ke langit tinggi di atas awan

Aku sungguh terpesona akan elok warnamu
Dan sepertinya engkau juga terpesona dengan sayap-sayapku
Bagaimana kemudian kalau kita saling menyatukan
Kan kubawa engkau terbang bersama sayapku
Dan aku melihat elok warnamu

Semilir angin kemudian menerpamu
Seolah menganggukkan tubuhmu
Tanda setuju

Engkau kupetik
Meski aku melihat engkau merintih sakit
Saat ku pisahkan engkau dengan bumi
Saat ku lihat percikan bulumu mengucapkan selamat tinggal
Namun aku juga melihat linangan semangat dan bahagia
Tapi itu tafsirku dan semoga saja begitu
Engkau suka akan terbang ke langit yang belum pernah engkau jumpai
Menembus awan dan mendekat dengan mentari

Tanpa menunggu abad berganti
Aku membawamu terbang
Aku membawamu menembus awan
Dan aku menunjukkan padamu
Bulat dan terangnya sang mentari

Namun!!!!!!
Aku tak kuasa lagi melihatmu
Engkau semakin rapuh
Kelopakmu perlahan runtuh
Warna-warnamu menjadi gelap

Mengapa????
Aku ingin membawamu terbang dengan sayapku
Namun itu membuatmu meruntuhkan kelopakmu
Sampai engkau benar-benar terpejam
Dalam mimpi
Kesedihan atau kesenangan tak bisa kutafsirkan

Kupeluk erat engkau dalam dekapan sayapku
Ku coba hangatkan engkau
Hanya itu yang aku bisa lakukan untukmu
Agar kelopakmu tak runtuh seluruh
Aku ingin menjagamu
Namun aku juga ingin memilikimu
Dan sebenarnya aku ingin engkau senang

Kelopak bunga
Kusimpan dalam dekapan sayapku

Kubawa Engkau Terbang Namun....

Aku hanya ingin membuatmu bahagia
Namun aku mohon maaf bila caraku salah
Dan justru memuat engkau terluka

Monday, 2 May 2011

Bojo Cugetan? Yo Wis Ben...

Ninguk nengen nesu
Ninguk ngiwo padu

Ngomong salah
Meneng yo tetep salah
Kabeh malah dadi serba salah

Ning anehe tetep aku sing krasa salah
Tetep aku sing krasa kudu nyuwun pangapura

Isane mung ngelus dada
Sabar njembarke ati

Bojoku cugetan yo wis ben
Sing penting tansah sabar
Yo ora selak, nek kadang sabar iku mlayu-mlayu
Ora kecandhak ono jeroning ati saknalika
Kudu dipikir dawa
Kadang yo nganggo emosi sethitihik
Lagi ae sabare bali nang panggonane

Bojoku cugetan
Yo wis ben

Sing penting rasa tresnane ora luntur
Tresnaku lan tresnane

Your Short Message, I will remember it, so I write it at this Blog

My Life is complicated enough
And a problem with u is the last thing i need now

I love you so much, even I'm mad at you
Even when I ask you to leave
All I really want is for you to be there
To hold me close

Do you want me to stay around or give you some time alone now?

Wednesday, 27 April 2011

Pertengkaran Yang Menjadi Sebuah Kehangatan

Sebuah kata yang mungkin sudah sering terdengar
Bahkan mungkin seuatu yang sering dialami
Ketika dua orang atau lebih berselisih paham
Dan tidak saling mengerti satu sama lain
Tentang satu hal atau beberapa hal

Pertengkaran..
Mungkin memiliki beberapa makna dan kegunaan
Namun tentu saja banyak orang yang menganaggap hal itu merupakan sebuah beban
Yang harus diselesaikan dengan emosi yang meletup
Bak senjata yang terisi penuh oleh amunisi
Bahkan ledakannya melebihi amunisi yang dimiliki

Dari pertengkaran pun bisa mnciptakan beberapa situasi
Situasi dingin maupun panas membara penuh prahara
Cacian dan makian ada ada saja untuk dilontarkan
Kalau tidak berani, tentu akan mengumpat di dalam hati

Sebenarnya pertengkaran bisa saja menciptakan suasana yang saling mendekatkan hati
Saling mendekatkan diri
Dan membuat panas membara kemudian menjadi hangat
Suhu yang pas untuk saling bercengkerama
Tentu saja hal ini membutuhkan penurunan suhu amarah yang sebelumnya berkobar
Menyala seolah kan membakar dunia

Kemudian menjadi sebuah kehangatan canda tawa
Kehangatan untuk saling evaluasi diri
Saling meminta maaf
Dan pada akhirnya saling mengerti

Pertengkaran juga bisa membuat dua hati makin dekat
Dan makin saling mengerti bukan?
Namun tentu saja itu bukan merupakan mimpi
Pertengkaran

Tentu saja lebih indah kalau saling mengerti dan tidak pernah bertengkar
Namun kondisi tersebut susah bukan?
Banyak faktor yang menyulut pertengkaran
Faktor internal maupun eksternal
Tinggal bagaimana kemudian
Kita mensikapi pertengkaran tersebut
Menjadi sebuah kehangatan
Dan menjadikan saling keterdekatan

Pertengkaran yang menjadi sebuah kehangatan

Monday, 18 April 2011

Semangat Harapan Itu Sedikit Pudar

Beberapa saat yang lalu aku menggebu
Beberapa waktu yang lalu semangatku memburu
Linangan air mata ku mengkhayalkan saat itu

Aku tak hanya berdiam diri
Melamunkan semua
Hanya sekedar membayangkan

Aku telah sedikit berencana
Aku telah sedikit menyiapkan beberapa

Hingga pada suatu ketika
Salju dingin sedikit mengusik kobaran lilin ini
Menetes perlahan dan mengenggankan untuk menghangatkan
Menyelimuti perlahan hingga terasa parau

Terkadang cahaya itu memang berkilau
Tapi tentu saja tak seterang dulu tanpa salju
Temaram cahayanya bahkan hanya terlihat tipis saja

Aku tahu
Salju itu hanya musim
Yang akan berakhir
Tanpa mematikan lilin atau mematahkannya
Tak juga akan melelehkannya hingga habis

Namun lilin itu tak lagi hangat
Temaram cahayanya sayu

Saturday, 16 April 2011

The Miracle of Sedekah


Mungkin mendengar kata sedekah bukanlah sebauh hal yang asing lagi buat kita. Kata itu sering terdengar dari para ulama, rekan sejawat, guru dan media-media yang lainnya. Sedekah adalah menyisihkan sebagian milik kita untuk orang lain. Tak jarang pula kita mendengarkan betapa sangat bermafaatnya sedekah itu.
Dalam sebuah ayat dalam Surat Al Baqoroh menyebutkan bahwa:

"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan".

Dijelaskan dalam ayat tersebut bahwa setiap harta yang kita sedekahkan akan dikembalikan oleh Alloh SWT dengan nilai pengembalian yang berlipat-lipat. Mungkin secara analogi ilmiah atau secara rasional hal tersebut tidak bisa diperhitungkan. Bagaimana harta kita dikurangi melalui jalan non investasi (investasi dunia usaha) bisa dapat membuat kita untung, bahkan berlipat-lipat.

Ya, di sinilah letak kekuasaan Alloh SWT, dan Dia tidak akan pernah ingkar terhadap hamba Nya. Hal ini saya alami sendiri bagaimana sebuah keajaiban dari sedekah. Hal ini saya rasakan sejak dulu bersekolah. Untuk mengetes (sebenarnya tidak boleh dilakukan karena merupakan perbuatan meragukan kekuasaan Alloh) karena saat itu saya masih menggunakan rasionalitas dalam kehidupan ini. Satu bulan saya tidak sedekah dan satu bulan saya sedekah. Di bulan pertama saya tidak sedekah, memang semua seolah berjalan seperti biasa. Uang saku tetap mengalir seperti biasa dan jumlahnya pun tidak berkurang sedikitpun. Di situ saya masih mengambil kesimpulan bahwa, oh ternyata tidak ada pengaruhnya. Kemudian di bulan kedua, saya menyisihkan uang saku bahkan terkadang saya menggunakan uang saku seluruhnya (saat itu saya sudah mulai suka berpuasa)untuk bersedekah. Dan Subhanalloh, rejeki ane ditambah. Meski tidak melalui saya secara langsung (saat itu saya belum memiliki penghasilan), namun dampak dari sedekah tersebut dirasakan melalui orang tua saya. Tiba-tiba saja penghasilan mereka bertambah. Entah darimana asalnya (insyaAlloh halal) rejeki itu mengalir dengan lancar.
Dari pengalaman tersebut kemudian saya menggiatkan untuk bersedekah, dimana saja dan kapan saja (tentu saja ketika saya memiliki yang disedekahkan). Sampai saat ini pun saya masih merasakan dampaknya (sekarang sudah memiliki pendapatan sendiri), ketika saya dalam satu bulan misalnya lalai dalam bersedekah. Maka entah kenapa, pada bulan itu pula pendapatan saya segitu-segitu saja. Namun ketika saya menggiatkan bersedekah, entah darimana asalnya tiba-tiba saya mendapat surat tugas (yang pada akhirnya mendapatkan honor. Dan tentu saja, setiap mendapatkan hasil lebih tersebut, saya tidak lupa untuk kembali menyedekahkan. Bahkan saya pernah, entah karena kebetulan atau memang keyakinan saya, ketika saya mendapatkan rizki berlebih namun kemudian saya lalai atau dengan sengaja tidak menyedekahkan, selalu saja ada perasaan yang mengganjal dalam hati saya. Entah kemudian saya sakit atau rizki tersebut serasa cepat sekali habisnya.

Begitulah pengalaman saya dalam membuktikan betapa ajaibnya sebuah sedekah. Tentu saja dalam hal ini, sedekah bukan semata-mata untuk mengharapkan balasan berlipat-lipat dari Alloh SWT, melainkan bersedekah ikhlas karena Alloh SWT dan menyadari bahwa rizki yang saya dapatkan tidak seluruhnya merupakan hak saya, melainkan ada hak-hak orang lain yang terdapat dalam rizki yang saya peroleh.

Demikian keajaiban sedekah yang telah saya buktikan dan saya alami sendiri, dan saya yakin banyak pengalaman-pengalaman lain yang kita miliki atau kita ketahui mengenai sedekah tersebut. Semoga bermanfaat.

Monday, 11 April 2011

How To Make You Believe That I Love You?


Dikala hati resah
Seribu ragu datang memaksaku
Rindu semakin menyerang
Kalaulah ku dapat membaca pikiranmu
Dengan sayap pengharapanku ingin terbang jauh

Biar awanpun gelisah
Daun daun jatuh berguguran
Namun cintamu kasih terbit laksana bintang
Yang bersinar cerah menerangi jiwaku

Andaikan ku dapat mengungkapkan perasaanku
Hingga membuat kau percaya
Akan ku berikan seutuhnya rasa cintaku
Selamanya selamanya...

Biar awanpun gelisah
Daun daun jatuh berguguran
Namun cintamu kasih terbit laksana bintang
Yang bersinar cerah menerangi jiwaku

Andaikan ku dapat mengungkapkan perasaanku
Hingga membuat kau percaya
Akan ku berikan seutuhnya rasa cintaku
Rasa cinta yang tulus dari dasar lubuk hatiku Oh...

Tuhan jalinkanlah cinta
Bersama selamanya...

Andaikan ku dapat mengungkapkan perasaanku
Hingga membuat kau percaya
Akan ku berikan seutuhnya rasa cintaku
Selamanya selamanya...

Mungkin cuplikan lagu D'Cinnamons itu cukup bisa menggambarkan bagaimana aku ingin sekali menunjukkan cara bagaimana aku sangat menyayangimu. Namun, seringkali kau anggap caraku salah...kau seringkali marah, bahkan kau seringkali pergi meninggalkanku dan aku yang berlari mengejarmu..
Aku tahu mungkin aku punya banyak keterbatasan, tapi apakah dengan keterbatasanku ini menjadikanmu tak menyayangiku lagi?
Maafku menjadi tak lagi berharga untukmu, karena salah yang mungkin sudah banyak kuperbuat...tapi apakah kemudian kau akan berhenti menyayangiku?
Tapi, baiklah..aku menyadari aku bukan siapa-siapa yang bahkan mungkin tak berharga di dunia yang luas ini...akan kucoba menyikapi semua ini dengan sisa kesabaranku yang kuharap tak pernah habis saat aku bersamamu...
Marahlah padaku, dan aku akan sabar kepadamu...

Makin Dekat Makin Ada Ada Saja...

Rencana itu telah kami bicarakan
Rancangan yang sederhana namun kami harapkan menjadi momen yang indah
Dan membahagiakan
Momen yang kami tunggu
Semua sudah kami rencanakan

Waktu bergulir seakan mendekatkan kami kepada momen itu
Persiapan mulai harus kami mulai
Bukan hanya sekedar angan-angan nan indah yang menjadi pilar-pilarnya

Namun, seiring waktu pula ada-ada saja yang mewarnai hari-hari kami
Mudah bertengkar
Mudah marah
Mudah tersinggung
Di samping ada beberapa peristiwa yang aku khawatirkan memunculkan sebuah pilihan
Pilihan buah simalakama

Semoga saja semua itu hanya sekedar warna
Sekedar situasi dimana kami harus mulai saling belajar memahami
Untuk mendewasakan diri
Dan semakin saling mengerti satu sama lain

Hingga pada saat momen nanti
Kamipun menyadari
Bahwa warna-warni yang terjadi saat ini
Merupakan hal yang patut disyukuri
Ada ada saja melainkan untuk membangun semuanya

Momen yang indah itu
Makin dekat
Namun juga
Makin ada ada saja
Peristiwa yang terjadi

Thursday, 31 March 2011

Aku Harus Berhenti Menerka

Setiap yang terjadi terkadang menimbulkan multitafsir. your reality is not same with my conclusion
Terkadang menjadikan kesalahpahaman
Ketidak saling mengerti
Hal itu karena keduanya saling menerka

Menerka apa yang ada dalam pikirannya
Menerka dari setiap makna yang dilakukan, diucapkan
Bahkan yang lebih parah lagi menerka dari apa yang didengar

Lalu mengapa aku harus menerka?
Menerka yang sering kali bersifat prematur
Menerka yang cenderung bersifat konotatif

Mengapa aku tak bisa diam saja membayangkan semua berakhir indah
Berakhir sesuai rencana Alloh SWT
Atau paling tidak aku bisa bertanya padamu?

Menerka...
Lagi-lagi menerka
Meski telah kau jawab atau kamu diamkan dengan seribu bahasa
Aku masih saja menerka
Apakah itu benar adanya atau tidak?
Apakah masih ada yang kamu sembunyikan atau tidak?

Mengapa aku tidak menjadi begitu saja percaya padamu
Mengapa aku tidak membiarkan dengan kerelaan kalau pada akhirnya kamu bohong
Kenapa aku tidak bisa membiarkan hal itu?

Sebuah ketakutan?
Tapi ketakutan akan apa?
Kehilangan?penghianatan?atau penilaian negatif atas aku?
Bukankah aku memang negatif
Kenapa kemudian aku masih harus takut dinilai menjadi negatif?

Aku tau sebenarnya
Menerka ini dipupuskan saja
Dengan saling percaya dan saling jujur adanya
Dan aku harus berhenti menerka!!

Saturday, 12 March 2011

Istri Yang Arif, Bijak, Sabar dan Penyayang

Malam merayu dalam dingin
Memeluk insan meraih mimpi
Terbuai dan tenggelam

Insan terbangun dan menengadahkan tangan
Menundukkan muka
Buliran air mata menetes dari tiap sudut matanya
Sayup terdengar isak tangis di antara doanya

Beberapa yang sempat terdengar
Disela buaian mimpi
"Ya Alloh, berikan hamba seorang istri yang arif, bijak, sabar dan penyayang untuk hamba"
"Seorang istri yang arif dalam mensikapi suasana keluarga, suami dan anak-anakku"
"Seorang istri yang bijak dalam mengatur rumah tangga,tatkala suami mencari nafkah"
"Seorang istri yang sabar dalam menghadapi liku-liku kehidupan ini"
"Seorang istri yang memiliki sifat penyayang terhadap sesama, terlebih kepada anak-anakku kelak"
"Tentu saja semua itu tak lepas dari istri yang solehah, yang senantiasa mengabdikan diri pada Mu dan sunah Rasul Mu"
"Dan semoga menjadi ridho Mu akan hal itu"
"Amiin"

Friday, 11 March 2011

Jika Saja Kamu Bersabar Sedikit Saja

Pagi itu temaram sinar matahari menerobos kamarku
Dering nada handphone pun menyentakku dari buaian sejuknya pagi
Kubaca samar dengan mata terbuka seperlima
"Mas, hari ini jadi kan?"
Dengan melompatkan jari-jari di daratan tombol aku menjawab
"Jadi dong, jam 7 an ya..."

Kemudian kugegaskan mataku untuk membuka
Menatap jam dinding yang terbuat dari arloji
Memicingkan pupil untuk meliaht jam berapa sebenarnya sekarang
"Astaghfirulloh, sudah jam 06.15"
Tanpa perintahpun, tubuhku tertarik ke kamar mandi
Kurebahkan bulir-bulir air untuk menjamah tubuhku
Dinginnya pagi itu tak seberapa dibanding dengan ketergesa-gesaanku

Semua kukenakan lengkap
Dan kusempatkan melihat arlojiku yang menunjukkan angka 06.45
Kunci kostku sudah mengatup tutup
Aku berangkat...

Semrawutnya Jakarta kutembus dengan luapan asmara yang membara
Diburu juga dengan perasaan takut terlambat dan takut membuat seseorang di sana kecewa
Tersentak kaget ketika seonggok mobil nyaris menabrakku
Omelan sang pengemudi pun tak dapat menghentikan langkahku
Satu dalam pikiranku
Aku menemui seseorang di sana tepat pada pukul tujuh

Sebuah rumah berhiaskan tanaman hijau berpagar putih
Bisu tak berkata apa-apa
Rumah dimana seseorang tadi tinggal
Seseorang yang menungguku
Kulirik arlojiku
Jam menunjukkan pukul 7.15
"Astaghfirulloh, aku terlambat"

Tiba-tiba saja handphoneku bergetar
Dan kubaca sms disana
"Pulang saja kamu, katanya jam tujuh, ini jam berapa?"
Sesaat itu pula aku menjatuhkan diri
Lemas dan tak berdaya
Keringat ini menjadi bercucuran
Air mata ini meskipun aku seorang lelaki tak dapat kubendung lagi
Menetes perlahan..

Setelah lama aku meneduhkan muka ke balik pelukan bumi
Aku menegakkan diri
Aku berjalan gontai
Menapaki sesal yang ada dalam diri

Banyak orang memperhatikanku
Aku bertanya dan menyimpulkan sendiri
Mungkin wajahku terlalu kucel karena semua ini
Sambil mencoba kuseka dengan sapu tangan abu-abuku
Namun tiba-tiba ada orang yang menghampiriku sambil menunjukkan jari
"Mas...mas.....mas....itu kenapa mas?"

Lalu ku lihat apa yang ditunjuk orang tadi
Kakiku...
Ada gambar jalur sungai disana
Urat yang berwarna merah timbul menganga
Warna merah itu sangat cerah
Namun tiba-tiba saja semua itu buram...
Buram dan tak secerah tadi...
Menjadi gelap dan akhirnya sirna...

Sunday, 6 March 2011

Ingatkan Aku

Aku ini manusia
Laki-laki
Memiliki ego yang tinggi
Meski aku sedikit mampu bersabar
Namun tak dapat ku tutupi
Seringkali aku marah
Dan membuatmu meneteskan air mata
Maafkan aku...

Aku sering bergumam sendiri
Kenapa aku terlalu naif untuk mengendalikan diri
Kenapa aku terlalu mudah untuk melukaimu
Membuatmu menangis
Membuatmu merasa sendiri
Padahal kamu memiliki

Hal ini herannya aku lakukan berulang
Saat marah ini tak dapat tertahan
Luapan ini justru membuatmu menangis
Dan juga membuatku menyesal pada akhirnya

I'm tired hunny,... I just love U so much that sometimes I'm afraid U'll realize that u deserve better than this relationship, better than us. I can't lose U., I'm so afraid of losing U that I always want this whole world to know that u're mine. Forgive me for always doing such stupid and bad things... Have a safe trip hun, I'll be waiting for U here,

Mas jgn ninggalin aq lg y kalo d halte baswe, d baswe, d mol, dmanapun...

Aku akan berusaha!!!
Aku tidak ingin sering menyakitimu
Bahkan aku ingin tidak pernah lagi menyakitimu

Ingatkan aku De'...

Thursday, 3 March 2011

Jambi

Jambi. Merupakan salah satu propinsi di Republik Indonesia. Kali ini aku mendapat perjalanan dinas ke propinsi ini. Untuk menemani rekan kerja yang akan menghadiri persidangan di Pengadilan Negeri Propinsi Jambi. Setelah lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta..aku tak lama pun memejamkan mata. Entah saat itu ngantuk sekali, mungkin karena pada malam harinya aku menghadiri acara perpisahan atasanku sampai jam 22.00.
Terpejam selama 15 menit, aku terbangun oleh sapaan pramugari yang menyajikan makanan dan minuman ringan. Aku pun terjaga dan seperti biasa memesan jus apel..lumayan juga untuk menyegarkan badan ini. Setelah beberapa tegukan, rupanya dari ruang pilot sudah mengumumkan bahwa sebentar lagi tiba di Bandara Sultan Thaha. Lalu ku lirik jendela...masih dihutan...perkebunan kelapa sawit...Lha terus ini dimana bandaranya...mana deretan rumah-rumah dan gedung yang senantiasa padat kulihat saat aku melakukan perjalanan dinas?

Taklama mendarat di bandara, aku masih meilhat kiri kanan. Sepi dan tak ramai. Aku langkahkan kaki menuju depan bandara dan aku pesan ojek untuk mengantarku ke hotel. Sesuai penuturan temanku bahwa oojek dari bandara menuju hotel seharga Rp 20.000,-.
Benar nyatanya memang segitu harganya. Setelah sedikit bercakap tentang tujuanku, akhirnya aku pu melunur bersamanya. Sambil melihat suasana Jambi yang relatif belum begitu ramai aku merasakan terpaan anginnya...dan sesekali terdengar riuh logat orang Jambi bercakap-cakap.
Aku pun sempat menanyakan..Batanghari. Ya..kelahiran De'..Q di sana, aku tanyakan kepada tukang ojek itu, dan katanya dibutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk menjangkaunya. Stelah berapa lama bercakap..akhirnya sampai juga di hotel. Dengan ucapan terima kasih beserta sodoran uang Rp 20.000,- aku akhiri perbincangan itu.

Jambi...mungkin dapat aku bilang.. suku ku Jawa..aku lahir di Jawa..aku fasih berbicara bahasa Jawa...namun sekarang aku ada di Jambi...

Jambi kota beradat...

Saturday, 26 February 2011

Mimpi Malam Ini


Aku bermimpi..
Bersamamu
Dalam sebuah keluarga kecil yang bahagia
Canda tawa bersama anak kita
Membersihkan rumah bersama-sama
Meluangkan waktu hari libur untuk bercengkerama
Bahkan membersihkan rumah dengan suka cita dan kebersamaan

Aku bermimpi...
Hidup sederhana dengan penuh cinta
Dengan senantiasa musyawarah penuh cinta
Ketika ada masalah mendera
Melepas lelah sepulang kerja dengan gelak tawa anak kita

Aku bermimpi...
Menikmati lezatnya makan pagi yang kamu buat
Menikmati lezatnya makan pagi bersama
Aku, kamu dan anak kita

Aku bermimpi...
Aku memanggilmu bunda
Kamu memanggilku Ayah

Aku bermimpi...
Anak kita memanggil kita untuk bermain bersamanya
Anak kita memanggil kita untuk mengajarinya
Memanggil untuk bertanya

Aku bermimpi...
Setiap hari raya
Kita menengok kakek nenek anak kita
Bersalaman penuh kehangatan
Melepas rindu dengan petuah mereka

Aku bermimpi...
Kita hidup bahagia
Melihat anak kita beranjak dewasa
Pandai sepertimu
Dan sabar sepertiku

Aku terbangun dari mimpi kemudian
Dan segera kupanjatkan doa kepada Alloh SWT
Semoga mimpi itu diridhoi Alloh SWT
Amiin..

Wednesday, 9 February 2011

Mas Supri Penjual Bakwan Kawi

Seperti biasa aku melenggangkan kaki di sela hiruk pikuk ibukota ini
Menyusuri gang dan trotoar
Meski terkadang bahkan sering aku melalui jalur busway

Nah,
Saat itu aku melewati kompleks perkantoran Delta Harmoni
Jam 17.15 saat itu
Seperti biasa aku melihat sosok seorang penjual makanan gerobak
Bakwan Kawi
Umurnya mungkin sekitar 30 tahunan
Dengan perawakan tinggi sedang dan badan tidak gemuk alias kurus
Kulit coklat khas tropis
Dengan sedikit tonjolan tulang rahang di pipi kanan dan kiri
Polahnya tampak tidak begitu aktif
Hanya kemudian menjadi cekatan ketika ada orang yang meminta pesanan

Sore itu tampaknya pelanggan agak sepi
Bakso, tahu dan kripiknya masih banyak terpampang di kaca gerobak
Singgahlah aku di emperan itu
"mas bakwan kawi satu mas"
"campur mas?" begitu tanyanya lalu ku jawab "komplit mas"
Langsung seperti biasa dia meraciknya
Tahu, Keripik, Somay dan bakso dia masukkan ke dalam satu mangkok
Kemudian di tuangi kuah dan dibubuhkan saos serta sambal
Sengaja aku bilang agar memberikan sambal sedikiiiit saja
Setelah semua siap akhirnya diserahkanlah mangkok beserta isinya itu kepadaku
Karena suasana sepi tiada pelanggan lain
Akhirnya aku sibukkan dia dengan obrolan
Mulailah seperti biasa
Hobiku bertanya
Mencairkan suasana
Aku menanyakan apa pahit getir menjadi pedagang bakwan kawi di ibukota ini
Kemudian dia menuturkan bahwa dia sudah berada di jakarta sejak tahun 1990an
Setelah sebelumnya sempat menjadi kuli bangunan
Menjadi pedagang di Jakarta bukanlah sebuah hal yang mudah ataupun gampang
Pernah dia mengalami
Makan tidak di bayar
Mangkok dibuang ke sungai
Di bayar dengan todongan pisau
Bahkan pernah dilarang berjualan dan di keroyok
Tapi satu yang mejadi pegangan
Bahwa dia tidak eprnah mau membalas atau menanggapi
Bukan tidak berani melainkan karena dia di Jakarta adalah untuk mencari makan
Bukan untuk menjadi jagoan
Segalanya dia hadapi begitu saja
Hingga kini dia mampu menghidupi kedua anaknya di Jawa (alias kota kelahiran)
Memiliki sebuah rumah di kampung
Dan sepetak sawah yang digunakan istri dan anaknya untuk menanam padi

Mas supri nama penjual bakwan kawi itu
Sosok pendatang dari tlatahJawa tengah

Tuesday, 8 February 2011

Kotak Tusuk Gigi


Siang ini seperti biasa aku makan di kantin sebelah
Sebuah kantin yang sebenarnya bukanlah kantin yang seperti orang biasa sebutkan
Kantin itu hanya beratap terpal
Pengunjung kantin berjejal di samping media penggorengan

Terlepas dari itu semua
Ada sebuah kotak kecil di tengah meja makan
Kotak kecil yang memuat beberapa puluh kayu-kayu kecil
Bahkan terkadang bukan kayu melainkan suwiran bambu

Kotak Tusuk gigi
Berjajar rapi tak rapi bersama kotak-kotak yang lain
Bersandingan dengan kotak sendok garpu, tissu dan kotak tempat gorengan

Kotak tusuk gigi
Sedikit lama aku amati
Biasa saja
Bukan barang yang mewah di dalamnya
Hanya rautan kecil-kecil beberapa kayu atau bambu

Tapi liat saja
Ini kotak tusuk gigi
Ada di sini
Di tengah hiruk pikuk orang makan dengan berbagai seragam
PNS, Swasta, Sampai seragam biru alias tukang parkir di Jakarta

Dia acuh saja
Dia tak peduli isinya akan digunakan oleh siapa
Dia hanya memamerkan diri
Dipakai silakan tidak dipakai terserah
Toh sampai sore pun akhirnya sang kotak tusuk gigi kosong adanya
Laris maniiisss

Dia dengan sukarela membiarkan orang memungut isinya
Tanpa harus membayar sepeser pun
Emang pernah anda menggunakan tusuk gigi kemudian di suruh membayar?
Tidak bukan?
Tapi apakah tusuk gigi itu gratis?
tentu saja tidak kan?

Kotak tusuk gigi
Hal yang aku amati siang ini
Di kantin yang bukan kantin kata sebagian orang di sini
Kantin jalan Juanda 4 Jakarta Pusat

Tuesday, 1 February 2011

Ketentraman Pasangan

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَآئِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ اللّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ

Artinya: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu”. (QS. Al-Baqoroh [2]:187)

Ayat tersebut di atas adalah ayat populer yang sering dibaca, dikutip dan dikaji ketika akan datang dan selama bulan Ramadhan. Ayat tersebut menerangkan tentang beberapa aturan ketika berada di bulan Ramadhan. Salah satu aturan tersebut adalah dihalalkannya seorang suami melakukan hubungan badan dengan istrinya kapanpun di sepanjang malam hingga terbit fajar. Sebelum ayat ini turun, batas akhir boleh menggauli istri adalah masuk waktu Isya’ atau saat tidur sebelum masuk waktu Isya’. Tentu ini sangat berat bagi para sahabat Rasulullah, dan tentu juga bagi siapa saja. Oleh karena itu Allah swt. menurunkan ayat tersebut.

Yang menjadi fokus dalam tulisan ini adalah kata “Libas” yang tersebut dalam ayat tersebut. Dalam ayat tersebut Allah swt. menyebut bahwa suami adalah Libas bagi istrinya dan istri juga adalah Libas bagi suaminya. Kata “Libas” mempunyai arti penutup tubuh (pakaian), pergaulan, ketenangan, ketentraman, kesenangan, kegembiraan dan kenikmatan.

Penutup Aib dan Perhiasan

Fungsi pakaian adalah untuk menutup aurat tubuh (lihat QS.7:26). Suami istri adalah pakaian bagi pasangannya. Dengan demikian, suami istri adalah penutup “aurat” (baca: aib) bagi pasangannya. Fungsi pakaian juga sebagai perhiasan (lihat QS.7:26). Perhiasan adalah sesuatu yang indah dan berharga. Dengan memiliki dan atau memandang perhiasan mendatangkan kesenangan, kepuasan dan kebahagiaan. Suami adalah perhiasan bagi istrinya dan istri adalah perhiasan bagi suami. Suami indah dilihat istri dan juga sebaliknya. Suami merasa berharga bagi istrinya, dan pada saat yang sama suami menghargai istrinya. Demikian pula sebaliknya.

Allah berfirman yang artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran [3]:14)

Sumber Ketrentraman dan Kesenangan

Suami adalah sumber ketentraman bagi istrinya. Istri juga adalah sumber ketentraman bagi suaminya. Masing-masing merasa tentram dengan adanya pasangan dan dari pasangannya. Serta masing-masing berusaha membuat tentram pasangannya.

Allah berfirman yang artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS.Ar-Ruum [30]:21)

Suami adalah sumber kesenangan bagi istri. Begitu juga istri adalah sumber kesenangan bagi suami.

Allah berfirman yang artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran[3]:14)

Allah berfirman yang artinya: “Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS.Al-Furqaan [25]:74)

Di dalam kedua ayat tersebut, Allah swt. berfirman dengan menyebutkan kata “wanita” dan “istri” saja, tidak menyebutkan kata “pria” dan “suami”. Seolah-olah dua ayat tersebut hanya ditujukan dan berlaku untuk pria dan suami. Meskipun kata “pria” dan “suami” tidak disebutkan, kedua ayat di atas juga ditujukan dan berlaku bagi para wanita dan istri, sehingga bisa dipahami juga sebagai berikut:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: pria-pria ….”

“Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami suami-suami kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami)…”

Suami merasa senang, gembira, puas, bahagia dan nikmat terhadap istrinya dari sikap, perilaku, kata-kata, ekspresi, penampilan dan pelayanan istrinya ketika berhubungan dengan istrinya dalam segala aktivitas sehari-hari. Pada saat yang sama suami juga harus membuat istrinya merasa senang, gembira, puas, bahagia dan nikmat terhadap dirinya dari sikap, perilaku, kata-kata, ekspresi, penampilan dan pelayanannya dalam setiap kesempatan dan aktivitas rumah tangga (bukan hanya ketika membutuhkannya saja dan bukan hanya ketika di atas ranjang saja). Demikian juga sebaliknya, istri merasakan hal yang sama terhadap suaminya dan berbuat hal yang sama kepada suaminya.

10 Tips Sukses Menjadi Libas bagi Pasangan

1.Selalu mendengar dengan segenap dan setulus hati setiap kata yang diekspresikan oleh pasangan.

2.Selalu ramah, mesra, bermuka manis dan tersenyum di hadapan pasangan.

3.Berdandan, berpenampilan rapi dan berbau harum untuk pasangannya baik ketika berada di dalam maupun di luar rumah. Bukan istri saja yang wajib melakukan ini, namun suami juga harus mewajibkan dirinya.

4.Menenangkan hati pasangan ketika dia merasa emosional dan ketika menghadapi ketegangan, kecemasan dan ketakutan; dan menghibur hati pasangan ketika dia kecewa, bersedih hati, sakit hati dan sakit fisiknya

5.Biasakan mengucapkan “4 Kata Ajaib: Terima kasih, Maaf, Permisi dan Tolong” kepada pasangan pada setiap saat dan kesempatan di mana kata-kata tersebut patut dan perlu untuk diucapkan.

6.Melayani keperluan pasangan dengan senang dan ringan hati, ringan tangan, ringan kaki dan segera. Segera kerjakan jika dalam keadaan-keadaan yang memungkinkan. Malas dan ogah-ogahan bukan termasuk di dalamnya. Bukan istri saja yang harus melayani suami. Suami juga harus melayani istri meskipun istri tidak dalam keadaan darurat seperti sakit, mengandung dan melahirkan.

7.Tanyakan kabar dan perasaan pasangan meskipun tidak sedang berjauhan.

8.Ungkapkan rasa cinta dan kasih sayang anda kepada pasangan dengan sikap dan perilaku seperti bergandengan tangan ketika berjalan kaki bersama dan menciumnya meskipun ketika tidak ada dorongan nafsu, dengan kata-kata seperti “Aku cinta/sayang kamu”, dan dengan memanggilnya dengan nama panggilan yang indah serta dengan cara yang lemah lembut dan mesra.

9.Memuaskan pasangan dalam berhubungan badan dengan melakukan segala hal yang diperlukannya sesuai dengan tuntunan Islam.

10.Tidak menceritakan hubungan badan mereka kepada orang lain. Tidak menceritakan aib yang dimiliki pasangan berupa kekurangan, kelemahan, kesalahan dan hal-hal negatif lainnya kepada orang lain (kecuali kepada hakim ketika bersaksi di pengadilan, kepada dokter untuk tujuan pengobatan dan kepada kyai, ustadz, psikiater atau konsultan untuk tujuan konsultasi). Juga tidak mencari-cari, mengingat-ingat, serta mengungkit-ungkit atau menyebut aib yang dimiliki pasangan kepada pasangan.

Jadilah Libas bagi pasangan (baca: suami atau istri) anda sesuai dengan tuntunan Allah swt. Untuk itu jadilah “Pengantin Baru” selama hayat masih dikandung badan karena mengharap dan demi menggapai ridho Allah swt. Lakukan tips di atas terus menerus meskipun sudah bukan pengantin baru lagi di mana pada saat-saat itu dalam hati sudah timbul rasa “biasa” dan tidak “luar biasa” terhadap pasangan dan kehidupan rumah tangga.

Masa-masa ketika sudah tidak lagi menjadi pengantin baru adalah masa-masa ujian. Ini yang (memang) sulit dan berat. Dibutuhkan kemauan yang kuat dan perjuangan yang berat untuk selalu menjadi “Pengantin Baru”. Sangat wajar dan alami jika ketika awal-awal mencoba melakukan tips di atas terasa aneh, merasa canggung dan malu. Namun jika dibiasakan, lama-lama akan menjadi bisa, menjadi biasa dan menjadi kebiasaan. Lain halnya ketika masih menjadi pengantin baru terutama ketika masa bulan madu, tanpa diajari dan disuruhpun, hal tersebut bisa, mudah, ringan dan otomatis dilakukan.

Wahai para suami! Wahai para istri! Sudahkah hari ini anda menjadi Libas bagi pasangan anda? Sudahkah hari ini anda berniat dan berkeinginan untuk menjadi Libas bagi belahan jiwa anda hingga nafas terakhir? Wahai para calon pengantin! Sudahkah hari ini anda berniat dan berkeinginan kelak akan menjadi Libas bagi pendamping hidup anda sejak malam pertama hingga malam terakhir (ketika maut menjemput)? Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pengantin lama, pengantin baru dan calon pengantin demi meraih kehidupan rumah tangga SAMARA (Sakinah Mawaddah wa Rahmah). Amin. Wallahu a’lam bishshowab.

Disalin dari http://agama.kompasiana.com/2011/02/01/sumber-ketentraman-suami-istri/
Oleh:Abdullah al-Mustofa